Cristóvão Ferreira: Ketika Seorang Misionaris Menyangkal Kristus di Bawah Tekanan dan Penyiksaan

JANGAN MERASA DIRI TERLALU ROHANI UNTUK TIDAK JATUH

Cristóvão Ferreira: Ketika Seorang Misionaris Menyangkal Kristus di Bawah Tekanan dan Penyiksaan

Oleh: Pdt. Dr. Syaiful Hamzah M.Th 

PENDAHULUAN

Dalam sejarah gereja, terdapat banyak kisah tentang para pelayan Tuhan yang rela meninggalkan kenyamanan, keluarga, tanah kelahiran, bahkan keselamatan diri demi memberitakan Injil. Namun, sejarah juga mencatat kisah yang menyedihkan tentang seorang pelayan Tuhan yang akhirnya menyangkal iman yang pernah diberitakannya. Salah satu kisah tersebut adalah Cristóvão Ferreira, seorang imam Jesuit asal Portugal yang datang ke Jepang pada 1609. Ia bukan orang yang tidak mengenal iman Kristen. Ia telah menjalani pendidikan, ditahbiskan menjadi imam, melayani sebagai misionaris, dan dipercaya memegang tanggung jawab penting dalam misi Jesuit Jepang.

Ferreira bukanlah seorang misionaris yang hidup tanpa pengalaman pelayanan. Ia belajar bahasa Jepang, mengajar, melayani komunitas Kristen, dan menjalankan berbagai tanggung jawab dalam misi. Bahkan pada 1632–1633 ia menjadi vice-provincial dan administrator apostolik dalam misi Jesuit Jepang. Karena itu, kisah kejatuhannya menjadi sangat mengguncang. Orang yang memiliki pengalaman pelayanan panjang, pengetahuan iman, dan kedudukan penting ternyata tetap manusia yang dapat mengalami ketakutan dan kelemahan. Kisah ini mengingatkan kita bahwa pengalaman rohani tidak boleh membuat seseorang merasa kebal terhadap kejatuhan. Semakin banyak Tuhan mempercayakan pelayanan kepada kita, seharusnya semakin besar pula ketergantungan kita kepada-Nya.

Pada Oktober 1633, Ferreira mengalami ana-tsurushi, sebuah bentuk penyiksaan dengan menggantung seseorang secara terbalik di atas lubang. Sumber sejarah mencatat bahwa ia mengalami penyiksaan tersebut selama sekitar enam jam sebelum akhirnya melakukan apostasi atau menyangkal iman Kristennya. Fakta ini membuat kisah Ferreira menjadi sangat serius. Kita tidak sedang membicarakan seseorang yang kehilangan iman hanya karena persoalan kecil. Ia menghadapi tekanan fisik dan mental yang ekstrem. Namun, justru karena itu, kita tidak boleh terburu-buru menghakiminya. Kisah ini seharusnya membuat kita bertanya kepada diri sendiri: bagaimana keadaan iman saya apabila suatu hari saya berada dalam tekanan yang sangat berat?

Tema ini kemudian membawa kita kepada peringatan Paulus dalam 1 Korintus 10:12: “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” Peringatan tersebut bukan hanya untuk orang yang merasa lemah, tetapi juga untuk orang yang merasa dirinya kuat. Kita dapat menjadi sangat aktif dalam pelayanan, menguasai banyak pengetahuan Alkitab, memiliki jabatan gerejawi, bahkan dikenal sebagai orang yang rohani. Namun, semua itu tidak boleh membuat kita merasa tidak mungkin jatuh. Karena itu, kisah Ferreira bukan sekadar kisah tentang kegagalan seorang misionaris. Ini adalah cermin bagi kita semua: jangan merasa diri terlalu rohani untuk tidak jatuh.

1. CRISTÓVÃO FERREIRA, SEORANG MISYONARIS

Cristóvão Ferreira lahir sekitar tahun 1580 di Portugal dan masuk Serikat Yesus di Évora pada 1596. Ia kemudian menjalani pendidikan filsafat dan teologi, pergi ke Asia, dan akhirnya ditahbiskan menjadi imam di Makau pada 1608. Setahun kemudian ia berangkat ke Jepang dan tiba di Nagasaki pada 29 Juni 1609. Di Jepang ia pergi ke Arima, belajar bahasa Jepang, dan mengajar bahasa Latin. Ia kemudian menjalankan berbagai tanggung jawab dalam misi Jesuit. Perjalanan hidup tersebut menunjukkan bahwa Ferreira bukanlah seseorang yang tiba-tiba muncul dalam pelayanan. Ia melalui proses pendidikan, pembentukan, dan pelayanan yang panjang sebelum menjadi salah satu tokoh penting dalam misi Jepang.

Dalam perjalanan pelayanannya, Ferreira dipercaya menjalankan berbagai tugas penting. Ia pernah menjadi superior di Miyako dan memegang tanggung jawab sebagai konsultan serta pembimbing rohani. Pada 1632–1633, ia menjadi vice-provincial dan administrator apostolik. Kedudukan tersebut menunjukkan bahwa ia bukan hanya seorang pelayan biasa, tetapi seseorang yang dipercaya dalam kepemimpinan misi. Karena itu, ketika membaca kisah hidupnya, kita harus berhenti berpikir bahwa orang yang jatuh pasti sejak awal adalah orang yang tidak serius terhadap Tuhan. Ferreira pernah menjalani pelayanan dengan sungguh-sungguh. Justru karena itulah kisahnya menjadi peringatan bahwa masa lalu yang baik tidak otomatis menjamin seseorang akan tetap teguh ketika menghadapi ujian yang sangat berat.

Sering kali manusia mengukur kekuatan rohani berdasarkan lamanya seseorang melayani. Kita berpikir bahwa orang yang sudah puluhan tahun menjadi pendeta pasti lebih kuat daripada orang yang baru percaya. Kita menganggap orang yang memiliki banyak pengalaman pelayanan pasti lebih kebal terhadap pencobaan. Padahal, pengalaman pelayanan seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa kita membutuhkan Tuhan. Semakin lama kita berjalan bersama Tuhan, semakin banyak pula kita menyadari kelemahan diri. Pelayanan bukanlah sertifikat bahwa seseorang tidak mungkin jatuh. Gelar bukanlah jaminan bahwa seseorang tidak mungkin gagal. Pengetahuan teologi bukanlah benteng otomatis terhadap pencobaan. Semua itu harus disertai kehidupan yang terus bergantung kepada Kristus.

Karena itu, kisah Ferreira harus membuat para pelayan Tuhan berhati-hati. Jangan sampai keberhasilan pelayanan membuat kita merasa lebih hebat. Jangan sampai banyaknya pengalaman membuat kita merasa tidak membutuhkan nasihat. Jangan sampai pengetahuan Firman membuat kita merasa lebih benar daripada orang lain. Jangan sampai jabatan membuat kita merasa lebih kudus. Tuhan memberikan pelayanan bukan supaya kita membangun kebanggaan diri, tetapi supaya nama-Nya dimuliakan. Semakin besar tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita, semakin besar pula kebutuhan kita untuk menjaga hati. Pelayanan yang benar seharusnya menghasilkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Sebab orang yang merasa dirinya sudah kuat dapat berhenti berjaga-jaga.

2. PENGANIAYAAN TERHADAP ORANG KRISTEN DI JEPANG

Pada masa Ferreira melayani, keadaan Kekristenan di Jepang semakin sulit. Kebijakan anti-Kristen telah berkembang sejak akhir abad ke-16 dan semakin keras pada masa pemerintahan Tokugawa. Para misionaris menghadapi pembatasan dan pengejaran, sementara orang-orang Kristen Jepang mengalami tekanan untuk meninggalkan iman mereka. Pemerintah menggunakan berbagai cara untuk mengidentifikasi dan menekan orang Kristen. Salah satu praktik yang terkenal adalah fumi-e, yaitu tindakan menginjak gambar atau simbol Kristen sebagai tanda penolakan terhadap iman. Dalam keadaan seperti itu, menjadi seorang Kristen bukan hanya persoalan identitas keagamaan. Kesetiaan kepada Kristus dapat membawa seseorang kepada penderitaan, kehilangan kebebasan, dan ancaman terhadap keselamatan hidup.

Tekanan seperti itu memperlihatkan perbedaan antara iman yang diucapkan dan iman yang diuji. Ketika hidup aman, seseorang dapat dengan mudah berkata bahwa dirinya akan selalu setia kepada Tuhan. Namun, ketika kesetiaan harus dibayar dengan penderitaan, keputusan menjadi jauh lebih sulit. Kita dapat berbicara tentang keberanian ketika belum berada dalam bahaya. Kita dapat berbicara tentang kesetiaan ketika belum kehilangan sesuatu. Tetapi tekanan akan memperlihatkan apa yang sebenarnya menjadi dasar kehidupan kita. Apakah kita sungguh bergantung kepada Tuhan atau hanya percaya kepada kekuatan diri sendiri? Pertanyaan seperti ini tidak hanya berlaku bagi orang Kristen pada masa penganiayaan Jepang. Pertanyaan ini juga berlaku bagi kita yang hidup sekarang.

Ferreira hidup dalam keadaan ketika pelayanan misionaris semakin berbahaya. Para misionaris harus berhati-hati dan menjalankan pelayanan dalam keadaan tersembunyi. Ia mengetahui bahwa banyak orang Kristen mengalami tekanan. Ia juga mengetahui bahwa para pelayan Tuhan dapat ditangkap. Namun, pada akhirnya, tekanan yang selama ini berada di sekitar dirinya datang langsung kepada dirinya. Ia bukan lagi hanya menyaksikan penderitaan orang lain. Ia sendiri harus menghadapi keputusan yang sangat berat. Inilah salah satu hal yang membuat kisah Ferreira begitu penting. Kita sering merasa kuat ketika melihat masalah orang lain. Tetapi ketika masalah yang sama datang kepada diri kita, kita baru menyadari betapa lemahnya kita.

Penganiayaan Jepang juga mengajarkan bahwa persiapan iman tidak boleh dilakukan ketika ujian sudah datang. Jangan menunggu penderitaan untuk mulai berdoa. Jangan menunggu kehilangan untuk mulai mencari Tuhan. Jangan menunggu tekanan untuk membuka Firman. Jangan menunggu masalah untuk membangun hubungan dengan Kristus. Iman harus dipelihara ketika keadaan masih tenang. Doa harus menjadi kehidupan, bukan hanya kegiatan darurat. Firman harus menjadi makanan rohani, bukan hanya bahan khotbah. Persekutuan harus menjadi tempat pertumbuhan, bukan hanya tempat mencari dukungan. Sebab ketika tekanan datang, kita tidak dapat membangun fondasi iman secara instan. Fondasi itu sudah harus dibangun sebelumnya.

3. FERREIRA DITANGKAP DAN DISIKSA

Pada tahun 1633, Ferreira ditangkap oleh pihak berwenang Jepang dan mengalami ana-tsurushi. Penyiksaan ini dilakukan dengan menggantung seseorang secara terbalik di atas sebuah lubang dan menjadi salah satu bentuk penyiksaan yang sangat berat terhadap orang-orang yang menolak meninggalkan iman Kristen. Sumber sejarah yang digunakan oleh Encyclopaedia of Portuguese Expansion mencatat bahwa Ferreira mengalami penyiksaan tersebut selama sekitar enam jam sebelum akhirnya melakukan apostasi. Ini adalah fakta penting dalam memahami kisahnya. Ia tidak menyangkal iman dalam keadaan biasa, tetapi setelah menghadapi penderitaan fisik yang ekstrem. Karena itu, kita harus berhati-hati agar tidak menjadikan kisahnya sebagai bahan untuk merasa lebih kuat daripada dirinya.

Bayangkan seorang yang selama bertahun-tahun mengajarkan iman kepada orang lain, kemudian dirinya sendiri berada di bawah tekanan yang tidak terbayangkan. Ia tidak lagi berada di ruang kelas, mimbar, atau lingkungan komunitas yang mendukung. Ia tidak lagi mempunyai kebebasan untuk memilih keadaan yang nyaman. Ia berada dalam kondisi ketika tubuh dan pikirannya menghadapi penderitaan. Di titik seperti itu, pengalaman pelayanan masa lalu tidak otomatis menghilangkan rasa takut. Pengetahuan tidak otomatis menghapus rasa sakit. Jabatan tidak otomatis memberikan keberanian. Karena itu, kita harus belajar dari kelemahan manusia. Kita tidak boleh berkata, “Saya pasti lebih kuat.” Kita harus berkata, “Tuhan, saya membutuhkan Engkau.”

Ada perbedaan antara berbicara tentang keberanian dan menjalani keberanian ketika hidup berada dalam ancaman. Ada perbedaan antara mengajarkan kesetiaan dan mempertahankan kesetiaan ketika tubuh sedang mengalami penderitaan. Ferreira pernah berdiri sebagai misionaris dan pemimpin, tetapi akhirnya ia berada dalam posisi sebagai manusia yang sangat lemah di hadapan penyiksaan. Ini bukan berarti kita membenarkan penyangkalannya. Tetapi kita juga tidak boleh meremehkan penderitaan yang dialaminya. Kita dapat menilai tindakannya berdasarkan iman Kristen, tetapi kita tetap harus mengakui beratnya situasi sejarah yang dihadapinya. Dengan demikian, renungan kita tidak berubah menjadi penghakiman yang sombong.

Penderitaan Ferreira mengajarkan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh terlalu percaya diri terhadap kekuatan dirinya sendiri. Kita tidak tahu batas kekuatan tubuh kita. Kita tidak tahu bagaimana pikiran kita bereaksi terhadap tekanan ekstrem. Kita tidak tahu apa yang akan kita lakukan apabila berada dalam situasi yang sama. Karena itu, semakin kita menyadari kelemahan manusia, semakin kita membutuhkan Kristus. Doa bukan tanda bahwa kita lemah tanpa harapan. Doa adalah pengakuan bahwa sumber kekuatan kita bukan diri sendiri. Kita membutuhkan Tuhan bukan hanya ketika kita gagal, tetapi juga ketika kita merasa berhasil. Kita membutuhkan-Nya bukan hanya ketika jatuh, tetapi juga agar kita tetap berdiri.

4. FERREIRA MENYANGKAL IMAN KRISTEN

Setelah mengalami penyiksaan tersebut, Ferreira akhirnya melakukan apostasi atau menyangkal iman Kristennya. Peristiwa ini menjadi sangat mengguncang karena ia bukan orang biasa dalam misi Jesuit Jepang. Ia pernah memegang posisi penting dalam pelayanan dan menjadi bagian dari kepemimpinan misi. Setelah peristiwa tersebut, ia secara resmi dikeluarkan dari Serikat Yesus pada 1 November 1636. Fakta ini menunjukkan bahwa kejatuhan Ferreira bukan sekadar cerita tentang seorang misionaris yang kehilangan keberanian dalam satu hari. Ia kemudian menjalani kehidupan yang sangat berbeda dari kehidupan sebelumnya sebagai imam Jesuit. Kisah ini menjadi salah satu peristiwa tragis dalam sejarah misi Kristen di Jepang.

Namun, kita harus berhati-hati dalam menarik pelajaran. Jangan mengatakan bahwa Ferreira jatuh karena ia tidak pernah memiliki iman. Sejarah justru menunjukkan bahwa ia telah menjalani kehidupan sebagai imam dan misionaris selama bertahun-tahun. Jangan pula mengatakan bahwa semua pelayan Tuhan yang mengalami tekanan pasti akan jatuh. Banyak orang Kristen di Jepang pada masa yang sama tetap mempertahankan iman mereka bahkan sampai mati. Tetapi kisah Ferreira memperlihatkan bahwa manusia memiliki kelemahan dan bahwa pengalaman rohani tidak boleh berubah menjadi rasa percaya diri yang berlebihan. Ia mengingatkan kita bahwa seseorang dapat memiliki sejarah pelayanan yang panjang dan tetap membutuhkan pertolongan Tuhan setiap hari.

Di sinilah 1 Korintus 10:12 menjadi sangat penting: “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” Paulus tidak mengatakan bahwa orang percaya harus hidup dalam ketakutan tanpa pengharapan. Ia memperingatkan agar kita tidak sombong terhadap kekuatan sendiri. Kita tidak boleh merasa, “Saya sudah terlalu lama melayani untuk jatuh.” Jangan berkata, “Saya sudah tahu terlalu banyak Firman untuk tersesat.” Jangan berkata, “Saya sudah mengalami terlalu banyak pertolongan Tuhan untuk menyangkal-Nya.” Semua itu dapat menjadi kebanggaan jika kita tidak lagi menyadari bahwa kita membutuhkan Tuhan setiap hari.

Karena itu, ketika membaca tentang Ferreira, jangan hanya melihat kegagalannya. Lihatlah diri kita sendiri. Apakah kita sedang mengandalkan Kristus atau mengandalkan reputasi rohani? Apakah kita sedang menjaga hati atau merasa sudah aman? Apakah kita masih mau ditegur atau mulai merasa selalu benar? Apakah kita masih berdoa dengan sungguh-sungguh atau hanya menjalankan rutinitas pelayanan? Jangan sampai kita terlihat sangat rohani di depan manusia tetapi sebenarnya jauh dari Tuhan. Kesetiaan tidak dibuktikan hanya dengan kata-kata. Kesetiaan dibangun melalui kehidupan yang terus-menerus tinggal di dalam Kristus.

5. KEHIDUPAN FERREIRA SETELAH MENYANGKAL KRISTUS

Setelah apostasi, Ferreira mengambil nama Jepang Sawano Chūan. Ia kemudian menjalani kehidupan di Jepang dan bekerja sebagai penerjemah, termasuk dalam urusan yang berkaitan dengan perdagangan. Sumber sejarah juga mencatat bahwa ia kemudian terlibat dalam lingkungan pemerintahan Jepang dan aktivitas yang berkaitan dengan orang-orang Kristen. Perubahan ini sangat besar dibandingkan dengan kehidupannya sebelumnya sebagai imam dan pemimpin misi Jesuit. Ia yang dahulu berada dalam pelayanan Kristen kemudian hidup dengan identitas baru dalam masyarakat Jepang. Perjalanan ini menjadi salah satu bagian paling tragis dalam kisah hidupnya karena memperlihatkan betapa jauh kehidupan seseorang dapat berubah setelah mengalami titik balik yang besar.

Ferreira juga sering dikaitkan dengan Kengiroku, sebuah karya yang berisi bantahan terhadap Kekristenan. Namun, ketika menulis tentang hal ini, kita perlu berhati-hati dan tidak menambahkan detail yang tidak dapat dibuktikan. Kita tidak mengetahui seluruh pergumulan batinnya setelah apostasi. Kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam hati dan pikirannya pada setiap tahap kehidupannya. Kita hanya dapat berbicara berdasarkan catatan sejarah yang tersedia. Sikap seperti ini penting agar tulisan kita tidak berubah menjadi cerita dramatis yang tidak akurat. Sejarah harus dihormati, dan hal-hal yang tidak kita ketahui sebaiknya tidak kita isi dengan dugaan yang kemudian dianggap sebagai fakta.

Yang dapat kita pelajari adalah bahwa kehidupan setelah satu keputusan besar dapat membawa seseorang ke arah yang sangat berbeda. Karena itu, orang percaya harus belajar menjaga hati sebelum tekanan datang. Jangan menunggu sampai kita berada dalam krisis untuk bertanya apakah iman kita kuat. Jangan menunggu sampai hidup berada di ujung untuk mencari Tuhan. Bangunlah kehidupan doa sekarang. Pelajari Firman sekarang. Bertobatlah sekarang. Terimalah teguran sekarang. Jagalah persekutuan sekarang. Sebab ketika tekanan datang, kita membutuhkan dasar yang sudah dibangun sebelumnya. Iman bukan sesuatu yang dapat kita siapkan dalam satu malam ketika masalah sudah berada di depan mata.

Kisah Ferreira juga mengingatkan bahwa kesombongan rohani dapat menjadi pintu menuju kelalaian. Ketika seseorang merasa dirinya sudah sangat kuat, ia dapat berhenti berjaga-jaga. Ketika merasa paling benar, ia sulit menerima teguran. Ketika merasa paling kudus, ia mulai merendahkan orang lain. Ketika merasa paling tahu Firman, ia dapat berhenti belajar. Ketika merasa paling dekat dengan Tuhan, ia dapat berhenti berdoa dengan sungguh-sungguh. Karena itu, jangan membangun kehidupan rohani berdasarkan perasaan bahwa kita lebih baik daripada orang lain. Bangunlah berdasarkan kesadaran bahwa setiap hari kita membutuhkan kasih karunia Tuhan. Kerohanian yang sehat menghasilkan kerendahan hati, bukan kesombongan.

6. MERASA PALING ROHANI ADALAH AWAL DARI KEJATUHAN

Merasa paling rohani dapat menjadi jebakan yang sangat berbahaya bagi kehidupan orang percaya. Seseorang dapat merasa lebih dekat dengan Tuhan karena sudah lama melayani, banyak berdoa, menguasai Alkitab, sering berkhotbah, memiliki jabatan gerejawi, atau dianggap sebagai teladan oleh banyak orang. Namun, semua itu tidak otomatis membuat seseorang kuat ketika menghadapi ujian. Ferreira adalah seorang imam Jesuit, misionaris, dan pemimpin pelayanan. Ia memiliki pengalaman yang panjang. Tetapi pengalaman tersebut tidak membuatnya kebal terhadap tekanan. Karena itu, jangan merasa bahwa banyaknya pengalaman rohani membuat kita tidak mungkin jatuh. Pengalaman seharusnya membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin yakin bahwa kita tidak membutuhkan Tuhan.

Jangan merasa paling kudus hanya karena melihat orang lain jatuh. Jangan merasa paling benar hanya karena mampu menunjukkan kesalahan orang lain. Jangan merasa paling tahu Firman hanya karena mampu menjelaskan banyak ayat. Jangan merasa paling dekat dengan Tuhan hanya karena aktif dalam pelayanan. Jangan merasa paling layak melayani hanya karena memiliki jabatan atau gelar. Semua hal tersebut dapat menjadi berkat jika dipakai untuk kemuliaan Tuhan, tetapi dapat menjadi racun apabila dipakai untuk meninggikan diri. Kerohanian sejati bukan membuat seseorang berdiri di atas orang lain. Kerohanian sejati membuat seseorang berlutut di hadapan Tuhan dan berkata, “Tuhan, saya membutuhkan Engkau.”

Kisah Ferreira tidak boleh membuat kita berkata, “Saya tidak mungkin seperti dia.” Justru kita harus berkata, “Tuhan, jagalah saya agar saya tidak jatuh.” Kita tidak mengetahui bagaimana iman kita apabila ditempatkan dalam tekanan yang sama. Selama hidup aman, kita mudah berbicara tentang keberanian. Tetapi ketika penderitaan datang, kita baru mengetahui seberapa dalam kita sungguh-sungguh bergantung kepada Tuhan. Karena itu, jangan membangun iman di atas rasa percaya diri rohani. Jangan membangun identitas di atas pujian manusia. Jangan membangun kekuatan di atas jabatan. Bangunlah semuanya di dalam Kristus. Sebab hanya Dia yang dapat memelihara kita ketika kekuatan manusia tidak lagi mampu menolong.

Kerohanian yang sejati bukan tentang siapa yang paling banyak mengetahui Alkitab, paling lama melayani, paling sering berkhotbah, paling dikenal, atau paling dihormati. Kerohanian yang sejati terlihat dari hati yang mau ditegur, mau bertobat, mau belajar, mau mengampuni, dan tetap bergantung kepada Kristus. Seorang imam dapat jatuh. Seorang pendeta dapat lemah. Seorang pemimpin dapat gagal. Seorang teolog dapat tersesat. Seorang pelayan dapat menyerah. Karena itu, jangan pernah membanggakan kerohanian sendiri. Semakin lama kita melayani Tuhan, semakin rendah hati kita seharusnya berjalan. Yang membuat kita tetap berdiri bukan karena kita paling rohani, tetapi karena Tuhan yang memegang kita.

7. APAKAH ORANG YANG MENYANGKAL KRISTUS PASTI MASUK NERAKA?

Pada titik ini muncul pertanyaan yang sangat berat: apakah orang yang menyangkal Kristus pasti masuk neraka? Pertanyaan ini menjadi semakin serius ketika kita melihat kisah Ferreira. Ia pernah menjadi imam, misionaris, dan pemimpin pelayanan, tetapi kemudian menyangkal iman Kristennya. Apakah penyangkalan tersebut otomatis berarti seseorang kehilangan keselamatan untuk selama-lamanya? Yesus memberikan peringatan yang serius: “Barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga” (Matius 10:33). Ayat ini tidak boleh dianggap ringan. Namun, kita juga harus berhati-hati agar tidak mengambil posisi sebagai hakim atas keselamatan seseorang yang sudah meninggal.

Alkitab sendiri memberikan kisah Petrus yang pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Petrus berkata bahwa ia tidak mengenal Yesus, tetapi kemudian ia menangis dengan sedih dan mengalami pemulihan. Kisah Petrus menunjukkan bahwa kejatuhan seseorang tidak harus menjadi akhir dari perjalanan imannya. Ada ruang bagi pertobatan, pemulihan, dan kasih karunia Tuhan. Namun, ini tidak berarti penyangkalan Kristus adalah perkara kecil. Alkitab tetap memberikan peringatan keras mengenai orang yang menyangkal Kristus. Karena itu, kita perlu membedakan antara seseorang yang jatuh dalam ketakutan kemudian bertobat dengan seseorang yang terus-menerus hidup dalam penolakan terhadap Kristus. Pertanyaan ini tidak sederhana.

Lalu bagaimana dengan Ferreira? Di sinilah kita harus berhenti sebelum memberikan vonis. Sejarah mencatat apostasinya dan kehidupannya setelah itu, tetapi sejarah tidak memberikan kepada kita pengetahuan sempurna mengenai keadaan hatinya di hadapan Tuhan pada saat terakhir hidupnya. Kita tidak mengetahui seluruh pergumulan batinnya. Kita tidak memiliki dasar yang cukup untuk menyatakan dengan pasti bahwa ia bertobat pada akhir hidupnya. Tetapi kita juga tidak memiliki hak untuk berkata dengan kepastian mutlak, “Ferreira pasti masuk neraka.” Keselamatan seseorang bukanlah keputusan yang dapat kita ambil berdasarkan penilaian manusia. Allah mengetahui hati manusia dengan sempurna. Karena itu, kita harus membedakan antara menyampaikan peringatan Alkitab dan memberikan vonis akhir terhadap seseorang.

Maka, pertanyaan tentang Ferreira sebaiknya dibiarkan menjadi pertanyaan yang menggugah hati pembaca: Apakah orang yang menyangkal Kristus pasti masuk neraka? Apakah pertobatan masih mungkin setelah kejatuhan yang sangat berat? Bagaimana kasih karunia Tuhan bekerja terhadap orang yang pernah menyangkal-Nya? Apakah kita berhak menentukan keselamatan seseorang? Alkitab memberikan peringatan dan pengharapan, tetapi kita bukan hakim terakhir atas kehidupan seseorang. Biarlah pembaca bergumul dengan pertanyaan ini di hadapan Firman Tuhan. Jangan terburu-buru menghakimi Ferreira. Jangan pula meremehkan penyangkalan Kristus. Biarkan kisah ini membawa kita kepada pertobatan, kerendahan hati, dan kesetiaan yang lebih sungguh kepada Yesus Kristus.

PENUTUP

Kisah Cristóvão Ferreira bukan hanya kisah tentang seorang misionaris yang menyangkal iman. Kisah ini adalah cermin yang mengajak setiap orang percaya memeriksa kehidupannya sendiri. Ferreira pernah meninggalkan tanah kelahirannya, menjalani pendidikan Jesuit, menjadi imam, pergi ke Jepang, melayani dalam keadaan berbahaya, dan dipercaya memegang tanggung jawab penting dalam misi. Namun, pada 1633 ia mengalami penyiksaan dan akhirnya melakukan apostasi. Fakta ini menunjukkan bahwa masa lalu pelayanan yang baik tidak boleh membuat seseorang merasa aman secara rohani. Kita dapat memiliki pengalaman panjang, jabatan tinggi, dan reputasi baik, tetapi tetap membutuhkan Tuhan setiap hari.

Karena itu, pertanyaan terbesar dari kisah Ferreira bukan hanya, “Mengapa ia menyangkal Kristus?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Bagaimana keadaan iman saya ketika tekanan datang?” Apakah saya sungguh-sungguh bergantung kepada Kristus atau selama ini bergantung kepada jabatan, pengalaman, pengetahuan, gelar, dan reputasi? Apakah saya masih mau ditegur ketika melakukan kesalahan? Apakah saya masih mau bertobat ketika Tuhan menunjukkan kelemahan saya? Apakah saya masih mencari Tuhan ketika tidak ada orang yang melihat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menilai kegagalan orang lain. Sebab kisah Ferreira bukan hanya tentang dirinya. Kisah itu juga tentang kita.

Jangan merasa diri terlalu rohani untuk tidak jatuh. Jangan merasa terlalu kudus untuk berdosa. Jangan merasa terlalu kuat untuk menjadi lemah. Jangan merasa terlalu benar untuk menerima teguran. Jangan merasa terlalu lama melayani sehingga tidak membutuhkan pertolongan Tuhan. Dan jangan merasa bahwa karena Tuhan pernah memakai kita, maka kita tidak mungkin gagal. Semakin besar pelayanan yang Tuhan percayakan, semakin besar pula kebutuhan kita untuk menjaga hati. Ketika dipuji, tetap rendah hati. Ketika berhasil, kembalikan kemuliaan kepada Tuhan. Ketika ditegur, jangan mengeraskan hati. Ketika melihat orang lain jatuh, jangan meninggikan diri. Periksa hati sendiri.

Pada akhirnya, kiranya kisah Ferreira tidak membuat kita menjadi orang yang mudah menghakimi, tetapi menjadi orang yang semakin takut akan Tuhan. Ketika melihat orang lain jatuh, jangan berkata, “Saya tidak mungkin seperti dia.” Katakanlah, “Tuhan, peliharalah saya.” Ketika melihat kelemahan orang lain, jangan merasa paling kudus. Ketika mengalami keberhasilan pelayanan, jangan merasa paling hebat. Ketika menghadapi tekanan, jangan mengandalkan kekuatan sendiri. Kiranya kita terus tinggal di dalam Kristus, sebab di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5). Dan sampai akhir hidup, kiranya kita dapat berkata: “Tuhan Yesus, peganglah saya, kuatkanlah saya, dan mampukanlah saya tetap setia kepada-Mu sampai akhir.”

DAFTAR PUSTAKA
Boxer, C. R. The Christian Century in Japan, 1549–1650. Berkeley: University of California Press, 1951.

Cieslik, Hubert. “The Case of Christovão Ferreira.” Monumenta Nipponica 29, no. 1 (1974): 1–54.
Encyclopaedia of Portuguese Expansion. “Cristóvão Ferreira (1580–1654).” Faculdade de Ciências Sociais e Humanas, Universidade Nova de Lisboa.

Lembaga Alkitab Indonesia. Alkitab Terjemahan Baru (TB). Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

Mungello, D. E. The Great Encounter of China and the West, 1500–1800. Lanham: Rowman & Littlefield, 2005.

Moran, J. F. The Japanese and the Jesuits: Alessandro Valignano in Sixteenth-Century Japan. London: Routledge, 1993.

Paramore, Kiri. Ideology and Christianity in Japan. London: Routledge, 2009.

Ruiz-de-Medina, Juan. The Catholic Church in Japan: From Its Origins to the Present. Tokyo: Oriens Institute for Religious Research.

Society of Jesus. “Silence: The True Story of the Jesuits in Japan.” Jesuits.org.
Turnbull, Stephen. The Kakure Kirishitan of Japan: A Study of Their Development, Beliefs and Rituals to the Present Day. Richmond: Japan Library, 1998.

Yamamoto, J. Isamu. The History of Protestantism in Japan. Tokyo: Japan Christian Quarterly.

Postingan populer dari blog ini

MAFIA MAFIA STRUKTURAL GEREJAWI (DURI DALAM TUBUH KRISTUS)

PROFIL BIO DATA SYAIFUL HAMZAH S.Th., M.Th

PEMBULLYAN ALA STRUKTURAL GEREJAWI