SEKALI DI UDARA, TETAP DI UDARA: Yusuf Ronodipuro: Pejuang Radio, Penyiar Proklamasi, dan Salah Satu Pendiri RRI
🇮🇩 SEKALI DI UDARA, TETAP DI UDARA
Yusuf Ronodipuro: Pejuang Radio, Penyiar Proklamasi, dan Salah Satu Pendiri RRI
Penulis: Pdt. Dr. Syaiful Hamzah M.Th
PENDAHULUAN
Kemerdekaan Indonesia tidak lahir hanya dari pertempuran di medan perang. Di balik perjuangan para pejuang yang mengangkat senjata, terdapat mereka yang berjuang melalui pena, berita, mikrofon, dan gelombang radio. Salah satu tokoh penting dalam perjuangan melalui suara adalah Yusuf Ronodipuro. Pada masa ketika informasi menjadi kekuatan yang sangat menentukan, radio menjadi sarana untuk membangkitkan semangat rakyat dan memperkenalkan keberadaan Republik Indonesia kepada dunia. Melalui keberanian dan pengabdiannya, Yusuf Ronodipuro mengambil bagian penting dalam menyebarkan kabar kemerdekaan Indonesia, sekaligus membangun suara perjuangan yang kemudian menjadi bagian dari sejarah Radio Republik Indonesia (RRI).
Kisah Yusuf Ronodipuro adalah kisah tentang keberanian mempertaruhkan diri demi sebuah suara. Ketika kemerdekaan telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa berita tersebut didengar oleh rakyat dan dunia. Dalam situasi penuh tekanan dan pengawasan, Yusuf bersama rekan-rekannya berusaha menjadikan radio sebagai alat perjuangan. Suara yang keluar melalui pemancar bukan sekadar berita, melainkan penegasan bahwa Indonesia telah berdiri sebagai bangsa yang merdeka. Dari perjuangan itulah lahir semangat yang kemudian dikenang melalui semboyan: “Sekali di Udara, Tetap di Udara.”
1. MASA KECIL DAN LATAR BELAKANG
1. MASA KECIL DAN LATAR BELAKANG
Muhammad Jusuf Ronodipuro lahir di Salatiga, Jawa Tengah, pada 30 September 1919, ketika Indonesia masih berada di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Ia tumbuh pada masa ketika kehidupan masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh sistem penjajahan dan kesempatan untuk memperoleh pendidikan masih berbeda berdasarkan latar belakang sosial. Masa kecilnya berlangsung dalam lingkungan masyarakat yang belum menikmati kemerdekaan dan belum memiliki kebebasan menentukan masa depan bangsa sendiri. Mengenai nama, pekerjaan, dan latar belakang orang tua Yusuf, sumber sejarah yang dapat diverifikasi belum memberikan keterangan yang cukup kuat. Karena itu, informasi tersebut tidak perlu ditambahkan secara spekulatif. Yang penting, lingkungan zaman tempat Yusuf tumbuh menjadi bagian dari pembentukan perjalanan hidupnya.
Pendidikan kemudian menjadi bagian penting dalam pembentukan dirinya. Yusuf menempuh pendidikan hingga tingkat sekolah menengah dan dikenal sebagai lulusan Algemeene Middelbare School, yaitu sekolah menengah atas dengan sistem pendidikan Belanda, di Batavia. Pendidikan pada masa kolonial memberikan kesempatan kepada sebagian kecil masyarakat pribumi untuk memperoleh pengetahuan yang lebih luas. Bagi Yusuf, pengalaman pendidikan tersebut memperkenalkannya kepada dunia yang lebih luas daripada lingkungan tempat kelahirannya. Ia hidup dalam masa ketika perubahan sosial dan perkembangan pemikiran mulai berkembang di kalangan masyarakat Indonesia. Karena itu, masa muda Yusuf tidak hanya dibentuk oleh keadaan penjajahan, tetapi juga oleh pendidikan yang memberinya pengetahuan dan wawasan untuk menghadapi perubahan zaman.
Masa kecil dan pendidikan Yusuf berlangsung jauh sebelum Indonesia menjadi negara merdeka. Ia tumbuh sebagai seorang pemuda yang menyaksikan bagaimana bangsa Indonesia hidup dalam kekuasaan kolonial. Situasi tersebut menjadi latar sejarah yang penting untuk memahami perjalanan hidupnya kemudian. Namun, perjuangannya tidak langsung dimulai melalui radio. Sebelum dikenal sebagai wartawan dan penyiar, Yusuf terlebih dahulu menjalani kehidupan sebagai seorang pemuda yang memperoleh pendidikan dan memasuki dunia pekerjaan. Dengan demikian, pengalaman masa kecil dan pendidikannya dapat dilihat sebagai fondasi awal yang membentuk karakter, wawasan, serta kesiapan dirinya menghadapi perubahan besar yang terjadi ketika Indonesia memasuki masa pendudukan Jepang dan kemudian menuju kemerdekaan.
2. MEMASUKI DUNIA JURNALISTIK DAN RADIO
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Yusuf Ronodipuro mulai memasuki dunia pekerjaan. Ia pernah bekerja di perusahaan dagang milik Belanda sebelum akhirnya berpindah ke bidang yang lebih dekat dengan komunikasi dan penerangan. Ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, kehidupan masyarakat mengalami perubahan besar dan berbagai lembaga berada di bawah pengawasan pemerintahan pendudukan Jepang. Dalam situasi tersebut, Yusuf kemudian bekerja di bidang propaganda dan selanjutnya di Keimin Bunka Sidosho, yaitu Pusat Kebudayaan yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang. Pengalaman tersebut menjadi langkah awal yang mempertemukannya dengan dunia komunikasi, informasi, dan penyampaian pesan kepada masyarakat.
Perjalanan Yusuf kemudian semakin dekat dengan dunia jurnalistik dan penyiaran. Pada tahun 1943, ia bekerja sebagai wartawan di Hoso Kyoku, yaitu radio militer Jepang di Jakarta. Di tempat inilah Yusuf memperoleh pengalaman langsung dalam dunia pemberitaan radio. Ia berhadapan dengan proses penyampaian informasi melalui media yang memiliki jangkauan luas dan mampu menyampaikan berita dengan cepat kepada masyarakat. Radio pada masa itu bukan sekadar alat hiburan, melainkan sarana penting untuk menyebarkan informasi dan memengaruhi pandangan masyarakat. Pengalaman Yusuf sebagai wartawan radio kelak menjadi bekal yang sangat menentukan ketika sejarah Indonesia memasuki masa paling penting, yaitu saat Proklamasi Kemerdekaan harus segera diketahui oleh rakyat dan dunia.
Bekerja di Hoso Kyoku juga menempatkan Yusuf pada lingkungan yang sangat strategis sekaligus penuh tekanan. Radio berada di bawah pengawasan Jepang sehingga informasi yang disampaikan tidak sepenuhnya bebas. Namun, Yusuf dan rekan-rekannya memiliki pengetahuan tentang cara kerja penyiaran dan jaringan komunikasi yang kemudian sangat berguna ketika kesempatan untuk menyebarkan berita kemerdekaan muncul. Dengan demikian, masuknya Yusuf ke dunia jurnalistik dan radio bukanlah peristiwa yang tiba-tiba. Perjalanan tersebut merupakan hasil dari pengalaman kerja sebelumnya yang secara bertahap membawanya ke dunia pemberitaan. Semua pengalaman itu akhirnya mempersiapkannya menghadapi sebuah tugas besar: menyampaikan berita bahwa Indonesia telah merdeka.
3. MENYIARKAN KABAR KEMERDEKAAN
Pada 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Namun, pembacaan Proklamasi belum berarti seluruh rakyat Indonesia dan dunia langsung mengetahui bahwa sebuah negara baru telah berdiri. Saat itu, Jepang masih menguasai berbagai sarana komunikasi, termasuk radio. Yusuf Ronodipuro yang sedang berada di Hoso Kyoku Jakarta juga belum mengetahui secara langsung berita Proklamasi tersebut. Situasi berubah ketika Syahruddin, wartawan muda kantor berita Domei, berhasil menerobos penjagaan Jepang dan menemui Yusuf. Ia membawa secarik kertas berisi teks Proklamasi yang harus segera disebarluaskan kepada masyarakat dan dunia melalui radio.
Setelah menerima teks tersebut, Yusuf Ronodipuro memahami bahwa kesempatan itu tidak boleh dilewatkan. Atas pesan Adam Malik, ia ditugaskan untuk menyebarluaskan berita kemerdekaan Indonesia melalui radio. Persoalannya, studio siaran Hoso Kyoku berada dalam pengawasan ketat Jepang, sedangkan ruang siaran yang dapat digunakan untuk siaran mancanegara sudah tidak terhubung dengan pemancar. Keadaan tersebut membuat tugas Yusuf semakin berbahaya sekaligus sulit. Namun, ia tidak menyerah. Dengan pengetahuan yang dimilikinya tentang radio, Yusuf berusaha mencari jalan agar pemancar kembali dapat digunakan. Seorang teknisi kemudian membantu menghubungkan kembali peralatan tersebut sehingga siaran dapat dilakukan dan suara kemerdekaan Indonesia bisa menembus pengawasan Jepang.
Setelah hubungan pemancar berhasil dipulihkan, Yusuf Ronodipuro segera memanfaatkan kesempatan tersebut. Sekitar pukul 19.00 pada malam 17 Agustus 1945, ia membacakan teks Proklamasi melalui siaran radio untuk disebarluaskan ke luar Indonesia. Ia tidak hanya menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa Inggris agar berita tentang kemerdekaan Indonesia dapat dipahami oleh masyarakat internasional. Langkah tersebut sangat penting karena perjuangan Indonesia bukan hanya membutuhkan dukungan rakyat di dalam negeri, tetapi juga perlu diketahui oleh bangsa-bangsa lain. Melalui gelombang radio, berita tentang lahirnya Republik Indonesia mulai menembus batas wilayah dan menjangkau pendengar di berbagai tempat di luar Indonesia.
Siaran Yusuf Ronodipuro menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah penyebaran berita kemerdekaan Indonesia. Radio internasional di Inggris, Amerika Serikat, dan Singapura berhasil menangkap berita tersebut dan kemudian menyebarkannya kembali. Dengan demikian, informasi tentang kemerdekaan Indonesia tidak berhenti di dalam gedung Hoso Kyoku, tetapi bergerak melalui gelombang radio menuju dunia internasional. Tindakan Yusuf menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan juga berlangsung melalui keberanian menggunakan informasi sebagai senjata perjuangan. Ia mempertaruhkan keselamatan dirinya demi memastikan bahwa suara Proklamasi tidak dapat dibungkam. Malam itu, sebuah mikrofon dan pemancar radio menjadi alat perjuangan yang membantu dunia mendengar bahwa Indonesia telah menyatakan dirinya merdeka.
4. MEMPERTARUHKAN NYAWA DEMI SEBUAH SUARA
Keberanian Yusuf Ronodipuro menyiarkan Proklamasi bukanlah tindakan yang bebas dari risiko. Pada 17 Agustus 1945, gedung Hoso Kyoku berada dalam pengawasan ketat Kempetai, yaitu polisi militer Jepang. Yusuf dan rekan-rekannya mengetahui bahwa penyiaran berita kemerdekaan tanpa izin dapat menimbulkan akibat serius. Namun, mereka tetap mencari jalan agar teks Proklamasi dapat disampaikan kepada masyarakat dan dunia. Yusuf bahkan masuk ke studio siaran mancanegara yang sudah tidak digunakan dan mengusahakan agar pemancarnya kembali terhubung. Tindakan tersebut menunjukkan bahwa bagi Yusuf, menyampaikan berita kemerdekaan merupakan tanggung jawab yang lebih besar daripada rasa takut terhadap ancaman penguasa Jepang.
Setelah siaran Proklamasi berhasil mengudara, pihak Jepang akhirnya mengetahui siapa yang terlibat. Sekitar pukul 22.00, beberapa perwira Kempetai datang ke gedung radio dan menangkap Yusuf Ronodipuro serta Bachtiar Lubis. Mereka kemudian mengalami penyiksaan sebagai hukuman atas tindakan menyiarkan berita kemerdekaan tanpa persetujuan Jepang. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa siaran tersebut bukan sekadar pekerjaan jurnalistik biasa. Pada saat itu, membaca berita tentang kemerdekaan Indonesia melalui radio dapat dianggap sebagai tindakan pembangkangan terhadap kekuasaan pendudukan Jepang. Yusuf tidak hanya menghadapi tekanan pekerjaan, tetapi juga menghadapi kekerasan fisik karena memilih menggunakan radio sebagai sarana perjuangan bangsa.
Ancaman yang dihadapi Yusuf bahkan sangat serius. Salah satu sumber sejarah mencatat bahwa seorang perwira Kempetai begitu marah hingga menghunus samurai dan bersiap memenggal Yusuf Ronodipuro dan Bachtiar Lubis. Situasi tersebut kemudian berubah setelah Tomobachi, pimpinan radio tentara Jepang yang dikenal dekat dengan para pegawai radio, datang dan membantu mereka. Yusuf dan Bachtiar akhirnya dibebaskan. Kisah ini menunjukkan bahwa perjuangan Yusuf memiliki risiko nyata terhadap keselamatan dirinya. Ia bukan sekadar berada di belakang mikrofon, tetapi berhadapan langsung dengan kekuasaan yang dapat menghukum bahkan menghilangkan nyawanya karena berita yang disampaikannya.
Peristiwa tersebut memberi makna yang lebih dalam terhadap perjuangan Yusuf Ronodipuro. Kemerdekaan tidak hanya diperjuangkan melalui senjata di medan perang, tetapi juga melalui keberanian menyampaikan kebenaran kepada masyarakat. Pada saat itu, mikrofon menjadi alat perjuangan, pemancar menjadi sarana untuk menembus batas penjajahan, dan suara menjadi cara untuk menegaskan bahwa Indonesia telah merdeka. Yusuf mempertaruhkan keselamatannya agar kabar Proklamasi tidak berhenti di satu tempat dan tidak berhasil dibungkam oleh penguasa. Karena itu, perjuangannya menjadi bagian penting dari sejarah komunikasi kemerdekaan Indonesia: sebuah suara yang dipertahankan dengan keberanian, bahkan ketika keselamatan diri menjadi taruhannya.
5. MENDIRIKAN RRI DAN MEWARISKAN SUARA REPUBLIK
5. MENDIRIKAN RRI DAN MEWARISKAN SUARA REPUBLIK
Perjuangan Yusuf Ronodipuro tidak berhenti setelah ia menyiarkan berita Proklamasi pada 17 Agustus 1945. Setelah siaran Hoso Kyoku dihentikan dan disegel oleh Jepang pada 19 Agustus 1945, para pejuang radio menyadari bahwa Republik Indonesia membutuhkan radio sendiri sebagai sarana komunikasi antara pemerintah dan rakyat. Yusuf kemudian bersama sejumlah pejuang lainnya terus berusaha mempertahankan suara kemerdekaan. Dalam perkembangan berikutnya, para tokoh radio dari berbagai daerah menyatukan langkah untuk membentuk radio nasional. Yusuf Ronodipuro menjadi salah seorang tokoh yang berperan dalam proses tersebut dan kemudian dikenal sebagai salah satu pendiri Radio Republik Indonesia pada 11 September 1945.
Pada 11 September 1945 pukul 17.00, delapan perwakilan bekas Hoso Kyoku bertemu dengan pemerintah di bekas gedung Raad Van Indje, Pejambon, Jakarta. Mereka adalah Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomomarto, Harto, dan Maladi. Abdulrahman Saleh menjadi ketua delegasi dan menyampaikan pentingnya radio sebagai alat komunikasi antara pemerintah dan rakyat. Mereka mengusulkan agar radio-radio yang sebelumnya dikuasai Jepang dapat digunakan oleh Republik. Meskipun pemerintah pada awalnya keberatan karena peralatan radio dianggap sebagai inventaris Sekutu, para tokoh radio tetap memperjuangkan gagasan tersebut. Akhirnya, dibentuklah Persatuan Radio Republik Indonesia yang menjadi dasar lahirnya RRI.
Setelah pertemuan dengan pemerintah, para tokoh radio melanjutkan rapat di rumah Adang Kadarusman. Rapat tersebut melibatkan perwakilan dari berbagai stasiun radio di Jawa. Dari Purwokerto hadir Soetaryo; dari Yogyakarta hadir Soemarmadi dan Soedomomarto; dari Semarang hadir Soehardi dan Harto; dari Surakarta hadir Maladi dan Soetardi Hardjolukito; sedangkan dari Bandung hadir Darya, Sakti Alamsyah, dan Agus Marahsutan. Surabaya dan Malang belum mengirimkan perwakilan. Dari rangkaian perjuangan dan rapat tersebut, pada 11 September 1945 Radio Republik Indonesia resmi didirikan, dengan Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum pertama. RRI kemudian meneruskan penyiaran dari delapan stasiun radio di Jawa.
Yusuf Ronodipuro mempunyai tempat penting dalam sejarah tersebut. Ia telah membuktikan keberaniannya melalui siaran Proklamasi dan kemudian ikut dalam perjuangan membangun radio Republik. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang mengusulkan semboyan “Sekali di Udara, Tetap di Udara.” Semboyan tersebut menggambarkan tekad bahwa suara perjuangan Republik tidak boleh berhenti sekalipun menghadapi tekanan dan ancaman. Yusuf tidak berjuang seorang diri; di belakang lahirnya RRI terdapat banyak tokoh radio dari berbagai daerah yang menyatukan keberanian, pengetahuan, dan perjuangan mereka. Karena itu, warisan RRI bukan hanya milik satu orang, melainkan hasil perjuangan bersama para perintis radio yang menjadikan suara sebagai alat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
PENUTUP
Kisah Yusuf Ronodipuro mengingatkan kita bahwa perjuangan kemerdekaan memiliki banyak bentuk. Ada yang berjuang dengan senjata di medan pertempuran, ada yang menggunakan pena untuk menyampaikan gagasan, dan ada pula yang menggunakan suara untuk membangkitkan kesadaran bangsa. Yusuf memilih radio sebagai medan perjuangannya. Ia memahami bahwa berita kemerdekaan harus segera diketahui rakyat Indonesia dan dunia. Karena itu, ia berani mengambil risiko, bahkan mempertaruhkan keselamatan dirinya. Dari seorang pemuda yang lahir di Salatiga, ia tumbuh menjadi wartawan, penyiar, dan pejuang komunikasi. Melalui mikrofon dan gelombang radio, ia ikut memastikan bahwa suara Proklamasi tidak berhenti di satu tempat, tetapi terus bergerak menyampaikan pesan kemerdekaan Indonesia.
“Sekali di Udara, Tetap di Udara” bukan sekadar semboyan bagi dunia penyiaran, tetapi juga menjadi gambaran tentang keteguhan para pejuang radio dalam mempertahankan suara Republik. Yusuf Ronodipuro menunjukkan bahwa sebuah bangsa membutuhkan orang-orang yang berani menyuarakan kebenaran, terutama ketika suara itu menghadapi ancaman untuk dibungkam. Perjuangannya mengajarkan bahwa kemerdekaan harus terus dijaga melalui informasi yang benar, persatuan, keberanian, dan tanggung jawab. Suara Indonesia yang dahulu diperjuangkan melalui pemancar radio kini menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Selama suara perjuangan tetap hidup dan kebenaran terus disampaikan, semangat kemerdekaan akan tetap terdengar: sekali di udara, tetap di udara.
REFLEKSI IMAN KRISTEN DAN TANGGUNG JAWAB SEBAGAI WARGA NEGARA INDONESIA
Kisah yusuf Ronodipuro mengajarkan bahwa mencintai Indonesia bukan hanya tugas para pahlawan, tetapi tanggung jawab setiap warga negara. Yusuf menggunakan kemampuan yang dimilikinya melalui radio untuk menyampaikan berita kemerdekaan kepada rakyat dan dunia. Ia berani mengambil risiko demi kepentingan bangsa. Sebagai orang Kristen, kita juga dipanggil untuk memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan bangsa melalui pekerjaan, pelayanan, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama. Firman Tuhan berkata, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang” (Yeremia 29:7). Ayat ini mengingatkan bahwa iman kepada Tuhan harus diwujudkan melalui kepedulian dan tindakan nyata bagi masyarakat serta bangsa tempat kita hidup.
Sebagai orang Kristen, kita tidak dipanggil hanya untuk beribadah di gereja, tetapi juga menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat. Kehidupan kita harus menjadi kesaksian melalui sikap menghargai sesama, menjaga persatuan, menolong orang yang membutuhkan, dan membangun hubungan yang penuh kasih. Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia. Kamu adalah terang dunia” (Matius 5:13-14). Menjadi garam dan terang berarti memberikan pengaruh yang baik di mana pun kita berada. Karena itu, orang Kristen harus mampu menjadi pembawa damai, bukan sumber pertengkaran; menjadi pembangun, bukan perusak; dan menjadi berkat bagi masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun kelompok.
Kisah Yusuf Ronodipuro juga mengingatkan kita tentang tanggung jawab menggunakan suara. Pada zamannya, radio menjadi sarana penting untuk menyampaikan berita kemerdekaan. Sekarang, kita memiliki media sosial yang memungkinkan perkataan tersebar dengan sangat cepat. Karena itu, orang Kristen harus bijaksana dalam berbicara dan membagikan informasi. Jangan menggunakan media untuk menyebarkan kebencian, fitnah, berita palsu, atau perkataan yang memecah persatuan. Alkitab berkata, “Pakailah perkataan yang baik untuk membangun” (Efesus 4:29). Maka, suara kita hendaknya digunakan untuk menyampaikan kebenaran, memberikan pengharapan, menguatkan orang lain, dan membangun kehidupan bersama. Dengan demikian, komunikasi kita menjadi kesaksian iman yang nyata.
Menjadi orang Kristen di Indonesia berarti menjalankan iman kepada Kristus sekaligus bertanggung jawab sebagai warga negara. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Iman Kristen justru mengajarkan kita untuk hidup tertib, menghormati sesama, menaati hukum, menjaga kedamaian, dan melakukan kebaikan. Rasul Paulus berkata, “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya” (Roma 13:1). Karena itu, kehidupan sebagai warga negara juga dapat menjadi bagian dari kesaksian iman. Ketika orang Kristen bekerja dengan jujur, membayar kewajiban dengan bertanggung jawab, menghormati perbedaan, menjaga ketertiban, dan tidak merugikan orang lain, ia sedang menunjukkan bahwa iman kepada Kristus memiliki dampak nyata dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Pada akhirnya, kisah Yusuf Ronodipuro mengajarkan bahwa setiap orang memiliki medan perjuangannya sendiri. Yusuf memiliki radio dan menggunakannya untuk menyuarakan kemerdekaan. Kita mungkin memiliki mimbar, keluarga, sekolah, kantor, pelayanan, media sosial, atau profesi masing-masing. Semua itu dapat menjadi sarana untuk menghadirkan kebaikan bagi bangsa. Firman Tuhan berkata, “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang” (1 Petrus 4:10). Karena itu, sebagai orang Kristen dan warga negara Indonesia, marilah kita menggunakan kehidupan, kemampuan, pekerjaan, dan suara kita untuk membangun bangsa, menjaga persatuan, menyebarkan kebenaran, dan menjadi berkat bagi Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Komisi Penyiaran Indonesia. (2020). Peraih Lifetime Achievement Anugerah KPI: Mohammad Yusuf Ronodipuro, Sang Penyebarluas Kabar Kemerdekaan Indonesia. Jakarta: Komisi Penyiaran Indonesia. "Sumber KPI" (https://reference-url-citation.invalid/0)
Kompas.com. (2021). Adryamarthanino, V., & Nailufar, N. N. M Yusuf Ronodiputro, Penyiar Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Jakarta: Kompas.com. "Sumber Kompas.com" (https://reference-url-citation.invalid/1)
Radio Republik Indonesia. (2023). Allan. Mengenal Sejarah Berdirinya RRI. Jakarta: Radio Republik Indonesia. "Sumber RRI" (https://reference-url-citation.invalid/2)
Radio Republik Indonesia. (2024). Noormuliansyah, M. Sejarah Lahirnya Hari Radio 11 September. Jakarta: Radio Republik Indonesia. "Sumber RRI" (https://reference-url-citation.invalid/3)
Radio Republik Indonesia. (2024). Yuhernawati. Mengenal Sejarah di Balik Lahirnya Hari Radio Nasional. Sabang: Radio Republik Indonesia. "Sumber RRI" (https://reference-url-citation.invalid/4)
Radio Republik Indonesia. (2025). Kaguma, N. Ini Sejarah RRI Pertama Kali Mengudara untuk Indonesia. Jakarta: Radio Republik Indonesia. "Sumber RRI" (https://reference-url-citation.invalid/5)
Radio Republik Indonesia. (2025). Prasetyo, Y. B. Jejak Perjuangan Yusuf Ronodipuro dalam Sejarah RRI. Jakarta: Radio Republik Indonesia. "Sumber RRI" (https://reference-url-citation.invalid/6)
Radio Republik Indonesia. (2025). Sejarah Lahirnya RRI, Jelang HUT ke-80. Jakarta: Radio Republik Indonesia. "Sumber RRI" (https://reference-url-citation.invalid/7)
#SekaliDiUdaraTetapDiUdara #MenyuarakanKebenaran #MelaluiMediaDanRadio
#YusufRonodipuro #RRI #KemerdekaanIndonesia #HUTRI81