KETIKA SINODE DIAM DAN GEMBALA AKHIRNYA MENGALAMI KRISIS KESEHATAN JIWA (Kisah Nyata Seorang Gembala di Sumatra)
KETIKA SINODE DIAM DAN GEMBALA AKHIRNYA MENGALAMI KRISIS KESEHATAN JIWA (Kisah Nyata Seorang Gembala di Sumatra)
Sebuah Kritik terhadap Konflik Internal yang Dibiarkan, Kepemimpinan yang Ambigu, dan Ketidakpedulian Struktural (Sinode)
Oleh: Pdt. Dr. Syaiful Hamzah M.Th
PENDAHULUAN
Kisah ini bukan sekadar cerita yang saya dengar dari kejauhan. Kisah ini saya temukan ketika saya sedang melayani di sebuah daerah pedalaman Sumatra. Di tengah pelayanan tersebut, saya berjumpa dengan sebuah pergumulan seorang gembala yang membuat saya bertanya lebih dalam tentang arti kepemimpinan, tanggung jawab organisasi, pendampingan pastoral, dan wajah gereja ketika salah satu pelayannya sedang berada dalam tekanan.
Di daerah pedalaman itu, saya menemukan kisah seorang gembala yang selama bertahun-tahun mengabdikan hidupnya bagi pelayanan Tuhan. Ia melayani jemaat dalam berbagai keterbatasan. Ia hadir ketika jemaat sakit, mendampingi keluarga yang berduka, memberkati pernikahan, melayani anak-anak, dan berdiri di mimbar untuk menyampaikan firman Tuhan. Pelayanan itu tidak dibangun dengan kemewahan, tetapi dengan pengorbanan, air mata, tenaga, waktu, dan kesetiaan.
Dalam perjalanan pelayanannya, terdapat aset yang diberikan untuk kepentingan pelayanan gereja. Namun kemudian muncul persoalan mengenai status, penguasaan, dan penggunaan aset tersebut. Sang gembala memilih memperjuangkan persoalan itu melalui jalur organisasi. Ia tidak ingin persoalan tersebut berkembang menjadi pertikaian yang lebih besar. Ia berharap sinode menjadi rumah bersama yang dapat mendengar, memeriksa fakta, mempertemukan pihak-pihak yang berkonflik, dan memberikan keputusan yang adil.
Namun harapan itu perlahan berubah menjadi kekecewaan. Persoalan tidak kunjung mendapatkan penyelesaian yang jelas. Jawaban yang diterima terasa ambigu. Konflik terus berlangsung, sementara sang gembala tetap harus menjalankan tugas pelayanan. Ia harus menguatkan jemaat ketika dirinya sendiri sedang membutuhkan penguatan. Ia harus berdiri tegak di mimbar ketika di dalam dirinya sedang terjadi pergumulan yang berat.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tekanan semakin besar. Sang gembala terus berharap ada seseorang dari struktur yang datang mendampinginya. Ia berharap ada pemimpin yang bersedia duduk bersamanya, mendengarkan seluruh persoalan dengan hati terbuka, dan berkata, “Mari kita selesaikan persoalan ini bersama-sama.” Namun harapan itu perlahan berubah menjadi kekecewaan, karena yang ia rasakan justru kesendirian di tengah konflik yang semakin berat.
Di satu sisi, ia berhadapan dengan persoalan aset yang menurutnya perlu diperjuangkan. Di sisi lain, ia berhadapan dengan struktur organisasi yang menurut kisah ini tidak memberikan kepastian sebagaimana yang diharapkannya. Konflik yang seharusnya dapat ditangani secara organisasi perlahan berubah menjadi beban pribadi yang semakin berat.
Sampai akhirnya tekanan yang berkepanjangan mulai memengaruhi kondisi dirinya. Kesehatannya memburuk, dan ia harus mendapatkan pertolongan medis karena mengalami krisis kesehatan jiwa. Di titik itu, persoalan ini tidak lagi hanya menyangkut konflik internal dan aset pelayanan, tetapi telah menyentuh kehidupan seorang manusia yang selama bertahun-tahun mengabdikan dirinya untuk menggembalakan jemaat.
Ketika saya menemukan kisah ini di tengah pelayanan di pedalaman Sumatra, saya tidak dapat melihatnya hanya sebagai persoalan seorang individu. Ada pertanyaan yang jauh lebih besar tentang bagaimana sebuah organisasi gereja memperlakukan gembala yang sedang menghadapi konflik. Apakah struktur hanya hadir ketika seorang gembala sedang kuat? Apakah organisasi hanya berbicara tentang jabatan, kewenangan, aset, dan aturan? Ataukah organisasi juga hadir ketika seorang gembala sedang lemah dan membutuhkan pertolongan?
Kisah ini bukan ditulis untuk menghakimi seseorang secara pribadi, melainkan sebagai sebuah kritik dan refleksi terhadap sistem kepemimpinan gereja ketika konflik internal terjadi dan seorang gembala harus menanggung akibatnya. Sebab, di balik konflik mengenai aset terdapat seorang manusia; di balik persoalan organisasi terdapat seorang gembala; di balik setiap keputusan struktural terdapat keluarga yang dapat ikut terluka; dan di balik setiap konflik yang dibiarkan berlarut-larut, ada seseorang yang mungkin sedang menanggung beban yang tidak terlihat. Karena itu, kisah ini membawa kita kepada sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi sekaligus sangat dalam: ketika seorang gembala sedang hancur karena konflik internal, di manakah sinode yang seharusnya hadir untuk mendengar, mendampingi, dan menolongnya?, Karena itu, kisah ini membawa kita kepada sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi sekaligus sangat dalam.
Ketika seorang gembala sedang hancur karena konflik internal, di manakah sinode yang seharusnya hadir mendampingi? Ketika tekanan semakin berat, siapa yang datang mendengar keluhannya, membantu menyelesaikan persoalan, mendampingi keluarganya, dan memastikan kesehatannya mendapat perhatian? Jangan biarkan seorang gembala berjuang sendirian sampai kehilangan kekuatan, harapan, dan semangat dalam menjalankan panggilan pelayanannya.
1. KETIKA SINODE LEBIH SIBUK MENGURUS JABATAN DARIPADA MENJAGA GEMBALA
Sinode seharusnya menjadi struktur yang melayani, bukan struktur yang hanya sibuk mengatur jabatan, kewenangan, wilayah, dan kepentingan organisasi. Jabatan gerejawi bukanlah mahkota. Jabatan adalah tanggung jawab. Semakin tinggi seseorang berada dalam struktur, semakin besar seharusnya tanggung jawabnya untuk memperhatikan orang-orang yang berada dalam lingkup pelayanannya, termasuk para gembala yang berada di garis depan.
Namun dalam kisah ini, ketika seorang gembala menghadapi persoalan serius, perhatian terhadap kepentingan struktural justru terasa lebih besar daripada perhatian terhadap kondisi manusia yang sedang menghadapinya. Sang gembala tidak meminta perlakuan istimewa, tidak meminta dibela tanpa dasar, dan tidak meminta sinode mengabaikan aturan. Ia hanya membutuhkan proses yang jelas, keadilan yang nyata, dan seorang pemimpin yang bersedia hadir untuk mendengarkan serta mendampinginya. Jika ia salah, koreksilah dengan kasih dan berdasarkan fakta. Jika ia benar, lindungilah dengan keberanian. Jika persoalannya belum jelas, periksalah dengan jujur dan objektif. Tetapi jangan biarkan seorang gembala berjalan sendirian dalam konflik yang berkepanjangan sambil menunggu keputusan yang tidak kunjung datang. Sebab apa gunanya struktur yang begitu kuat, jabatan yang begitu tinggi, dan kewenangan yang begitu besar jika seorang gembala yang berada di dalamnya justru dibiarkan hancur sendirian?
Apa gunanya struktur yang begitu kuat jika gembala yang berada di dalamnya justru dibiarkan hancur?
Kepemimpinan gereja tidak boleh hanya terlihat ketika ada rapat, konferensi, pelantikan, surat keputusan, dan berbagai seremoni. Kepemimpinan justru diuji ketika seorang gembala sedang berada dalam masalah. Di situlah terlihat apakah jabatan benar-benar menjadi alat pelayanan atau telah berubah menjadi alat mempertahankan kepentingan struktural.
2. KETIKA ASET LEBIH DIPERHATIKAN DARIPADA MANUSIA
Konflik tersebut berkaitan dengan aset yang menurut sang gembala telah diberikan untuk kepentingan pelayanan. Aset tentu penting. Tanah, gedung, dokumen, dan berbagai fasilitas gereja harus dikelola dengan tertib dan bertanggung jawab. Namun semuanya hanyalah sarana untuk mendukung pelayanan. Aset bukan tujuan utama gereja.
Ketika perhatian terhadap aset menjadi begitu besar sampai mengalahkan perhatian terhadap manusia yang melayani, gereja sedang kehilangan prioritasnya.
Sang gembala memperjuangkan persoalan aset karena menurut pemahamannya terdapat sesuatu yang harus diluruskan. Ia berharap sinode membantu menyelesaikannya. Namun konflik yang berlarut-larut akhirnya bukan hanya berbicara tentang tanah atau bangunan. Konflik itu menyentuh harga diri, kepercayaan, keluarga, pelayanan, dan kondisi batin seorang gembala.
Tanah dapat diukur. Bangunan dapat dihitung. Aset dapat dicatat. Tetapi bagaimana mengukur harga air mata seorang gembala yang merasa ditinggalkan?
Jangan sampai gereja begitu keras mempertahankan aset, tetapi begitu lemah dalam memperhatikan manusia. Jangan sampai aset dijaga sedemikian rupa, sementara gembala yang selama bertahun-tahun berkorban untuk pelayanan justru kehilangan ketenangan, kesehatan, bahkan kekuatan mentalnya.
Aset gereja memang harus dijaga, tetapi jangan menjaga aset sampai kehilangan gembala.
3. KETIKA “PUJI TUHAN” DAN “HALELUYA” TIDAK MENJADI TINDAKAN
Ada persoalan yang lebih menyakitkan: gereja terkadang terlihat sangat rohani dalam perkataan, tetapi lemah dalam tindakan. Kita mudah berkata, “Puji Tuhan,” “Haleluya,” dan “Tuhan memberkati.” Kita juga mudah menasihati orang lain untuk berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Semua itu baik. Namun, ketika seorang gembala sedang terluka dan menghadapi konflik nyata, kata-kata rohani tidak boleh menjadi pengganti tanggung jawab. Kerohanian harus diwujudkan melalui kepedulian, kehadiran, pendampingan, dan tindakan nyata..
Doa bukan alasan untuk tidak bertindak. Iman bukan alasan untuk menghindari keadilan. Dan bahasa rohani bukan pengganti penyelesaian masalah. Jika ada konflik, lakukan mediasi. Jika ada persoalan aset, periksa dokumen. Jika ada ketidakadilan, dengarkan kedua pihak. Jika ada kesalahan, koreksi. Jika ada gembala yang mengalami tekanan, dampingi. Jika kondisi kesehatannya terganggu, hadirkan pertolongan profesional dan pastoral.
Jangan sampai “Puji Tuhan” hanya terdengar di mulut, sementara seorang gembala menangis sendirian. Jangan sampai “Haleluya” terdengar dalam ibadah, tetapi tidak ada seorang pun yang datang ketika seorang pelayan Tuhan membutuhkan pertolongan. Sebab kerohanian sejati harus terlihat dalam kepedulian, keberanian, kehadiran, dan tindakan nyata ketika seorang gembala berada dalam tekanan, terluka, dan membutuhkan pertolongan.
Kerohanian yang sejati bukan hanya terdengar dalam doa dan khotbah, tetapi harus terlihat dalam tindakan ketika orang lain sedang menderita. Kerohanian tidak cukup hanya diucapkan dari mimbar; kerohanian harus hadir dalam kepedulian, pendampingan, keberanian menyelesaikan persoalan, membela yang lemah, menguatkan yang terluka, dan menolong mereka yang sedang kehilangan harapan.
4. KETIKA SINODE MAMPU MENOLONG KORBAN BENCANA, TETAPI GEMBALA SENDIRI TERLUPAKAN
Ada ironi yang sangat menyakitkan dalam kisah ini. Ketika terjadi bencana di tengah masyarakat, sinode dapat tampil menunjukkan kepedulian demagnembetoaka banyuan 800 juta . Bantuan dalam jumlah besar dapat dikumpulkan dan disalurkan kepada mereka yang menjadi korban. Tentu tindakan membantu korban bencana adalah sesuatu yang baik dan patut diapresiasi. Gereja memang dipanggil untuk hadir bagi mereka yang menderita.
Namun muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: mengapa begitu mudah melihat penderitaan orang lain, tetapi begitu sulit melihat penderitaan gembala sendiri? Mengapa gereja mampu bergerak cepat ketika penderitaan menjadi perhatian publik, tetapi begitu lambat ketika seorang gembala di dalam tubuh gereja sendiri sedang terluka, tertekan, dan membutuhkan pendampingan?
Seorang gembala yang bertahun-tahun melayani, menghadapi konflik internal, memperjuangkan persoalan aset, mengalami tekanan berkepanjangan, dan akhirnya mengalami krisis kesehatan jiwa juga membutuhkan perhatian. Ia bukan orang luar. Ia adalah bagian dari tubuh pelayanan itu sendiri. Jika organisasi mampu menggerakkan sumber daya yang besar untuk membantu korban bencana, seharusnya organisasi juga mampu menggerakkan hati, waktu, tenaga, dan pendampingan untuk seorang gembala yang sedang berada dalam pergumulan berat.
Persoalannya bukan bahwa sinode membantu korban bencana. Itu adalah tindakan yang baik. Yang patut dikritisi adalah ketika kepedulian yang begitu terlihat di ruang publik justru tidak dirasakan oleh seorang gembala yang sedang terluka di dalam organisasi sendiri.
Jangan sampai penderitaan yang terlihat kamera mendapatkan perhatian, sementara penderitaan yang hanya diketahui keluarga justru dilupakan.
Jika sinode mampu menyalurkan bantuan kepada korban bencana hingga Rp800 juta, maka pertanyaannya bukan berapa rupiah yang harus diberikan kepada sang gembala. Pertanyaannya adalah: apakah ada hati yang hadir, apakah ada yang datang menjenguk, apakah ada yang duduk mendengarkan, apakah ada yang mendampingi keluarganya, apakah ada yang membantu menyelesaikan konflik, dan apakah ada yang memastikan kondisi kesehatannya mendapatkan perhatian? Sebab seorang gembala yang sedang terluka terkadang tidak membutuhkan uang, melainkan kehadiran, kepedulian, pendampingan, dan tindakan nyata.
Pendampingan seorang gembala tidak selalu membutuhkan uang dalam jumlah besar. Terkadang yang paling dibutuhkan adalah kehadiran, kepedulian, keberanian mengambil tindakan, dan kasih yang nyata. Seorang gembala yang sedang menghadapi konflik mungkin tidak membutuhkan bantuan materi, tetapi membutuhkan seseorang yang mau mendengar tanpa menghakimi, datang ketika ia terpuruk, menguatkan keluarganya, membantu mencari jalan keluar, dan memastikan bahwa ia tidak menghadapi semuanya seorang diri.
Jangan hanya peduli kepada mereka yang terkena bencana karena penderitaannya terlihat dan menjadi perhatian publik. Pedulilah juga kepada seorang gembala yang sedang mengalami “bencana” dalam hidupnya, meskipun penderitaannya tidak masuk berita. Jangan menunggu kamera, media sosial, atau sorotan publik untuk menunjukkan kasih. Datanglah ketika ia terluka, dengarkan pergumulannya, dampingi keluarganya, dan hadir sebelum semuanya terlambat.
5. KETIKA SINODE DIAM, GEMBALA AKHIRNYA JATUH
Konflik yang berlangsung lama dapat menjadi tekanan yang sangat berat. Sang gembala tetap harus menjalankan pelayanan, sementara persoalan internal tidak kunjung mendapatkan kepastian. Ia harus menguatkan orang lain ketika dirinya sendiri membutuhkan penguatan. Ia harus tampil kuat di depan jemaat ketika batinnya sedang berada dalam pergumulan. Pada akhirnya, kondisi kesehatannya memburuk hingga ia mendapatkan pertolongan medis dan didiagnosis mengalami gangguan kesehatan jiwa.
Pada titik ini, sinode tidak seharusnya hanya berkata, “Itu masalah kesehatan pribadi.” Struktur gereja harus berani melihat kembali seluruh proses konflik yang terjadi. Apakah ada pendampingan? Apakah ada mediasi yang sungguh-sungguh? Apakah ada pemimpin yang konsisten hadir mendengarkan? Apakah keluarga sang gembala dibantu? Apakah konflik benar-benar diupayakan penyelesaiannya? Jika semua itu tidak dilakukan, sinode harus berani bercermin. Sikap diam dan masa bodoh tidak selamanya dapat disebut netral ketika seorang gembala telah berada dalam kondisi yang sangat berat.
Jangan sampai struktur gereja tidak secara langsung menyakiti tubuh seorang gembala, tetapi pembiaran terhadap konflik, ketidakjelasan kepemimpinan, tekanan yang berkepanjangan, dan tidak adanya pendampingan membuat semangat serta daya tahan mentalnya perlahan-lahan hancur.
Jangan sampai struktur gereja tidak secara langsung menyakiti tubuh seorang gembala, tetapi pembiaran konflik, kepemimpinan yang tidak jelas, tekanan berkepanjangan, dan ketiadaan pendampingan perlahan menghancurkan semangat serta daya tahan mentalnya. Ketika gembala akhirnya jatuh, jangan hanya bertanya, “Mengapa dia sampai sakit?” Pertanyaan yang lebih jujur adalah, “Mengapa ketika dia sedang berjuang, kita tidak hadir?”
PENUTUP
Kisah nyata seorang gembala di pedalaman Sumatra ini bukan sekadar kisah tentang aset. Ini adalah kritik terhadap cara sebuah struktur gereja memperlakukan manusia yang berada di dalamnya.
Sinode harus berani bertanya kepada dirinya sendiri: apakah struktur ini benar-benar dibangun untuk melayani Tuhan dan manusia, atau justru manusia yang harus dikorbankan demi mempertahankan struktur? Sebab ketika jabatan, kewenangan, kepentingan organisasi, dan aset menjadi lebih penting daripada seorang gembala yang sedang terluka, maka struktur telah kehilangan tujuan utamanya. Struktur seharusnya menjadi alat pelayanan, bukan tempat manusia dikorbankan.
Jangan sampai jabatan menjadi lebih penting daripada jiwa seorang pelayan Tuhan.
Jangan sampai kewenangan menjadi lebih penting daripada keadilan.
Jangan sampai aset menjadi lebih penting daripada manusia.
Dan jangan sampai berbagai istilah rohani digunakan untuk membuat semuanya terlihat baik-baik saja sementara di baliknya ada seorang gembala yang sedang hancur.
Jangan sampai jabatan menjadi lebih penting daripada jiwa seorang pelayan Tuhan, kewenangan lebih penting daripada keadilan, dan aset lebih penting daripada manusia. Jangan pula berbagai istilah rohani digunakan untuk membuat semuanya tampak baik-baik saja, sementara di baliknya seorang gembala sedang hancur. Jangan hanya terlihat rohani di luar, tetapi kosong dalam tindakan. Jika berbicara tentang kasih, tunjukkan kasih. Jika berbicara tentang keadilan, tegakkan keadilan. Jika berbicara tentang tubuh Kristus, jangan biarkan satu anggota tubuh menderita sendirian. Dan jika berbicara tentang penggembalaan, dampingi gembala yang sedang terluka.
Sinode tidak harus selalu membenarkan seorang gembala. Tetapi sinode wajib memberikan proses yang adil, mendengar persoalan dengan sungguh-sungguh, memberikan kejelasan, dan menghadirkan pendampingan ketika seorang pelayan Tuhan berada dalam tekanan berat.
Jangan sampai jabatan menjadi lebih penting daripada jiwa seorang pelayan Tuhan, kewenangan lebih penting daripada keadilan, dan aset lebih penting daripada manusia. Jangan pula berbagai istilah rohani digunakan untuk membuat semuanya tampak baik-baik saja, sementara di baliknya seorang gembala sedang hancur. Jangan hanya terlihat rohani di luar, tetapi kosong dalam tindakan. Jika berbicara tentang kasih, tunjukkan kasih. Jika berbicara tentang keadilan, tegakkan keadilan. Jika berbicara tentang tubuh Kristus, jangan biarkan satu anggota tubuh menderita sendirian. Dan jika berbicara tentang penggembalaan, dampingi gembala yang sedang terluka.
Padahal pertanyaan yang lebih jujur adalah: “DI MANAKAH SINODE KETIKA GEMBALA ITU SEDANG BERJUANG?” Ketika ia menghadapi konflik, tekanan, ketidakpastian, dan kesendirian, siapa yang datang mendampingi? Siapa yang mendengar keluhannya? Siapa yang membantu keluarganya? Siapa yang berani mencari penyelesaian? Jangan menunggu sampai gembala jatuh, baru gereja menyadari penderitaannya.
Sebab terkadang yang paling menghancurkan seorang gembala bukan hanya besarnya konflik, tetapi perasaan bahwa ketika ia membutuhkan gereja, gereja justru tidak hadir. Bukan karena tidak ada gedung, struktur, jabatan, atau pemimpin, melainkan karena tidak ada tangan yang terulur, telinga yang mau mendengar, hati yang peduli, dan keberanian untuk hadir ketika ia benar-benar membutuhkan pertolongan.
DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders: DSM-5-TR. Washington, DC: American Psychiatric Association Publishing, 2022.
Benner, David G. Care of Souls: Revisioning Christian Nurture and Counsel. Grand Rapids: Baker Books, 1998.
Clinton, Tim, dan George Ohlschlager, eds. Competent Christian Counseling: Foundations and Practice of Compassionate Care. Colorado Springs: WaterBrook Press, 2002.
Clinebell, Howard. Basic Types of Pastoral Care & Counseling: Resources for the Ministry of Healing and Growth. Nashville: Abingdon Press, 1984.
Cloud, Henry, dan John Townsend. Boundaries: When to Say Yes, How to Say No, To Take Control of Your Life. Grand Rapids: Zondervan, 1992.
Greenleaf, Robert K. Servant Leadership: A Journey into the Nature of Legitimate Power and Greatness. New York: Paulist Press, 1977.
Heifetz, Ronald A., Alexander Grashow, dan Marty Linsky. The Practice of Adaptive Leadership: Tools and Tactics for Changing Your Organization and the World. Boston: Harvard Business Press, 2009.
Lartey, Emmanuel Y. In Living Color: An Intercultural Approach to Pastoral Care and Counseling. London: Jessica Kingsley Publishers, 2003.
McMinn, Mark R. Psychology, Theology, and Spirituality in Christian Counseling. Wheaton: Tyndale House Publishers, 1996.
World Health Organization. World Mental Health Report: Transforming Mental Health for All. Geneva: World Health Organization, 2022.
Alkitab. Alkitab Terjemahan Baru. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.
CATATAN SUMBER KISAH
Sumber utama kisah: pengalaman dan pengamatan langsung penulis ketika melakukan pelayanan di daerah pedalaman Sumatra, termasuk percakapan dan informasi yang diperoleh dalam konteks pelayanan. Identitas pribadi, lokasi spesifik, dan beberapa detail dapat disamarkan untuk menjaga kerahasiaan pihak yang terlibat.