KISAH SAMIR DAN MUHAMMADKetika Seorang Muslim dan Kristen Saling Menjadi Kekuatan


KISAH SAMIR DAN MUHAMMAD
Ketika Seorang Muslim dan Kristen Saling Menjadi Kekuatan

Oleh: Pdt. Dr. Syaiful Hamzah M.Th 

PENDAHULUAN

Pada akhir abad ke-19 di kota tua Damaskus, Suriah, dikisahkan dua orang sahabat bernama Samir dan Muhammad. Keduanya hidup dengan keterbatasan fisik. Yang seorang tidak dapat berjalan, sementara yang lainnya tidak dapat melihat. Secara manusia, keadaan mereka tampak sangat terbatas. Namun, keterbatasan tersebut tidak membuat mereka hidup sendiri atau saling menjauh.

Justru dalam keterbatasan itu mereka menemukan sebuah cara untuk saling menolong. Yang tidak dapat berjalan mendapatkan pertolongan dari sahabat yang dapat berjalan. Sementara yang tidak dapat melihat mendapatkan bantuan dari sahabat yang dapat melihat dan menjadi penuntun baginya. Mereka menemukan bahwa apa yang menjadi kelemahan bagi seseorang dapat menjadi kekuatan bagi orang lain.

Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan dapat mempertemukan manusia yang berbeda untuk saling melengkapi. Persahabatan tidak selalu dibangun karena kesamaan. Terkadang Tuhan mempertemukan dua orang yang berbeda latar belakang, berbeda keadaan, bahkan berbeda keyakinan, supaya mereka belajar saling membutuhkan, saling menolong, dan menjadi kekuatan bagi satu sama lain. Karena itu, hari ini kita akan belajar empat hal penting dari kisah Samir dan Muhammad.

PERBEDAAN BUKAN ALASAN UNTUK BERMUSUHAN 

Samir dan Muhammad dikisahkan memiliki latar belakang iman yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak menghalangi mereka untuk menjadi sahabat. Mereka tidak menjadikan perbedaan sebagai tembok yang memisahkan, tetapi sebagai ruang untuk saling mengenal dan menunjukkan kepedulian. Mereka menyadari bahwa menjadi berbeda bukan berarti harus menjadi musuh.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga bertemu dengan banyak orang yang berbeda dari kita. Ada yang berbeda agama, suku, budaya, pendidikan, karakter, cara berpikir, dan latar belakang keluarga. Kadang-kadang perbedaan membuat manusia mudah memberi jarak, mencurigai, bahkan menghakimi. Padahal, di balik semua perbedaan itu, kita tetap memiliki kebutuhan yang sama. Kita sama-sama ingin dikasihi, dihargai, diterima, didengarkan, dan ditolong ketika mengalami kesulitan.

Sebagai orang percaya, perbedaan tidak boleh membuat kita kehilangan kasih. Kita dapat tetap teguh dalam iman yang kita yakini, tetapi pada saat yang sama tetap menghormati dan mengasihi orang yang berbeda dengan kita. Kita tidak harus memiliki keyakinan yang sama untuk dapat melakukan kebaikan. Jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk membenci. Jadikan perbedaan sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa kasih Tuhan dapat hadir melalui kehidupan kita.

KELEMAHAN SESEORANG BISA MENJADI KEKUATAN BAGI YANG LAIN.

Salah seorang dari mereka tidak dapat berjalan, sedangkan yang lainnya tidak dapat melihat. Jika dilihat secara manusia, keduanya memiliki keterbatasan yang berat. Tetapi ketika mereka bersama, keterbatasan itu justru saling melengkapi. Yang tidak dapat berjalan mendapatkan kaki dari sahabatnya, sementara yang tidak dapat melihat mendapatkan mata dan penuntun dalam perjalanan. Apa yang menjadi kelemahan bagi seseorang ternyata dapat menjadi kekuatan bagi orang lain.

Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa tidak seorang pun benar-benar tidak berguna. Mungkin kita mempunyai kekurangan yang tidak dimiliki orang lain. Mungkin kita tidak mempunyai banyak uang, tetapi kita memiliki waktu. Mungkin kita tidak mempunyai jabatan, tetapi kita dapat memberikan perhatian. Mungkin kita tidak memiliki kemampuan yang luar biasa, tetapi kita dapat mendengarkan, menguatkan, mendoakan, dan menolong seseorang yang sedang mengalami kesulitan.

Karena itu, jangan terlalu sibuk melihat apa yang tidak kita miliki sampai kita lupa mensyukuri apa yang Tuhan sudah berikan. Kita tidak harus sempurna untuk menjadi berkat. Tuhan dapat memakai apa yang kita miliki untuk menolong orang lain. Dan jangan pula merasa malu ketika suatu saat kita membutuhkan pertolongan. Ada waktunya kita menjadi penolong, ada waktunya kita menjadi orang yang ditolong. Kehidupan menjadi indah ketika kita menyadari bahwa kita saling membutuhkan.

JANGAN HANYA MENCARI ORANG YANG DAPAT MENOLONG KITA

Sering kali manusia memilih sahabat berdasarkan apa yang dapat diberikan oleh orang tersebut. Kita senang berada dekat dengan orang yang kuat, berpengaruh, kaya, memiliki kemampuan, atau dapat membuka jalan bagi kehidupan kita. Tanpa sadar, kita dapat menjadikan hubungan sebagai sebuah transaksi: “Apa yang bisa saya dapatkan dari orang ini?” Ketika seseorang tidak lagi memberikan keuntungan bagi kita, kita pun mudah menjauh darinya.

Namun, persahabatan sejati tidak dibangun hanya berdasarkan keuntungan. Kita perlu belajar melihat orang lain bukan hanya dari apa yang dapat mereka berikan kepada kita, tetapi dari apa yang dapat kita lakukan bagi mereka. Ada orang yang mungkin tidak memiliki sesuatu yang dapat kita manfaatkan, tetapi justru membutuhkan kehadiran kita. Mungkin seseorang sedang menghadapi masalah dan hanya membutuhkan seorang teman yang mau mendengarkan. Mungkin ada orang yang sedang jatuh dan membutuhkan seseorang yang mau membantunya berdiri kembali.

Karena itu, marilah kita belajar menjadi sahabat yang hadir bukan hanya ketika keadaan menyenangkan. Jadilah mata bagi mereka yang sedang kehilangan arah. Jadilah kaki bagi mereka yang sedang tidak berdaya. Jadilah tangan yang mengulurkan pertolongan, bukan hanya tangan yang meminta pertolongan. Pertanyaan kita jangan hanya, “Siapa yang dapat menolong saya?” tetapi juga, “Siapa yang dapat saya tolong hari ini?” Ketika kita hidup dengan cara demikian, kita sedang menjadi berkat bagi orang lain.

KASIH MELAMPAUI PERBEDAAN

Kisah Samir dan Muhammad mengingatkan kita bahwa kasih dapat menemukan jalan di tengah perbedaan. Perbedaan agama, suku, budaya, keadaan fisik, maupun latar belakang tidak harus menjadi penghalang untuk berbuat baik. Kita mungkin tidak memiliki semua kesamaan dengan seseorang, tetapi kita tetap dapat melihat kebutuhan dan penderitaannya. Kasih membuat kita mampu melihat manusia sebagai sesama yang membutuhkan perhatian dan pertolongan.

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Kasih bukan hanya perkataan yang indah, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Ketika kita menolong orang yang lemah, mendampingi mereka yang sedang terluka, menghibur orang yang sedang berduka, mendengarkan mereka yang kesepian, dan menghargai orang yang berbeda dari kita, kita sedang menunjukkan kasih melalui kehidupan kita.

Karena itu, jangan biarkan perbedaan membuat hati kita tertutup. Kita dapat tetap memiliki iman yang teguh, tetapi tetap memiliki hati yang terbuka untuk mengasihi sesama. Dunia tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang kasih, tetapi juga orang yang bersedia mempraktikkan kasih. Biarlah melalui perkataan, sikap, dan tindakan kita, orang lain dapat melihat bahwa kasih Tuhan bukan hanya sebuah ajaran, melainkan sesuatu yang nyata dan dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

PENUTUP

Terkadang Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang bukan karena kita memiliki banyak kesamaan, tetapi karena kita saling membutuhkan. Ada orang yang membutuhkan kekuatan kita, dan ada waktunya kita sendiri membutuhkan kekuatan dari orang lain. Kisah Samir dan Muhammad mengingatkan kita bahwa keterbatasan bukan selalu menjadi penghalang, tetapi dapat menjadi jalan bagi kita untuk belajar saling melengkapi, saling menghargai, dan saling menguatkan. Karena itu, jangan merasa terlalu kuat untuk membutuhkan sesama dan jangan merasa terlalu lemah untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Marilah kita membawa satu pertanyaan dalam kehidupan setiap hari: “Siapa yang dapat saya tolong hari ini?” Mungkin ada seseorang yang membutuhkan tangan kita untuk menolong, telinga kita untuk mendengarkan, kaki kita untuk berjalan bersamanya, atau sekadar kehadiran kita untuk menguatkannya. Kiranya kita tidak hanya mencari siapa yang dapat menolong kita, tetapi juga bersedia menjadi pertolongan bagi orang lain. Tidak hanya mencari siapa yang dapat menguatkan kita, tetapi juga menjadi kekuatan bagi sesama. Sebab kehidupan menjadi indah ketika kita saling menguatkan, saling menopang, saling menghargai, dan menjadi berkat. Melalui kehidupan kita, kiranya kasih Kristus dapat dirasakan oleh siapa pun, termasuk mereka yang berbeda dengan kita.

Daftar Pustaka.

Esack, Farid. Qur'an, Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Oppression. Oxford: Oneworld Publications, 1997.

Dirks, Jerald. The Cross & the Crescent: An Interfaith Dialogue Between Christianity and Islam. International Islamic Publishing House, 2008.

Thompson, Livingstone A. A Formula for Conversation: Christians and Muslims in Dialogue. Lanham, MD: University Press of America, 2007.

Volf, Miroslav. Allah: A Christian Response. Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Company, 2011.

Volf, Miroslav, Ghazi bin Muhammad, dan Melissa Yarrington, eds. A Common Word: Muslims and Christians on Loving God and Neighbor. Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Company, 2010.

Kateregga, Badru D., dan David W. Shenk. A Muslim and a Christian in Dialogue. Scottdale, PA: Herald Press, 1997.

Block, Corrie. The Qur'an in Christian-Muslim Dialogue: Historical and Modern Interpretations. London: Routledge, 2014.

Humas Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. “Persahabatan Muhammad dan Samir, Difabel Beda Agama dari Damaskus.” Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, 28 Maret 2023.

Williams, Matt. “127-Year-Old Photo Shows What Peace Can Look Like in Syria.” 2016.

Muttaqin, Zaenal. “Farid Esack's Qur’anic Hermeneutics of Pluralism for Interreligious Cooperation in Indonesia.” Indonesian Journal of Islamic Literature and Muslim Society 5, no. 1 (2020).

Postingan populer dari blog ini

MAFIA MAFIA STRUKTURAL GEREJAWI (DURI DALAM TUBUH KRISTUS)

PROFIL BIO DATA Pdt. Dr. SYAIFUL HAMZAH S.Th., M.Th

PEMBULLYAN ALA STRUKTURAL GEREJAWI