Postingan

KETIKA PAHAM MENYIMPANG MASUK DALAM RUANG SINODAL

Gambar
KETIKA PAHAM MENYIMPANG MENYELINAP KE DALAM RUANG SINODAL (metafora: “Tuhan adalah suamiku, aku adalah istri Tuhan”) Oleh: Pdt. Dr (c) Syaiful Hamzah, M.Th PENDAHULUAN Tulisan ini mengkritisi masuknya ajaran menyimpang yang memelintir metafora Alkitab tentang relasi Allah dan umat-Nya secara literal, khususnya ungkapan “Tuhan adalah suamiku, aku adalah istri Tuhan.” Ajaran semacam ini kerap dibawa oleh kelompok yang bersikap eksklusif dan menentang adat atau budaya setempat, dengan klaim kemurnian iman dan kerohanian yang lebih tinggi. Masuknya paham ini ke dalam ruang sinodal bukan sekadar persoalan perbedaan tafsir, tetapi menyentuh inti iman Kristen, merusak tatanan pelayanan, serta berpotensi memecah-belah jemaat.¹ Pengalaman pastoral penulis memperlihatkan bahwa di balik bahasa-bahasa rohani tentang “kekudusan” dan klaim “paling rohani,” kerap muncul praktik yang melukai tubuh Kristus: pengambilalihan jemaat atau pelayanan gereja lain, penarikan anggota secara agresif,...

PEMBULLYAN ALA STRUKTURAL GEREJAWI

Gambar
  I.          Pendahuluan Dalam kehidupan bergereja masa kini, muncul fenomena yang diam-diam melukai banyak pelayan Tuhan: pembullyan ala struktural gerejawi. Ini bukan sekadar perbedaan pendapat atau konflik biasa, melainkan bentuk kekerasan rohani yang beroperasi melalui sistem, jabatan, dan kebijakan organisasi. [1] Pembullyan struktural sering kali tidak tampak secara kasat mata karena dibungkus dalam bahasa yang tampak rohani seperti “penertiban,” “pembinaan,” atau “demi ketertiban gereja.” Bahasa rohani ini kerap digunakan untuk melegitimasi tindakan yang sebenarnya sarat dengan motif kekuasaan, sehingga pelanggaran etis terselubung di balik retorika spiritualitas dan membuat korban seolah bersalah karena menolak tunduk pada otoritas yang tidak adil.” [2] Padahal di balik istilah itu tersembunyi semangat penguasaan dan pelemahan terhadap sesama pelayan. Fenomena ini memperlihatkan bahwa struktur gerejawi dapat berubah...