Postingan

METODE MENGKUDETA GEMBALA

Gambar
METODE MENGKUDETA GEMBALA “Pola Jemaat Pembangkang Mengkudeta Gembala: Studi Kasus — Ayat Diperalat, Nama Yesus Dijadikan Senjata” Oleh: Pdt. (c) Syaiful Hamzah PENDAHULUAN Pada hari Selasa, awal Februari 2026, seorang gembala menerima pesan WhatsApp dari seorang jemaat yang sejak lama menunjukkan pola tarik-ulur dalam keterlibatan pelayanan—kerap keluar-masuk persekutuan dan mudah tersinggung ketika ditegur. Pesan tersebut disampaikan dengan bahasa rohani dan diarahkan untuk menekan gembala yang sedang diupayakan untuk disingkirkan. Intinya, gembala dituduh tidak memiliki kasih, damai, dan pengampunan; dianggap tidak rela berkorban dalam pelayanan; dinilai “tidak seperti Kristus”; dipersoalkan terkait penggunaan gedung gereja dengan klaim bahwa “itu uang jemaat dan uang kami yang membangun gereja”; serta dibantah adanya keresahan di masyarakat sekitar dengan dalih bahwa “semua aman dan damai.”¹ Sekilas, kata-kata itu terdengar rohani: berbicara tentang kasih, damai, pengam...

GEMBALA JADI KAMBING HITAM

Gambar
GEMBALA JADI KAMBING HITAM Saya seolah dipaksa menjauh dari Kristus oleh perilaku struktural yang kotor dan kumpulan pembangkang yang munafik. Pendahuluan Sebagai seorang yang berasal dari latar belakang iman non-Kristen dan kini menjadi pengikut Kristus, tulisan ini lahir dari luka pelayanan ketika kebenaran tidak lagi dilindungi oleh struktur, melainkan dikorbankan demi kepentingan kuasa. Ketika disiplin rohani berubah menjadi alat tekanan, iman seorang pelayan diuji bukan oleh perbedaan ajaran, tetapi oleh kemunafikan yang dibungkus kesalehan. Sebagai seorang pendeta dan gembala yang dahulu berasal dari latar belakang iman non-Kristen, mengalami kekecewaan yang mendalam karena dipaksa untuk terus mengalah, mengampuni, dan legowo tanpa adanya penyesalan atau pertobatan dari pihak yang berbuat salah. Sikap ini tidak sejalan dengan ajaran Alkitab, karena pengampunan yang sejati tidak meniadakan kebenaran dan pertobatan; memaksa rekonsiliasi tanpa penyesalan justru melanggen...

"KUTINGGALKAN KRISTEN, BUKAN KARENA AKU MEMBENCI YESUS"(Refleksi atas percakapan dengan seorang teman dan cermin bagi kehidupan bergereja)

Gambar
"KUTINGGALKAN KRISTEN, BUKAN KARENA AKU MEMBENCI YESUS" (Refleksi atas percakapan dengan seorang teman dan cermin bagi kehidupan bergereja) Oleh: Pdt. Dr (c) Syaiful Hamzah M.Th Suatu hari, saya berbincang dengan seorang teman—ironisnya, dialah orang yang dahulu membimbing saya dalam kekristenan. Kami pernah tinggal bersama di pastori selama bertahun-tahun, dan ia bahkan sempat menempuh pendidikan di Sekolah Alkitab hingga tingkat 3. Sementara itu, saya tidak menempuh pendidikan Sekolah Alkitab secara formal karena banyak belajar langsung darinya. Karena itu, saya terkejut ketika ia memilih berpindah agama. Dengan hati-hati saya bertanya: “Kenapa kamu pindah agama?” Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan jujur dan getir: “Aku lelah dengan orang Kristen. Di mimbar bicara kasih, tetapi di lapangan mempraktikkan kebohongan dan kemunafikan. Di mulut terdengar rohani, namun sikapnya penuh penghakiman. Bahasa doanya tinggi, tetapi cara hidupnya lebih rendah dari ...

SEJARAH KONFLIK GEREJA: Refleksi atas Modus Pendirian Gereja sebagai Praktik Kekuasaan Struktural (Studi Kasus di Dayun, Riau)

Gambar
  SEJARAH KONFLIK GEREJA Refleksi atas Modus Pendirian Gereja sebagai Praktik Kekuasaan Struktural (Studi Kasus di Dayun, Riau)     PENDAHULUAN   Tulisan ini lahir dari pengalaman nyata tentang bagaimana bahasa rohani dan struktur gereja dapat diselewengkan hingga melukai tubuh Kristus sendiri. Luka yang paling dalam seringkali bukan datang dari dunia luar, melainkan dari praktik-praktik internal yang dibungkus dengan narasi kesalehan, pelayanan, dan ketaatan struktural. Ketika bahasa iman dipakai untuk menutupi ketidakadilan, gereja perlahan kehilangan kepekaan profetisnya terhadap kebenaran.¹ Dalam kasus konflik gerejawi di Dayun, Riau, pelayanan bermula dari relasi yang baik dan komitmen yang tampak tulus. Jemaat mengajukan permohonan resmi untuk bergabung sebagai cabang, menyerahkan diri dalam penggembalaan, serta menjalani proses pembinaan dan penataan pelayanan secara pastoral. Fase awal ini ditandai oleh harapan akan pertumbuhan rohani dan tertib pelayanan, di...

MENUTUP GEREJA LIAR(Perspektif Eklesiologi dan Disiplin Gerejawi)

Gambar
MENUTUP GEREJA LIAR (Perspektif Eklesiologi dan Disiplin Gerejawi) Ditulis Oleh:  Pdt. (Dr. Cand.) Syaiful Hamzah, S.Th., M.Th. Matius 18:15–17 (TB) "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Perkataan Yesus dalam Matius 18:15–17 menegaskan bahwa disiplin adalah bagian esensial dari kasih dan kehidupan gereja. Yesus tidak mengajarkan pembiaran terhadap dosa atau penyimpangan, melainkan memberikan tahapan yang jelas dan tertib dalam menegur pelanggaran: dimulai secara pribadi, dilanjutkan dengan saksi, dan akhirnya dibawa kep...

GEREJA PARTY DOLL

Gambar
“GEREJA PARTY DOLL" Sensasi, Pembangkangan, dan Hilangnya Kekudusan” Oleh: Pdt. (Dr. Cand.) Syaiful Hamzah, M.Th 2 Timotius 3:5 (TB)  Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! Gereja dipanggil menjadi tubuh Kristus, bukan panggung sensasi. Namun hari ini, ada gereja yang lebih sibuk berdandan seperti party doll: gemerlap, ramai, viral—tetapi kehilangan roh kekudusan. Ibadah berubah jadi tontonan, mimbar jadi panggung hiburan, dan kebenaran dikalahkan oleh tepuk tangan. Sensasi sering melahirkan pembangkangan. Ketika gereja lebih takut kehilangan jemaat daripada kehilangan kebenaran, firman mulai dikompromikan. Disiplin rohani dianggap kuno, otoritas rohani dilawan, dan kekudusan dicap sebagai sikap menghakimi. Ciri-ciri gereja yang mulai terjebak dalam “party doll spirituality” antara lain: 1. Menolak otoritas rohani yang sah, namun merasa paling benar dan paling rohani. Sikap ini tampak...

PRAKTEK KANIBALISTIK ROHANI

Gambar
PRAKTIK KANIBALISTIK ROHANI (Ketika Gereja Memakan Gereja) Oleh: Pdt. (Dr. cand.) Syaiful Hamzah, M.Th “Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.” (Galatia 5:15)¹ Gereja dipanggil untuk membangun tubuh Kristus, bukan memangsa sesamanya. Namun ironi muncul ketika gereja—melalui struktur dan kewenangan—berubah menjadi gereja kanibal: tidak lagi menginjili yang terhilang, melainkan memakan gereja lain yang sudah ada—jemaatnya, pelayannya, asetnya, bahkan identitas dan sejarah pelayanannya.² Ibadah tetap berjalan. Administrasi tampak rapi. Struktur terlihat aktif. Namun arah misi telah menyimpang. Gereja tidak lagi hidup dari pengutusan, melainkan dari pengambilalihan. Pertumbuhan tidak diukur dari pertobatan jiwa dan perintisan yang sah, tetapi dari perpindahan jemaat dan penguasaan pelayanan yang telah dibangun oleh pihak lain.³ Fenomena ini sering terjadi bukan secara kasar, melainkan melalui permainan struktura...