Postingan

KETIKA PAHAM MENYIMPANG MASUK DALAM RUANG SINODAL

Gambar
KETIKA PAHAM MENYIMPANG MENYELINAP KE DALAM RUANG SINODAL (metafora: “Tuhan adalah suamiku, aku adalah istri Tuhan”) Oleh: Pdt. Dr (c) Syaiful Hamzah, M.Th PENDAHULUAN Tulisan ini mengkritisi masuknya ajaran menyimpang yang memelintir metafora Alkitab tentang relasi Allah dan umat-Nya secara literal, khususnya ungkapan “Tuhan adalah suamiku, aku adalah istri Tuhan.” Ajaran semacam ini kerap dibawa oleh kelompok yang bersikap eksklusif dan menentang adat atau budaya setempat, dengan klaim kemurnian iman dan kerohanian yang lebih tinggi. Masuknya paham ini ke dalam ruang sinodal bukan sekadar persoalan perbedaan tafsir, tetapi menyentuh inti iman Kristen, merusak tatanan pelayanan, serta berpotensi memecah-belah jemaat.¹ Pengalaman pastoral penulis memperlihatkan bahwa di balik bahasa-bahasa rohani tentang “kekudusan” dan klaim “paling rohani,” kerap muncul praktik yang melukai tubuh Kristus: pengambilalihan jemaat atau pelayanan gereja lain, penarikan anggota secara agresif,...

POLA STRUKTURAL CAPLOKGEREJA TEMANNYA

Gambar
POLA STRUKTURAL  CAPLOK GEREJA TEMANNNYA SENDIRI (cara Struktural Menggeser Gembala) oleh: Pdt. (Dr) Syaiful Hamzah M.Th Pendahuluan Tidak sedikit gereja lahir dari ketaatan dan pengorbanan. Jemaat dibangun melalui air mata, doa, dan kesetiaan para pelayan Tuhan. Namun, seiring waktu, muncul pola yang memprihatinkan: gereja tidak lagi dipandang sebagai ladang pelayanan, melainkan sebagai objek “penguasaan struktural”. Pola ini sering berjalan halus, tampak rapi secara administratif, tetapi meninggalkan luka rohani yang dalam.¹ Yesus menegaskan, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk. 2:27). Prinsip ini menegur kecenderungan memutlakkan sistem di atas manusia. Struktur gereja diciptakan untuk melayani kehidupan jemaat dan misi Allah, bukan untuk menundukkan gereja lokal di bawah kepentingan kuasa. Paulus juga mengingatkan para penatua agar menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh dengan darah Kristus (Kis. 20:28). Gereja adalah mil...

PENIPUAN RONHANI (MODUS BUKA GEREJA)

Gambar
PENIPUAN ROHANI: “Kami Hanya Mau Ibadah, Tapi Kok Dilarang?” (Fenomena Pembelaan Pembangkangan yang Memutus dan Membelah Gereja) Oleh: Pdt. Dr (c) Syaiful Hamzah M.Th PENDAHULUAN Ibadah merupakan pusat kehidupan umat percaya. Melalui ibadah, gereja menyatakan iman, syukur, dan ketundukan kepada Allah. Namun, dalam praktik kehidupan bergereja masa kini, muncul fenomena di mana aktivitas ibadah justru dijadikan pembenaran untuk menghindari kebenaran, menolak nasihat rohani, dan memisahkan diri dari persekutuan gereja. Ungkapan seperti “kami hanya mau ibadah” sering terdengar saleh, tetapi di balik itu tersimpan sikap hati yang enggan tunduk pada proses pemuridan, koreksi, dan rekonsiliasi.¹ Fenomena ini menimbulkan dampak serius bagi kehidupan jemaat. Alih-alih menjadi sarana pertumbuhan iman dan pemersatu tubuh Kristus, ibadah berubah menjadi tameng rohani yang menutupi luka batin, kepahitan, serta konflik yang tidak dibereskan. Dalam konteks tertentu, pembelaan atas nama ib...

MENUTUP GEREJA LIAR(Perspektif Eklesiologi dan Disiplin Gerejawi)

Gambar
MENUTUP GEREJA LIAR (Perspektif Eklesiologi dan Disiplin Gerejawi) Ditulis Oleh:  Pdt. (Dr. Cand.) Syaiful Hamzah, S.Th., M.Th. Matius 18:15–17 (TB) "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Perkataan Yesus dalam Matius 18:15–17 menegaskan bahwa disiplin adalah bagian esensial dari kasih dan kehidupan gereja. Yesus tidak mengajarkan pembiaran terhadap dosa atau penyimpangan, melainkan memberikan tahapan yang jelas dan tertib dalam menegur pelanggaran: dimulai secara pribadi, dilanjutkan dengan saksi, dan akhirnya dibawa kep...

METODE MENGKUDETA GEMBALA

Gambar
METODE MENGKUDETA GEMBALA “Pola Jemaat Pembangkang Mengkudeta Gembala: Studi Kasus — Ayat Diperalat, Nama Yesus Dijadikan Senjata” Oleh: Pdt. (c) Syaiful Hamzah PENDAHULUAN Pada hari Selasa, awal Februari 2026, seorang gembala menerima pesan WhatsApp dari seorang jemaat yang sejak lama menunjukkan pola tarik-ulur dalam keterlibatan pelayanan—kerap keluar-masuk persekutuan dan mudah tersinggung ketika ditegur. Pesan tersebut disampaikan dengan bahasa rohani dan diarahkan untuk menekan gembala yang sedang diupayakan untuk disingkirkan. Intinya, gembala dituduh tidak memiliki kasih, damai, dan pengampunan; dianggap tidak rela berkorban dalam pelayanan; dinilai “tidak seperti Kristus”; dipersoalkan terkait penggunaan gedung gereja dengan klaim bahwa “itu uang jemaat dan uang kami yang membangun gereja”; serta dibantah adanya keresahan di masyarakat sekitar dengan dalih bahwa “semua aman dan damai.”¹ Sekilas, kata-kata itu terdengar rohani: berbicara tentang kasih, damai, pengam...

GEMBALA JADI KAMBING HITAM

Gambar
GEMBALA JADI KAMBING HITAM Saya seolah dipaksa menjauh dari Kristus oleh perilaku struktural yang kotor dan kumpulan pembangkang yang munafik. Pendahuluan Sebagai seorang yang berasal dari latar belakang iman non-Kristen dan kini menjadi pengikut Kristus, tulisan ini lahir dari luka pelayanan ketika kebenaran tidak lagi dilindungi oleh struktur, melainkan dikorbankan demi kepentingan kuasa. Ketika disiplin rohani berubah menjadi alat tekanan, iman seorang pelayan diuji bukan oleh perbedaan ajaran, tetapi oleh kemunafikan yang dibungkus kesalehan. Sebagai seorang pendeta dan gembala yang dahulu berasal dari latar belakang iman non-Kristen, mengalami kekecewaan yang mendalam karena dipaksa untuk terus mengalah, mengampuni, dan legowo tanpa adanya penyesalan atau pertobatan dari pihak yang berbuat salah. Sikap ini tidak sejalan dengan ajaran Alkitab, karena pengampunan yang sejati tidak meniadakan kebenaran dan pertobatan; memaksa rekonsiliasi tanpa penyesalan justru melanggen...