KISAH ALEX KAWILARANG - REFLEKSI TEOLOGI BAGI IMAN KRISTEN


ALEX KAWILARANG - PRAJURIT, PERINTIS PASUKAN KHUSUS, DAN TOKOH PERMESTA

Oleh: Pdt. Dr. SYAIFUL HAMZAH M.Th

PENDAHULUAN

Alexander Evert Kawilarang, dikenal sebagai Alex Kawilarang, lahir pada 23 Februari 1920 di Jatinegara. Ia tumbuh dalam keluarga berlatar belakang militer. Ayahnya, Alexander Herman Hermanus Kawilarang, merupakan perwira KNIL, sedangkan ibunya bernama Nelly Betsy Mogot. Alex merupakan anak keempat dan satu-satunya laki-laki dari empat bersaudara. Kedua orang tuanya berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Kehidupan keluarganya yang dekat dengan dunia militer turut memperkenalkannya sejak muda kepada disiplin, kehidupan perwira, serta perpindahan tempat mengikuti penugasan ayahnya.

Dalam kehidupan keluarganya sendiri, Alex Kawilarang menikah dua kali. Pernikahan pertamanya dengan Petronella Isabella van Emden berlangsung pada 16 Oktober 1952 dan dari pernikahan tersebut ia memiliki dua anak, Aisabella Nelly Kawilarang dan Alexander Edwin Kawilarang. Setelah pernikahan tersebut berakhir, Alex kemudian menikah dengan Henny Olga Pondaag, dan dari pernikahan keduanya ia memiliki seorang anak bernama Pearl Hazel Kawilarang. Informasi mengenai kehidupan keluarga ini melengkapi gambaran Alex bukan hanya sebagai seorang perwira dan tokoh militer, tetapi juga sebagai seorang suami dan ayah di tengah perjalanan hidupnya yang penuh dengan penugasan, konflik, dan perubahan sejarah.

LAHIR DARI KELUARGA MILITER

Alex merupakan anak keempat dan satu-satunya laki-laki dari empat bersaudara, sementara ketiga saudaranya adalah perempuan. Kedua orang tuanya berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Ayahnya yang berprofesi sebagai tentara membuat keluarga mereka harus mengikuti berbagai penugasan dari satu tempat ke tempat lainnya. Karena itu, masa kecil Alex tidak berlangsung hanya di satu daerah. Ia pernah tinggal di beberapa wilayah, termasuk Jawa dan Sulawesi. Perpindahan tersebut membuat Alex sejak kecil mengenal lingkungan yang beragam sekaligus kehidupan keluarga seorang perwira. Pengalaman masa kanak-kanak itu menjadi bagian penting dari latar belakang yang kemudian membentuk perjalanan hidup dan karakternya.

Kehidupan keluarga yang dekat dengan dunia militer memberikan pengalaman tersendiri bagi Alex sejak masa muda. Ia mengenal kedisiplinan, tanggung jawab, kepatuhan terhadap tugas, serta kehidupan yang harus menyesuaikan diri dengan penugasan seorang perwira. Lingkungan tersebut turut memberikan gambaran mengenai dunia kemiliteran yang kemudian dipilihnya sebagai jalan pengabdian. Setelah menyelesaikan pendidikan umum, Alex mengikuti pendidikan militer dan menempuh jalur perwira. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan keluarganya menjadi salah satu lingkungan penting dalam perjalanan awalnya. Dari sinilah Alex mulai membangun pengalaman dan kemampuan yang kemudian membawanya menjalani berbagai tugas militer dalam perjalanan sejarah Indonesia..

MENJADI PERWIRA DAN PEJUANG

Alex menempuh pendidikan militer pada masa Hindia Belanda dan memperoleh pengalaman awal dalam lingkungan kemiliteran yang kemudian menjadi dasar perjalanan kariernya. Setelah Indonesia merdeka, ia bergabung dengan kekuatan bersenjata Republik dan mulai memperoleh berbagai penugasan penting. Dalam menjalankan tugasnya, Alex tidak hanya berhadapan dengan persoalan teknis kemiliteran, tetapi juga dengan situasi politik dan keamanan yang berkembang pada masa awal Republik. Pengalamannya semakin bertambah melalui berbagai tugas lapangan dan tanggung jawab komando. Kemampuan serta pengalaman tersebut kemudian menempatkannya sebagai salah satu perwira yang memiliki peranan penting dalam perkembangan awal kekuatan pertahanan Republik Indonesia pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Dalam perjalanan karier militernya, Alex Kawilarang memperoleh pengalaman menghadapi berbagai konflik dan pergolakan bersenjata yang terjadi setelah Indonesia merdeka. Ia terlibat dalam operasi menghadapi DI/TII di Jawa Barat serta memperoleh berbagai penugasan lain yang memperluas pengalaman militernya. Tugas-tugas tersebut menuntut kemampuan kepemimpinan, pengambilan keputusan, kedisiplinan, dan keberanian dalam menghadapi situasi yang tidak selalu mudah. Pengalaman tersebut kemudian membentuk reputasinya sebagai salah satu perwira penting pada masa awal pembentukan kekuatan pertahanan Indonesia. Perjalanan kariernya juga memperlihatkan bahwa masa awal Republik merupakan periode yang penuh tantangan, ketika para perwira harus menjalankan tugas militer sekaligus menghadapi perubahan keadaan politik dan keamanan..

MERINTIS PASUKAN KHUSUS

Pada 1952, ketika menjabat sebagai Panglima Tentara dan Teritorium III/Siliwangi, Alex Kawilarang menggagas pembentukan kesatuan komando di wilayah Siliwangi. Kesatuan tersebut dibentuk di Batujajar, Jawa Barat, sebagai bagian dari upaya menghadapi kebutuhan operasi militer yang memerlukan kemampuan khusus. Dalam proses pembentukannya, Alex menunjuk R. Idjon Djanbi untuk memimpin sekaligus membantu melatih pasukan tersebut. Pembentukan kesatuan komando ini kemudian mengalami beberapa perubahan organisasi dan nama dalam perjalanan sejarahnya. Dari perkembangan tersebut, kesatuan ini kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah terbentuknya pasukan khusus TNI Angkatan Darat yang kelak dikenal sebagai Kopassus.

Perintisan pasukan khusus menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan militer Alex Kawilarang. Gagasan tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap kebutuhan pasukan yang memiliki kemampuan berbeda dari pasukan reguler, terutama dalam menghadapi medan dan bentuk operasi tertentu. Perkembangan kesatuan yang dirintis pada masa itu kemudian menjadi bagian dari sejarah panjang pasukan khusus Indonesia. Karena perannya dalam tahap awal pembentukan kesatuan tersebut, nama Alex Kawilarang terus dikaitkan dengan sejarah awal Kopassus. Warisan tersebut tidak hanya berkaitan dengan sebuah satuan militer, tetapi juga dengan proses pembangunan kemampuan pertahanan Indonesia pada masa awal Republik ketika kebutuhan terhadap pasukan dengan kemampuan khusus semakin berkembang.

PERMESTA DAN PERUBAHAN JALAN HIDUP

Perjalanan Alex Kawilarang kemudian memasuki salah satu fase paling kontroversial dalam kehidupannya. Ketegangan antara pemerintah pusat dan sejumlah daerah berkembang menjadi pergolakan yang kemudian dikenal dalam konteks PRRI/Permesta. Pada masa tersebut, Alex berada di luar negeri dan kemudian memilih kembali ke Indonesia serta bergabung dengan Permesta. Keputusan itu menempatkannya pada posisi yang berseberangan dengan pemerintah pusat Republik Indonesia. Perubahan posisi tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah hidupnya karena sebelumnya Alex merupakan perwira yang memiliki peran dalam perjuangan dan pembentukan kekuatan militer Republik. Pergolakan tersebut memperlihatkan kompleksitas hubungan antara persoalan militer, politik, dan kepentingan daerah pada masa itu.

Keterlibatan Alex dalam Permesta menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya. Ia yang sebelumnya menjalankan tugas dalam struktur militer Republik kemudian berada di luar posisi resmi pemerintah pusat dan menghadapi konsekuensi dari pergolakan tersebut. Konflik akhirnya diselesaikan melalui operasi militer sekaligus proses penyelesaian politik. Pada 1961, pemerintah Republik Indonesia memberikan amnesti dan abolisi kepada para pengikut Permesta di bawah pimpinan Kawilarang, Laurens Saerang, dan Somba yang memenuhi panggilan pemerintah untuk kembali ke pangkuan Republik. Dengan adanya amnesti dan abolisi tersebut, Alex memasuki fase baru dalam kehidupannya setelah melewati salah satu periode paling menentukan dalam perjalanan militernya..

AKHIR HIDUP DAN PENGHORMATAN NEGARA

Setelah melewati perjalanan panjang sebagai prajurit, perintis pasukan khusus, dan tokoh yang pernah terlibat dalam pergolakan Permesta, Alex Kawilarang memasuki masa akhir kehidupannya sebagai purnawirawan. Pada 15 April 1999, dalam rangka HUT ke-47 Kopassus, ia diterima sebagai Warga Kehormatan Kopassus di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta. Pada kesempatan tersebut, ia menerima baret merah dan brevet komando kehormatan sebagai penghargaan atas jasanya dalam pembentukan pasukan khusus TNI Angkatan Darat. Penghormatan tersebut menunjukkan bahwa peran Alex dalam sejarah awal pasukan khusus tetap dikenang oleh institusi militer, meskipun perjalanan hidupnya pernah melewati konflik politik dan pergolakan Permesta.

Pada paruh pertama 1990-an, ketika mengalami sakit keras dan menjalani perawatan, Alex juga menerima Bintang Gerilya. Menjelang akhir hidupnya, ia tetap dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan dan pembentukan pasukan khusus Indonesia. Alex Kawilarang meninggal dunia pada 6 Juni 2000 di Jakarta dalam usia 80 tahun. Jenazahnya kemudian dibawa ke Bandung dan disemayamkan di lingkungan Kodam III/Siliwangi sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung, dengan penghormatan dan upacara militer. Ia juga pernah menyatakan tidak ingin dimakamkan di TMP Kalibata dan memilih Cikutra, sesuai pandangannya sendiri mengenai gelar dan kepahlawanan..

PENUTUP

Alex Kawilarang meninggalkan perjalanan hidup yang panjang dan penuh perubahan. Ia lahir dalam keluarga militer, menempuh pendidikan perwira, kemudian bergabung dengan perjuangan Republik dan memperoleh berbagai tanggung jawab penting dalam perjalanan awal pembentukan kekuatan pertahanan Indonesia. Namanya kemudian dikenal sebagai salah satu perintis pasukan khusus melalui gagasannya membentuk kesatuan komando di lingkungan Siliwangi. Namun perjalanan hidupnya tidak berhenti pada keberhasilan militer. Keterlibatannya dalam Permesta menjadi bagian kontroversial yang kemudian membawa konsekuensi politik dan mengubah arah perjalanan hidupnya secara mendalam pada masa tersebut.

Pada akhirnya, kisah Alex Kawilarang memperlihatkan bahwa perjalanan seorang manusia tidak selalu berjalan dalam garis yang lurus. Dalam satu kehidupan dapat terdapat pengabdian, keberanian, keberhasilan, perbedaan pandangan, konflik, penderitaan, perubahan keadaan, hingga penghormatan kembali. Karena itu, sejarah Alex tidak cukup dilihat hanya dari satu sisi atau satu periode kehidupannya. Ia merupakan bagian dari sejarah Indonesia yang memiliki berbagai lapisan dan konteks. Perjalanan tersebut mengingatkan kita bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi, sementara perjalanan waktu dapat mengubah cara sebuah bangsa memandang dan mengenang seseorang dalam sejarahnya..

#REFLEKSI IMAN KRISTEN

Kisah Alex Kawilarang mengajak kita merenungkan bagaimana seseorang mengambil sikap ketika berhadapan dengan keadaan yang menurut keyakinannya tidak benar atau tidak adil. Kita tidak berada pada posisi untuk menghakimi seluruh keputusan, pergumulan, dan pilihan hidupnya. Sejarah memperlihatkan bahwa manusia dapat berada dalam situasi yang kompleks, ketika keputusan yang diambil membawa keberanian sekaligus konsekuensi. Dari kisah tersebut, kita dapat bercermin kepada diri sendiri: apakah kita berani mempertahankan apa yang kita yakini benar ketika keadaan tidak berpihak kepada kita? Iman Kristen mengajarkan bahwa kerinduan terhadap kebenaran harus menjadi bagian dari kehidupan orang percaya. “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” (Matius 5:6)

Dalam kehidupan iman, memperjuangkan kebenaran membutuhkan keberanian, tetapi keberanian harus berjalan bersama kerendahan hati dan pemeriksaan diri. Ada saatnya seseorang perlu berdiri ketika melihat ketidakadilan, membela yang lemah, dan menyampaikan apa yang diyakininya benar. Namun, orang percaya juga harus berhati-hati agar perjuangan tersebut tidak berubah menjadi kepentingan pribadi, kemarahan, luka, kebencian, atau ambisi. Karena itu, sebelum menilai orang lain, kita perlu memeriksa hati sendiri di hadapan Tuhan. “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (1 Tesalonika 5:21) Kisah ini akhirnya tidak harus membawa kita menentukan siapa yang sepenuhnya benar atau salah, melainkan mengajak kita belajar bahwa memperjuangkan kebenaran membutuhkan keberanian, sementara menjaga hati tetap benar membutuhkan kerendahan hati. “Hendaklah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.” (Amos 5:24)

DAFTAR PUSTAKA

Conboy, Kenneth J. 2003. Kopassus: Inside Indonesia’s Special Forces. Jakarta: Equinox Publishing.

Harvey, Barbara Sillars. 1977. Permesta: Half a Rebellion. Ithaca, New York: Cornell Modern Indonesia Project, Southeast Asia Program, Cornell University.

Israr, Hikmat. 2010. Kolonel A.E. Kawilarang, Panglima Pejuang dan Perintis Kopassus. Jakarta: Asmi Publishing.

K.H., Ramadhan. 1988. A.E. Kawilarang: Untuk Sang Merah Putih: Pengalaman 1942–1961. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Miftahudin, Abdul Fatah. 2020. Jejak Perjuangan dan Pengabdian Alex Evert Kawilarang terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (1945–2000). Skripsi. Bandung: UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Miftahudin, Abdul Fatah, dan Ading Kusdiana. 2020. “Peran Alex Evert Kawilarang dalam Menumpas DI/TII di Jawa Barat.” Historia Madania: Jurnal Ilmu Sejarah.

Muhammad. 2017. Sikap dan Pandangan Kolonel Alex Evert Kawilarang terhadap Perjuangan Rakyat Semesta, 1952–1961. Skripsi. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Historia.id. 2025. “Alex Kawilarang Menolak Disebut Pahlawan.”

Museum Kopassus. “Kolonel A.E. Kawilarang.”

Pusat Sejarah TNI. Sejarah TNI Angkatan Darat. Jakarta: Pusat Sejarah TNI.

Republik Indonesia. 1961. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 322 Tahun 1961 tentang Pemberian Amnesti dan Abolisi kepada Para Pengikut Gerakan “Permesta” di bawah Pimpinan Kawilarang, Laurens Saerang dan Somba yang Memenuhi Panggilan Pemerintah Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi. Jakarta, 22 Juni 1961.

#HutRiKe81

Postingan populer dari blog ini

MAFIA MAFIA STRUKTURAL GEREJAWI (DURI DALAM TUBUH KRISTUS)

PROFIL BIO DATA SYAIFUL HAMZAH S.Th., M.Th

PEMBULLYAN ALA STRUKTURAL GEREJAWI