"KUTINGGALKAN KRISTEN, BUKAN KARENA AKU MEMBENCI YESUS"(Refleksi atas percakapan dengan seorang teman dan cermin bagi kehidupan bergereja)
"KUTINGGALKAN KRISTEN, BUKAN KARENA AKU MEMBENCI YESUS"
(Refleksi atas percakapan dengan seorang teman dan cermin bagi kehidupan bergereja)
Oleh: Pdt. Dr (c) Syaiful Hamzah M.Th
Suatu hari, saya berbincang dengan seorang teman—ironisnya, dialah orang yang dahulu membimbing saya dalam kekristenan. Kami pernah tinggal bersama di pastori selama bertahun-tahun, dan ia bahkan sempat menempuh pendidikan di Sekolah Alkitab hingga tingkat 3. Sementara itu, saya tidak menempuh pendidikan Sekolah Alkitab secara formal karena banyak belajar langsung darinya. Karena itu, saya terkejut ketika ia memilih berpindah agama. Dengan hati-hati saya bertanya:
“Kenapa kamu pindah agama?”
Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan jujur dan getir: “Aku lelah dengan orang Kristen. Di mimbar bicara kasih, tetapi di lapangan mempraktikkan kebohongan dan kemunafikan. Di mulut terdengar rohani, namun sikapnya penuh penghakiman. Bahasa doanya tinggi, tetapi cara hidupnya lebih rendah dari yang mereka kritik, dan jurang antara kata dan perbuatan itu melukai banyak orang.”
Saya mencoba menanggapi,
“Kalau alasanmu karena perilaku orang-orang, lalu kamu meninggalkan Yesus, bukankah di agama lain juga ada banyak orang yang bersikap serupa? Manusia tetaplah rapuh di mana pun, tetapi Yesus tetap sama; jangan biarkan kegagalan manusia memadamkan terang kebenaran yang sejati.”
Ia mengangguk pelan, lalu melanjutkan dengan suara getir: “Aku dari kecil dibesarkan dengan kata ‘kasih’. Aku diajar mengasihi, bahkan sering dipaksa mengampuni. Tapi yang aku lihat, korban didesak cepat mengampuni, sementara pelaku dibiarkan tanpa pertanggungjawaban. Kasih dijadikan slogan untuk membungkam luka, bukan jalan untuk memulihkan kebenaran.”
Perkataannya menusuk nurani saya, seperti cermin yang memaksa saya menatap kejujuran yang pahit. Ia tidak sedang menolak Yesus; ia muak dengan kekristenan yang kehilangan wajah Kristus dalam praktik hidup sehari-hari. Realitas ini mengingatkan kita pada ungkapan Mahatma Gandhi: “Aku menyukai Kristusmu, tetapi aku tidak menyukai orang-orang Kristenmu; orang-orang Kristenmu begitu berbeda dari Kristusmu,” sebuah kritik tajam yang seharusnya menuntun gereja kepada pertobatan yang nyata.¹
#Namun, di tengah pernyataan luka dan kekecewaan itu, saya tetap memilih percaya kepada Yesus dan tidak akan mengubah iman saya, karena Kristus tidak pernah gagal meskipun para pengikut-Nya sering mengecewakan. Penilaian saya terhadap manusia tidak mengubah keyakinan saya kepada Kristus; justru karena saya memahami bahwa manusia mudah mengecewakan dan jatuh dalam berbagai kesalahan serta dosa, saya semakin yakin bahwa hanya di dalam Yesus ada keselamatan.²
Kritik itu bukan serangan terhadap Yesus, melainkan cermin keras bagi para pengikut-Nya. Refleksi ini seharusnya mengguncang kehidupan bergereja kita, termasuk dalam struktur dan kepemimpinan. Ketika struktur gereja yang seharusnya melindungi justru melanggengkan ketidakadilan, luka umat berubah menjadi kekecewaan rohani.³
Ketika pelanggaran etika dan tata gereja “diselesaikan secara internal” tanpa kejujuran dan pertobatan, sementara korban diminta mengalah demi damai semu, maka kasih berubah menjadi alat legitimasi ketidakadilan, membungkam kebenaran, melanggengkan budaya impunitas, dan merusak kesaksian gereja di hadapan jemaat serta masyarakat luas.⁴
Jangan sampai pola yang sama terus berulang—hingga kita kembali menyaksikan seorang pelayan Tuhan, bahkan seorang pendeta yang pernah menggembalakan jemaat di Bekasi, akhirnya memutuskan berpindah agama karena luka yang dibiarkan dan ketidakadilan yang tidak pernah dipulihkan oleh gereja. Tragedi seperti ini seharusnya mengguncang nurani kita, memanggil gereja untuk bertobat, berbenah, dan sungguh-sungguh memulihkan yang terluka.⁵
Ironisnya, struktur gereja yang mengetahui pergumulan pendeta tersebut—yang terluka oleh kekecewaan dan amarah akibat ketidakadilan struktural—justru bersikap masa bodoh dan membiarkan gembala itu hancur perlahan, seolah lebih penting menjaga citra rohani yang tampak rapi dan “kudus” daripada menyelamatkan seorang pelayan yang terluka hingga nyaris mati secara batiniah. Inikah wajah struktur rohani kita, yang demi terlihat tertib dan suci, rela mengorbankan gembala yang terluka sampai hancur?.
Kasih yang sejati tidak pernah bertentangan dengan kebenaran dan keadilan. Pengampunan bukan karpet untuk menyapu dosa ke bawah meja, melainkan pintu menuju pertobatan dan pemulihan yang nyata. Tanpa pengakuan salah, penyesalan yang tulus, dan kesediaan bertanggung jawab, pengampunan kehilangan makna etisnya dan berubah menjadi legitimasi rohani atas ketidakadilan. Kasih menuntut keberanian menegur, memulihkan relasi, dan memulihkan martabat korban secara konkret.⁶
Struktur gereja tidak dipanggil sekadar rapi secara administratif, tetapi adil secara pastoral—berpihak pada yang lemah, berani menegur yang salah, dan setia memulihkan melalui kebenaran. Tata gereja seharusnya menjadi sarana perlindungan bagi yang terluka, bukan alat pembenaran bagi yang berkuasa. Ketika struktur kehilangan keberpihakan pada korban dan kebenaran, ia berubah menjadi mekanisme birokratis yang dingin, mematikan kepekaan pastoral, dan merusak kepercayaan umat terhadap gereja sebagai tubuh Kristus yang hidup. ⁷
Kiranya gereja tidak mengulangi praktik pahit seperti yang saya alami dalam konflik Dayun dan dinamika struktural di sana: ketika struktur yang seharusnya membela kebenaran dan keadilan menurut Injil dan tata gereja justru menekan saya—sebagai pihak yang dirugikan—untuk “legowo” dan “mengampuni” dengan bahasa rohani, sementara pelanggaran dibiarkan tanpa pertanggungjawaban yang jujur dan adil, sehingga korban mengalami luka ganda: dilukai oleh pelanggaran, lalu dipinggirkan oleh sistem gerejawi sendiri.⁸ Karena tidak menemukan keadilan dalam praktik hukum gerejawi, saya akhirnya menempuh jalur hukum negara sebagai upaya mencari keadilan yang lebih objektif, terlebih ketika terjadi intervensi struktural dan provokasi yang terorganisir terhadap gereja cabang yang saya gembalakan, sehingga konflik tidak lagi bersifat personal, melainkan sistemik dan merusak tatanan pelayanan..
Konsep yang salah dalam memahami jemaat sebagai “milik Kristus” sering kali dipelintir secara struktural sehingga jemaat mudah dibenarkan dalam pembangkangan. Seharusnya, jika jemaat sungguh milik Kristus, pembangkangan tidak boleh dinormalisasi—sekalipun dibenarkan oleh struktur daerah—karena kepemilikan Kristus menuntut ketaatan, disiplin rohani, dan tanggung jawab dalam persekutuan tubuh Kristus. Jika pembangkangan dilegalkan atas nama “hak pribadi,” di manakah makna disiplin gereja? Namun faktanya, gembala yang terluka dibiarkan sendirian; bahkan korban ditekan oleh struktur dengan dalih kode etik yang sarat konflik kepentingan, sehingga ketidakadilan justru dilembagakan oleh sistem yang seharusnya melindungi kebenaran.⁹
Mungkin kita terlalu fasih mengajarkan kasih sebagai doktrin, namun gagap mempraktikkannya sebagai etika hidup. Kita cepat mengutip ayat, tetapi lambat memikul beban orang yang terluka. Kita keras terhadap kesalahan orang lain, namun lunak terhadap dosa sendiri. Akibatnya, iman mudah terjebak pada formalitas rohani yang indah di bibir tetapi kosong dalam praksis. Gereja dipanggil bertobat dari kesalehan simbolik menuju kesetiaan yang konkret, yang berani hadir, mendengar, berjalan bersama, dan memikul penderitaan sesama secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.¹⁰
Tidak sedikit orang pergi bukan karena Injil terlalu keras, melainkan karena para pengikut Injil—bahkan dalam struktur kepemimpinan—terlalu kompromistis terhadap ketidakadilan, namun berani tampil rohani di hadapan publik dengan wibawa yang tampak kudus. Ketika kemunafikan rohani dibiarkan, kepercayaan umat terkikis, nurani publik terluka, dan gereja kehilangan kredibilitas moralnya. Injil yang seharusnya membebaskan justru dipersepsi sebagai alat pembenaran kuasa, sehingga banyak orang menjauh bukan dari Kristus, melainkan dari wajah gereja yang gagal merepresentasikan-Nya.¹¹
Terutama para pemimpin gereja: jangan hanya fasih berbicara tentang kasih, pengampunan, kepemimpinan, dan misi, tetapi lemah dalam praktik nyata; tampil sebagai pembina rohani bagi para gembala, namun gagal memberi teladan integritas di lapangan. Kiranya kisah ini menjadi peringatan yang tidak nyaman bagi kita semua.¹²
Jangan sampai orang meninggalkan Kristus,
bukan karena siapa Yesus itu, melainkan karena wajah gereja—termasuk para pemimpin dan struktur kepemimpinan—yang kita tampilkan tidak lagi menyerupai Dia. Saat gereja kehilangan keberanian menegakkan kebenaran, melindungi yang terluka, dan bertobat dari penyalahgunaan kuasa, maka kesaksian Injil runtuh di hadapan dunia.¹³
#Daftar Catatan Kaki
¹ Dietrich Bonhoeffer, The Cost of Discipleship (New York: Touchstone, 1995).
² Karl Barth, Church Dogmatics IV/1: The Doctrine of Reconciliation (Edinburgh: T&T Clark, 2004).
³ Miroslav Volf, Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity, Otherness, and Reconciliation (Nashville: Abingdon Press, 1996).
⁴ Stanley Hauerwas, A Community of Character (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981).
⁵ Henri J. M. Nouwen, The Wounded Healer (New York: Image Books, 1979).
⁶ Nicholas Wolterstorff, Justice: Rights and Wrongs (Princeton: Princeton University Press, 2008).
⁷ Christopher J. H. Wright, The Mission of God’s People (Grand Rapids: Zondervan, 2010).
⁸ David J. Bosch, Transforming Mission (Maryknoll: Orbis Books, 2011).
⁹ Eugene H. Peterson, Working the Angles: The Shape of Pastoral Integrity (Grand Rapids: Eerdmans, 1987).
¹⁰ James K. A. Smith, You Are What You Love (Grand Rapids: Brazos Press, 2016).
¹¹ Lesslie Newbigin, The Gospel in a Pluralist Society (Grand Rapids: Eerdmans, 1989).
¹² John C. Maxwell, Developing the Leader Within You 2.0 (Nashville: HarperCollins Leadership, 2018).
¹³ N. T. Wright, Following Jesus: Biblical Reflections on Discipleship (Grand Rapids: Eerdmans, 1994).
Untuk kalangan sendiri
#BertobatBro
#JanganPakaiKedokRohani
#BukalahKedokmuItu
#PutuskanMafiaRohaniStruktural
#TunjukkanKebenaran
#JanganJadiPengecut