BIOGRAFI HAJJAH RAMLAH SARI HARAHAP ORANG TUA (IBU) PDT. Dr. SYAIFUL HAMZAH M.Th
GADIS DESA DARI BATANG TORU,
TAPANULI SELATAN
Biografi Hajjah Ramlah Sari Harahap
Orang tua - Pdt. Dr. Syaiful Hamzah, M.Th
Kisah perjuangan, keteguhan, toleransi, kerja keras, dan kasih seorang ibu yang menjadi inspirasi lintas generasi.
oleh: Pdt. Dr. Syaiful Hamzah, M.Th.
Pendahuluan
Tulisan ini disusun sebagai ungkapan kasih, penghormatan, dan kenangan kepada Hajjah Ramlah Sari Harahap, ibu tercinta penulis, yang telah menjalani kehidupannya dengan penuh kesederhanaan, kerja keras, keteguhan, dan kasih sayang. Melalui tulisan ini, penulis ingin mendokumentasikan perjalanan hidup seorang perempuan dari Batang Toru, Tapanuli Selatan, yang dengan segala keterbatasan mampu menjadi teladan bagi keluarga serta memberikan pengaruh yang baik bagi orang-orang di sekitarnya.
Harapan saya, tulisan sederhana ini dapat menjadi kenangan bagi anak, cucu, dan seluruh keluarga besar kami, sekaligus menjadi pengingat akan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh Hajjah Ramlah Sari Harahap. Semoga kisah hidup beliau terus dikenang dan menjadi inspirasi untuk hidup dengan jujur, bekerja keras, menghargai sesama, serta menjalani kehidupan dengan penuh kasih.
Masa Kecil dan Pendidikan
Hajjah Ramlah Sari Harahap binti Baginda Mangalangar Harahap lahir di Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada 5 Maret 1942. Beliau merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara dalam sebuah keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, kejujuran, kerja keras, dan pentingnya pendidikan. Ayahnya, Baginda Mangalangar Harahap, dikenal sebagai salah seorang tokoh masyarakat di Aek Pinang, Batang Toru.
Selain disegani di tengah masyarakat, beliau juga dikenal sebagai Raja Huta, yaitu pemimpin kampung sekaligus pemilik lahan yang cukup luas di wilayah tersebut. Kehidupan keluarga yang dihormati masyarakat membentuk lingkungan yang sarat dengan nilai tanggung jawab, kepedulian, dan semangat melayani sesama.
Sejak kecil, Hajjah Ramlah Sari Harahap dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan dididik untuk hidup sederhana, menghormati sesama, serta menghadapi setiap tantangan dengan kerja keras, ketekunan, dan semangat pantang menyerah. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya menjadi fondasi yang membentuk karakter dan kepribadiannya. Bekal itulah yang kemudian mengantarkannya menjalani kehidupan sebagai seorang perantau, istri, ibu, pengusaha, serta tokoh yang dikenal dan dihormati, baik dalam kehidupan.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Rakyat (SR), ia melanjutkan pendidikan di SGKP Katolik Bukittinggi, Sumatera Barat. Meskipun berasal dari keluarga Muslim, ia diterima dan belajar di sekolah Katolik. Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa pendidikan menjadi tempat untuk belajar, bertumbuh, dan menghargai perbedaan. Nilai saling menghormati yang diperolehnya selama menempuh pendidikan kemudian menjadi bagian dari cara pandangnya dalam menjalani kehidupan.
Bekal pendidikan, kedisiplinan, dan pengalaman hidup yang diperolehnya menjadi modal penting ketika ia memutuskan meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke Jakarta.
Merantau ke Jakarta dan Meniti Kehidupan
Dengan tekad untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, Hajjah Ramlah Sari Harahap merantau ke Jakarta. Di ibu kota, ia memperoleh kesempatan bekerja di Bank Exim (Bank Ekspor Impor Indonesia), Selama bekerja, ia dikenal sebagai pribadi yang jujur, teliti, disiplin, dan bertanggung jawab.
Setelah beberapa tahun bekerja di Bank Exim, ia memilih berhenti dan mulai menekuni dunia bisnis. Dengan ketekunan dan semangat pantang menyerah, ia membangun usahanya sendiri. Pengalaman bekerja dan berusaha membuatnya semakin dikenal sebagai perempuan yang mandiri serta mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Aktif dalam Dunia Bola Voli
Selain menjalankan usaha bisnisnya, Hajjah Ramlah Sari Harahap memiliki perhatian yang besar terhadap olahraga, khususnya bola voli. Keaktifannya dalam organisasi membuatnya dipercaya mengemban tugas sebagai Bendahara Pengurus Besar Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) sekitar tahun 1988.
Ia juga memimpin klub bola voli putri Saroha Nauli yang menjadi tempat pembinaan atlet-atlet muda. Baginya, olahraga bukan hanya tentang meraih prestasi, tetapi juga tentang membangun disiplin, kerja sama, sportivitas, dan karakter.
Di lingkungan bola voli, Hajjah Ramlah Sari Harahap dikenal sebagai sosok yang ramah, peduli, dan senang membantu. Karena sikap keibuan dan perhatiannya kepada para atlet, pelatih, serta rekan-rekannya, beliau akrab dipanggil dengan sebutan "Mami". Panggilan tersebut menjadi bentuk penghormatan atas ketulusan dan kepeduliannya kepada banyak orang. Tidak hanya di dunia olahraga, beliau juga dikenal baik di lingkungan tempat tinggalnya. Sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan pengabdiannya kepada masyarakat, setiap kali diadakan pameran atau penayangan foto-foto kenangan para pejuang dan tokoh masyarakat di kelurahan, foto Hajjah Ramlah Sari Harahap turut ditampilkan bersama tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Hal tersebut menjadi bukti bahwa beliau dikenang sebagai salah satu warga yang telah memberikan kontribusi bagi lingkungan dan masyarakat.
Keluarga dan Warisan Kehidupan
Dalam perjalanan hidupnya, Hajjah Ramlah Sari Harahap dipertemukan dengan Haji Andi Thahir, seorang putra asal Makassar yang bekerja sebagai juru mudi di PT PELNI. Pertemuan mereka kemudian berlanjut ke jenjang pernikahan. Meskipun berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, keduanya membangun rumah tangga yang harmonis, saling menghormati, dan saling mendukung dalam setiap perjalanan kehidupan.
Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang putra tunggal, Syaiful Hamzah. Sebagai orang tua, Haji Andi Thahir dan Hajjah Ramlah Sari Harahap memberikan perhatian besar terhadap pendidikan dan pembentukan karakter putra mereka. Sejak kecil, Syaiful Hamzah dididik dengan disiplin, ditanamkan nilai-nilai moral, serta disekolahkan di madrasah hingga melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) sesuai dengan harapan kedua orang tuanya.
Salah satu nilai yang selalu diajarkan dalam keluarga adalah menghargai sesama. Pengalaman Hajjah Ramlah Sari Harahap menempuh pendidikan di sekolah Katolik membentuk cara pandangnya bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling membenci atau merendahkan. Karena itu, beliau selalu mengajarkan kepada putranya untuk menghormati setiap orang tanpa memandang suku, agama, maupun latar belakangnya. Nilai toleransi, kasih sayang, dan sikap saling menghormati menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga mereka.
Pada tahun 1990, Haji Andi Thahir dan Hajjah Ramlah Sari Harahap memperoleh kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah. Perjalanan tersebut menjadi salah satu momen yang sangat berharga dalam kehidupan mereka. Sepulang dari Tanah Suci, keduanya semakin dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, bersyukur, serta tetap aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Sejak saat itu, mereka menyandang gelar Haji dan Hajjah.
Pada 2 Oktober 1994, Hajjah Ramlah Sari Harahap mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi suami, anak, keluarga besar, sahabat, dan masyarakat yang mengenalnya. Namun, kasih sayang, pengorbanan, dan nilai-nilai kehidupan yang telah diwariskannya tetap hidup dalam hati keluarga.
Tiga tahun kemudian, pada tahun 1997, Haji Andi Thahir juga berpulang. Kepergian kedua orang tua dalam waktu yang tidak terlalu lama menjadi kehilangan yang sangat besar bagi Syaiful Hamzah. Meskipun demikian, seluruh didikan, kasih sayang, keteladanan, dan nilai-nilai yang mereka tanamkan tetap menjadi bekal dalam menjalani kehidupan.
Warisan Orang Tua dalam Perjalanan Iman
Pada akhir tahun 1997, Syaiful Hamzah merantau ke Maluku Utara, tepatnya ke Galela, Kabupaten Halmahera Utara. Di tempat inilah ia mengalami berbagai pergumulan kehidupan yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritual dan imannya. Masa tersebut bertepatan dengan situasi sosial yang penuh ketegangan di Maluku dan Maluku Utara, yang kemudian berkembang menjadi konflik sosial pada tahun 1999 dan dikenal luas sebagai bagian dari Konflik Ambon. Pengalaman hidup di tengah situasi tersebut menjadi salah satu titik penting yang membentuk karakter, keteguhan iman, serta cara pandangnya terhadap kehidupan, kemanusiaan, dan keberagaman.
Setelah melalui proses pergumulan iman yang panjang, Syaiful Hamzah akhirnya memutuskan untuk menjadi pengikut Yesus Kristus dan mengabdikan hidupnya dalam pelayanan. Panggilan tersebut kemudian membawanya menekuni pelayanan pastoral sekaligus dunia pendidikan teologi. Dalam perjalanan pelayanannya, ia dipercayakan menjadi gembala sidang di beberapa gereja dan turut berperan dalam pendidikan sebagai dosen di sejumlah Sekolah Tinggi Teologi. Seiring dengan perjalanan akademik dan pelayanannya, ia kemudian dikenal sebagai Pdt. Dr. Syaiful Hamzah, M.Th.
Selain aktif dalam pelayanan gerejawi dan pendidikan teologi, Syaiful Hamzah juga menekuni dunia kepenulisan. Melalui karya-karyanya, ia berusaha menuangkan pemikiran teologis dan refleksi atas persoalan iman serta kehidupan umat manusia. Beberapa karya yang ditulisnya antara lain Pengantar Studi Islam (Dialog Antaragama) dan Perpuluhan sebagai Prinsip Ilahi yang Tetap Berlaku, serta sejumlah tulisan dan karya lainnya. Karya-karya tersebut menjadi bagian dari upayanya untuk memperkaya wawasan teologi, membangun pemahaman antaragama, serta memberikan kontribusi bagi kehidupan gereja dan masyarakat..
Meskipun jalan hidup yang ditempuh putra mereka berbeda dari harapan yang pernah direncanakan, nilai-nilai yang diwariskan oleh Haji Andi Thahir dan Hajjah Ramlah Sari Harahap tetap menjadi dasar dalam kehidupannya. Kejujuran, kerja keras, disiplin, kepedulian, sikap menghargai sesama, dan semangat hidup dalam toleransi terus menjadi prinsip yang dipegang teguh dalam kehidupan maupun pelayanannya.
Warisan terbesar Haji Andi Thahir dan Hajjah Ramlah Sari Harahap bukanlah harta benda ataupun kedudukan, melainkan keteladanan hidup. Nilai-nilai yang mereka tanamkan terus hidup dalam keluarga melalui perpaduan dua falsafah budaya yang mereka warisi. Dari pihak ibu, semangat Dalihan Na Tolu sebagai falsafah hidup masyarakat Batak mengajarkan pentingnya saling menghormati, menjaga hubungan kekeluargaan, serta hidup dalam kebersamaan dan saling menopang. Sementara dari pihak ayah, nilai Siri' na Pacce sebagai falsafah hidup masyarakat Makassar mengajarkan pentingnya menjaga harga diri, kehormatan, tanggung jawab, serta memiliki kepedulian dan empati terhadap penderitaan sesama.
Perpaduan nilai-nilai budaya Batak dan Makassar tersebut menjadi pedoman dalam membina kehidupan keluarga dan bermasyarakat. Kejujuran, kerja keras, kasih sayang, penghormatan kepada sesama, kepedulian, serta semangat menjaga kehormatan keluarga menjadi warisan yang terus diteruskan kepada anak, cucu, dan generasi berikutnya. Haji Andi Thahir dan Hajjah Ramlah Sari Harahap akan selalu dikenang sebagai pribadi yang sederhana, penuh kasih, pekerja keras, serta mampu mempersatukan nilai-nilai luhur dari dua budaya yang berbeda. Jejak kehidupan mereka tetap hidup dalam kenangan keluarga dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.
PENUTUP
Tulisan ini merupakan ungkapan kasih dan penghormatan kepada almarhum Haji Andi Thahir dan almarhumah Hajjah Ramlah Sari Harahap. Melalui perjalanan hidup mereka, penulis ingin menyimpan kenangan agar anak, cucu, dan seluruh keluarga besar tetap mengenal serta mengingat perjuangan kedua orang tua yang telah membesarkan keluarga dengan penuh kasih, kerja keras, dan ketulusan.
Semoga kisah sederhana ini menjadi warisan keluargaku yang terus dikenang dari generasi ke generasi. Kiranya nilai-nilai kejujuran, kerja keras, toleransi, kasih sayang, dan penghormatan kepada sesama yang telah mereka teladankan tetap hidup dalam kehidupan keluargaku.
Catatan Penulis: Biografi ini disusun berdasarkan penuturan keluarga, kenangan pribadi penulis, arsip keluarga, foto-foto, serta dokumen yang masih tersedia, dan dilengkapi dengan referensi sejarah serta budaya yang relevan.
#MengenangKasihSayangOrangTua