KETIKA PAHAM MENYIMPANG MASUK DALAM RUANG SINODAL
KETIKA PAHAM MENYIMPANG MENYELINAP KE DALAM RUANG SINODAL (metafora: “Tuhan adalah suamiku, aku adalah istri Tuhan”) Oleh: Pdt. Dr (c) Syaiful Hamzah, M.Th PENDAHULUAN Tulisan ini mengkritisi masuknya ajaran menyimpang yang memelintir metafora Alkitab tentang relasi Allah dan umat-Nya secara literal, khususnya ungkapan “Tuhan adalah suamiku, aku adalah istri Tuhan.” Ajaran semacam ini kerap dibawa oleh kelompok yang bersikap eksklusif dan menentang adat atau budaya setempat, dengan klaim kemurnian iman dan kerohanian yang lebih tinggi. Masuknya paham ini ke dalam ruang sinodal bukan sekadar persoalan perbedaan tafsir, tetapi menyentuh inti iman Kristen, merusak tatanan pelayanan, serta berpotensi memecah-belah jemaat.¹ Pengalaman pastoral penulis memperlihatkan bahwa di balik bahasa-bahasa rohani tentang “kekudusan” dan klaim “paling rohani,” kerap muncul praktik yang melukai tubuh Kristus: pengambilalihan jemaat atau pelayanan gereja lain, penarikan anggota secara agresif,...