SEJARAH PERINTISAN GBI PRJ SION SUMUT CABANG GBI JPS JAKARTA
SEJARAH PERINTISAN GBI PRJ SION SUMUT CABANG GBI JPS JAKARTA
Dusun Pearaja, Sion Sibulbulon, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara
Disusun oleh:
Pdt. Dr. Syaiful Hamzah, S.Th., M.Th.
PENDAHULUAN
Setiap gereja memiliki kisah perjalanan yang berbeda dalam proses pertumbuhannya. Ada gereja yang lahir dari sebuah gedung yang telah dipersiapkan, ada yang berkembang melalui pelayanan besar, dan ada pula yang bertumbuh dari kerinduan sederhana untuk menjangkau jiwa-jiwa. Demikian pula dengan Gereja Bethel Indonesia PRJ Sion Sumut di Dusun Pearaja, Sion Sibulbulon, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Gereja ini hadir melalui proses panjang yang dimulai dari pelayanan dan hubungan dengan masyarakat setempat.
Perintisan pelayanan GBI PRJ Sion Sumut dilakukan oleh Pdt. Syaiful Hamzah, S.Th., M.Th. bersama istrinya, Pdm. Tiolida Sihotang, S.PdK. Sejak tahun 2010, mereka secara rutin melakukan perjalanan pelayanan dari Jakarta menuju Parlilitan. Dengan berbagai keterbatasan, mereka tetap melaksanakan kunjungan, ibadah, pemberitaan Firman Tuhan, doa, dan pelayanan keluarga. Dari tahun ke tahun, hubungan dengan masyarakat semakin terjalin. Kepercayaan mulai tumbuh, dan benih pelayanan perlahan berkembang menjadi sebuah pelayanan gereja di tengah masyarakat Pearaja.
Perjalanan pelayanan tersebut tidak selalu mudah. Jarak Jakarta menuju Parlilitan yang jauh, keterbatasan fasilitas, kebutuhan dana, serta berbagai dinamika pelayanan menjadi bagian dari proses yang harus dihadapi. Namun, setiap tantangan menjadi bagian dari pembentukan dan pendewasaan pelayanan. Kerinduan memiliki tempat ibadah kemudian diwujudkan melalui pembelian tanah pribadi di Pearaja pada Januari 2022. Selanjutnya, pada Desember 2022 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan gereja sebagai tanda dimulainya pembangunan tempat ibadah bagi jemaat dan pelayanan masyarakat.
Sejarah GBI PRJ Sion Sumut bukan hanya kisah pembangunan gedung gereja, melainkan juga kisah iman, pengorbanan, ketekunan, hubungan dengan masyarakat, pertumbuhan jemaat, dan kesetiaan dalam menjalankan panggilan pelayanan. Pada tahun 2025, pelayanan berkembang menjadi jemaat yang melaksanakan ibadah secara rutin, pelayanan anak, pemuda, Pemahaman Alkitab, serta pembentukan tim pelayanan lokal. Selanjutnya, melalui Surat Tanda Lapor pada April 2025, GBI PRJ Sion Sumut tercatat sebagai cabang GBI JPS Jakarta. Sejarah ini menjadi dokumentasi perjalanan pelayanan dan kesaksian penyertaan Tuhan.
BAB I - AWAL PERINTISAN DAN PERJALANAN PELAYANAN
Perintisan sebuah gereja merupakan proses panjang yang membutuhkan iman, kesetiaan, pengorbanan, dan ketekunan. Demikian pula perjalanan awal GBI PRJ Sion Sumut di Pearaja yang tidak langsung dimulai dengan berdirinya sebuah gedung gereja. Pelayanan diawali melalui perjalanan dari Jakarta menuju Parlilitan, membangun hubungan dengan masyarakat, melakukan kunjungan keluarga, serta memberitakan Firman Tuhan. Setiap kunjungan menjadi kesempatan untuk mengenal masyarakat dan menanamkan benih pelayanan. Dari proses sederhana tersebut, perlahan terbentuk hubungan, kepercayaan, dan kerinduan untuk menghadirkan pelayanan GBI secara nyata di tengah masyarakat Pearaja.
1.1 Awal Kunjungan Pelayanan
Perjalanan pelayanan GBI PRJ Sion Sumut dimulai sekitar tahun 2010, ketika belum terdapat gereja GBI yang berdiri secara resmi di Dusun Pearaja. Pdt. Syaiful Hamzah bersama istrinya, Pdm. Tiolida Sihotang, mulai melakukan kunjungan pelayanan dari Jakarta menuju Parlilitan. Kunjungan tersebut dilakukan secara rutin dengan berbagai bentuk pelayanan, seperti Kebaktian Kebangunan Rohani, pelayanan keluarga, doa, dan pembinaan rohani. Kerinduan untuk menjangkau jiwa-jiwa menjadi dasar utama dalam setiap perjalanan pelayanan yang mereka lakukan.
Pada masa awal, pelayanan tersebut dilakukan dengan berbagai keterbatasan. Tidak ada rombongan besar maupun fasilitas khusus yang mendukung perjalanan. Mereka bahkan menyewa kendaraan pribadi untuk menempuh perjalanan panjang dari Jakarta menuju Parlilitan. Pada tahun 2011, Pdt. Syaiful bersama istrinya pernah membawa sepeda motor Mio dari Jakarta menuju Parlilitan sebagai sarana pelayanan. Perjalanan tersebut menjadi pengalaman penting dalam perintisan. Perlahan, masyarakat mulai mengenal miereka, hubungan dengan keluarga terbentuk, dan pelayanan mulai diterima di tengah masyarakat.
1.2 Pelayanan dari Rumah ke Rumah
Sebelum memiliki tempat ibadah yang tetap, pelayanan GBI PRJ Sion dilakukan melalui hubungan langsung dengan masyarakat. Pdt. Syaiful Hamzah bersama istri mengunjungi rumah-rumah warga, melayani keluarga, mendoakan mereka yang membutuhkan pertolongan, serta menyampaikan Firman Tuhan dalam berbagai kesempatan. Pelayanan tersebut dilakukan dengan sederhana dan penuh ketulusan. Setiap kunjungan menjadi kesempatan untuk mengenal kehidupan masyarakat secara lebih dekat. Dari perjumpaan-perjumpaan tersebut, hubungan mulai terjalin dan masyarakat perlahan mengenal kehadiran pelayanan yang dibawa dari Jakarta menuju Pearaja.
Pelayanan tersebut menunjukkan bahwa perintisan gereja tidak selalu dimulai dari sebuah gedung, tetapi dari hubungan antarmanusia yang dibangun dengan kasih dan ketulusan. Kepercayaan masyarakat tidak dapat diperoleh hanya melalui satu atau dua kali kunjungan, melainkan membutuhkan waktu dan kesabaran. Karena itu, proses pelayanan dilakukan secara bertahap dengan berusaha memahami kehidupan, kebutuhan, adat, dan budaya masyarakat setempat. Melalui proses tersebut, hubungan semakin erat, kepercayaan mulai tumbuh, dan pelayanan memperoleh tempat di tengah kehidupan masyarakat Pearaja.
1.3 Menjadi Bagian dari Masyarakat
Ketika pertama kali datang ke Parlilitan, Pdt. Syaiful Hamzah berasal dari lingkungan yang berbeda dengan masyarakat setempat. Perbedaan bahasa, latar belakang, pengalaman hidup, dan kebiasaan pelayanan menjadi bagian dari tantangan awal dalam membangun hubungan. Namun, perbedaan tersebut tidak menjadi alasan untuk menjaga jarak. Sebaliknya, keadaan itu menjadi kesempatan untuk belajar dan mengenal masyarakat dengan lebih dekat. Bersama istrinya, Pdt. Syaiful berusaha hadir di tengah kehidupan masyarakat dengan sikap terbuka, rendah hati, dan penuh penghargaan terhadap lingkungan setempat.
Dalam membangun hubungan, mereka mengunjungi rumah-rumah warga, berbicara dan duduk bersama masyarakat, serta mengikuti berbagai kesempatan untuk mengenal kehidupan sosial setempat. Mereka juga berusaha memahami adat dan budaya masyarakat Batak yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Proses tersebut membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketulusan. Melalui perjumpaan yang terus berlangsung, hubungan semakin dekat dan kepercayaan mulai tumbuh. Kehadiran pelayanan akhirnya tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang asing, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pearaja.
.
1.4 Penerimaan pada Tahun 2019
Salah satu momentum penting dalam perjalanan pelayanan terjadi pada tahun 2019. Setelah bertahun-tahun melakukan kunjungan, membangun hubungan, dan melayani masyarakat di Parlilitan, Pdt. Syaiful Hamzah menerima marga Nahampun dari masyarakat setempat. Peristiwa tersebut menjadi bagian yang berkesan dalam perjalanan pelayanan, karena menunjukkan adanya hubungan yang semakin dekat antara pelayan dengan masyarakat. Pemberian marga bukan sekadar sebuah nama, tetapi menjadi bagian dari proses penerimaan dan penghormatan dalam lingkungan masyarakat Batak yang memiliki ikatan kekeluargaan kuat.
Dalam kehidupan masyarakat Batak, marga memiliki makna penting sebagai identitas dan bagian dari hubungan kekeluargaan. Karena itu, penerimaan marga Nahampun menjadi salah satu tanda bahwa kehadiran Pdt. Syaiful Hamzah dan keluarga telah diterima secara sosial dan budaya oleh masyarakat setempat. Peristiwa tersebut juga menjadi buah dari hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun melalui pelayanan, kunjungan, dan perjumpaan dengan masyarakat. Momentum tahun 2019 kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan perintisan GBI PRJ Sion Sumut di Pearaja.
BAB II - PEMBELIAN TANAH DAN PELETAKAN BATU PERTAMA
Setelah melalui perjalanan pelayanan dan membangun hubungan dengan masyarakat selama bertahun-tahun, muncul kerinduan untuk memiliki tempat yang dapat digunakan secara tetap bagi kegiatan ibadah dan pelayanan. Kerinduan tersebut bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan sebuah bangunan, tetapi juga menjadi langkah untuk menghadirkan pelayanan GBI secara lebih nyata di tengah masyarakat Pearaja. Melalui proses doa, pertimbangan, dan keberanian mengambil langkah, sebuah tanah kemudian dipersiapkan untuk menjadi tempat pelayanan. Tahap ini menjadi bagian penting dalam sejarah perintisan GBI PRJ Sion Sumut.
2.1 Kerinduan Memiliki Tempat Pelayanan
Setelah bertahun-tahun melakukan kunjungan pelayanan dari Jakarta menuju Parlilitan, kerinduan untuk memiliki tempat pelayanan yang tetap semakin kuat. Selama ini, pelayanan dilakukan melalui kunjungan keluarga, ibadah, doa, dan berbagai kegiatan rohani di tengah masyarakat. Namun, kebutuhan akan sebuah tempat yang dapat menjadi pusat persekutuan semakin dirasakan. Tempat tersebut diharapkan dapat digunakan untuk beribadah, memberitakan Firman Tuhan, membina jemaat, melayani anak-anak dan pemuda, serta menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengalami kehidupan persekutuan dan pelayanan gereja secara lebih teratur.
Kerinduan tersebut kemudian menjadi sebuah langkah iman. Tempat pelayanan tidak dipandang hanya sebagai sebuah bangunan fisik, tetapi sebagai sarana untuk mendukung keberlangsungan pelayanan di Pearaja. Setelah melalui proses yang panjang, muncul keputusan untuk mempersiapkan sebidang tanah yang dapat digunakan bagi kepentingan pelayanan Gereja Bethel Indonesia. Keputusan tersebut menjadi titik awal dari sebuah tahap baru dalam perjalanan GBI PRJ Sion Sumut. Dari pelayanan yang sebelumnya berpindah dan dilakukan melalui kunjungan, mulai muncul sebuah visi untuk mempunyai tempat yang dapat menjadi rumah bagi jemaat dan pelayanan Tuhan.
2.2 Pembelian Tanah Tahun 2022
Pada Januari 2022, Pdt. Syaiful Hamzah membeli sebidang tanah pribadi di wilayah Pearaja, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Tanah tersebut kemudian dipersiapkan untuk digunakan bagi kepentingan pelayanan Gereja Bethel Indonesia, khususnya sebagai tempat yang direncanakan untuk pembangunan GBI PRJ Sion Sumut. Proses pembelian dilakukan secara sah dan diketahui oleh pemerintah setempat. Dalam proses tersebut, Bapak Jumrin Nahampun selaku Kepala Desa Pearaja turut membantu dalam berbagai hal yang berkaitan dengan proses tanah tersebut.
Tanah yang sebelumnya merupakan bagian dari kepemilikan keluarga Bapak Jumrin Nahampun kemudian dapat dipersiapkan untuk mendukung rencana pembangunan tempat pelayanan. Pembelian tanah ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan perintisan GBI PRJ Sion Sumut. Setelah bertahun-tahun pelayanan dilakukan melalui kunjungan dan persekutuan dari rumah ke rumah, tersedianya tanah menjadi langkah nyata menuju terwujudnya tempat pelayanan yang tetap. Langkah tersebut menjadi dasar bagi tahapan berikutnya, yaitu peletakan batu pertama dan pembangunan tempat ibadah.
2.3 Peletakan Batu Pertama
Pada Desember 2022, dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan GBI PRJ Sion Pearaja. Pdt. Syaiful Hamzah bersama istri dan tim pelayanan kembali datang dari Jakarta untuk mengikuti dan memimpin kegiatan tersebut. Acara dihadiri oleh Kepala Desa Pearaja beserta perangkat desa, aparat dusun, raja huta, tokoh masyarakat, perwakilan masyarakat, serta rekan-rekan pelayanan dari GBI Amborgang. Kehadiran berbagai unsur masyarakat dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan. Peletakan batu pertama menjadi tanda dimulainya pembangunan tempat pelayanan GBI di Pearaja.
Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan tetap memperhatikan nilai-nilai budaya dan kehidupan masyarakat setempat. Bagi gereja, peletakan batu pertama bukan hanya merupakan dimulainya pembangunan secara fisik, tetapi juga menjadi sebuah momentum iman dalam perjalanan pelayanan. Sebidang tanah yang sebelumnya belum digunakan mulai dipersiapkan untuk menjadi tempat ibadah, persekutuan, dan pelayanan. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah GBI PRJ Sion Sumut, karena kerinduan yang telah dibangun melalui perjalanan pelayanan selama bertahun-tahun mulai diwujudkan dalam bentuk nyata.
2.4 Pembangunan sebagai Langkah Iman
Setelah peletakan batu pertama, pembangunan gedung GBI PRJ Sion Pearaja mulai dilaksanakan secara bertahap. Pekerjaan diawali dengan pembangunan pondasi, kemudian dilanjutkan dengan pengerjaan tiang slop tembok dan tiang slop atap. Setiap tahap dikerjakan sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada pada saat itu. Pembangunan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pelayanan yang tidak hanya membutuhkan perencanaan, tetapi juga ketekunan dan kesediaan untuk terus melangkah. Apa yang dikerjakan secara sederhana menjadi awal dari sebuah bangunan yang diharapkan dapat digunakan bagi kegiatan ibadah dan pelayanan di kemudian hari.
Dalam prosesnya, pembangunan tidak berjalan tanpa hambatan. Keterbatasan dana menyebabkan pekerjaan belum dapat diselesaikan sekaligus dan harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan yang tersedia. Meskipun demikian, pekerjaan yang telah dimulai tetap menjadi tanda bahwa pelayanan GBI PRJ Sion Sumut telah memiliki tempat yang dipersiapkan untuk masa depan. Bangunan tersebut menjadi bagian dari perjalanan iman dan pengharapan, sekaligus menjadi pengingat bahwa pelayanan dibangun melalui proses, kesabaran, pengorbanan, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai keterbatasan.
BAB III - PERGUMULAN, PERPINDAHAN TEMPAT, DAN LAHIRNYA IBADAH RUTIN
Perjalanan pelayanan GBI PRJ Sion Sumut tidak selalu berlangsung dalam keadaan yang mudah. Setelah pembangunan gedung gereja dimulai, berbagai tantangan harus dihadapi, baik dalam hal pembiayaan pembangunan maupun dalam perjalanan pelayanan bersama masyarakat. Gedung yang belum selesai menyebabkan kegiatan ibadah harus mencari tempat sementara. Dalam keadaan tersebut, pelayanan tetap berjalan dan berbagai upaya dilakukan agar persekutuan jemaat dapat terus berlangsung. Melalui proses perpindahan tempat dan berbagai pergumulan yang dihadapi, Tuhan membuka jalan sehingga pelayanan akhirnya memiliki tempat untuk melaksanakan ibadah secara rutin.
3.1 Pergumulan Pembangunan
Dalam perjalanan pembangunan gedung gereja, berbagai tantangan mulai dirasakan. Kebutuhan dana untuk melanjutkan pembangunan masih cukup besar, sementara kemampuan finansial yang tersedia sangat terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan pembangunan tidak dapat dilanjutkan sekaligus dan harus menyesuaikan dengan kemampuan yang ada. Keadaan ini menjadi bagian dari pergumulan pelayanan. Meskipun demikian, pekerjaan yang telah dimulai tetap menjadi dasar pengharapan bahwa pada waktunya pembangunan dapat dilanjutkan dan tempat tersebut dapat digunakan untuk mendukung kehidupan jemaat serta pelayanan GBI PRJ Sion Sumut.
Selain persoalan pembangunan fisik, perjalanan pelayanan juga diwarnai oleh berbagai dinamika hubungan dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan pelayanan. Perbedaan pandangan, persoalan kepercayaan, serta berbagai pengalaman yang tidak mudah menjadi bagian dari proses perintisan. Semua keadaan tersebut membutuhkan kesabaran, pengertian, dan sikap untuk tetap menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak. Pergumulan yang terjadi tidak kemudian menghentikan pelayanan. Sebaliknya, keadaan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pendewasaan dalam menjalankan pelayanan di tengah masyarakat.
3.2 Mencari Tempat untuk Beribadah
Karena gedung gereja belum dapat diselesaikan, pada tahun 2025 dilakukan upaya untuk mencari tempat sementara yang dapat digunakan sebagai lokasi ibadah. Sebuah rumah kemudian disewa dan dipersiapkan untuk menjadi tempat beribadah. Rumah tersebut direnovasi agar dapat digunakan dengan lebih layak untuk kegiatan gereja. Berbagai perlengkapan ibadah, termasuk alat musik, mimbar, dan perlengkapan lainnya, dibawa dari Jakarta. Biaya renovasi yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp20.000.000. Setelah dipersiapkan, rumah tersebut mulai digunakan untuk ibadah dan berbagai kegiatan pelayanan.
Penggunaan rumah sebagai tempat ibadah sementara menjadi langkah penting dalam menjaga keberlangsungan pelayanan. Walaupun gedung gereja yang telah direncanakan belum selesai, kegiatan persekutuan tetap dapat dilaksanakan. Rumah tersebut menjadi tempat berkumpul, berdoa, memuji Tuhan, dan membangun kehidupan bersama sebagai jemaat. Keadaan ini menunjukkan bahwa keberlangsungan pelayanan tidak semata-mata bergantung pada keberadaan sebuah gedung permanen. Selama tersedia tempat yang dapat digunakan, pelayanan tetap dapat dijalankan dan kehidupan jemaat terus dibangun.
3.3 Pintu yang Tertutup
Dalam perjalanan berikutnya, muncul keberatan dari salah satu anggota keluarga pemilik rumah terhadap penggunaan rumah tersebut sebagai tempat ibadah. Keadaan tersebut menyebabkan pelayanan harus kembali mencari tempat baru. Situasi ini menjadi pergumulan tersendiri karena rumah yang telah disewa sebelumnya sudah melalui proses renovasi dan dipersiapkan dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Namun demikian, pelayanan memilih untuk tetap menjaga kedamaian dan menghormati pihak keluarga pemilik rumah. Keputusan tersebut menjadi bagian dari upaya untuk menjaga hubungan baik serta menghindari persoalan yang dapat mengganggu kehidupan pelayanan.
Dengan keadaan tersebut, pencarian tempat ibadah baru kembali dilakukan. Perpindahan tempat tentu bukan sesuatu yang mudah, terlebih karena berbagai perlengkapan dan kebutuhan ibadah telah dipersiapkan sebelumnya. Namun keadaan tersebut tidak membuat pelayanan berhenti. Pdt. Syaiful bersama istri dan jemaat terus berusaha mencari jalan keluar yang dapat memungkinkan kegiatan ibadah tetap berlangsung. Dari proses tersebut kemudian terbuka kesempatan untuk bertemu dengan keluarga lain yang bersedia memberikan tempat bagi keberlangsungan pelayanan GBI PRJ Sion Pearaja.
3.4 Pertolongan Melalui Keluarga Barasa
Dalam keadaan tersebut, Pdt. Syaiful bersama istri dan beberapa jemaat terus mencari rumah yang dapat digunakan sebagai tempat ibadah. Dengan bantuan dan arahan Bapak Jumrin Nahampun selaku Kepala Desa, mereka kemudian bertemu dengan keluarga Barasa. Pertemuan tersebut berlangsung hingga larut malam dan menjadi bagian penting dalam perjalanan pelayanan. Setelah melalui pembicaraan bersama, keluarga Barasa membuka pintu rumah mereka untuk digunakan sebagai tempat ibadah GBI PRJ Sion Pearaja. Kesediaan tersebut menjadi sebuah pertolongan yang sangat berarti bagi keberlangsungan kegiatan pelayanan pada saat itu.
Hal yang menjadi sukacita tersendiri adalah rumah tersebut dapat digunakan tanpa biaya sewa. Keluarga Barasa juga turut membantu mempersiapkan dan merenovasi rumah tersebut agar lebih layak digunakan sebagai tempat ibadah. Rumah keluarga Barasa kemudian menjadi tempat ibadah GBI PRJ Sion Pearaja sampai sejarah ini ditulis. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan pelayanan, karena ketika tempat yang sebelumnya digunakan tidak dapat dilanjutkan, terbuka tempat yang baru. Dari keadaan tersebut, pelayanan kembali memperoleh ruang untuk beribadah, membangun jemaat, dan melanjutkan tugas pelayanan di tengah masyarakat Pearaja.
BAB IV - PERTUMBUHAN JEMAAT DAN PENATAAN PELAYANAN
Setelah melalui berbagai pergumulan dan perpindahan tempat, pelayanan GBI PRJ Sion Pearaja memasuki tahap baru pada tahun 2025. Pelayanan yang sebelumnya lebih banyak dilakukan melalui kunjungan dan persekutuan mulai berkembang menjadi ibadah jemaat yang dilaksanakan secara rutin. Kehadiran anak-anak, pemuda, keluarga-keluarga sekitar, dan simpatisan menjadi bagian dari pertumbuhan jemaat. Bersamaan dengan itu, berbagai kegiatan pelayanan mulai ditata secara lebih teratur. Pembentukan tim pelayanan lokal juga menjadi langkah penting agar kehidupan jemaat dapat terus dibina dan dikembangkan secara berkesinambungan.
4.1 Ibadah Raya Perdana
Setelah melalui berbagai proses yang panjang, Ibadah Raya Perdana GBI PRJ Sion Cabang Pearaja–Parlilitan dilaksanakan pada Minggu, 23 Maret 2025. Ibadah tersebut berlangsung di tempat yang sederhana, tetapi memiliki arti penting bagi perjalanan pelayanan. Sekitar 25 orang hadir dalam ibadah perdana tersebut, yang terdiri dari keluarga-keluarga sekitar Pearaja, anak-anak, pemuda, dan simpatisan yang sebelumnya telah mengenal pelayanan. Kehadiran mereka menjadi awal terbentuknya kehidupan jemaat yang mulai berkumpul secara teratur dalam ibadah bersama.
Hari tersebut menjadi momentum penting dalam sejarah perintisan GBI PRJ Sion Sumut. Pelayanan yang selama bertahun-tahun dilakukan melalui kunjungan, doa, pelayanan keluarga, dan hubungan dengan masyarakat akhirnya berkembang menjadi ibadah jemaat yang rutin. Walaupun dilaksanakan dalam tempat dan keadaan yang sederhana, ibadah perdana tersebut menjadi tanda bahwa pelayanan telah memasuki tahap baru. Dari persekutuan yang sederhana, mulai terbentuk sebuah komunitas jemaat yang dapat bertumbuh bersama dalam iman dan pelayanan.
4.2 Pemahaman Alkitab
Setelah ibadah raya mulai dilaksanakan secara rutin, kegiatan Pemahaman Alkitab dan Komsel juga mulai dijalankan setiap Selasa malam. Kegiatan ini menjadi salah satu sarana bagi jemaat untuk belajar Firman Tuhan secara lebih teratur. Dalam pertemuan tersebut, jemaat diberikan kesempatan untuk membaca, memahami, dan mendiskusikan Firman Tuhan serta menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Persekutuan dalam kelompok kecil juga memberikan ruang bagi jemaat untuk saling mengenal dan membangun hubungan yang lebih dekat.
Pemahaman Alkitab menjadi bagian penting dalam pembinaan iman jemaat. Melalui kegiatan tersebut, jemaat tidak hanya mengikuti ibadah pada hari Minggu, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk bertumbuh melalui pembelajaran Firman Tuhan secara berkelanjutan. Komsel menjadi ruang untuk membangun kebersamaan, saling mendoakan, dan memperkuat kehidupan rohani. Dengan demikian, kegiatan tersebut menjadi salah satu dasar dalam membangun kehidupan jemaat yang semakin terarah dan bertumbuh.
4.3 Sekolah Minggu
Pelayanan kepada anak-anak menjadi salah satu perhatian dalam perkembangan GBI PRJ Sion Pearaja. Setiap Minggu sore, kegiatan Sekolah Minggu dilaksanakan secara rutin. Rata-rata kehadiran anak-anak berkisar antara 20–25 orang. Mereka dilayani melalui cerita Alkitab, lagu-lagu rohani, pembelajaran yang kreatif, serta berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan usia mereka. Kehadiran anak-anak dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan jemaat dan menunjukkan bahwa pelayanan mulai menjangkau berbagai kelompok usia di tengah masyarakat.
Pelayanan Sekolah Minggu tidak hanya menjadi kegiatan pendamping dalam kehidupan gereja, tetapi juga merupakan bagian dari pembinaan iman sejak usia dini. Melalui pelayanan yang dilakukan secara rutin, anak-anak diperkenalkan kepada Firman Tuhan dan dibimbing untuk mengenal nilai-nilai kehidupan Kristen. Karena itu, pelayanan anak menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi masa depan gereja. Pertumbuhan pelayanan Sekolah Minggu juga menjadi salah satu hal yang terus mendapat perhatian dalam perkembangan GBI PRJ Sion Pearaja.
4.4 Pelayanan Pemuda
Pelayanan pemuda dilaksanakan setiap Sabtu sore sebagai salah satu wadah pembinaan bagi generasi muda. Dalam kegiatan tersebut, para pemuda mengikuti ibadah dan pembahasan mengenai kehidupan iman serta berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pembinaan juga menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan pergaulan, penggunaan media sosial, serta berbagai persoalan yang dihadapi oleh generasi muda. Melalui persekutuan tersebut, para pemuda diberikan ruang untuk bertumbuh dalam iman sekaligus membangun hubungan yang positif satu dengan yang lain.
Dalam perkembangannya, beberapa pemuda mulai mengambil bagian dalam berbagai bentuk pelayanan. Mereka dilibatkan dalam pujian, musik, doa, dan kegiatan pelayanan lainnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pembentukan generasi penerus pelayanan. Dengan memberikan kesempatan kepada para pemuda untuk melayani, gereja tidak hanya membangun kehidupan rohani mereka, tetapi juga mulai mempersiapkan mereka untuk mengambil tanggung jawab dalam kehidupan pelayanan pada masa yang akan datang.
4.5 Penetapan Tim Pelayanan
Untuk mendukung pelayanan jemaat yang semakin berkembang, beberapa jemaat lokal dipercayakan untuk menjadi bagian dari tim pelayanan GBI PRJ Sion Pearaja. Penetapan tersebut dilakukan agar berbagai kegiatan gereja dapat berjalan dengan lebih teratur dan setiap pelayanan memiliki orang-orang yang bertanggung jawab di bidangnya. Para pelayan yang dipercayakan tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan jemaat dan turut membantu pelaksanaan berbagai kegiatan ibadah maupun pelayanan lainnya.
Adapun susunan tim pelayanan yang dipercayakan pada saat itu adalah:
Mauli Ritonga – Tua-Tua GerejD
Desnar Tumanggor – Koordinator Ibadah
Unggul Ritonga – Koordinator Sekolah Minggu
Maria Tumanggor – Koordinator Pemuda
Fania Tumanggor – Multimedia
pembentukan tim tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan pelayanan lokal. Dengan adanya para pelayan lokal, kegiatan gereja dapat berlangsung secara lebih teratur dan berkesinambungan. Mereka tidak hanya membantu dalam pelaksanaan kegiatan, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun kehidupan jemaat di Pearaja. Penataan pelayanan ini menjadi langkah penting dalam mempersiapkan GBI PRJ Sion Sumut untuk terus bertumbuh dan menjalankan pelayanan di tengah masyarakat.
---
BAB V - PENGAKUAN STRUKTURAL DAN HARAPAN MASA DEPAN
Perjalanan GBI PRJ Sion Sumut terus berkembang dan memasuki tahap yang semakin terarah. Setelah melalui proses perintisan, pembangunan, pergumulan, perpindahan tempat, serta terbentuknya kegiatan jemaat secara rutin, pelayanan kemudian memasuki tahap penataan secara struktural dalam lingkungan Gereja Bethel Indonesia. Pengakuan administratif menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Pada saat yang sama, kehidupan jemaat terus dibangun melalui ibadah, pembinaan, pelayanan anak dan pemuda, serta keterlibatan para pelayan lokal. Semua proses tersebut menjadi dasar untuk melanjutkan pelayanan dengan pengharapan bagi masa depan.
5.1 GBI PRJ Sion sebagai Cabang GBI JPS Jakarta
Perjalanan pelayanan kemudian memasuki tahap penting dalam hubungan struktural dengan Gereja Bethel Indonesia. Pada bulan April 2025, GBI PRJ Sion Sumut dilaporkan kepada BPD GBI Tapanuli Sumatera Utara sebagai cabang dari GBI JPS No. 22 Jakarta Utara. Proses tersebut menjadi bagian dari penataan administratif pelayanan yang telah dirintis selama bertahun-tahun. Sebelumnya, pelayanan telah berkembang melalui kunjungan, pembinaan keluarga, ibadah, serta kegiatan jemaat di wilayah Pearaja. Dengan adanya proses pelaporan tersebut, keberadaan pelayanan semakin tertata dalam hubungan kelembagaan GBI.
Pada tanggal 20 April 2025, diterbitkan Surat Tanda Lapor (STL) Nomor No. 020/S-XVII/SP/BPD-42/IV/2025 Surat tersebut menjadi bagian penting dalam dokumentasi administratif pelayanan GBI PRJ Sion Sumut. Dengan adanya STL tersebut, pelayanan GBI PRJ Sion Pearaja tercatat sebagai bagian dari struktur pelayanan GBI di wilayah Sumatera Utara dan merupakan cabang dari GBI JPS Jakarta. Dalam proses tersebut, dukungan dari Pdt. Juanto Nainggolan, S.Th., selaku Ketua Perwil Humbang Tapanuli, turut menjadi bagian dari perjalanan pengakuan struktural pelayanan
5.2 Pentahbisan dan Penguatan Pelayanan. Sebagai bagian dari perjalanan dan penguatan pelayanan GBI PRJ Sion Sumut, pada tahun 2025 dilaksanakan pentahbisan yang menjadi salah satu momentum penting dalam perkembangan pelayanan melalui forum Badan Pengurus Daerah (BPD) Gereja Bethel Indonesia Tapanuli. Momentum ini menandai semakin kuatnya hubungan pelayanan GBI PRJ Sion Sumut dengan struktur organisasi Gereja Bethel Indonesia.
Pentahbisan tersebut dilaksanakan pada 22 Desember 2025 dalam rangkaian kegiatan BPD GBI Tapanuli. Proses pentahbisan dipimpin oleh Pdt. Martua Lumban Gaol, S.Th. selaku Ketua II BPD GBI Tapanuli. Penetapan tersebut dituangkan dalam Surat Keputusan BPD GBI Tapanuli Nomor: 120/S-XVII/SK/BPD42/XII/2025 tentang penetapan Pdt. Syaiful Hamzah, S.Th., M.Th. sebagai Gembala Jemaat Lokal GBI PRJ Sion Parliitan, Desa Pearaja Sion Sibulbulon, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.
Bagi GBI PRJ Sion Sumut, momentum ini memiliki arti penting dalam perjalanan pelayanan yang telah dirintis sejak tahun 2010. Setelah melalui berbagai proses perintisan, pembangunan tempat pelayanan, pembentukan jemaat, pelaksanaan ibadah secara rutin, serta penataan pelayanan lokal, pentahbisan tersebut menjadi bagian dari proses penguatan pelayanan dan pembinaan dalam lingkungan Gereja Bethel Indonesia.
Pentahbisan ini sekaligus menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen pelayanan kepada Tuhan dan kepada jemaat. Pelayanan gereja tidak hanya berkaitan dengan keberadaan tempat ibadah, tetapi juga dengan kesiapan para pelayan dalam menjalankan tugas penggembalaan, pemberitaan Firman Tuhan, pembinaan jemaat, penginjilan, pemuridan, serta pelayanan kepada masyarakat.
Dengan demikian, peristiwa pentahbisan pada 22 Desember 2025 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjalanan GBI PRJ Sion Sumut. Momentum tersebut merupakan bagian dari rangkaian perjalanan pelayanan yang telah dimulai sejak tahun 2010 dan terus berkembang hingga terbentuknya pelayanan jemaat yang lebih teratur, terarah, serta memiliki hubungan struktural dalam lingkungan Gereja Bethel Indonesia.
5.3 Pelayanan yang Terus Bertumbuh
GBI PRJ Sion Sumut masih berada dalam proses pertumbuhan. Gedung gereja yang telah direncanakan dan mulai dibangun sebelumnya belum selesai sepenuhnya, sehingga pelayanan masih berlangsung di tempat yang sederhana. Namun, keterbatasan tempat dan fasilitas tidak menjadi alasan untuk menghentikan kehidupan jemaat. Ibadah raya tetap dilaksanakan, kegiatan Pemahaman Alkitab dan Komsel terus berjalan, Sekolah Minggu tetap melayani anak-anak, dan pelayanan pemuda terus dibina. Semua kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pertumbuhan jemaat yang berlangsung secara bertahap.
Pertumbuhan pelayanan juga terlihat melalui keterlibatan para pelayan lokal dalam menjalankan berbagai tanggung jawab gereja. Anak-anak terus belajar mengenal Firman Tuhan, para pemuda terus mendapatkan pembinaan, sementara jemaat dewasa terus membangun kehidupan iman melalui persekutuan dan ibadah. Para pelayan lokal juga semakin mengambil bagian sesuai dengan tanggung jawab yang dipercayakan kepada mereka. Dengan demikian, pertumbuhan GBI PRJ Sion Sumut tidak hanya diukur dari pembangunan gedung, tetapi juga dari pertumbuhan kehidupan jemaat dan semakin berkembangnya pelayanan di tengah masyarakat.
5.4 Harapan Masa Depan
Harapan ke depan adalah agar GBI PRJ Sion Sumut dapat terus berkembang menjadi gereja yang sehat, bertumbuh dalam Firman Tuhan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Pembangunan gedung gereja yang telah dimulai diharapkan dapat dilanjutkan ketika Tuhan membuka jalan dan mencukupkan setiap kebutuhan yang diperlukan. Namun, lebih daripada pembangunan fisik, harapan utama adalah agar kehidupan rohani jemaat terus dibangun. Gereja bukan hanya tempat untuk berkumpul dan beribadah, tetapi juga tempat untuk membentuk kehidupan orang percaya agar semakin bertumbuh dalam iman kepada Kristus.
Karena itu, pelayanan ke depan akan terus diarahkan kepada pembinaan jemaat, penginjilan, pemuridan, pelayanan anak, pelayanan pemuda, serta keterlibatan gereja di tengah masyarakat. Setiap bagian pelayanan diharapkan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan jemaat. Pembangunan gedung tetap menjadi bagian dari harapan, tetapi pembangunan kehidupan manusia menjadi dasar yang lebih utama. Sebab gedung dapat dibangun dengan berbagai material, tetapi gereja sebagai tubuh Kristus dibangun melalui kehidupan manusia yang percaya, bertumbuh, saling melayani, dan hidup dalam kasih Tuhan. Dengan semangat tersebut, perjalanan GBI PRJ Sion Sumut diharapkan terus berlanjut dari generasi ke generasi.
PENUTUP
Perjalanan GBI PRJ Sion Sumut merupakan sebuah kisah tentang proses pelayanan yang panjang. Dimulai dari kunjungan pnan pada tahun 2010, perjalanan tersebut berkembang melalui hubungan dengan masyarakat, pelayanan keluarga, Kebaktian Kebangunan Rohani, doa, dan pembinaan rohani. Pada tahun 2019, hubungan sosial dan budaya semakin kuat, salah satunya ditandai dengan diterimanya marga Nahampun oleh Pdt. Syaiful Hamzah. Pada Januari 2022, sebuah tanah dibeli dan dipersiapkan untuk pelayanan, kemudian pada Desember 2022 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan GBI PRJ Sion Pearaja. Dalam perjalanan berikutnya, pembangunan menghadapi berbagai keterbatasan dan pergumulan. Namun pelayanan tetap berjalan. Pada tahun 2025, sebuah rumah dipersiapkan menjadi tempat ibadah sementara dan pada Minggu, 23 Maret 2025, Ibadah Raya Perdana dilaksanakan dengan sekitar 25 orang yang terdiri dari keluarga-keluarga sekitar, anak-anak, pemuda, dan simpatisan. Setelah itu pelayanan berkembang melalui Pemahaman Alkitab dan Komsel, Sekolah Minggu, Ibadah Pemuda, serta pembentukan tim pelayanan lokal. Pada tanggal 20 April 2025, diterbitkan Surat Tanda Lapor (STL) Nomor 020/S-XVII/SP/BPD-42/IV sebagai bagian dari dokumentasi administratif GBI PRJ Sion Sumut sebagai cabang dari GBI JPS Jakarta.
Semua tahapan tersebut menunjukkan bahwa sebuah gereja dapat bertumbuh melalui proses yang panjang. Gereja tidak selalu dimulai dengan gedung yang besar atau fasilitas yang lengkap, tetapi dapat dimulai dari sebuah perjalanan, sebuah rumah sederhana, beberapa orang yang berkumpul, dan hati yang rindu melayani Tuhan. Sejarah GBI PRJ Sion Sumut menjadi kesaksian tentang pentingnya kesetiaan, kesabaran, pengorbanan, dan ketekunan dalam menjalankan pelayanan. Apa yang dimulai sebagai kunjungan pelayanan akhirnya berkembang menjadi sebuah jemaat, dan apa yang dahulu hanya berupa kerinduan akhirnya menjadi pelayanan yang nyata. Kiranya GBI PRJ Sion Sumut terus menjadi tempat di mana nama Tuhan Yesus Kristus dimuliakan, Firman Tuhan diberitakan, jiwa-jiwa dilayani, anak-anak dibina, pemuda diperlengkapi, keluarga dikuatkan, dan masyarakat merasakan kasih Kristus. Perjalanan ini belum selesai; masih ada jiwa yang harus dijangkau, generasi yang harus dibina, dan pelayanan yang harus dilanjutkan. Kiranya apa yang telah dimulai dengan iman terus dilanjutkan dengan kesetiaan dan diselesaikan bagi kemuliaan Tuhan.
SUMBER DAN DOKUMENTASI
Catatan dan dokumentasi pribadi Pdt. Syaiful Hamzah, S.Th., M.Th., mengenai perjalanan pelayanan GBI PRJ Sion Sumut sejak tahun 2010.
Kesaksian dan catatan pelayanan Pdm. Tiolida Sihotang, S.PdK., mengenai perjalanan pelayanan dari Jakarta menuju Parlilitan.
Dokumentasi kegiatan pelayanan GBI PRJ Sion Sumut di Dusun Pearaja, Sion Sibulbulon, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan.
Dokumen pembelian tanah di Pearaja, Januari 2022.
Dokumentasi peletakan batu pertama pembangunan GBI PRJ Sion Pearaja, Desember 2022.
Dokumentasi dan catatan pelaksanaan Ibadah Raya Perdana, 23 Maret 2025.
Dokumentasi kegiatan Sekolah Minggu, Pemahaman Alkitab, Komsel, dan pelayanan pemuda GBI PRJ Sion Pearaja.
Surat Tanda Lapor (STL) Nomor 020/S-XVII/SP/BPD-42/IV tanggal 20 April 2025.
Kesaksian dan keterangan dari Bapak Jumrin Nahampun selaku Kepala Desa Pearaja.
Kesaksian dan keterangan dari tokoh masyarakat, pelayan, dan jemaat GBI PRJ Sion Pearaja.
Dokumentasi foto dan arsip internal GBI PRJ Sion Sumut.
Catatan pribadi dan arsip pelayanan GBI JPS Jakarta.