KETIKA SINODE JADI JURUSELAMAT OLEH PDT. SYAIFUL HAMZAH M.Th
KETIKA SINODE JADI JURUSELAMAT
Refleksi terhadap bahaya menggantikan Kristus
dengan struktur gerejawi sebagai dasar keselamatan
Oleh: Pdt. Syaiful Hamzah M.Th
1 Korintus 1:12–13 (TB)
"Yang aku maksudkan ialah bahwa kamu masing-masing berkata:
Aku dari golongan Paulus, atau aku dari golongan Apolos,
atau aku dari golongan Kefas, atau aku dari golongan Kristus.
Adakah Kristus terbagi-bagi? A dakah Paulus disalibkan karena kamu?
Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?"
PENDAHULUAN
Di tengah perkembangan gereja modern, fenomena fanatisme denominasi dan loyalitas struktural menjadi gejala umum yang tersembunyi di balik aktivitas rohani. Banyak orang Kristen secara terang-terangan mengaku percaya kepada Yesus Kristus, namun dalam praktik kehidupan dan pelayanan, mereka lebih menaruh kepercayaan pada sinode, denominasi, atau tokoh rohani tertentu sebagai dasar jaminan keselamatan dan kebenaran. Keanggotaan dalam sebuah struktur gerejawi seringkali dianggap sebagai bukti bahwa seseorang telah berada "di jalan yang benar", bahkan tidak jarang menjadi syarat mutlak untuk pengakuan sebagai orang percaya sejati. Akibatnya, muncul anggapan keliru bahwa di luar sinode tertentu tidak ada keselamatan, dan bahwa kebenaran hanya dimiliki oleh kelompoknya sendiri. Iman menjadi identitas eksklusif pada nama sinode, bukan lagi pada pribadi Kristus. Loyalitas struktural lebih dijunjung daripada pertobatan dan pengenalan sejati akan Kristus, bahkan dijadikan ukuran kebenaran dan keselamatan yang mutlak.Gereja tampak hidup secara lahiriah, tapi mati secara rohani karena salib tak lagi jadi pusat.
Realitas ini mencerminkan persoalan mendasar yang pernah terjadi di jemaat Korintus. Rasul Paulus menegur keras jemaat yang telah membagi diri dalam kelompok-kelompok berdasarkan nama pemimpin rohani: “Aku dari Paulus, aku dari Apolos, aku dari Kefas...” (1 Korintus 1:12). Fanatisme terhadap tokoh atau golongan telah menggeser Kristus dari pusat iman dan menciptakan kesombongan rohani yang memecah tubuh Kristus. Paulus dengan tegas mempertanyakan: “Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu?” (1 Korintus 1:13). Dengan kata lain, Kristuslah satu-satunya dasar keselamatan, bukan manusia, bukan kelompok, dan bukan sistem. Ketika kita mulai mengukur kebenaran berdasarkan organisasi, bukan Injil; ketika kita merasa lebih benar karena nama gereja, bukan karena buah pertobatan—maka sesungguhnya kita telah menyimpang dari esensi iman Kristen.
Dalam konteks ini, sinode, denominasi, dan struktur gereja memang penting sebagai alat penatalayanan, tetapi mereka tidak boleh menggantikan peran sentral Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat dan dasar iman. Bahaya tersembunyi muncul ketika seseorang secara rohani merasa aman hanya karena tergabung dalam sistem tertentu, padahal tidak pernah sungguh-sungguh mengalami kelahiran baru atau pertobatan sejati. Keselamatan adalah karya anugerah yang bersumber dari salib, bukan dari sinode. Kita dipanggil untuk menjadi bagian dari tubuh Kristus, bukan hanya dari struktur keagamaan. Oleh karena itu, gereja masa kini perlu menyadari dan mengoreksi sikap rohani yang lebih mengandalkan sistem daripada Kristus. Kita perlu kembali menempatkan Yesus sebagai pusat segala-galanya—bukan hanya dalam doktrin, tapi dalam praktik iman kita sehari-hari. Kesetiaan sejati bukan diukur dari fanatisme terhadap sistem, melainkan dari hidup yang mencerminkan kasih, ketaatan, dan ketekunan memikul salib setiap hari. Tanpa hubungan pribadi dengan Kristus, gereja hanyalah rutinitas kosong tanpa kehidupan rohani.
I. KETIKA INSTITUSI MENGGANTIKAN KRISTUS “AGAMAKU ADALAH SINODE KU”.
Dalam dunia kekristenan masa kini, tidak sedikit orang yang secara tidak sadar mengganti pusat imannya dari Kristus kepada institusi. Ungkapan terselubung seperti “yang penting saya di sinode yang benar” atau “gereja saya sudah terdaftar resmi, jadi saya pasti selamat” mencerminkan penyimpangan iman yang halus namun serius. Keselamatan yang seharusnya berakar pada pengorbanan Kristus, kini digeser dan direduksi menjadi keanggotaan organisasi. Padahal dalam terang firman Tuhan, keselamatan tidak pernah berasal dari sistem, struktur, atau status keagamaan, melainkan dari kasih karunia Allah melalui iman yang hidup kepada Yesus Kristus. Ketika seseorang menaruh rasa aman secara rohani hanya karena ia berada dalam suatu sinode, maka sesungguhnya ia sedang mengganti Injil dengan sistem manusia. Untuk itu, ada beberapa poin penting yang perlu direnungkan:
1.1 Diselamatkan oleh Anugerah, Bukan Usaha atau Keanggotaan Organisasi. Dalam (Efesus 2:8–9) mengatakan “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Ayat ini dengan jelas mengajarkan bahwa keselamatan bukan hasil usaha, tradisi, keaktifan pelayanan, atau keanggotaan gereja, tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah melalui iman. Keselamatan adalah pemberian, bukan upah; anugerah, bukan hasil transaksi dengan institusi. Namun sayangnya, banyak orang Kristen hari ini merasa aman secara rohani hanya karena mereka terdaftar sebagai anggota sinode tertentu, telah dibaptis secara resmi, atau aktif mengikuti kegiatan gereja. Tidak sedikit yang meyakini bahwa status administratif tersebut otomatis menjamin posisi mereka di hadapan Allah. Ini adalah ilusi keselamatan yang membahayakan. Tidak ada sinode, sertifikat baptisan, atau kartu keanggotaan yang dapat menyelamatkan. Semua itu adalah bentuk lahiriah yang hanya valid bila didasari oleh pertobatan dan iman yang sejati kepada Kristus. Ketika struktur gereja ditempatkan sebagai sumber keyakinan akan keselamatan, maka seseorang secara tidak sadar sedang menukar Injil dengan sistem keagamaan yang legalistik. Ini bukan hanya kesalahan teologis, tetapi juga penyesatan rohani yang halus. Alih-alih bergantung pada salib Kristus, seseorang justru bersandar pada status keorganisasian. Padahal dalam Efesus 2:9, Paulus menegaskan, “bukan hasil pekerjaanmu, supaya jangan ada orang yang memegahkan diri.” Artinya, tidak ada satu pun manusia, gereja, sinode, atau struktur apapun yang dapat mengklaim andil dalam menyelamatkan jiwa. Semua hanya karena karya salib. Keselamatan yang sejati tidak pernah bisa diwarisi atau diwakili oleh lembaga. Ia hanya dimiliki oleh orang yang secara pribadi mengenal, percaya, dan taat kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sinode bisa memfasilitasi pelayanan dan pertumbuhan, tetapi tidak bisa memberikan jaminan sorga. Dengan demikian, Karena itu, kita harus menempatkan sinode dalam posisi yang benar—sebagai alat pelayanan, bukan sumber anugerah. Sinode, denominasi, atau struktur gereja apa pun pada dasarnya adalah wadah administratif yang Tuhan izinkan untuk mengatur, menata, dan memperlengkapi tubuh Kristus agar dapat menjalankan panggilannya di dunia. Fungsi sinode penting dalam memastikan keteraturan, pendidikan rohani, pengutusan, bahkan pengawasan moral. Namun, sinode bukanlah saluran keselamatan, dan tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan otoritas Kristus atas umat-Nya. Ketika seseorang menaruh harapan rohaninya lebih kepada sistem sinode daripada kepada Kristus, ia telah menyimpang dari Injil yang murni. Ia bukan lagi percaya kepada anugerah, tetapi kepada sistem buatan manusia. Inilah bentuk modern dari legalisme rohani—di mana seseorang merasa benar dan selamat karena status administratif atau posisi dalam gereja, bukan karena pertobatan dan hubungan pribadi dengan Sang Juruselamat. Keselamatan hanya ada di dalam salib Kristus. Salib adalah satu-satunya jembatan antara manusia berdosa dan Allah yang kudus. Bukan struktur organisasi yang menjadi jalan keselamatan, seberapa besar, resmi, historis, atau diakui secara hukum sekalipun. Paulus tidak berkata, "Aku percaya kepada sinode yang benar," tetapi ia berkata, “Aku telah disalibkan dengan Kristus...” (Galatia 2:20). Ini menunjukkan bahwa keselamatan bukan persoalan institusi, tetapi identitas rohani yang menyatu dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Maka sangat keliru bila seseorang berkata: “Kami pasti benar karena kami satu-satunya sinode yang sah,” atau “Kamu tidak selamat karena kamu bukan bagian dari sinode kami.” Pernyataan semacam ini tidak hanya merendahkan karya salib, tetapi juga menyesatkan banyak orang untuk menggantikan iman dengan identitas kelembagaan. Gereja Tuhan harus sadar: sinode adalah alat, bukan Tuhan. Ia berguna jika menolong umat mengenal Kristus, tetapi menjadi berhala jika menuntut kesetiaan mutlak di atas kebenaran Injil. Kita dipanggil bukan untuk membesarkan nama sinode, tetapi untuk meninggikan nama Yesus—satu-satunya yang disalibkan dan bangkit untuk menyelamatkan umat manusia. Sebab pada akhirnya, kita tidak akan dihakimi berdasarkan keanggotaan denominasi, tetapi berdasarkan apakah kita sungguh mengenal dan menaati Kristus. Tuhan tidak mencari nama kita di daftar sinode, tetapi di dalam Kitab Kehidupan Anak Domba. Maka setiap struktur gereja seharusnya tunduk pada Injil, bukan malah menggantikannya. Biarlah sinode dan organisasi gereja menjadi jembatan, bukan penghalang; menjadi pelayan kebenaran, bukan penguasa iman. Karena satu-satunya yang layak dipercaya sepenuhnya dan ditaati tanpa syarat adalah Tuhan Yesus Kristus.
1.2 Sinode Hanyalah Alat, Bukan Sumber Keselamatan. Sinode adalah alat administratif dan organisasional yang berguna untuk mengatur pelayanan gereja lokal agar berjalan tertib, sehat, dan berintegritas. Tapi ia bukan dasar keselamatan. Sinode tidak bisa menggantikan peran Kristus, dan tidak pernah menjadi penentu apakah seseorang masuk sorga atau tidak. Jika kita menganggap bahwa hanya mereka yang berada dalam sinode tertentu yang akan diselamatkan, maka kita sedang menjadikan sinode lebih tinggi dari salib Kristus. Sebaliknya, Gereja mula-mula bertumbuh tanpa struktur sinode formal seperti sekarang, namun dipenuhi oleh kuasa Roh Kudus, hidup dalam pengajaran para rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa (Kisah Para Rasul 2:42–47). Tidak ada sistem organisasi yang kompleks, tidak ada kantor pusat sinode, dan belum ada pengakuan denominasi tertentu. Namun justru dalam kesederhanaan dan ketelanjangan struktur itulah, kuasa Tuhan dinyatakan dengan luar biasa. Ribuan orang bertobat, komunitas kasih terbentuk, dan Injil menyebar ke segala penjuru tanpa batas sistem. Ini menunjukkan kepada kita bahwa pertumbuhan gereja yang sejati bukanlah hasil manajemen organisasi, melainkan karya Roh Kudus melalui kehidupan umat yang tunduk pada firman. Tuhan bekerja bukan karena sistem, tetapi karena kepatuhan dan kekudusan umat-Nya. Bahkan para rasul tidak membangun lembaga yang kaku, melainkan membentuk komunitas hidup yang bergerak berdasarkan pimpinan Roh Kudus. Namun, seiring waktu dan bertambahnya jumlah jemaat serta wilayah pelayanan, gereja membutuhkan struktur dan pengaturan untuk menjaga kemurnian ajaran, disiplin jemaat, dan keteraturan pelayanan. Maka lahirlah bentuk-bentuk organisasi gereja, termasuk badan sinode atau majelis gerejawi, yang fungsinya adalah menjadi wadah pelayanan, bukan pusat keselamatan. Artinya, fungsi sinode memang sangat penting: ia membantu menjaga kesatuan ajaran, menegakkan disiplin gerejawi, memperlengkapi hamba Tuhan, dan menjadi jembatan dalam pelayanan lintas wilayah. Tetapi semua itu hanyalah alat bantu administratif, bukan sumber rohani atau jaminan keselamatan. Ketika sinode ditempatkan lebih tinggi dari Injil, atau menjadi parameter utama kebenaran dan keselamatan, maka sinode telah keluar dari perannya dan masuk ke dalam wilayah yang hanya layak diduduki oleh Kristus. Di sinilah bahayanya—struktur yang seharusnya menopang Injil, malah menutupi Injil itu sendiri. Maka kita harus menempatkan sinode secara proporsional:
1) Hormati fungsinya sebagai alat kerja Tuhan. Sinode atau struktur gereja merupakan wadah yang Tuhan izinkan hadir untuk menata pelayanan umat-Nya secara tertib dan bertanggung jawab. Dalam sejarah gereja, sinode membantu mengatur pengutusan, pendidikan teologi, disiplin gereja, dan kesatuan ajaran. Itu sebabnya kita tidak boleh meremehkan keberadaan sinode, karena ia dipakai Tuhan untuk mendukung misi Kerajaan Allah di bumi. Menghormati fungsi sinode berarti mengakui pentingnya keteraturan dalam tubuh Kristus, tanpa mengabaikan pimpinan Roh Kudus yang menjadi otoritas tertinggi.
2) Tapi jangan pernah menuhankan sistemnya. Meskipun sinode berguna, ia bukan Tuhan dan tidak boleh diperlakukan seolah-olah tidak bisa salah. Menjadikan sistem sebagai pusat iman—bahwa hanya sinode tertentu yang benar, bahwa keselamatan hanya bisa melalui organisasi itu—adalah bentuk penyembahan berhala rohani. Ketika manusia memberi kesetiaan mutlak kepada struktur dan bukan kepada Kristus, maka sistem telah dijadikan "berhala terselubung". Tuhan tidak pernah menyelamatkan manusia melalui sinode, tetapi melalui salib dan kebangkitan Kristus—sumber kasih karunia sejati, pengampunan dosa, dan hidup yang kekal bagi setiap orang percaya.
3) Hargai perannya sebagai penjaga doktrin. Salah satu tugas penting sinode adalah menjaga kemurnian ajaran, agar gereja tidak terseret kepada ajaran palsu, ekstremisme rohani, atau kebingungan doktrinal. Kita perlu menghargai usaha sinode dalam menyusun pengakuan iman, kurikulum pengajaran, dan sistem pelatihan rohani yang sehat. Namun, semua itu harus selalu berdasarkan Alkitab, bukan pada tradisi buatan manusia semata. Penghargaan terhadap sinode harus sejalan dengan uji kebenaran firman Tuhan, Bukan diterima mentah-mentah tanpa discernment rohani" berarti bahwa setiap ajaran atau keputusan sinode harus diuji dan ditimbang secara rohani, bukan diterima begitu saja tanpa mempertimbangkan apakah hal itu selaras dengan firman Tuhan. Discernment (pembedaan roh) adalah karunia dari Roh Kudus yang sangat penting dalam kehidupan orang percaya, khususnya dalam masa-masa di mana kebenaran sering kali disamarkan oleh tampilan lahiriah yang rohani. Pembedaan roh bukan sekadar kemampuan intelektual, melainkan kepekaan rohani yang tajam untuk membedakan antara yang berasal dari Allah dan yang berasal dari daging, dunia, bahkan iblis—termasuk ketika hal itu datang dari struktur atau pemimpin gerejawi sekalipun. Dalam banyak hal, kejahatan yang paling membahayakan justru kerap menyamar dalam bentuk yang kelihatan saleh dan terstruktur secara resmi. Oleh karena itu, orang percaya tidak dipanggil untuk taat secara buta. Ketaatan dalam Alkitab bukanlah penyerahan tanpa akal dan tanpa roh; melainkan ketaatan yang lahir dari pemahaman yang benar, kepekaan terhadap kehendak Tuhan, dan komitmen untuk tetap berpaut kepada kebenaran Firman-Nya. Paulus dengan tegas menulis: "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik" (1 Tesalonika 5:21). Ini menegaskan bahwa kewaspadaan rohani adalah bagian dari panggilan hidup setiap orang percaya—termasuk dalam menyikapi ajaran, keputusan, bahkan arah pelayanan dalam gereja. Tata Gereja, dalam hal ini, memang dirancang sebagai alat untuk menjaga ketertiban, kesatuan, dan kesucian dalam tubuh Kristus. Ia bukan sekadar sistem administratif, tetapi seharusnya menjadi cerminan nilai-nilai Injil dan kehendak Allah dalam kehidupan bergereja. Tata Gereja bertujuan untuk melindungi jemaat, memperjelas struktur tanggung jawab, serta menjaga agar pelayanan tidak dijalankan secara sembarangan atau semaunya sendiri. Namun sangat disayangkan pernah terjadi, dimana Tata Gereja yang mulia itu bisa disalahgunakan. Ada kalanya, individu atau kelompok tertentu yang berada dalam posisi struktural memanipulasi aturan demi kepentingan pribadi atau kelompok—bukan demi Tuhan, bukan demi jemaat, dan bukan demi kemuliaan Injil. Lebih parah lagi, ketika ada pejabat sinode yang seharusnya menjadi penjaga integritas dan kebenaran, justru berpihak pada pemberontakan, membela pembangkangan, bahkan memfasilitasi pelanggaran terhadap struktur dan otoritas yang sah. Situasi semacam ini bukan hanya mencederai keadilan dan kebenaran, tetapi juga menyesatkan umat dan membuka celah bagi roh perpecahan dan keacuhan rohani. Karena itu, penyalahgunaan wewenang dan manipulasi Tata Gereja tidak boleh dibiarkan. Tindakan korektif harus dilakukan—baik secara internal melalui mekanisme penegakan Tata Gereja, maupun secara eksternal melalui jalur hukum yang berlaku jika tidak ada pertobatan dan pemulihan. Gereja tidak kebal hukum. Ketika struktur gerejawi tidak lagi menjadi wadah kebenaran, tetapi justru menjadi alat ketidakadilan, maka umat Tuhan harus berani bersuara. Bukan untuk memberontak, tetapi untuk menyatakan bahwa Kristus adalah Kepala Gereja yang sejati—dan setiap bentuk penyimpangan dari kehendak-Nya, meskipun dibungkus oleh jubah keagamaan, harus ditelanjangi dan dibawa kepada terang. Sebab panggilan kita bukan hanya menjadi pengikut yang setia, tetapi juga menjadi penjaga kebenaran dan pembela iman. Tuhan tidak mencari orang yang hanya pandai tunduk pada sistem, tetapi orang yang setia kepada-Nya meskipun sistem mengecewakan. Di tengah situasi seperti inilah, discernment sejati diuji—dan suara nubuatan yang benar harus tetap dinyatakan, demi kemuliaan Kristus dan kesucian tubuh-Nya. Gereja membutuhkan suara-suara yang berani berbicara atas dasar kebenaran, bukan demi kepentingan pribadi atau popularitas, tetapi karena kasih kepada Tuhan dan kesetiaan pada Firman-Nya. Sebab diam dalam ketidakadilan bukanlah netralitas, melainkan bentuk kompromi yang membiarkan ketidakbenaran terus berlangsung. Dan ketika seseorang mulai berkompromi terhadap kebenaran—demi menjaga posisi, rasa aman, atau kenyamanan pribadi—maka sesungguhnya ia sedang mengkhianati makna salib Kristus, yang adalah lambang keberanian untuk menyatakan kebenaran meskipun harus menderita karenanya. Salib bukan simbol kenyamanan, tetapi panggilan untuk mati terhadap ego dan berdiri di pihak Tuhan, sekalipun harus melawan arus. Kristus tidak diam di hadapan kemunafikan, dan murid-murid-Nya pun dipanggil untuk berjalan di jalan yang sama. Kebenaran yang dibungkam merusak gereja dan mencemari kesaksian. Setiap orang percaya harus memilih: tunduk pada manusia atau taat pada Tuhan.
4) Tapi jangan menukar kebenaran dengan loyalitas buta. Kesetiaan kepada sinode atau lembaga gerejawi adalah penting selama lembaga tersebut berjalan seiring dengan kebenaran firman Tuhan. Namun, kesetiaan itu tidak boleh melebihi kesetiaan kita kepada Kristus dan firman-Nya. Tuhan Yesus adalah Kepala Gereja yang sejati, bukan struktur atau organisasi. Karena itu, jika suatu ajaran, keputusan, atau tindakan dalam struktur sinode bertentangan dengan Alkitab, maka kebenaran Tuhan harus lebih diutamakan daripada kepentingan sistem. Loyalitas yang buta terhadap sistem hanya akan membungkam suara hati dan membutakan nurani rohani. Seseorang bisa terus membela kesalahan, bahkan menindas yang benar, hanya karena takut dianggap tidak setia kepada organisasi atau atasan. Ini bukanlah kesetiaan yang sejati, melainkan bentuk penyesatan terselubung yang menyamar sebagai hormat struktural, padahal sesungguhnya mengorbankan integritas rohani demi kenyamanan atau jabatan. Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk menjadi pengikut yang patuh secara struktural namun membisu terhadap penyimpangan. Tuhan memanggil kita untuk setia kepada kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu menuntut kita berani berbeda dari arus mayoritas. Ketaatan sejati tidak ditentukan oleh label institusi atau nama sinode, tetapi oleh kesesuaian hidup dan pelayanan kita dengan pribadi dan ajaran Kristus. Ketaatan kita adalah kepada Kristus, bukan kepada sistem yang bisa rusak oleh kepentingan manusia. Kristus adalah satu-satunya jalan, kebenaran, dan hidup (Yohanes 14:6). Hanya Dia yang layak menjadi pusat kesetiaan kita, karena di dalam-Nya terdapat keselamatan, kebenaran yang sejati, dan pengharapan yang kekal. Sebab itu, jika harus memilih, orang percaya sejati akan berpihak kepada Kristus—apapun risikonya.
1.3 Menjadikan Sinode sebagai Tolok Ukur Kebenaran adalah Bentuk Penyembahan Berhala Rohani. Ketika identitas seseorang lebih melekat pada nama sinode daripada pada Kristus, maka kita telah menciptakan berhala rohani dalam bentuk sistem. Ini adalah penyembahan terselubung—bukan kepada patung, tetapi kepada struktur yang dianggap lebih tinggi daripada Injil itu sendiri. Dalam Perjanjian Lama, Israel sering jatuh dalam dosa karena menggantikan Tuhan dengan simbol-simbol yang seharusnya hanya menunjuk kepada-Nya. Hari ini, gereja modern menghadapi godaan serupa: Mengganti relasi dengan Tuhan dengan kesetiaan buta kepada institusi adalah salah satu bentuk penyimpangan rohani paling halus, namun sangat berbahaya. Dalam keadaan ini, seseorang tidak lagi menjadikan Kristus sebagai pusat iman, melainkan menjadikan keaktifannya dalam sistem organisasi gereja sebagai dasar kepercayaannya bahwa ia telah benar, suci, dan pasti selamat. Hubungan pribadi dengan Tuhan—yang seharusnya diwarnai oleh pertobatan, kerendahan hati, dan pembaruan hati—digantikan oleh kebanggaan denominasi dan loyalitas struktural. Lebih parah lagi, ketika seseorang merasa tidak perlu bertobat hanya karena sudah aktif dalam pelayanan, terdaftar dalam struktur sinode, atau memegang posisi tertentu, ia telah terjebak dalam formalisme rohani. Ini adalah bentuk penyesatan batin, karena ia merasa "aman" secara religius, padahal sesungguhnya hatinya jauh dari Tuhan (Yesaya 29:13). Jika seseorang menolak kebenaran hanya karena tidak datang dari sinode atau kelompoknya sendiri, ia telah membatasi pekerjaan Roh Kudus hanya dalam lingkup sistem buatan manusia. Ini bukan hanya sombong secara rohani, tapi juga menyembah lembaga, bukan menyembah Tuhan. Ia menempatkan organisasi di atas kebenaran firman, dan secara tidak sadar menukar Tuhan yang hidup dengan sistem yang fana. Yesus sendiri mengkritik orang-orang Farisi yang rajin beragama tetapi kehilangan relasi sejati dengan Allah. Mereka memegang aturan manusia lebih tinggi dari firman Tuhan (Markus 7:6–9). Demikian juga, ketika kesetiaan kepada lembaga lebih besar daripada kesetiaan kepada Kristus, maka seseorang tidak lagi berjalan dalam terang Injil, melainkan dalam bayang-bayang kebanggaan agamawi yang kosong. Tuhan tidak mencari keaktifan semata, tetapi pertobatan yang sejati. Ia tidak terkesan dengan struktur dan gelar, tetapi melihat hati yang hancur dan rendah di hadapan-Nya. Maka, biarlah kita tetap berakar dalam hubungan yang hidup dengan Yesus, bukan pada loyalitas buta kepada sistem. Karena keselamatan bukan tentang seberapa resmi institusinya, tetapi seberapa dalam kita mengenal dan taat kepada Kristus.
Keselamatan tidak bisa dibeli, diwarisi, atau dijamin oleh sinode. Ia hanya tersedia bagi mereka yang percaya dan bertobat dengan sungguh-sungguh kepada Kristus. Maka kita perlu waspada agar tidak menjadikan sinode sebagai pusat iman, melainkan menempatkannya sesuai perannya—sebagai alat pelayanan, bukan juruselamat.Sebab pada akhirnya, iman kita harus berdiri di atas salib Kristus—bukan di atas nama lembaga. Hanya Yesus yang menyelamatkan, dan hanya Dialah yang layak menerima kesetiaan mutlak kita.
Sebab pada akhirnya, iman kita harus berdiri di atas salib Kristus—bukan di atas nama lembaga. Hanya Yesus yang menyelamatkan, dan hanya Dialah yang layak menerima kesetiaan mutlak kita. Tanpa Kristus, semua sistem hanya menjadi wadah kosong tanpa hidup. Karena itu, mari kembalikan pusat iman kita hanya kepada Dia yang telah disalibkan dan bangkit untuk kita. Biarlah gereja, sinode, dan seluruh pelayanannya hanya menjadi sarana untuk memuliakan Kristus—bukan menggantikan-Nya, Sebab ketika sistem dan struktur mengambil alih tempat Kristus dalam hati umat, maka Injil tidak lagi menjadi pusat, melainkan hanya hiasan luar. Dan kiranya setiap kita terus dipimpin oleh Roh Kudus untuk tetap setia kepada Injil yang murni, bukan kepada sistem yang fana dan berubah-ubah. Kesetiaan sejati bukan pada label institusi, tetapi pada salib Kristus yang hidup. Efesus 2:8–9: "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah; itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." Ayat ini menegaskan bahwa kita diselamatkan oleh anugerah, bukan karena usaha manusia, jabatan rohani, atau keanggotaan dalam organisasi apapun. Sinode hanyalah alat pelayanan yang baik dan berguna, namun ia bukan sumber keselamatan, dan tidak pernah dimaksudkan menjadi pengganti Kristus.Maka ketika seseorang menjadikan sinode sebagai tolok ukur tunggal kebenaran, dan menolak semua yang di luar sistemnya, itu bukan lagi loyalitas sehat, tetapi sudah menjelma menjadi penyembahan berhala rohani.
Keselamatan tidak datang dari lembaga, tetapi dari Yesus Kristus, satu-satunya Tuhan dan Juruselamat. Mari kita kembali ke inti Injil: bahwa tidak ada nama lain di bawah kolong langit yang olehnya manusia dapat diselamatkan, selain nama Yesus (Kisah Para Rasul 4:12). Dan tidak ada struktur, sekokoh dan seberpengaruh apa pun, yang dapat menggantikan kuasa salib yang telah menebus dunia. Struktur gereja dapat dibubarkan, nama sinode bisa berganti, dan sistem dapat berubah seiring zaman—tetapi karya penebusan Kristus kekal untuk selama-lamanya. Karena itu, jangan gantungkan iman kita pada hal yang fana, tetapi pada pribadi yang kekal. Kristus bukan hanya dasar keselamatan, Dia juga harus menjadi pusat pengharapan, sumber kebenaran, dan arah hidup kita setiap hari. Segala sesuatu yang menggantikan posisi-Nya—bahkan dalam bentuk pelayanan, jabatan, atau organisasi—harus ditanggalkan dan dibawa kembali di bawah kedaulatan salib. Hanya dengan itulah kita benar-benar hidup dalam Injil yang murni dan selamat dalam terang kasih karunia-Nya.
II. KETIKA FANATISME MEMBUTAKAN MATA ROHANI.
"Semua Selain Kami Sesat" — inilah bahaya tersembunyi dari fanatisme terhadap sinode, yang pelan-pelan namun pasti menciptakan sikap menghakimi sesama orang percaya. Muncul anggapan keliru bahwa hanya sinode atau kelompok tertentu yang memiliki kebenaran, dan di luar itu dianggap sesat, tidak sah, bahkan tidak layak disebut "gereja sejati." Ini bukan sekadar perbedaan pandangan, tapi roh penghakiman yang lahir dari kesombongan rohani yang terselubung.
Ironisnya, banyak yang merasa sedang membela kebenaran, padahal mereka menyingkirkan kasih dan merusak kesatuan tubuh Kristus. Mereka lupa bahwa keselamatan bukan ditentukan oleh keanggotaan dalam sistem, melainkan oleh pertobatan sejati dan hubungan pribadi dengan Kristus. Kristus tidak terbagi-bagi—Dia bukan milik satu sinode, denominasi, atau organisasi tertentu. Keselamatan juga bukan milik eksklusif satu kelompok, tetapi tersedia bagi siapa saja yang dengan sungguh-sungguh percaya, bertobat, dan hidup dalam kebenaran. Fanatisme seperti ini tidak membangun iman, tetapi justru menciptakan tembok pemisah antar anak-anak Tuhan. Ia mematikan kerendahan hati, mengaburkan kasih, dan menggantikan pengenalan akan Kristus dengan rasa superioritas rohani semu.
Karena itu, sangat penting bagi setiap orang percaya untuk merenungkan ulang sikap hatinya terhadap sistem, struktur, dan sesama tubuh Kristus. Jangan sampai kita merasa benar karena berada dalam kelompok tertentu, tetapi ternyata hati kita tidak hidup dalam kasih, kerendahan, dan keterbukaan terhadap kebenaran Injil yang murni. Dalam hal ini, berikut beberapa prinsip firman Tuhan yang penting untuk direnungkan dengan hati yang terbuka dan rendah hati, agar kita tidak terjebak dalam semangat eksklusivisme rohani yang membutakan hati. Dalam hal ini, ada beberapa prinsip firman Tuhan yang perlu direnungkan agar kita tidak terjebak dalam semangat eksklusivisme rohani:
2.1 Jangan Menghakimi dengan Standar Manusia. Matius 7:1–5: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi...” Yesus mengajarkan dengan tegas agar umat-Nya tidak terburu-buru menghakimi orang lain, karena sikap menghakimi tanpa belas kasih dan tanpa introspeksi adalah cerminan kebutaan rohani. Ia memakai ilustrasi tentang serbuk dan balok di mata—untuk menunjukkan bahwa sering kali orang yang paling cepat menghakimi justru adalah orang yang paling tidak sadar akan dosanya sendiri. Sikap ini sangat relevan dalam konteks fanatisme sinode yang merasa dirinya paling benar. Ketika satu sinode atau denominasi mengklaim bahwa hanya merekalah yang benar dan menyebut semua sinode lain sebagai sesat atau tidak sah, maka mereka bukan sedang membela kebenaran, melainkan menempatkan diri sebagai hakim atas tubuh Kristus yang lebih luas. Ini bukan bentuk kesalehan, tapi bentuk kesombongan rohani yang terselubung. Lebih parah lagi, ketika semangat penghakiman ini dibiarkan berkembang, ia tidak hanya merusak hubungan antar sesama orang percaya, tetapi juga menciptakan tembok yang tinggi antara gereja dan dunia luar. Orang-orang yang belum percaya akhirnya mendapatkan citra negatif terhadap kekristenan, karena yang mereka lihat adalah umat yang saling menyerang, bukan saling mengasihi. Mereka melihat agama yang terpecah karena ego dan label, bukan Injil yang hidup karena kasih dan kerendahan hati. Ironisnya, dalam semangat membela "kemurnian doktrin", banyak kelompok justru melukai tubuh Kristus dengan menolak pengakuan terhadap iman yang sama, hanya karena perbedaan sistem atau struktur. Ini seperti orang yang sibuk membela tembok rumahnya, tapi membiarkan fondasinya retak karena kebencian dan kesombongan. Yesus tidak pernah berkata, “Engkau diselamatkan karena sinodemu benar,” tetapi “Setiap orang yang percaya kepada-Ku tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). Maka kita dipanggil bukan untuk menghakimi sinode lain, tetapi untuk mengenali tubuh Kristus yang satu dan kudus—yang mencakup semua orang percaya sejati, tanpa memandang denominasi. Saya sendiri pernah merasakannya secara pribadi. Ketika saya merintis pelayanan gereja di satu tempat, bukan hanya tantangan dari luar yang saya hadapi, tetapi penghakiman dari saudara sendiri yang seiman tapi berbeda sinode dengan saya. Mereka tidak melihat pengorbanan kami, tidak bertanya apa motivasi kami, tetapi langsung menghakimi seolah-olah saya orang yang berbeda Tuhan dengannya, hanya karena bukan dari sinode mereka. Yang paling menyakitkan, kami sudah menyewa sebuah rumah dan merenovasinya dengan biaya pribadi agar layak digunakan untuk ibadah perintisan gereja kami. Tapi setelah tahu bahwa kami mau buka gereja tetapi bukan dari sinode yang mereka anggap benar, izin penggunaan rumah itu dibatalkan secara sepihak artinya dipersulit. Rumah yang sudah kami siapkan dengan doa, kerja keras, dan air mata, tidak diizinkan dipakai, hanya karena label sinode. Itulah akibat dari roh penghakiman yang lahir dari fanatisme buta. Bukan hanya memecah kesatuan tubuh Kristus, Tetapi membungkam pelayanan yang sedang bertumbuh, dan melukai sesama hamba Tuhan yang sedang taat pada panggilan Allah adalah bentuk fanatisme yang menyesatkan. Kristus tidak pernah mengajarkan kita menutup pintu pelayanan hanya karena perbedaan struktur. ika kita sungguh mengasihi Dia, kita akan mengenali hadirat-Nya dalam pelayanan orang lain, dengan kerendahan hati dan kasih. Bukan sibuk mencari kesalahan hanya karena mereka tidak memakai sinode yang sama atau cara yang berbeda.
2.2 Panggilan untuk Memelihara Kesatuan dalam Kristus. Efesus 4:3–6: “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.” Paulus dengan jelas menekankan bahwa kesatuan orang percaya bukanlah sesuatu yang otomatis, tetapi sesuatu yang harus diupayakan dan dijaga—dengan kerendahan hati dan dalam damai sejahtera. Ia bukan kesatuan berdasarkan kesamaan organisasi, tetapi kesatuan dalam Roh, karena semua yang lahir baru telah menjadi bagian dari satu tubuh, yaitu tubuh Kristus. Namun, realitas gereja masa kini justru sering menunjukkan hal yang sebaliknya. Label sinode, denominasi, dan sistem kepemimpinan sering kali menjadi alasan utama perpecahan, bukan karena perbedaan doktrin esensial, tetapi karena ego kelembagaan dan kebanggaan institusional. Banyak sinode merasa bahwa merekalah “tubuh Kristus yang sejati”, dan secara tidak langsung—atau bahkan terang-terangan—menganggap sinode lain lebih rendah, salah, atau sesat. Kesatuan tubuh Kristus bukanlah keseragaman sistem, melainkan kesetiaan bersama kepada satu Tuhan, satu iman, dan satu baptisan. Jika Kristus adalah Kepala Gereja, maka setiap orang yang lahir dari Roh dan hidup dalam pertobatan sejati adalah saudara seiman, terlepas dari sinode atau denominasi mereka. Sayangnya, kebanyakan institusi gereja saat ini lebih fokus pada membangun struktur dan pengaruh, daripada membangun jembatan kesatuan dalam Kristus. Bukannya saling mendukung, banyak justru saling curiga, saling membatasi, bahkan melarang pelayanan hanya karena tidak berasal dari "kelompok sendiri". Padahal, seperti ditegaskan dalam ayat ini, kesatuan bukanlah proyek lembaga, melainkan panggilan ilahi yang mendasar bagi setiap orang percaya. Kita semua dipanggil untuk menempatkan Kristus sebagai pusat, bukan sinode, agar tubuh Kristus bisa berdiri utuh dan hidup, menjadi terang dan garam di tengah dunia yang gelap dan terpecah. Ketika gereja-gereja berbeda dapat bersatu dalam kasih dan kebenaran Injil, dunia akan melihat bahwa Yesus benar-benar hidup di antara umat-Nya. Kesatuan dalam Kristus adalah kesaksian terbesar tentang kehadiran Tuhan di dunia ini, seperti yang didoakan Yesus sendiri: “...supaya mereka semua menjadi satu... agar dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yohanes 17:21). Namun, jika gereja atau sinode hanya sibuk mempertahankan identitas struktural, membanggakan nama besar, membangun tembok pembatas terhadap sesama tubuh Kristus, dan menolak keterbukaan terhadap saudara seiman hanya karena mereka tidak berada di bawah organisasi yang sama, maka mereka bukan sedang membela Injil, tetapi sedang mencederai tubuh Kristus. Mereka menukar panggilan kesatuan dengan keangkuhan sistem, dan menukar kasih dengan legalisme rohani. Lebih dari itu, kehilangan semangat kesatuan membuat gereja kehilangan kekuatannya di hadapan dunia. Gereja yang tercerai-berai karena struktur dan ego kelembagaan tidak bisa menjadi jawaban bagi dunia yang sedang haus akan kebenaran dan kasih. Dunia justru melihat konflik internal, pertikaian sinode, dan sikap saling merendahkan antar sesama orang percaya—yang semua itu bertentangan dengan karakter Kristus yang lembut dan rendah hati. Oleh sebab itu, kesatuan dalam Kristus bukan sekadar idealisme, tetapi keharusan rohani. Kita diselamatkan oleh darah yang sama, dibaptis oleh Roh yang sama, dan dipanggil dalam satu tubuh. Jika Kristus adalah Kepala, kita dipanggil untuk menopang, bukan saling menjatuhkan. Kesatuan iman membuktikan Kristus hidup di tengah kita—dan itulah yang meyakinkan dunia bahwa gereja berasal dari Allah..
2.3 Buah Roh Lebih Penting daripada Label Rohani. Galatia 5:22–23. “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” Tanda kehadiran Tuhan dalam hidup seseorang bukanlah gelar, struktur, atau label rohani, tetapi buah Roh yang nyata. Kasih, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan penguasaan diri lebih mencerminkan kedewasaan rohani daripada fanatisme terhadap sistem atau sinode. Label bisa dibuat manusia, tetapi buah hanya dihasilkan oleh Roh Kudus. Dalam konteks gereja masa kini, banyak orang menggantungkan rasa aman rohaninya pada keanggotaan sinode atau nama besar gereja, tetapi mengabaikan pertumbuhan karakter Kristus dalam hidup sehari-hari. Tidak sedikit gereja yang tampak megah secara struktur dan program, namun kering secara rohani, karena tidak menghasilkan murid-murid yang berbuah dalam kasih dan kebenaran. Seringkali kita lebih bangga dengan pengakuan legalitas gereja di mata pemerintah, tetapi melupakan pengakuan Allah atas hati kita. Kita merasa hebat karena memiliki organisasi yang besar, kantor sinode yang megah, atau sejarah yang panjang, namun jika buah Roh tidak nampak dalam kehidupan umatnya, maka semua itu hanya kulit tanpa isi—kosong secara kekekalan. Lebih tragis lagi, banyak yang justru menggunakan label rohani sebagai senjata untuk merendahkan orang lain. Seolah-olah karena sinodenya lebih tua atau lebih resmi, maka ia lebih benar dari yang lain. Padahal buah Roh tidak mengenal label, dan Roh Kudus tidak bisa dibatasi oleh nama lembaga. Buah kasih dan kerendahan hati bisa tumbuh di mana saja, asal ada hati yang tunduk pada Kristus. Yesus sendiri berkata, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Matius 7:16). Bukan dari sinodenya, bukan dari programnya, bukan dari seragam pelayanannya. Maka, jika gereja atau sinode tidak menghasilkan umat yang hidup oleh Roh dan berbuah bagi Tuhan, maka ia telah kehilangan arah dari tujuan utama panggilan gereja itu sendiri. Kesaksian terbesar gereja bukanlah nama yang terkenal, tapi hidup yang mencerminkan Kristus. Dunia tidak butuh lebih banyak gedung atau sistem, dunia butuh umat yang hidup dalam kasih, kebenaran, dan kekudusan. Oleh sebab itu, marilah kita kembali menilai hidup rohani bukan berdasarkan label, melainkan berdasarkan buah. Kita mungkin berbeda dalam struktur, nama sinode, atau tradisi ibadah, tetapi buah Roh adalah satu standar ilahi yang sama bagi semua orang percaya. Tuhan tidak menilai dari luar—dari seragam pelayanan, bangunan gereja, atau sistem keanggotaan—tetapi dari buah yang lahir dari relasi pribadi dengan-Nya. Di situlah Tuhan melihat kebenaran iman kita, bukan dari seberapa besar organisasi kita, tetapi seberapa besar kasih, kesabaran, dan penguasaan diri yang nyata dalam hidup kita sehari-hari. Buah Roh adalah bukti nyata bahwa seseorang hidup dipimpin oleh Roh Kudus, dan bukan hanya sibuk dalam aktivitas keagamaan yang kosong. Label rohani bisa dipalsukan, tetapi buah Roh tidak bisa dibuat-buat. Ia muncul dari kehidupan yang melekat pada pokok anggur sejati, yaitu Kristus sendiri (Yohanes 15:5). Oleh sebab itu, jangan bangga karena dikenal sebagai bagian dari sinode tertentu, tetapi bersukacitalah jika hidupmu berbuah dan memuliakan Bapa di surga. Kesatuan umat Allah tidak dibangun di atas keseragaman struktur, tetapi pada keserupaan karakter dengan Kristus. Di sinilah gereja sejati dikenali: bukan oleh papan nama di depan gedung, tetapi oleh buah Roh yang nyata di dalam jemaatnya.
Kesatuan tubuh Kristus tidak ditentukan oleh kesamaan label, tetapi oleh kesamaan hati yang dipenuhi kasih dan buah Roh. Fanatisme hanya membelah, tetapi kasih dalam kebenaran mempersatukan. Maka marilah kita menjaga kesatuan iman, bukan dengan menyeragamkan sistem, tetapi dengan meneladani Kristus dalam segala hal.
III. KRISTUS, SATU-SATUNYA DASAR KESELAMATAN
Bukan sinode yang disalibkan bagimu, tetapi Kristus.” Di tengah dunia kekristenan modern yang semakin kompleks secara organisasi, banyak orang mulai menggantungkan keyakinan keselamatannya pada struktur gereja, keanggotaan sinode, atau kesetiaan terhadap sistem tertentu. Namun kita harus kembali kepada kebenaran inti Injil: Tidak ada yang bisa menggantikan Kristus dalam hal keselamatan. Yesus Kristus adalah satu-satunya yang disalibkan bagi manusia. Tidak ada sinode, tokoh, atau sistem yang dapat menebus dosa-dosa kita. Karya salib adalah satu-satunya dasar keselamatan yang sah di hadapan Allah. Maka siapa pun—dari denominasi mana pun, dari latar belakang apa pun—jika ia sungguh-sungguh percaya dan bertobat, akan diselamatkan karena kasih karunia, bukan karena struktur.
Dalam bagian ini, kita akan melihat beberapa dasar firman Tuhan yang menunjukkan dengan jelas bahwa keselamatan adalah hasil dari hubungan pribadi dengan Kristus, bukan hasil dari keikutsertaan kita dalam sistem tertentu. Berikut ini adalah tiga prinsip alkitabiah utama yang harus terus kita pegang teguh:
3.1 Roma 10:9–10 — Diselamatkan oleh Iman dan Pengakuan, Bukan Keanggotaan. "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan." (Roma 10:9). Ayat ini menegaskan secara gamblang prinsip dasar keselamatan dalam iman Kristen. Paulus tidak menyebut nama denominasi, struktur sinode, atau lembaga keagamaan tertentu sebagai syarat keselamatan. Ia hanya menyebut dua hal: pengakuan yang jujur dan iman yang tulus. Ini berarti bahwa keselamatan adalah pengalaman yang personal dan rohani, bukan administratif atau struktural. Banyak orang hari ini merasa aman karena telah menjadi anggota resmi sebuah gereja, telah dibaptis secara ritual, atau karena mendapat surat rekomendasi dari sinode. Namun jika tidak ada pengakuan yang lahir dari hati yang bertobat dan percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka semua bentuk keanggotaan itu hanyalah kulit tanpa isi. Banyak pula yang aktif dalam kegiatan gereja—sebagai majelis, pelayan mimbar, bahkan pengurus sinode—namun tidak pernah mengalami kelahiran baru atau penyerahan hidup sepenuhnya kepada Kristus. Dalam konteks ini, aktif secara sistemik bukanlah bukti keselamatan. Sebaliknya, keselamatan yang sejati hanya dapat terjadi jika seseorang mengakui dengan mulutnya dan percaya dalam hatinya, yang artinya ada transformasi batin yang nyata dan hubungan yang hidup dengan Tuhan. Iman kepada Kristus bukan sekadar persetujuan intelektual atau partisipasi eksternal, tetapi relasi sejati yang menghasilkan pertobatan, perubahan hidup, dan ketaatan. Dalam hal ini, kita bisa melihat bahwa struktur gerejawi dapat membantu memfasilitasi pertumbuhan rohani, tetapi tidak pernah dapat menggantikan peran pribadi Kristus dalam menyelamatkan manusia. Sebab Tuhan tidak melihat apakah kita terdaftar dalam lembaga tertentu, melainkan apakah hati kita benar-benar percaya dan taat kepada-Nya. Banyak yang aktif di mimbar, namun tidak hidup dalam pertobatan sejati. Surga tidak dihuni oleh orang yang terkenal di sistem, tetapi oleh mereka yang mengenal dan dikasihi oleh Kristus. Karena itu, marilah kita kembali memeriksa iman kita—apakah sungguh berakar di dalam Kristus, atau hanya bernaung dalam nama organisasi. Sebab hanya hubungan yang sejati dengan Kristus yang membawa kita masuk dalam Kerajaan Sorga, bukan sekadar keaktifan dalam sistem—betapapun rajinnya, terlibatnya, atau dikenalnya seseorang di tengah struktur gereja, tanpa pertobatan pribadi dan iman yang hidup, semuanya sia-sia.
3.2 Yohanes 14:6 — Kristus adalah Satu-Satunya Jalan. "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6). Yesus tidak berkata, “sinodemu adalah jalan” atau “gerejamu adalah pintu.” Ia berkata: "Akulah jalan." Ini artinya, keselamatan bersifat eksklusif dalam pribadi Kristus, tetapi inklusif dalam jangkauan kasih-Nya kepada siapa pun yang percaya. Menjadikan sistem atau label organisasi sebagai jalan keselamatan adalah bentuk penyesatan rohani yang halus tetapi sangat berbahaya. Tidak ada jalan lain.
3.3 Lukas 10:20 — Nama yang Tertulis di Sorga, Bukan di Daftar Sinode. "Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." (Lukas 10:20). Yesus memberikan peringatan penting kepada para murid-Nya: jangan menjadikan keberhasilan pelayanan atau manifestasi kuasa rohani sebagai dasar utama sukacita. Sekalipun roh-roh jahat tunduk, mujizat terjadi, dan pelayanan tampak berhasil secara lahiriah—semua itu bukanlah tolok ukur utama nilai seseorang di hadapan Allah. Sukacita yang sejati datang dari satu hal yang lebih dalam dan kekal: bahwa nama kita tertulis di sorga. Dengan kata lain, identitas rohani seseorang tidak ditentukan oleh posisi struktural, gelar, kartu keanggotaan, atau daftar sinode. Nama yang tertulis dalam database gereja atau struktur organisasi mungkin memberi tempat dalam sistem, tetapi tidak otomatis memberi tempat di Kerajaan Allah. Ini adalah peringatan sekaligus penghiburan bagi banyak orang yang merasa diabaikan sistem atau tidak dianggap oleh struktur manusia. Yesus ingin agar fokus kita tidak bergeser dari apa yang kekal kepada apa yang sementara. Banyak orang hari ini berlomba mengejar pengakuan institusi, ingin terdaftar sebagai pejabat, majelis, atau bagian dari sinode tertentu. Namun, pengakuan Allah jauh lebih penting daripada pengakuan organisasi. Di hadapan tahta penghakiman, Tuhan tidak akan bertanya: “Kamu dari sinode mana?”, tapi “Apakah engkau mengenal Aku?” (Matius 7:23). Pertanyaannya bukan apakah kita aktif dalam struktur, tetapi apakah kita hidup dalam hubungan yang benar dan intim dengan Kristus. Karena banyak orang bisa aktif dalam sistem gereja tetapi jauh dari Tuhan. Ada yang disanjung dalam persekutuan, tapi asing bagi Surga. Inilah sebabnya mengapa kita tidak boleh menjadikan jabatan atau keberhasilan rohani sebagai jaminan keselamatan. Hidup yang berakar dalam Kristus dan ketaatan yang tulus kepada-Nya jauh lebih bernilai daripada semua pengakuan manusia. Nama yang tertulis di sorga hanya dapat dicatat melalui pertobatan sejati, iman kepada Kristus, dan hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus—bukan melalui penunjukan struktural atau afiliasi denominasi. Maka, mari arahkan kembali hati kita. Biarlah motivasi pelayanan kita tidak berhenti pada pengakuan struktural, melainkan pada kerinduan untuk menyenangkan hati Tuhan. Karena lebih baik tidak dikenal oleh sistem, asalkan dikenal oleh Surga.
Struktur sinode dan organisasi gereja memang penting sebagai alat pelayanan, namun tidak pernah dimaksudkan sebagai dasar keselamatan. Keselamatan hanya diperoleh oleh kasih karunia Allah melalui iman kepada Kristus, bukan dari keanggotaan struktural. Karena itu, marilah kita kembali kepada dasar yang teguh, yaitu Kristus sendiri. Bukan sinode yang disalibkan bagi kita. Bukan organisasi yang bangkit pada hari ketiga. Hanya Yesus. Hanya melalui Kristus kita dapat berdiri di hadapan Allah—bukan karena status, gelar, atau pengakuan manusia, tetapi karena darah-Nya yang tercurah bagi kita. Ia menanggung hukuman kita dan membuka jalan keselamatan. Keselamatan datang dari salib, bukan struktur; harapan kita ada dalam kebangkitan-Nya, bukan dalam sistem. Karena itu, iman kita sepenuhnya kepada-Nya—sebagai anak-anak Allah oleh kasih karunia, bukan hamba sistem.
IV. BAHAYA MENUKAR IMAN DENGAN IDENTITAS KELOMPOK
"Keselamatan bukan karena label rohani". Di tengah dinamika pertumbuhan gereja dan struktur organisasi rohani, salah satu kesalahan yang sangat berbahaya namun sering tidak disadari adalah menyamakan keanggotaan sinode atau kelompok tertentu dengan jaminan keselamatan. Banyak orang lebih bangga dengan nama sinode, nama gereja, atau posisi struktural, daripada memastikan hubungan pribadi mereka dengan Kristus tetap hidup dan murni. Ini adalah bentuk pengalihan iman—dari Kristus kepada sistem, dari salib kepada status.
Seseorang bisa terlibat dalam pelayanan gereja, aktif dalam kegiatan rohani, bahkan memegang posisi strategis dalam organisasi, namun tidak pernah mengalami kelahiran baru atau pertobatan sejati. Itulah sebabnya, kita perlu waspada agar tidak terjebak dalam pola pikir yang menukar hubungan pribadi dengan Tuhan menjadi sekadar keanggotaan institusional. Banyak orang tertipu oleh rasa aman semu yang datang dari keterlibatan organisasi, padahal keselamatan bersifat pribadi dan bersumber hanya dari Kristus. Untuk itu, mari kita perhatikan beberapa kebenaran firman Tuhan berikut ini yang menegaskan hal tersebut:
4.1 Matius 7:21–23 – Banyak yang berseru “Tuhan”, tapi tidak dikenal. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:21–23). Ayat ini menunjukkan bahwa aktivitas rohani yang mengesankan secara lahiriah bukanlah jaminan pengenalan pribadi oleh Kristus. Dalam Matius 7:21–23, Yesus tidak berbicara kepada orang-orang dunia, melainkan kepada mereka yang menyebut-Nya “Tuhan”—orang yang terlihat religius, yang mungkin dikenal sebagai pemimpin rohani, bahkan pelayan yang berkuasa secara supranatural. Mereka melakukan hal-hal luar biasa: bernubuat, mengusir setan, mengadakan mujizat—semua "demi nama-Nya". Namun, Yesus tetap berkata kepada mereka: “Aku tidak pernah mengenal kamu.” Ini adalah peringatan keras dan mengejutkan. Sebab pelayanan yang berhasil, pengaruh yang besar, atau reputasi yang baik di mata manusia tidak otomatis berarti dikenal oleh Tuhan. Allah tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi mengapa kita melakukannya dan bagaimana kondisi hati kita. Tanpa ketaatan sejati, pertobatan yang sungguh, dan relasi yang hidup dengan Kristus, semua aktivitas rohani hanya menjadi penampilan luar yang kosong. Pengenalan Kristus bersifat relasional, bukan fungsional. Tuhan tidak terkesan oleh seberapa besar pelayanan kita, tetapi oleh seberapa dalam kita hidup dalam kehendak-Nya. Orang bisa memakai nama Tuhan, namun menolak kehendak-Nya; orang bisa tampil rohani di luar, namun rusak di dalam. Itulah sebabnya pengakuan manusia tidak sama dengan pengakuan Tuhan. Manusia bisa memuji, memberi jabatan, bahkan mengagumi kesuksesan pelayanan kita—tetapi yang terpenting adalah apakah Tuhan mengenal kita secara pribadi. Keselamatan bukan soal seberapa banyak kita melakukan sesuatu untuk Tuhan, tetapi apakah kita hidup bersama Tuhan. Pelayanan adalah buah, bukan akar keselamatan. Jika akarnya tidak ada dalam Kristus, maka semua buah pelayanan pun tidak memiliki nilai kekal, sekalipun terlihat besar, berpengaruh, dan dipuji banyak orang.
4.2 Yesaya 29:13 – Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, tapi hatinya jauh dari-Ku. "Tuhan berfirman: Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan," (Yesaya 29:13). Tuhan mengecam ibadah yang hanya formalitas, tanpa kedalaman relasi dengan-Nya. Banyak orang menghadiri ibadah, menyanyikan lagu rohani, bahkan mampu mengucapkan doktrin yang benar, tetapi hatinya tetap kosong dan tidak terhubung dengan Tuhan. Mereka tampak aktif di gereja—suaranya paling lantang saat bernyanyi, paling cepat berkata “Amin”, dan paling rajin memberi nasihat rohani. Seolah-olah mereka adalah cermin kekudusan dan suara Tuhan di tengah jemaat. Saya mengenal seseorang seperti itu—seorang kerabat—yang begitu meyakini bahwa sinodenya adalah satu-satunya yang benar dan berasal langsung dari Tuhan Yesus. Dalam ibadah, ia sering menyanyi dengan suara keras, seakan ingin menunjukkan bahwa dirinya paling takut akan Tuhan. Ia senang menasihati orang lain, bahkan pendeta pun sering ia koreksi, seolah-olah ia memiliki pemahaman yang lebih tinggi dari semua orang di gereja. Namun yang menyedihkan, perilaku hidupnya justru menjadi batu sandungan di lingkungan sekitar. Banyak orang merasa tidak nyaman dengan sikapnya yang arogan, suka menghakimi, dan selalu merasa paling benar sendiri. Lebih dari itu, ia juga dikenal sering meminjam uang dari orang-orang sekitar, namun tidak pernah menunjukkan itikad baik untuk membayar kembali. Hal ini membuat banyak orang kecewa dan mempertanyakan integritas hidup yang ia tunjukkan di gereja. Yang paling ironis, ketika ia menghadapi masalah pribadi, ia justru lebih memilih mendengarkan saran dari dukun daripada mencari Tuhan dalam doa dan firman. Inilah kontradiksi besar antara kesalehan yang tampak dan kehidupan yang sebenarnya. Bahkan gereja kami—yang berasal dari sinode berbeda—pernah ia pandang dengan sinis dan sebelah mata, seolah-olah karena berbeda aliran maka bukan berasal dari Tuhan. Kami bahkan pernah mengalami penolakan darinya saat hendak menyewa rumah milik orang tuanya, hanya karena kebenciannya terhadap kami yang bukan dari sinodenya. Ini menunjukkan betapa sempitnya cara pandang sektarian yang lebih mengutamakan label lembaga daripada kasih Kristus yang menyatukan tubuh-Nya. Kisah ini menggambarkan dengan jelas bahwa kehidupan Kristen sejati tidak diukur dari volume suara saat bernyanyi, panjangnya nasihat, atau keterlibatan dalam kegiatan rohani. Yang Tuhan lihat adalah buah pertobatan yang nyata dan ketulusan hati yang hidup dalam ketaatan. Ibadah sejati bukan hanya soal apa yang dilakukan di gereja, tetapi bagaimana seseorang hidup ketika tidak ada yang melihat—apakah ia rendah hati, mengasihi sesama, dan bersandar pada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa keras kita berseru, bukan seberapa banyak kita berbicara tentang Tuhan, tetapi apakah kita sungguh dikenal oleh Kristus. Seperti tertulis dalam Matius 7:23: "Aku tidak pernah mengenal kamu!"—sebuah kalimat yang sangat menggetarkan, ditujukan kepada mereka yang hanya terlihat rohani di luar, namun kosong di dalam. Pengakuan manusia tidak menjamin pengakuan Tuhan. Yang Tuhan cari adalah hubungan, bukan rutinitas; pertobatan, bukan pertunjukan. Karena hanya mereka yang hidup dalam kehendak-Nya yang akan masuk dalam Kerajaan-Nya. Tuhan tidak tertarik seberapa sering kita tampil di mimbar, tetapi seberapa dalam kita berjalan bersama-Nya setiap hari. Bagi-Nya, kesetiaan dalam hal tersembunyi lebih berharga daripada sorotan pelayanan. Sebab pada akhirnya, keselamatan adalah soal dikenalnya hati—bukan dikenalnya nama.
4.3 Tuhan mencari hati yang hancur, bukan status rohani buatan manusia. Keselamatan tidak diberikan kepada mereka yang memiliki gelar "Pendeta", "Penatua", atau "Aktivis", tetapi kepada mereka yang merendahkan diri, bertobat, dan percaya sepenuh hati kepada Kristus. Seperti tertulis dalam Mazmur 51:17, "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk, ya Allah, tidak akan Kau pandang hina." Tuhan tidak terkesan oleh jabatan atau nama sinode, sebab Ia melihat hati—mencari kerendahan, ketulusan, dan ketaatan. Bahaya terbesar dalam hidup rohani bukanlah kejatuhan yang tampak, tetapi kemunafikan yang tersembunyi di balik label rohani. Karena itu, jangan pernah menukar iman sejati dengan identitas kelompok. Sinode dan organisasi gereja hanyalah alat, bukan tujuan. Mereka bisa menjadi sarana pertumbuhan, tetapi tidak dapat menyelamatkan. Hanya Kristus yang menyelamatkan. Maka, penting bagi setiap kita untuk bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku lebih setia kepada sistem, atau kepada Tuhan? Apakah aku dikenal di surga, atau hanya dikenal di lingkungan gereja? Apakah aku hanya aktif secara struktural, tapi mati secara rohani? Sebab pada akhirnya, yang Tuhan cari bukanlah latar belakang denominasi, bukan nama sinode, atau keaktifan dalam sistem keorganisasian—melainkan hubungan yang nyata, hidup, dan pribadi dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Tuhan tidak menilai dari seberapa sering kita hadir dalam rapat, seberapa tinggi posisi kita dalam struktur, atau seberapa keras kita berseru di depan jemaat. Ia melihat hati yang rindu mengenal-Nya, jiwa yang berserah, dan hidup yang sungguh-sungguh berjalan dalam pertobatan dan kasih. Bukan keanggotaan gereja yang menyelamatkan, tapi kelahiran baru di dalam Kristus. Bukan aktivitas lahiriah yang memuliakan Tuhan, tetapi ketaatan yang mengalir dari kasih dan iman. Di hadapan takhta-Nya, yang akan diperhitungkan bukanlah gelar, tetapi apakah kita sungguh dikenal oleh-Nya sebagai anak-anak yang hidup dalam kebenaran. Itulah sebabnya, hubungan dengan Yesus harus menjadi pusat dari segalanya. Karena hanya di dalam Dialah ada hidup, ada kebenaran, dan ada jalan menuju Bapa. Bukan sekadar mengenal tentang-Nya, tetapi mengenal Dia secara pribadi—berjalan bersama-Nya setiap hari, mendengar suara-Nya, dan tinggal dalam kasih-Nya. Seperti lirik lagu rohani Pantekosta lama yang saya sering nyanyikan di YouTube, begitu sederhana namun mengalir dari kedalaman hati:: “Seperti Yesus, itu saja yang ku minta”. Sebab hanya dalam hadirat-Nya ada kepenuhan sukacita, dan hanya dalam kasih-Nya ada jaminan hidup yang kekal. Maka biarlah seluruh keberadaan kita berpaut erat pada Kristus—bukan pada sistem, bukan pada tradisi, tetapi pada Pribadi yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.
Sebab pada akhirnya, yang Tuhan cari bukan penampilan rohani, gelar, atau afiliasi denominasi—melainkan hati yang melekat pada Kristus dan hidup yang berbuah karena tinggal di dalam-Nya. Inilah dasar keselamatan dan inti dari iman kita: bukan seberapa besar pelayanan kita, tetapi seberapa dalam kita mengenal Dia. Dan kini, setelah kita memahami pentingnya relasi pribadi dengan Kristus di atas segalanya, mari kita lanjutkan ke pembahasan berikutnya: bagaimana hidup yang berakar dalam hubungan dengan Tuhan akan memancarkan buah nyata di tengah dunia yang gelap. Sebab iman yang sejati selalu menghasilkan kehidupan yang berdampak—bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesama. Buah dari hubungan yang hidup dengan Kristus akan nyata dalam sikap, perkataan, dan tindakan—menjadi terang di tengah kegelapan, dan garam di dunia yang tawar, menolak nilai-nilai ilahi, serta makin jauh dari kebenaran dan kasih sejati.
V. KEMBALI KEPADA INTI IMAN: KRISTUS SEBAGAI PUSAT
“Kristus adalah Kepala Gereja, bukan struktur buatan manusia”. Dalam kehidupan bergereja masa kini, sangat mudah bagi kita untuk tanpa sadar memindahkan fokus dari Kristus kepada struktur organisasi, jabatan, atau afiliasi sinode. Padahal, tubuh Kristus—yaitu gereja sejati—dipanggil untuk dipimpin oleh Roh Kudus dan tunduk sepenuhnya kepada firman Tuhan, bukan sekadar tunduk pada aturan struktural atau kebijakan kelembagaan. Tata gereja, sinode, dan struktur pelayanan adalah alat bantu yang penting dalam menjaga ketertiban dan arah pelayanan. Namun, ketika struktur itu dijadikan pusat kepercayaan, bahkan dijadikan tolok ukur keselamatan atau kebenaran, maka inti Injil telah tergeser. Kita tidak diselamatkan karena sistem, tetapi karena pribadi Yesus Kristus—satu-satunya Juruselamat dunia. Yesus sendiri dengan jelas menyatakan bahwa domba-domba-Nya akan mengenal dan mendengar suara-Nya (Yohanes 10:27), bukan sekadar mendengar perintah organisasi. Kristus juga ditegaskan dalam Kolose 1:18 sebagai Kepala tubuh, yaitu jemaat. Ini berarti, Dialah otoritas tertinggi atas hidup kita, bukan struktur gereja.
Dalam dunia yang semakin terstruktur secara rohani, banyak orang tanpa sadar mengalihkan pusat kesetiaan dari Kristus kepada sistem atau institusi. Mereka lebih takut melanggar aturan organisasi daripada menyakiti hati Tuhan; lebih setia pada suara manusia daripada suara Roh Kudus. Padahal, Alkitab tidak pernah mengajarkan iman yang berakar pada struktur—melainkan pada pengenalan pribadi akan Kristus yang hidup. Iman sejati tidak dibentuk oleh loyalitas membabi buta kepada sistem, apalagi yang hanya bersandar pada hierarki dan tata kelola gerejawi. Iman sejati tumbuh dari perjumpaan pribadi dengan Yesus, berjalan bersama-Nya setiap hari, dan hidup dalam kebenaran firman yang diilhamkan oleh Roh Kudus. Kesetiaan semacam ini bukan semata soal keaktifan dalam organisasi, tetapi soal Keintiman yang sejati dengan Tuhan akan memengaruhi seluruh dimensi kehidupan seseorang—cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Sebab itulah, penting bagi kita untuk meninjau kembali: kepada siapa sebenarnya kita menaruh kesetiaan? Apakah kepada struktur yang bisa berubah dan rapuh? Ataukah kepada Kristus yang tidak pernah berubah dan tetap menjadi Kepala Gereja sepanjang zaman? Untuk itu, mari kita perhatikan beberapa ayat dan prinsip yang menegaskan kebenaran ini:
5.1 Kolose 1:18 – Kristus adalah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ayat ini menegaskan bahwa Kristus, dan hanya Kristus, adalah Kepala dari tubuh-Nya—yaitu jemaat. Artinya, semua bentuk struktur, organisasi, dan kepemimpinan dalam gereja hanyalah bagian dari tubuh yang seharusnya tunduk dan taat sepenuhnya kepada arahan dari Sang Kepala, yaitu Kristus sendiri. Dalam tubuh manusia, kepala adalah pusat kendali. Ia menentukan ke mana tubuh bergerak, apa yang dilakukan, dan bagaimana organ lainnya berfungsi secara harmonis. Demikian pula dalam gereja: jika Kristus sungguh menjadi Kepala, maka segala keputusan, visi pelayanan, arah doktrin, dan tata kelola harus berasal dari firman-Nya dan dipimpin oleh Roh Kudus. Namun sayangnya, ketika sistem, struktur, atau tradisi mulai menggeser posisi Kristus, gereja akan kehilangan arah rohani. Ia bisa saja tampak aktif secara lahiriah, sibuk dalam banyak kegiatan, tetapi kosong dari hadirat dan pimpinan Tuhan. Yang terjadi kemudian adalah organisasi keagamaan yang berjalan dengan kekuatan manusia, bukan lagi persekutuan yang dipimpin oleh Allah. Inilah bahaya besar ketika gereja lebih tunduk kepada lembaga daripada kepada Tuhan. Ketika struktur organisasi ditempatkan di atas otoritas Kristus, gereja perlahan kehilangan kepekaan rohani. Ia bisa menjadi legalistik—lebih sibuk menegakkan aturan manusia daripada membangun hubungan kasih dengan Allah. Ia menjadi kaku—berpegang teguh pada tradisi tanpa memberi ruang bagi pekerjaan Roh Kudus yang segar. Dan yang paling mengkhawatirkan, gereja bisa kehilangan kasih mula-mula—kasih yang murni kepada Tuhan dan sesama, yang dulu menjadi alasan utama dalam melayani dan mengikut Kristus. Dalam kondisi seperti itu, pelayanan bisa menjadi rutinitas kosong. Pemimpin bisa lebih takut melanggar protokol organisasi daripada menyakiti hati Tuhan. Bahkan jemaat pun bisa diarahkan untuk lebih menghormati struktur daripada mengalami pertobatan sejati. Jika dibiarkan, gereja akan menjelma menjadi institusi religius yang kehilangan kuasa Injil—sibuk, besar, tapi mati secara rohani. Itulah sebabnya, setiap bentuk struktur dan kepemimpinan dalam gereja harus terus dikoreksi, diuji, dan diselaraskan dengan kehendak Kristus. Ketaatan kepada sistem tidak boleh menggantikan kepekaan terhadap suara Tuhan. Karena hanya Kristus yang layak menjadi pusat dari segala sesuatu—baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam seluruh tubuh Kristus, yaitu gereja, di seluruh dunia. Ia bukan sekadar simbol iman, tetapi adalah Kepala yang memimpin, mengatur, dan menghidupkan seluruh anggota tubuh-Nya. Jika posisi Kristus tergeser oleh sistem, tradisi, atau kepentingan manusia, maka gereja kehilangan sumber hidupnya. Tanpa Dia sebagai Kepala, gereja hanyalah tubuh tanpa arah—bergerak tapi tanpa tujuan rohani, sibuk tapi tanpa kuasa, besar tapi kehilangan makna. Ia menjadi organisasi keagamaan belaka, bukan lagi ekspresi nyata dari Kerajaan Allah. Sebaliknya, jika Kristus tetap dimuliakan, ditaati, dan ditempatkan sebagai pusat dalam seluruh aspek pelayanan dan penggembalaan, maka gereja akan mengalami kehidupan yang sejati. Gereja yang dipimpin Kristus akan bertumbuh dalam kekudusan, hidup dalam kasih, dan berdampak. Ia setia pada firman dan terbuka pada Roh Kudus. Inilah kerinduan Tuhan: gereja yang hidup karena terhubung dengan Kristus, bukan sekadar sibuk secara rohani.
5.2 Yohanes 10:27 – "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.". Ayat ini menegaskan bahwa inti dari kehidupan orang percaya bukanlah sekadar mengikuti aturan atau sistem keagamaan, melainkan membangun relasi pribadi yang hidup dengan Kristus, Sang Gembala yang baik. Dalam hubungan yang sejati ini, domba-domba Kristus—yaitu umat-Nya—mengenali suara-Nya, mendengarkan-Nya, dan mengikuti Dia dengan penuh kasih dan kepercayaan. Ini bukan soal ketaatan buta terhadap lembaga atau tradisi manusia, tetapi soal kepekaan rohani terhadap pimpinan Tuhan melalui firman dan Roh Kudus. Suara Kristus berbicara lewat firman yang tertulis, melalui dorongan Roh, dan kadang melalui situasi yang Ia izinkan. Namun hanya mereka yang berelasi intim dengan-Nya yang dapat membedakan suara-Nya dari suara dunia, daging, atau bahkan ajaran palsu. Karena itu, ukuran kedewasaan iman bukanlah seberapa banyak aturan yang kita ikuti, tetapi seberapa peka kita terhadap suara Tuhan dan seberapa setia kita mengikut-Nya. Banyak orang aktif dalam kegiatan gereja—mengikuti ibadah secara rutin, terlibat dalam pelayanan, bahkan memegang jabatan dalam struktur—namun tidak pernah benar-benar belajar mendengarkan suara Gembala, yaitu Kristus sendiri. Aktivitas-aktivitas ini memang baik dan penting, tetapi tanpa hubungan pribadi dengan Sang Gembala, semua itu bisa menjadi rutinitas kosong yang tidak menghidupkan iman. Mendengarkan suara Kristus bukan sekadar mendengar khotbah atau membaca ayat setiap hari, melainkan membangun keintiman dengan Tuhan sampai hati kita peka terhadap kehendak-Nya. Ini adalah kedewasaan rohani yang lahir dari waktu teduh, doa yang tulus, ketaatan dalam hal kecil, dan kerinduan untuk menyenangkan hati Tuhan lebih daripada menyenangkan manusia. Sebaliknya, mereka yang tinggal dekat dengan Kristus akan merasakan bimbingan langsung dari-Nya. Firman Tuhan menjadi hidup, doa menjadi percakapan nyata, dan langkah-langkah kehidupan dituntun oleh terang kebenaran-Nya. Kristus sebagai Gembala mengenal domba-Nya secara pribadi—bukan karena jabatan atau banyaknya pelayanan, tetapi karena kedekatan dan keintiman yang nyata. Dan domba-Nya pun mengenal suara-Nya. Mereka dapat membedakan suara Kristus dari suara dunia, suara daging, bahkan suara religius yang menyesatkan. Inilah tanda hubungan yang sehat dengan Tuhan: mampu mendengar, mengenal, dan menaati suara Sang Gembala. Ini bukan soal keaktifan pelayanan atau kehadiran ibadah semata, melainkan tentang keintiman yang dijaga terus-menerus dalam relasi pribadi dengan Kristus. Bukan rutinitas kosong, tetapi hati yang terbuka, telinga yang peka, dan roh yang taat. Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak mencari domba yang paling sibuk atau paling terlihat, tetapi yang paling dekat dengan hati-Nya—yang berjalan bersama-Nya dalam ketulusan, rela dibentuk, dan taat meskipun tidak populer. Domba yang dekat akan mengenal suara Gembala di tengah kebisingan dunia. Ia tidak tersesat, sebab hidupnya dibimbing langsung oleh Sang Gembala. Bahkan saat jalan terasa gelap, ia tetap melangkah dalam damai—karena ia tahu kepada siapa ia percaya. Kedekatan melahirkan ketaatan sejati, bukan karena takut, tetapi karena kasih yang tumbuh dari pengenalan. Dan kasih yang sejati mendorong kita mengenal isi hati-Nya, bukan sekadar menjalankan kewajiban agamawi. Maka, Kedewasaan rohani tidak diukur dari kesibukan pelayanan, tetapi dari kedalaman ketaatan pada suara Tuhan. Iman sejati lahir dari persekutuan yang hidup, bukan sekadar tradisi keagamaan. Tuhan mencari hati yang melekat, bukan tangan yang sibuk. Kedewasaan iman tampak dalam kesetiaan tersembunyi dan kerendahan hati untuk dibentuk. Pelayanan karena kasih menuntun pada pengenalan isi hati Tuhan. Hanya hubungan yang sejati dengan Kristus yang sanggup bertahan di tengah goncangan.
5.3 Iman sejati tampak dalam kesetiaan kepada Kristus, bukan sistem. Iman yang sejati tidak terikat pada kerangka struktural atau sistem organisasi, melainkan berakar dalam kesetiaan pribadi kepada Kristus. Gereja sejati bukanlah sekadar institusi yang diatur oleh birokrasi manusia, melainkan tubuh rohani yang hidup—komunitas orang-orang percaya yang telah ditebus oleh darah Kristus dan dipimpin oleh Roh Kudus. Kristus sendirilah Kepala Gereja, bukan pejabat, sinode, atau struktur buatan manusia. Dalam Yohanes 10:27, Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku; Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.” Ini adalah gambaran hubungan yang intim dan aktif antara Gembala dan domba-domba-Nya. Artinya, tolok ukur iman bukan pada seberapa aktif seseorang dalam sistem, tetapi apakah ia mendengar dan menaati suara Kristus dalam hidup sehari-hari. Bahaya muncul ketika sistem dijadikan pusat kepercayaan rohani—ketika loyalitas kepada organisasi lebih tinggi daripada ketaatan kepada Tuhan. Ketika itu terjadi, gereja perlahan kehilangan arah dan bisa menjadi kaku, legalistik, dan terputus dari kehidupan rohani yang sejati. Gereja bisa sibuk menjalankan program, tapi kehilangan hadirat dan kehendak Tuhan. Gereja yang sejati akan selalu menyadari bahwa semua struktur hanya alat bantu, bukan tujuan akhir. Sinode, lembaga, jabatan, dan pelayanan adalah sarana untuk membangun tubuh Kristus—bukan pengganti Kristus itu sendiri. Kesetiaan kepada sistem yang tidak sejalan dengan firman bisa membawa orang menjauh dari suara Tuhan dan membungkam nurani rohani. Karena itu, setiap orang percaya perlu terus menilai ulang: Apakah aku mengikut sistem, ataukah aku mengikut Kristus? Apakah aku tunduk karena aturan manusia, atau karena kasih dan ketaatan kepada suara Gembala? Iman sejati hanya bisa tumbuh jika Kristus menjadi pusat, bukan hanya dalam pengakuan, tapi dalam arah hidup, keputusan, dan kesetiaan kita sehari-hari.
Keselamatan tidak pernah berasal dari keanggotaan sinode, kekuatan struktur gereja, atau relasi dengan tokoh rohani tertentu. Kita tidak diselamatkan oleh surat pengangkatan, nomor registrasi sinode, atau kedekatan dengan pemimpin gereja. Keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus—Dia yang disalibkan, bangkit, dan kini memerintah sebagai Tuhan atas segala sesuatu. Ia tidak pernah menyerahkan otoritas-Nya kepada struktur buatan manusia. Gereja sejati adalah milik-Nya, dan setiap anggota tubuh-Nya dipanggil untuk hidup dalam hubungan pribadi dengan Dia.
Sinode adalah alat—penting, tapi bukan pusat. Ia bisa menolong pelayanan, memperkuat pengajaran, dan mengatur kerja sama, tetapi tidak dapat menyelamatkan. Maka, marilah kita menempatkan hal-hal pada tempatnya: Kristus sebagai pusat, dan struktur sebagai sarana. Bila posisi ini dibalik, maka kita akan beragama tanpa keselamatan, dan aktif secara struktural namun mati secara rohani. Ketika gereja lebih percaya kepada sistem daripada kepada Kristus, maka iman kehilangan arah, kasih menjadi dingin, dan kekudusan hanya menjadi simbol, bukan realita. Gereja yang hidup bukanlah yang paling sibuk secara organisasi, tetapi yang paling melekat kepada Sang Kepala. Sebab hanya hubungan yang sejati dengan Kristus yang mampu menopang kita dalam guncangan zaman, dan membawa kita masuk dalam kehendak-Nya yang sempurna. Dalam dunia yang terus berubah dan penuh tekanan, hanya mereka yang berakar kuat di dalam Kristus yang akan tetap berdiri. Bukan karena kekuatan sendiri, tetapi karena anugerah yang mengalir dari kedekatan dengan Sang Sumber Hidup. Hubungan inilah yang akan membimbing langkah, memurnikan motivasi, dan menjaga hati tetap setia, sekalipun jalan terasa sempit dan sunyi. Inilah panggilan kita: kembali kepada pusat iman yang sejati—Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja. Sudahkah Kristus menjadi pusat hidup dan iman kita—atau hanya sistem yang kita bela?
PENUTUP
Kristus adalah pusat dari segala sesuatu. Bukan sistem, bukan sinode, bukan gelar rohani, dan bukan pula kesibukan pelayanan yang menentukan keselamatan kita—melainkan hubungan yang sejati, hidup, dan terus bertumbuh dengan Dia. Kita tidak diselamatkan oleh struktur keagamaan atau afiliasi denominasi, tetapi oleh kasih karunia Allah melalui iman kepada Yesus Kristus, Sang Juruselamat dunia. Kita dipanggil bukan untuk menjadi hamba sistem keagamaan, tetapi menjadi anak-anak Allah yang hidup, yang setiap harinya berjalan dalam persekutuan pribadi dengan Tuhan dan dibentuk serupa dengan Kristus.
Gereja yang sejati bukanlah bangunan yang indah, jumlah jemaat yang besar, atau kerumitan struktur sinode, melainkan persekutuan umat yang mengenal suara Sang Gembala dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Iman sejati tidak terlihat dari penampilan rohani di luar, tetapi dari hati yang remuk di hadapan Allah, kehidupan yang berbuah dalam kasih dan kebenaran, serta kesetiaan yang tidak goyah walau dunia berubah dan zaman mengguncang. Karena itu, marilah kita terus kembali kepada inti iman: mengenal, mengasihi, dan mengikuti Kristus dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Biarlah Kristus—bukan sinode—menjadi pusat kehidupan rohani kita. Sebab hanya Dia yang disalibkan bagi kita, hanya Dia yang bangkit dan hidup untuk memberi kita hidup kekal, dan hanya Dia yang layak menjadi dasar pengharapan dan keselamatan kita sampai akhir.
Jangan pernah menukar Kristus dengan sistem. Sinode bukan darah yang tercurah di salib. Sinode dapat menolong dan melayani, tetapi tidak dapat menyelamatkan. Setialah kepada Tuhan lebih daripada kepada struktur. Bila suatu sistem menjauhkan kita dari suara Kristus dan kebenaran-Nya, maka saatnya kita berdiri teguh untuk lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.
Apakah Kristus sungguh menjadi pusat iman kita? Apakah kesetiaan kita lebih besar kepada-Nya daripada kepada identitas gereja, jabatan rohani, atau pengakuan manusia? Pertanyaan-pertanyaan ini layak kita renungkan agar kita tidak terjebak dalam kesibukan religius yang kosong dari relasi dengan Sang Juruselamat. Biarlah setiap jawaban membawa kita kembali kepada kasih mula-mula, kepada kerinduan yang murni akan Tuhan, dan kepada satu-satunya Pribadi yang layak menjadi fondasi keselamatan kita: Yesus Kristus, Tuhan yang hidup, Kepala Gereja, dan Penebus jiwa kita.
Jangan pernah menjadikan sinode sebagai agama, dan terlebih lagi, jangan menjadikannya sebagai juruselamat. Sinode hanyalah wadah, bukan jalan keselamatan. Ia adalah sarana yang dapat membantu pelayanan, tetapi tidak bisa menggantikan posisi Kristus di hati umat-Nya. Jika kita lebih setia kepada struktur daripada kepada Tuhan, maka kita sedang membangun iman di atas pasir. Hanya Kristus yang menyelamatkan. Hanya Kristus yang layak kita ikuti. Maka, arahkan kembali imanmu, hatimu, dan kesetiaanmu—bukan kepada sistem, melainkan kepada Pribadi yang mati dan bangkit untukmu. Jangan biarkan identitas keagamaan menggantikan relasi yang hidup dengan Dia. Jangan biarkan loyalitas kepada lembaga menutupi kerinduan tulus untuk menyenangkan hati-Nya. Kembalilah kepada salib, kepada kasih mula-mula, kepada suara Sang Gembala. Di situlah letak kehidupan sejati, dan hanya di situlah keselamatan ditemukan. Sebab di luar Kristus, tidak ada jalan lain.
“Yesus berkata kepadanya:
‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa,
kalau tidak melalui Aku.’”
(Yohanes 14:6)
DAFTAR PUSTAKA
Alkitab Terjemahan Baru (LAI)
Catatan pelayanan pribadi dan pengalaman penggembalaan
Refleksi atas dinamika gereja kontemporer di lingkungan Gereja Gereja
============
Biografi Singkat Penulis– Pdt. Syaiful Hamzah Nahampun, M.Th
Gembala Sidang GBI Jl. Plumpang Semper No.22 (JPS22) – Jakarta Utara
Gembala Cabang GBI PRJ Sion – Pearaja Parlilitan, Sumatera Utara
=============
Lahir : 12 April 1974
Pendidikan : Magister Teologi (M.Th)
Sedang menempuh : Program Doktor (S3) di STT Gragion.
Sinode : Gereja Bethel Indonesia (GBI)
Istri : Pdm. Tiolida Sihotang S.PdK
Anak : Malkhi K dan Josua Rajahot Eklesyaiful
Profil Pelayanan
- Dipanggil dari latar belakang kehidupan yang keras, Pdt. Syaiful Hamzah Nahampun melayani dengan hati yang tulus dan komitmen tinggi terhadap kebenaran firman Tuhan serta ketaatan terhadap struktur dan doktrin GBI.
- Bersama istri, Pdm. Tiolida Sihotang S.PdK, beliau menggembalakan jemaat di berbagai wilayah, termasuk cabang-cabang luar Jakarta seperti Dayun (Riau) dan Pearaja Parlilitan (Sumatera Utara).
- Pernah menggembalakan sebuah jemaat di salah satu daerah di Riau secara sah di bawah GBI JPS No. 22, namun kemudian menghadapi pembangkangan jemaat yang keluar secara sepihak tanpa ketaatan rohani maupun struktural.
- Pelayanannya menekankan pemuridan sejati dalam karakter, pertobatan, dan tanggung jawab, serta menyoroti bahaya teologi spiritual bypass—kerohanian semu yang menghindari pemulihan dan keadilan.
- Saat ini, beliau juga menempuh studi doktoral (S3) dalam bidang Misi di STT Gragion, dan aktif mengajar sebagai dosen di beberapa sekolah tinggi teologi, membentuk pemimpin-pemimpin gereja yang sehat secara doktrin maupun karakter.
Catatan Penting: Tulisan ini disusun khusus untuk kalangan sendiri sebagai bahan ilustrasi rohani dan refleksi teologis. Jika terdapat kemiripan dengan peristiwa, tempat, atau individu tertentu, itu tidak disengaja dan bukan merupakan tuduhan pribadi, melainkan ajakan untuk perenungan bersama dalam terang Firman Tuhan. Dilarang menyalin, menyebarluaskan, atau memperbanyak isi tulisan ini tanpa izin tertulis dari penulis