SEJARAH ASAL USUL BATAK PAKPAK - Pdt. Dr. SYAIFUL HAMZAH M.Th


SEJARAH ASAL-USUL SUKU BATAK PAKPAK
(Jejak Sejarah, Migrasi, Budaya, dan Identitas)

Penulis: Pdt. Dr. Syaiful Hamzah, Nahampun (Anakampun), M.Th.

PENDAHULUAN

Suku Pakpak merupakan salah satu kelompok etnis yang mendiami wilayah Sumatera Utara dan daerah sekitarnya. Masyarakat Pakpak memiliki bahasa, adat istiadat, sistem kekerabatan, marga, serta identitas budaya yang khas dan diwariskan dari generasi ke generasi. Identitas tersebut tidak hanya menjadi penanda kelompok, tetapi juga menjadi dasar dalam membangun hubungan sosial, keluarga, dan kehidupan adat. Dalam perjalanan sejarahnya, masyarakat Pakpak membentuk berbagai komunitas yang tersebar di sejumlah wilayah. Keberadaan mereka hingga sekarang menunjukkan adanya proses panjang dalam mempertahankan bahasa, adat, hubungan kekerabatan, serta nilai-nilai budaya yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Pakpak secara turun-temurun hingga masa kini dan seterusnya.

Wilayah kebudayaan Pakpak secara historis mencakup Dairi, Pakpak Bharat, sebagian wilayah Tapanuli, serta kawasan yang berhubungan dengan Aceh Singkil. Batas-batas tersebut tidak selalu sama dengan batas administratif modern karena perkembangan masyarakat berlangsung melalui hubungan adat, marga, perpindahan leluhur, dan jaringan kekerabatan. Perjalanan sejarah masyarakat Pakpak berlangsung dalam waktu panjang melalui proses perpindahan manusia, pembentukan permukiman, hubungan keluarga, perdagangan, dan interaksi dengan berbagai kelompok masyarakat. Hubungan antarkawasan tersebut turut membentuk keragaman budaya Pakpak, sekaligus memperlihatkan bahwa masyarakat Pakpak berkembang melalui hubungan yang luas dengan lingkungan geografis dan masyarakat di sekitarnya dalam perjalanan sejarah Sumatera bagian utara dari masa ke masa hingga sekarang.

Pembahasan mengenai asal-usul Pakpak tidak dapat hanya didasarkan pada satu cerita atau satu sumber. Terdapat tradisi lisan dan tarombo yang diwariskan oleh leluhur melalui keluarga dan komunitas, tetapi terdapat pula sumber sejarah, penelitian antropologi, serta bukti arkeologi yang dapat membantu memahami perkembangan masyarakat pada masa lalu. Tradisi lisan memiliki nilai penting karena menyimpan ingatan kolektif mengenai leluhur, perjalanan, marga, dan hubungan kekerabatan. Namun, setiap tradisi dapat memiliki variasi berdasarkan wilayah dan keluarga. Karena itu, berbagai sumber perlu dibaca bersama agar gambaran mengenai sejarah Pakpak menjadi lebih lengkap, hati-hati, dan menghargai warisan pengetahuan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena itu, sejarah Pakpak perlu dibaca secara seimbang dengan menghargai tradisi leluhur sekaligus memperhatikan bukti sejarah yang tersedia. Tradisi lisan dan tarombo merupakan bagian penting dari identitas budaya karena menyimpan ingatan mengenai leluhur, marga, perjalanan, serta hubungan antarkelompok. Di sisi lain, sumber tertulis, penelitian sejarah, antropologi, dan arkeologi dapat membantu menempatkan cerita tersebut dalam konteks yang lebih luas. Pendekatan seperti ini memungkinkan sejarah Pakpak dipahami secara lebih terbuka tanpa mengabaikan warisan leluhur. Dengan demikian, cerita yang diwariskan secara lisan dapat dihormati sebagai bagian dari budaya, sementara fakta yang telah dibuktikan dapat dibedakan secara jelas dari tradisi masyarakat secara bijaksana..

I. JEJAK AWAL MASYARAKAT PAKPAK

Sebelum membicarakan kisah leluhur dan perkembangan marga, terlebih dahulu perlu memahami wilayah tempat masyarakat Pakpak berkembang. Kondisi geografis dan hubungan antara wilayah pedalaman dengan pesisir mempunyai peranan penting dalam perjalanan sejarah Pakpak.

A. TANAH PAKPAK DAN LINGKUNGAN GEOGRAFIS
Tanah Pakpak berada di kawasan pegunungan dan dataran tinggi Sumatera bagian utara yang memiliki hubungan geografis dengan wilayah pesisir barat. Kawasan ini terdiri atas hutan, lembah, sungai, dan jalur perjalanan yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan daerah pantai. Kondisi geografis tersebut membentuk ruang kehidupan masyarakat Pakpak sejak masa lampau. Letak wilayah yang strategis memungkinkan terbentuknya permukiman, hubungan antarkomunitas, serta perjalanan manusia dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Karena itu, lingkungan alam menjadi bagian penting dalam memahami perkembangan sejarah masyarakat Pakpak setempat.

Lingkungan geografis tersebut turut membentuk kehidupan masyarakat Pakpak. Tanah dimanfaatkan untuk pertanian, sementara hutan menyediakan berbagai hasil alam yang mendukung kebutuhan hidup dan kegiatan ekonomi masyarakat. Sungai, lembah, serta jalur pegunungan juga menjadi bagian dari perjalanan dan hubungan antarkelompok. Melalui jalur tersebut, masyarakat dapat berhubungan dengan wilayah pesisir maupun daerah pedalaman lainnya. Interaksi yang berlangsung secara terus-menerus memungkinkan terjadinya pertukaran barang, pengetahuan, kebiasaan, dan budaya yang kemudian memperkaya kehidupan masyarakat Pakpak di berbagai wilayah tersebut dalam perjalanan sejarahnya hingga kini.

Dari lingkungan tersebut berkembang berbagai komunitas masyarakat Pakpak yang kemudian memiliki hubungan melalui wilayah, adat, bahasa, marga, dan sistem kekerabatan. Permukiman yang terbentuk di berbagai kawasan tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan melalui jalur perjalanan dan hubungan keluarga. Dalam perkembangannya, hubungan tersebut turut membentuk identitas sosial dan budaya masyarakat Pakpak. Adat dan tradisi diwariskan dari generasi ke generasi sebagai pedoman kehidupan bersama. Karena itu, kondisi geografis tidak hanya menjadi latar tempat tinggal, tetapi turut membentuk perjalanan sejarah dan kebudayaan Pakpak.

B. PAKPAK DAN KAWASAN BARUS
Hubungan antara wilayah Pakpak dengan Barus menjadi bagian penting dalam memahami sejarah kawasan Sumatera bagian utara. Barus terletak di pantai barat Sumatera dan sejak masa lampau dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan yang memiliki hubungan dengan berbagai wilayah. Letaknya yang berada di pesisir menjadikan Barus sebagai salah satu jalur pertemuan antara masyarakat pedalaman dan dunia luar. Hubungan geografis ini memungkinkan terjadinya perpindahan manusia, barang, pengetahuan, serta berbagai pengaruh budaya melalui jalur perdagangan yang berkembang pada masa tersebut.

Barus dikenal dalam sejarah karena berbagai komoditas alam, terutama kapur barus dan kemenyan, yang memiliki nilai perdagangan tinggi. Hasil alam dari wilayah pedalaman dapat dibawa menuju kawasan pesisir untuk diperdagangkan, sementara barang-barang dari luar dapat masuk ke wilayah pedalaman melalui jalur yang sama. Hubungan perdagangan tersebut menciptakan jaringan ekonomi antara masyarakat pegunungan dan pesisir. Dalam prosesnya, terjadi pula hubungan sosial dan budaya yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam kehidupan perdagangan dan perjalanan antarkawasan.

Melalui hubungan antara pedalaman dan Barus, masyarakat di wilayah Pakpak memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai daerah. Pertukaran tidak hanya berupa hasil alam dan barang perdagangan, tetapi juga dapat mencakup bahasa, pengetahuan, kebiasaan, teknologi, serta unsur budaya lainnya. Namun, hubungan perdagangan dengan Barus tidak berarti bahwa seluruh masyarakat Pakpak berasal dari Barus atau dari kelompok pedagang tertentu. Hubungan tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari jaringan interaksi sejarah yang turut memengaruhi perkembangan masyarakat Pakpak dan kawasan sekitarnya..

C. BUKTI PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Sejarah Barus menunjukkan bahwa wilayah ini tidak terisolasi dari dunia luar. Salah satu bukti penting adalah Prasasti Lobu Tua yang bertarikh 1088 Masehi.

Prasasti tersebut berkaitan dengan komunitas pedagang Tamil dan menunjukkan adanya hubungan perdagangan antara Barus dengan jaringan perdagangan yang lebih luas.

Bukti ini penting untuk memahami lingkungan sejarah tempat masyarakat Pakpak berkembang. Namun, keberadaan pedagang dari India Selatan di Barus tidak dapat langsung dijadikan bukti bahwa seluruh masyarakat Pakpak berasal dari India Selatan.

Hubungan perdagangan harus dibedakan dari asal-usul suatu etnis.

II. KISAH KADA DAN LONA DALAM TRADISI LISAN PAKPAK

Setelah melihat lingkungan sejarah Pakpak dan hubungan dengan kawasan Barus, kita masuk pada salah satu cerita leluhur yang dikenal dalam tradisi lisan Pakpak, yaitu kisah Kada dan Lona. Kisah ini diwariskan melalui cerita orang tua dan tarombo dalam berbagai versi.

A. SIAPAKAH KADA DAN LONA?
Dalam sejumlah tradisi lisan Pakpak, Kada dan Lona disebut sebagai pasangan leluhur awal masyarakat Pakpak.

Beberapa versi cerita menyebut bahwa mereka berasal dari wilayah yang disebut India Tondal atau India Selatan. Mereka kemudian melakukan perjalanan hingga sampai ke kawasan Barus sebelum bergerak menuju wilayah pedalaman.

Karena kisah ini berasal dari tradisi lisan, terdapat perbedaan dalam penyebutan tempat asal, perjalanan, nama keturunan, maupun hubungan genealogisnya.

B. PERJALANAN KADA DAN LONA
Menurut salah satu versi tradisi lisan, Kada dan Lona melakukan perjalanan dari wilayah India Selatan menuju Barus.

Barus dalam cerita tersebut menjadi salah satu tempat penting sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju pedalaman. Mereka kemudian sampai di wilayah yang dalam beberapa sumber disebut Pinagar atau kawasan Tanah Pakpak.

Di wilayah tersebut mereka membangun kehidupan dan melahirkan keturunan yang kemudian menjadi bagian dari cerita asal-usul masyarakat Pakpak.

C. KETURUNAN KADA DAN LONA
Dalam tradisi lisan, Kada dan Lona disebut mempunyai seorang anak bernama Hyang atau Hiang.

Kisah mengenai Hyang kemudian menjadi bagian penting dalam genealogis masyarakat Pakpak. Dalam salah satu versi, Hyang menikah dengan seorang putri Raja Barus.

Dari hubungan tersebut lahirlah keturunan yang dalam berbagai cerita kemudian dikaitkan dengan perkembangan kelompok-kelompok masyarakat dan marga Pakpak.

D. KETURUNAN HYANG
Dalam tradisi lisan Pakpak, Hyang atau Hiang disebut sebagai salah satu tokoh leluhur penting dalam perkembangan genealogis masyarakat Pakpak. Dalam salah satu versi, Hyang merupakan anak Kada dan Lona. Dari Hyang kemudian dikenal delapan garis keturunan, yaitu:
1. Si Haji
Si Haji merupakan salah satu nama yang disebut dalam tradisi genealogis Pakpak sebagai bagian dari keturunan Hyang. Dalam tarombo, namanya ditempatkan sebagai salah satu garis leluhur yang kemudian berkembang menjadi kelompok masyarakat tertentu. Keterangan mengenai keturunannya dapat berbeda menurut sumber dan versi tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat.

2. Perbaju Bigo
Perbaju Bigo merupakan salah satu nama dalam daftar keturunan Hyang menurut salah satu versi tradisi lisan Pakpak. Namanya menjadi bagian dari ingatan genealogis masyarakat mengenai perkembangan leluhur dan kelompok keturunan. Karena sumbernya terutama berupa tradisi lisan dan tarombo, hubungan keturunannya perlu dipahami sesuai versi masing-masing keluarga dan komunitas setempat Pakpak.

3. Ranggar Jodi
Ranggar Jodi disebut sebagai salah satu keturunan Hyang dalam salah satu versi genealogis masyarakat Pakpak. Nama ini menjadi bagian dari rangkaian leluhur yang diwariskan melalui cerita dan tarombo. Seperti nama lainnya, keterangan mengenai garis keturunan Ranggar Jodi dapat memiliki perbedaan antarsumber, sehingga perlu ditempatkan sebagai tradisi genealogis masyarakat Pakpak setempat.

4. Mpu Bada
Mpu Bada merupakan salah satu tokoh yang disebut dalam daftar keturunan Hyang pada tradisi genealogis Pakpak. Penyebutan namanya menunjukkan bagaimana masyarakat menjaga ingatan mengenai leluhur melalui tarombo dan cerita turun-temurun. Informasi mengenai keturunan Mpu Bada dapat berbeda dalam berbagai sumber, sehingga perlu dipahami dalam konteks tradisi lisan masing-masing komunitas Pakpak.

5. Raja Pako
Raja Pako termasuk salah satu nama yang disebut sebagai keturunan Hyang dalam salah satu versi tarombo Pakpak. Nama tersebut menjadi bagian dari cerita mengenai perkembangan garis leluhur dan kelompok masyarakat Pakpak. Keterangan mengenai hubungan keturunannya tidak selalu sama dalam setiap sumber, sehingga perlu dipahami sebagai bagian dari tradisi genealogis Pakpak.

6. Bata
Bata merupakan salah satu nama penting dalam tradisi genealogis Pakpak dan disebut sebagai bagian dari keturunan Hyang. Dalam beberapa tradisi marga, Bata dikaitkan dengan garis keturunan tertentu, termasuk Tinambunen, Tumangger, dan Anakampun atau Nahampun. Namun, hubungan tersebut merupakan bagian dari tradisi tarombo dan dapat memiliki variasi antarsumber keluarga Pakpak setempat.
7. Sanggar atau Sanggir
Sanggar atau Sanggir disebut sebagai salah satu keturunan Hyang dalam salah satu versi tradisi lisan Pakpak. Penyebutan dua bentuk nama tersebut menunjukkan adanya variasi dalam pewarisan cerita dan tarombo. Nama Sanggar atau Sanggir menjadi bagian dari rangkaian genealogis yang digunakan untuk mengenang leluhur dan menjelaskan hubungan antarketurunan dalam masyarakat Pakpak.
8. Suari
Suari merupakan salah satu nama yang tercantum dalam daftar keturunan Hyang menurut salah satu versi tradisi genealogis Pakpak. Namanya menjadi bagian dari rangkaian cerita leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Seperti keturunan lainnya, informasi mengenai garis keturunan Suari dapat berbeda menurut tarombo dan tradisi keluarga atau komunitas yang menyimpannya hingga kini.

Nama dan jumlah keturunan dapat berbeda dalam berbagai versi tarombo. Oleh karena itu, daftar tersebut sebaiknya dipahami sebagai salah satu versi tradisi genealogis Pakpak.

E. HUBUNGAN DENGAN MARGA
Cerita mengenai keturunan Hyang kemudian berkembang dalam berbagai tarombo dan dikaitkan dengan sejumlah marga Pakpak.

Dalam salah satu tradisi genealogis, Bata dikaitkan dengan beberapa marga, antara lain Tinambunen, Tumangger, dan Anakampun/Nahampun, serta kelompok keturunan lainnya.

Hubungan genealogis tersebut merupakan bagian dari tradisi marga yang diwariskan dalam masyarakat. Karena adanya perbedaan versi tarombo, setiap hubungan genealogis perlu dilihat berdasarkan sumber dan tradisi keluarga masing-masing.

III.  PAKPAK SILIMA SUAK

Perkembangan masyarakat Pakpak kemudian melahirkan pembagian wilayah dan kelompok yang dikenal dengan istilah Pakpak Silima Suak. Kelima kelompok ini menjadi bagian penting dalam memahami keragaman internal masyarakat Pakpak.

A. PAKPAK SIMSIM
Pakpak Simsim berkembang terutama di kawasan Simsim, termasuk wilayah Pakpak Bharat dan daerah sekitarnya.

Simsim menjadi salah satu wilayah penting dalam perkembangan masyarakat Pakpak dan memiliki adat serta jaringan kekerabatan yang berkembang dari generasi ke generasi.

B. PAKPAK KEPPAS
Pakpak Keppas berkembang di kawasan Keppas, terutama wilayah Dairi dan sekitar Sidikalang.

Wilayah ini menjadi salah satu pusat perkembangan masyarakat Pakpak dan memiliki hubungan dengan berbagai marga serta komunitas Pakpak lainnya.

C. PAKPAK PEGAGAN
Pakpak Pegagan berkembang di wilayah Pegagan, terutama kawasan utara Dairi dan daerah sekitarnya.

Masyarakat Pegagan memiliki hubungan kekerabatan dan sejarah dengan kelompok Pakpak lainnya, sekaligus mempertahankan ciri budaya dalam wilayahnya.

D. PAKPAK KELASEN
Pakpak Kelasen merupakan salah satu bagian dari Pakpak Silima Suak yang berkembang di kawasan Kelasen, termasuk Parlilitan, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, dan sekitarnya. Letaknya sebagai wilayah peralihan budaya menjadikan Kelasen memiliki hubungan sejarah dengan masyarakat Pakpak dan kelompok masyarakat di sekitarnya melalui migrasi, perkawinan, perdagangan, kekerabatan, serta interaksi adat dan budaya.

Salah satu wilayah penting adalah Sibulbulon, Desa Sion, Kecamatan Parlilitan. Tradisi lisan masyarakat setempat menjadi sumber penting untuk memahami asal-usul permukiman, perjalanan leluhur, hubungan antarmarga, dan perkembangan masyarakat Kelasen, dengan tetap membandingkannya dengan tarombo, dokumen sejarah, penelitian ilmiah, dan bukti arkeologis..

E. PAKPAK BOANG
Pakpak Boang berkembang terutama di kawasan Boang, termasuk wilayah yang sekarang berhubungan dengan Aceh Singkil dan sekitarnya.

Posisi geografis Boang yang dekat dengan wilayah pesisir membuat masyarakatnya memiliki hubungan dengan jalur perdagangan dan interaksi antarkelompok.

IV. MARGA DAN SISTEM KEKERABATAN

Setelah memahami pembagian wilayah Pakpak Silima Suak, pembahasan berikutnya adalah mengenai marga. Marga merupakan salah satu unsur utama dalam identitas masyarakat Pakpak karena berkaitan dengan hubungan keturunan, adat, perkawinan, dan kehidupan sosial.

A. MARGA SEBAGAI IDENTITAS
Dalam masyarakat Pakpak, marga bukan sekadar nama keluarga. Marga menjadi bagian dari identitas seseorang dan menunjukkan hubungan kekerabatan dengan kelompok tertentu.

Melalui marga, seseorang dapat mengenali hubungan keluarga, asal-usul, serta posisi sosialnya dalam kehidupan adat.

B. MARGA DAN TAROMBO
Tarombo merupakan bagian penting dalam menjaga ingatan mengenai hubungan leluhur dan keturunan.

Cerita mengenai leluhur diwariskan melalui generasi dan menjadi dasar bagi masyarakat untuk memahami hubungan antarmarga. Namun, karena tarombo berkembang melalui tradisi lisan, terdapat kemungkinan perbedaan antara satu versi dengan versi lainnya.

C.PERAN MARGA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT
Marga memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat Pakpak karena menjadi bagian dari identitas, hubungan kekerabatan, dan kehidupan adat. Melalui marga, seseorang dapat mengetahui hubungan keluarga serta kedudukannya dalam lingkungan sosial dan adat.

Marga juga memiliki hubungan dengan perkawinan, hubungan antarkeluarga, pewarisan nilai-nilai budaya, serta pelaksanaan berbagai kegiatan adat. Karena itu, marga bukan sekadar nama keluarga, tetapi merupakan bagian dari sistem sosial yang menjaga hubungan antargenerasi.

Keberadaan berbagai marga menunjukkan bahwa masyarakat Pakpak memiliki jaringan kekerabatan yang luas dan berkembang dalam perjalanan sejarah yang panjang.

V. MIGRASI, PERDAGANGAN, DAN INTERAKSI BUDAYA

Sejarah Pakpak tidak dapat dilepaskan dari perpindahan manusia dan hubungan dengan wilayah lain. Letak geografis Tanah Pakpak memungkinkan terjadinya hubungan antara masyarakat pegunungan, pedalaman, dan kawasan pesisir.

A. MIGRASI DAN PERPINDAHAN MASYARAKAT
Perpindahan manusia merupakan bagian dari sejarah masyarakat di Sumatera. Demikian pula masyarakat Pakpak berkembang melalui proses perpindahan, pembentukan permukiman, dan pertumbuhan komunitas.

Tradisi lisan mengenai Kada dan Lona menggambarkan salah satu pemahaman masyarakat mengenai perjalanan leluhur menuju Tanah Pakpak.

Namun, kisah tersebut perlu dibedakan dari bukti sejarah karena belum semua bagian cerita dapat diverifikasi secara arkeologis.

B. PERDAGANGAN DAN HASIL HUTAN
Kehidupan masyarakat Pakpak memiliki hubungan dengan hasil alam dari wilayah pedalaman. Kapur barus dan kemenyan menjadi bagian penting dari sejarah perdagangan kawasan Sumatera bagian utara.

Hasil alam dari pedalaman dapat bergerak menuju kawasan pesisir, terutama melalui jalur yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan Barus.

Hubungan perdagangan tersebut memungkinkan masyarakat Pakpak berinteraksi dengan kelompok masyarakat dari berbagai wilayah.

C. INTERAKSI DENGAN MASYARAKAT LAIN
Hubungan perdagangan tidak hanya menghasilkan pertukaran barang, tetapi juga memungkinkan terjadinya pertukaran budaya, bahasa, pengetahuan, dan hubungan sosial.

Masyarakat Pakpak hidup dalam lingkungan yang berhubungan dengan berbagai kelompok masyarakat di Sumatera Utara, Aceh, dan kawasan pesisir barat.

Interaksi tersebut menjadi bagian dari proses panjang pembentukan kebudayaan Pakpak tanpa menghilangkan identitas Pakpak sebagai suatu masyarakat yang memiliki adat, bahasa, dan sistem kekerabatan sendiri.

D. PAKPAK DALAM JARINGAN SEJARAH SUMATERA
Dari perjalanan tersebut terlihat bahwa masyarakat Pakpak bukan masyarakat yang terpisah dari perkembangan sejarah Sumatera.

Tanah Pakpak berada dalam jaringan hubungan antara pedalaman dan pesisir. Barus menjadi salah satu pintu penting menuju dunia perdagangan yang lebih luas, sedangkan wilayah pedalaman menjadi sumber berbagai hasil alam.

Karena itu, sejarah Pakpak perlu dipahami sebagai bagian dari sejarah Sumatera yang lebih luas, sekaligus sebagai sejarah masyarakat yang membangun identitasnya sendiri melalui adat, marga, bahasa, dan hubungan kekerabatan.

PENUTUP

Sejarah asal-usul Suku Pakpak merupakan perjalanan panjang yang terbentuk melalui perpindahan manusia, perkembangan komunitas, hubungan kekerabatan, perdagangan, serta interaksi budaya dengan berbagai masyarakat di sekitarnya.

Kisah Kada dan Lona menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi lisan Pakpak mengenai leluhur dan asal-usul masyarakat. Kisah tersebut harus ditempatkan sebagai tradisi lisan dan tarombo, bukan langsung dianggap sebagai fakta sejarah yang seluruh bagiannya telah terbukti.

Di sisi lain, keberadaan Barus sebagai pusat perdagangan kuno, termasuk bukti Prasasti Lobu Tua tahun 1088 Masehi, menunjukkan bahwa kawasan tempat berkembangnya masyarakat Pakpak telah terhubung dengan jaringan perdagangan yang lebih luas.

Perkembangan masyarakat Pakpak kemudian terlihat dalam keberadaan Silima Suak, sistem marga, tarombo, adat, dan bahasa yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan demikian, sejarah Pakpak tidak hanya berbicara tentang siapa leluhur pertama, tetapi juga tentang bagaimana sebuah masyarakat membangun kehidupan, mempertahankan adat, membentuk hubungan kekerabatan, dan menjaga identitasnya di tengah perjalanan sejarah.

Menelusuri sejarah Pakpak berarti menghormati warisan leluhur, memahami bukti sejarah, dan menjaga identitas Pakpak bagi generasi yang akan datang.

#DAFTAR PUSTAKA

1. Nahampun, Jumrin. Kepala Desa Sion, Sibulbulon, Kecamatan Parlilitan, wilayah Pakpak Kelasen, Sumatera Utara. Wawancara/sumber lisan mengenai sejarah lokal, asal-usul masyarakat, migrasi leluhur, hubungan kekerabatan, serta tradisi masyarakat Pakpak Kelasen. 2025

2.  Berutu, H. Kadim. Pakpak dan Kebudayaannya. Medan: Pemerintah Daerah dan sumber-sumber kajian kebudayaan Pakpak.

3.  Berutu, L. Sejarah dan Kebudayaan Pakpak. Kajian mengenai sejarah, adat, marga, dan perkembangan masyarakat Pakpak.

4. Guillot, Claude (ed.). Histoire de Barus: Le site de Lobu Tua I – Études et Documents. Paris: Cahiers d'Archipel 30, 1998.

5. Guillot, Claude (ed.). Histoire de Barus: Le site de Lobu Tua II – Étude Archéologique et Documents. Paris: Cahiers d'Archipel 30, 2003.

6. McKinnon, E. Edwards. Continuity and Change in South Indian Involvement in Northern Sumatra: The Inferences of Archaeological Evidence from Kota Cina and Lamreh. Cambridge University Press, 2015.

7. Museum Nasional Indonesia. Prasasti Lobu Tua. Koleksi Museum Nasional Indonesia, No. Inventaris D.42, bertarikh 1088 Masehi.

8. Sastri, K. A. Nilakanta. A Tamil Merchant-Guild in Sumatra. Transactions of the Batavian Society, Vol. 72, 1932, hlm. 314–327.
9. Subbarayalu, Y. The Tamil Merchant-Guild Inscription at Barus: A Rediscovery. Dalam Claude Guillot (ed.), Histoire de Barus, 1998.

10. Khasanah Budaya Nusantara IX: Prasasti Tamil di Sumatera. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

10. Struktur Tatak Mamuro pada Masyarakat Pakpak di Kabupaten Pakpak Bharat. Kajian mengenai masyarakat, sejarah, dan kebudayaan Pakpak.

Catatan Penulis:
Tulisan ini disusun berdasarkan sumber tertulis, lisan, tradisi, dan tarombo sebagai upaya mendokumentasikan sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Pakpak.


PROFIL PENULIS

Pdt. Dr. Syaiful Hamzah, Nahampun (Anakampun), M.Th. berdarah Batak Mandailing dari pihak ibu dan Suku Makassar dari pihak ayah, berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Pada 2019, beliau dianugerahi marga Anakampun. Beliau melayani sebagai pendeta dan dosen STT serta memiliki perhatian terhadap sejarah dan budaya. Istri beliau, Boru Sikettang (Sihotang), berasal dari Pakpak Kelasen, Pearaja Sion, Sibulbulon, Parlilitan.


Saat ini, beliau melayani sebagai Pendeta/Gembala GBI PRJ SION Sumatera Utara di wilayah Pakpak Kelasen. Melalui pelayanan dan penulisan, beliau berupaya mendokumentasikan serta melestarikan sejarah, budaya, adat, tarombo, dan identitas masyarakat Pakpak bagi generasi mendatang.



Postingan populer dari blog ini

MAFIA MAFIA STRUKTURAL GEREJAWI (DURI DALAM TUBUH KRISTUS)

PROFIL BIO DATA Pdt. Dr. SYAIFUL HAMZAH S.Th., M.Th

PEMBULLYAN ALA STRUKTURAL GEREJAWI