PENYERAHAN ANAK DAN PROSESINYA - PELAYAAN PASTORAL
PENYERAHAN ANAK DAN PROSESINYA - PELAYAAN PASTORAL
Oleh: Pdt. Dr. Syaiful Hamzah, M.Th.
PENDAHULUAN
Penyerahan anak merupakan salah satu bentuk ungkapan syukur orang tua kepada Tuhan atas kehidupan anak yang dipercayakan kepada mereka. Anak bukan sekadar milik keluarga, tetapi merupakan anugerah Tuhan yang harus diterima dengan penuh tanggung jawab. Karena itu, ketika orang tua membawa anak ke hadapan Tuhan, mereka sedang menyatakan bahwa kehidupan anak berada dalam pemeliharaan dan penyertaan Tuhan. Gereja hadir untuk menyaksikan, mendoakan, dan memberikan dukungan kepada keluarga dalam menjalankan tanggung jawab tersebut.
Penyerahan anak juga merupakan kesempatan bagi orang tua untuk menyadari panggilan mereka sebagai pendidik utama dalam keluarga. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan jasmani, pendidikan, kesehatan, dan masa depan anak, tetapi juga menyangkut pertumbuhan iman serta pembentukan karakternya. Orang tua dipanggil untuk memperkenalkan Tuhan melalui perkataan, kehidupan, teladan, doa, dan tindakan nyata. Dengan demikian, rumah menjadi tempat pertama bagi anak untuk mengenal kasih, kebenaran, disiplin, dan nilai-nilai Kristiani.
Dalam pelaksanaannya, penyerahan anak perlu dipahami dengan benar agar tidak disamakan dengan baptisan. Penyerahan anak bukanlah sakramen baptisan dan bukan pula tindakan yang membuat seorang anak otomatis memperoleh keselamatan. Penyerahan merupakan ungkapan iman dan komitmen orang tua untuk menyerahkan kehidupan anak kepada Tuhan serta mendidiknya dalam jalan Tuhan. Oleh sebab itu, prosesi ini harus dilakukan dengan pemahaman yang benar, sederhana, penuh sukacita, dan berpusat kepada Tuhan Yesus Kristus.
Melalui penyerahan anak, gereja juga mengingatkan seluruh jemaat bahwa pertumbuhan anak merupakan tanggung jawab bersama. Orang tua membutuhkan dukungan gereja, sementara gereja membutuhkan keluarga yang sungguh-sungguh menjalankan panggilan rohaninya. Anak membutuhkan lingkungan yang sehat untuk bertumbuh dalam kasih, iman, karakter, dan kebenaran. Karena itu, penyerahan anak bukan hanya peristiwa keluarga, tetapi juga momentum gereja untuk menyatakan kepedulian terhadap generasi yang Tuhan percayakan bagi masa depan keluarga, gereja, dan masyarakat.
PENGERTIAN PENYERAHAN ANAK
Penyerahan anak adalah tindakan orang tua membawa anak ke hadapan Tuhan sebagai ungkapan syukur atas anugerah kehidupan yang telah Tuhan berikan. Dalam prosesi tersebut, orang tua menyatakan bahwa mereka menyadari anak merupakan pemberian Tuhan yang harus dipelihara dengan kasih dan tanggung jawab. Anak tidak hanya dipandang sebagai kebahagiaan keluarga, tetapi juga sebagai pribadi yang memiliki masa depan dan panggilan yang harus diarahkan kepada kehendak Tuhan sejak masa pertumbuhannya.
Penyerahan anak juga menjadi pernyataan bahwa orang tua membutuhkan pertolongan Tuhan dalam menjalankan tugas membesarkan anak. Tidak ada orang tua yang sempurna dalam menjalankan tanggung jawab tersebut. Karena itu, mereka datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati, memohon hikmat, kesabaran, kekuatan, kesehatan, dan kasih. Orang tua menyadari bahwa mendidik anak membutuhkan lebih daripada kemampuan manusia. Mereka membutuhkan pertolongan Roh Kudus agar dapat menjadi teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Secara rohani, penyerahan anak mengandung makna bahwa keluarga menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan rumah tangga. Orang tua tidak hanya berusaha memberikan masa depan yang baik secara materi, tetapi juga berusaha membangun dasar iman yang kuat. Anak diperkenalkan kepada doa, Firman Tuhan, ibadah, kasih, pengampunan, kejujuran, tanggung jawab, dan kehidupan yang benar. Semua nilai tersebut perlu diperlihatkan melalui teladan orang tua sehingga anak dapat melihat iman bukan hanya sebagai teori, melainkan kehidupan nyata.
Dengan demikian, penyerahan anak tidak boleh berhenti pada prosesi di gereja. Prosesi tersebut merupakan awal dari sebuah komitmen yang harus dijalankan terus-menerus di dalam keluarga. Setelah anak didoakan dan diserahkan, orang tua tetap memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan membimbingnya. Gereja pun dipanggil untuk mendampingi keluarga melalui pelayanan pastoral, pendidikan rohani, sekolah minggu, persekutuan, dan berbagai bentuk pembinaan yang membantu anak bertumbuh mengenal Kristus serta hidup sesuai Firman Tuhan.
DASAR ALKITABIAH PENYERAHAN ANAK
Salah satu dasar penting penyerahan anak terdapat dalam Markus 10:13–16. Dalam bagian tersebut, orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus supaya Ia menjamah mereka. Murid-murid sempat menghalangi, tetapi Yesus justru meminta agar anak-anak itu datang kepada-Nya. Yesus menerima, memeluk, dan memberkati mereka. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa anak memiliki tempat yang penting dalam perhatian Tuhan. Gereja dipanggil untuk menerima, mengasihi, memperhatikan, dan membawa anak semakin dekat kepada Tuhan.
Amsal 22:6 memberikan prinsip penting mengenai pendidikan anak: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya.” Ayat tersebut menunjukkan bahwa pendidikan anak bukan tanggung jawab yang dapat diabaikan. Anak membutuhkan arahan, keteladanan, disiplin, kasih, dan pengajaran yang benar. Orang tua perlu memperhatikan perkembangan anak secara menyeluruh, baik secara fisik, intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual. Pendidikan yang diberikan sejak dini dapat menjadi dasar penting bagi pembentukan karakter dan kehidupannya pada masa depan.
Ulangan 6:6–7 juga menegaskan pentingnya mengajarkan Firman Tuhan kepada anak secara terus-menerus. Firman Tuhan tidak hanya diajarkan ketika berada di gereja, tetapi harus menjadi bagian kehidupan sehari-hari dalam keluarga. Orang tua dapat mengajarkan iman melalui percakapan, doa bersama, pembacaan Alkitab, ibadah keluarga, serta teladan kehidupan. Anak akan lebih mudah memahami nilai iman ketika melihat bahwa orang tuanya benar-benar menjalankan apa yang mereka ajarkan dalam kehidupan nyata setiap hari.
Efesus 6:4 mengingatkan orang tua agar mendidik anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Pendidikan Kristen bukan berarti membangun ketakutan dalam diri anak, melainkan membentuk kehidupan yang mengenal kebenaran, kasih, disiplin, tanggung jawab, dan penghormatan kepada Tuhan. Karena itu, penyerahan anak harus menjadi momentum untuk kembali kepada prinsip Alkitab. Anak perlu dibimbing dengan kasih dan kebenaran agar bertumbuh menjadi pribadi yang memiliki karakter baik serta mampu menjadi saksi Kristus di tengah kehidupan.
TANGGUNG JAWAB ORANG TUA
Tanggung jawab pertama orang tua adalah memberikan kasih yang nyata kepada anak. Kasih bukan hanya diwujudkan melalui pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga melalui perhatian, waktu, komunikasi, penerimaan, perlindungan, dan kehadiran orang tua. Anak membutuhkan kepastian bahwa dirinya dikasihi dan diterima. Ketika anak mengalami kesulitan, orang tua harus menjadi tempat yang aman untuk berbicara dan mendapatkan arahan. Kasih yang sehat akan membantu anak membangun kepercayaan diri dan memahami nilai dirinya sebagai ciptaan Tuhan.
Tanggung jawab berikutnya adalah memberikan pendidikan dan disiplin yang benar. Anak membutuhkan batasan agar memahami mana yang baik dan mana yang tidak baik. Disiplin tidak boleh dilakukan berdasarkan kemarahan, kekerasan, atau kebencian, tetapi harus dilakukan dengan kasih, ketegasan, dan tujuan mendidik. Orang tua perlu menjelaskan alasan sebuah aturan, memberikan konsekuensi yang sesuai, serta mengajarkan anak bertanggung jawab atas tindakannya. Dengan demikian, disiplin menjadi sarana pembentukan karakter, bukan sekadar hukuman terhadap kesalahan anak.
Orang tua juga bertanggung jawab menjadi teladan bagi anak. Anak belajar bukan hanya melalui nasihat, tetapi terutama melalui apa yang mereka lihat setiap hari. Cara orang tua berbicara, menyelesaikan masalah, memperlakukan pasangan, menghadapi kesulitan, berdoa, beribadah, bekerja, mengampuni, dan menghormati orang lain akan menjadi contoh yang direkam oleh anak. Karena itu, orang tua harus menyadari bahwa kehidupan mereka merupakan pengajaran yang terus-menerus dilihat oleh anak. Teladan yang baik dapat memberikan pengaruh yang sangat kuat.
Tanggung jawab terbesar orang tua dalam konteks iman adalah membawa anak mengenal Tuhan dan bertumbuh dalam Firman-Nya. Orang tua perlu membiasakan doa, membaca Alkitab, mengikuti ibadah, dan mengajarkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari. Anak perlu memahami bahwa iman bukan sekadar kegiatan gereja, tetapi cara hidup. Melalui pendampingan yang konsisten, orang tua dapat membantu anak mengenal kasih Tuhan, memahami kebenaran, membangun karakter, serta belajar mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai Firman Tuhan.
TAHAPAN DAN PROSESI PENYERAHAN ANAK
Prosesi penyerahan anak merupakan rangkaian ibadah yang dilakukan secara teratur sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan sekaligus pernyataan komitmen orang tua dalam menerima, mengasihi, mendidik, membimbing, dan menjaga anak yang Tuhan percayakan. Setiap gereja dapat menyesuaikan tata cara pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan dan kebiasaan gereja masing-masing, namun tetap berpusat pada Firman Tuhan, doa, berkat, serta tanggung jawab orang tua.
Secara umum, prosesi dapat dimulai dengan pembukaan, panggilan orang tua dan anak, pembacaan Firman Tuhan, nasihat atau pengajaran singkat, perjanjian orang tua, penyerahan anak dan doa berkat, pemberian sertifikat, foto bersama, serta penutup. Setiap tahapan memiliki makna tersendiri dan menjadi bagian dari kesatuan ibadah. Yang terpenting bukan sekadar urutan acaranya, tetapi adanya pemahaman iman dan komitmen nyata orang tua untuk membesarkan anak dalam kasih serta takut akan Tuhan.
Berikut ini adalah contoh sederhana tata cara prosesi penyerahan anak yang dapat digunakan dan disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan gereja. Contoh ini menggunakan nama Keluarga Jamusren Barasa dan Br. Hasugian dengan nama anak Ester, sehingga dapat menjadi model praktis bagi pendeta atau pelayan Tuhan dalam melaksanakan prosesi penyerahan anak di dalam ibadah
CONTOH PROSESI PENYERAHAN ANAK
KELUARGA BARASA & Br HASUGIAN
NAMA ANAK: ESTER
PEMBUKAAN
Dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Amin.
Hari ini kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia mempercayakan seorang anak kepada keluarga ini. Dengan penuh sukacita, kita membawa Ester ke hadapan Tuhan untuk diserahkan, didoakan, dan diberkati.
PANGGILAN ORANG TUA & ANAK
Untuk mengikuti prosesi penyerahan anak, kami mengundang Bapak Barasa dan Ibu Br. Hasugian bersama anak mereka, Ester, untuk maju ke hadapan Tuhan dan jemaat.
PEMBACAAN FIRMAN TUHAN
Firman Tuhan menjadi dasar bagi kita dalam melaksanakan penyerahan anak. Mari kita membaca Markus 10:13–16.
NASIHAT/PENGAJARAN SINGKAT
Ester adalah anugerah dan titipan Tuhan bagi Keluarga Barasa dan Br. Hasugian. Karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengasihi, memelihara, mendidik, menjadi teladan, serta membimbing Ester untuk mengenal, mengasihi, dan hidup di dalam Tuhan sepanjang kehidupannya.
PERJANJIAN ORANG TUA
Bapak Barasa dan Ibu Br. Hasugian, apakah Saudara bersedia menerima Ester sebagai anugerah Tuhan, mengasihi, mendidik, membimbing, melindungi, serta menjadi teladan baginya dalam kehidupan yang takut akan Tuhan?
ORANG TUA:
Ya, kami bersedia. Kiranya Tuhan menolong kami.
PENYERAHAN ANAK & DOA BERKAT
Dengan iman kepada Tuhan Yesus Kristus, anak yang bernama Ester, putri dari Keluarga Jamusren Barasa dan Br. Hasugian, kami serahkan kepada Tuhan. Kiranya Tuhan melindungi, menyertai, memberkati, memberikan kesehatan, hikmat, pertumbuhan, dan masa depan yang baik bagi Ester.
DOA:
Bapa dalam nama Tuhan Yesus Kristus, pada hari ini kami menyerahkan Ester ke dalam tangan-Mu. Berkati dan lindungi dia. Berikan kesehatan, pertumbuhan, hikmat, sukacita, dan masa depan yang baik.
Jadikan Ester anak yang mengasihi Tuhan, menghormati orang tua, bertumbuh dalam iman, dan menjadi berkat bagi keluarga, gereja, serta sesamanya.
Kami juga berdoa bagi Bapak Barasa dan Ibu Br. Hasugian. Berikan mereka hikmat, kesabaran, kekuatan, dan kasih dalam mendidik serta membesarkan Ester sesuai dengan kehendak-Mu.
Kami menyerahkan seluruh kehidupan Ester ke dalam tangan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa dan mengucap syukur. Amin.
PEMBERIAN SERTIFIKAT
Sebagai tanda telah dilaksanakannya penyerahan Ester dalam ibadah ini, kami menyerahkan sertifikat kepada Bapak Barasa dan Ibu Br. Hasugian. Kiranya sertifikat ini menjadi pengingat akan tanggung jawab dan komitmen keluarga dalam membimbing Ester di dalam Tuhan.
FOTO BERSAMA
Selanjutnya kita akan mengabadikan momen sukacita penyerahan Ester melalui foto bersama.
PENUTUP
Tuhan telah mempercayakan Ester kepada Keluarga Barasa dan Br. Hasugian. Kiranya keluarga ini terus berjalan dalam kasih, iman, kesetiaan, dan takut akan Tuhan. Kiranya Tuhan Yesus senantiasa menyertai, melindungi, dan memberkati Ester serta seluruh keluarganya. Tuhan Yesus memberkati. Amin.
KESIMPULAN.
Penyerahan anak merupakan momentum penting bagi keluarga untuk kembali menyadari bahwa kehidupan anak adalah anugerah Tuhan yang harus dipelihara dengan penuh tanggung jawab. Prosesi tersebut bukan sekadar acara seremonial, melainkan pernyataan iman dan komitmen orang tua di hadapan Tuhan. Karena itu, setelah prosesi selesai, tanggung jawab orang tua justru terus berjalan. Mereka dipanggil untuk mendidik, mengasihi, membimbing, melindungi, dan menjadi teladan agar anak bertumbuh dalam iman serta karakter yang sesuai dengan Firman Tuhan.
Kiranya setiap anak yang diserahkan kepada Tuhan bertumbuh menjadi pribadi yang sehat, berkarakter, memiliki iman yang kuat, mengasihi Tuhan, menghormati orang tua, dan menjadi berkat bagi sesama. Kiranya orang tua diberikan hikmat dan kekuatan dalam menjalankan panggilan mereka, sementara gereja terus menjadi tempat yang mendukung pertumbuhan keluarga. Dengan demikian, penyerahan anak menjadi awal perjalanan iman yang membawa keluarga semakin dekat kepada Tuhan dan mempersiapkan generasi yang hidup untuk memuliakan nama-Nya.
DAFTAR PUSTAKA
Alkitab. Alkitab Terjemahan Baru (TB). Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.
Boehlke, Robert R. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Harianto GP. Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab dan Dunia Pendidikan Masa Kini. Yogyakarta: ANDI.
Homrighausen, E. G. dan I. H. Enklaar. Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Hadiwijono, Harun. Iman Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Ismail, Andar. Ajarlah Mereka Melakukan: Kumpulan Karangan Seputar Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Sidjabat, B. S. Membesarkan Anak dengan Kreatif. Yogyakarta: ANDI.
Sidjabat, B. S. Strategi Pendidikan Kristen: Suatu Tinjauan Teologis-Filosofis. Yogyakarta: ANDI.
Soedarmo, R. Ikhtisar Dogmatika. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Verkuyl, J. Etika Kristen: Bagian Umum. Jakarta: BPK Gunung Mulia.