OSTRICH EFFECT" ' Cara Licik Menghindari Masalah dengan Bahasa Rohani”
RENUNGAN MINGGU
OSTRICH EFFECT
“Cara Licik Menghindari Masalah dengan Bahasa Rohani”
Oleh: Pdt. Dr. SYAIFUL HAMZAH M.Th
“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”
— Yakobus 4:17
PENDAHULUAN
Pernahkah kita melihat seseorang yang sebenarnya tahu ada masalah, tetapi memilih seolah-olah tidak melihatnya? Masalah ada di depan mata, ketidakberesan sudah diketahui, bahkan mungkin ada orang yang dirugikan, tetapi seseorang memilih diam karena tidak ingin terlibat. Ia merasa lebih aman jika tidak tahu, tidak bertanya, dan tidak mengambil sikap. Dalam kehidupan gereja, sikap seperti ini pun dapat terjadi. Diam tidak selalu berarti bijaksana; terkadang diam adalah cara untuk menghindari tanggung jawab.
Inilah yang disebut Ostrich Effect. Ostrich berarti burung unta, sedangkan effect berarti efek atau kecenderungan. Istilah ini menggunakan gambaran populer tentang burung unta yang dianggap menyembunyikan kepalanya di dalam pasir ketika menghadapi bahaya. Gambaran tersebut sebenarnya merupakan mitos, tetapi kemudian menjadi metafora untuk menggambarkan manusia yang menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan karena tidak ingin menghadapinya. Dalam renungan ini, “menyembunyikan kepala” berarti sengaja memilih tidak melihat, tidak membicarakan, dan tidak bertindak terhadap masalah yang sebenarnya sudah diketahui. Yang lebih berbahaya, penghindaran itu kadang dibungkus dengan bahasa rohani: “Biar Tuhan yang membalas,” “Biar Tuhan yang menilai,” “Biar Tuhan yang menghakimi,” atau “Biar Tuhan yang menyelesaikan.”
1. “BIAR TUHAN YANG MEMBALAS”
“Biar Tuhan yang membalas” adalah kalimat yang benar ketika kita berbicara tentang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita percaya bahwa pembalasan adalah hak Tuhan. Namun, kalimat tersebut dapat menjadi Ostrich Effect apabila digunakan untuk menutup mata terhadap persoalan dan menjadi alasan untuk tidak melakukan apa pun. Seseorang mengetahui ada masalah, tetapi memilih tidak melakukan klarifikasi, tidak mencari penyelesaian, dan tidak menjalankan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan karena merasa semuanya sudah diserahkan kepada Tuhan.
Ada saatnya kita harus berhenti membalas, tetapi bukan berarti kita harus berhenti bertindak. Kita dapat melakukan klarifikasi, menyampaikan keberatan, memberikan teguran, mencari penyelesaian, dan menempuh jalan yang benar tanpa memiliki hati untuk membalas. Menyerahkan pembalasan kepada Tuhan bukan berarti menyerahkan tanggung jawab kepada Tuhan. Jangan sampai kita “menyembunyikan kepala” dari masalah, lalu menggunakan nama Tuhan sebagai alasan untuk tidak menghadapinya.
2. “BIAR TUHAN YANG MENILAI”.
Memang Tuhan adalah Hakim yang sempurna. Manusia tidak mengetahui seluruh isi hati seseorang dan tidak boleh mengambil posisi sebagai hakim atas kehidupan sesamanya. Tetapi hal itu bukan berarti kita kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ketika kita mengetahui suatu tindakan tidak benar, kita tetap mempunyai tanggung jawab untuk bersikap benar. Ostrich Effect terjadi ketika kita sebenarnya tahu, tetapi memilih pura-pura tidak tahu karena kenyataan itu tidak nyaman.
Kalimat “biar Tuhan yang menilai” dapat menjadi masalah ketika digunakan untuk menghentikan pertanyaan, menolak evaluasi, atau menghindari pertanggungjawaban. Menyerahkan penilaian terakhir kepada Tuhan tidak berarti kita harus menutup mata terhadap kebenaran. Kita tidak harus menjadi hakim atas seseorang, tetapi kita juga tidak boleh menjadikan “Tuhan yang menilai” sebagai alasan untuk menghindari kenyataan. Tuhan memang menilai hati manusia, tetapi kita tetap dipanggil untuk hidup dalam kebenaran.
3. “BIAR TUHAN YANG MENGHAKIMI”
Yesus mengajarkan agar kita tidak menjadi orang yang suka menghakimi sesama. Namun, tidak menghakimi bukan berarti membiarkan kesalahan tanpa teguran. Ada perbedaan antara menghakimi seseorang dengan memberikan teguran terhadap sebuah tindakan. Teguran yang benar bukan lahir dari kebencian, tetapi dari keinginan agar sesuatu yang salah dapat diperbaiki dan hubungan dapat dipulihkan. Karena itu, ketika kita melihat masalah, kita perlu membedakan antara menghakimi pribadi seseorang dan menyikapi tindakan yang salah.
Di sinilah Ostrich Effect dapat bekerja secara halus. Kita mengetahui ada persoalan, tetapi memilih tidak menyentuhnya karena percakapan tersebut mungkin tidak nyaman. Kita kemudian berkata, “Biarlah Tuhan yang menghakimi.” Padahal mungkin yang dibutuhkan bukan penghakiman, melainkan kejujuran, teguran, klarifikasi, dan penyelesaian. Mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan; mengasihi bukan berarti membiarkan kesalahan; dan tidak menghakimi bukan berarti kehilangan keberanian untuk melakukan yang benar.
4. “BIAR TUHAN YANG MENYELESAIKAN”
Menyerahkan persoalan kepada Tuhan adalah bagian penting dari iman. Kita menyadari bahwa kemampuan manusia terbatas dan ada banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan. Namun, sebelum berkata, “Tuhan, selesaikanlah,” kita perlu bertanya: “Apa bagian yang harus saya lakukan?” Mungkin Tuhan meminta kita berbicara, meminta maaf, memberikan penjelasan, mencari perdamaian, memperbaiki kesalahan, atau mengambil langkah yang benar. Jangan sampai “biar Tuhan yang menyelesaikan” menjadi bentuk lain dari Ostrich Effect—kita menyembunyikan kepala dari persoalan karena tidak ingin menghadapi konsekuensinya.
Berdoa bukan pengganti tanggung jawab. Kita melakukan apa yang dapat kita lakukan dengan benar, bijaksana, dan penuh kasih, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan. Iman bukan berarti melarikan diri dari masalah, tetapi berani membuka mata dan menghadapi masalah bersama Tuhan. Kita tidak dipanggil untuk menyembunyikan kepala dari kenyataan, tetapi untuk melihat dengan jujur, melakukan bagian kita, dan percaya kepada Tuhan atas hasil akhirnya.
PENUTUP
Ostrich Effect mengingatkan kita bahwa manusia bisa mengetahui ada masalah tetapi memilih tidak melihatnya. Lebih berbahaya lagi ketika sikap itu dibungkus dengan bahasa rohani. Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apakah saya sudah menyerahkan masalah ini kepada Tuhan?” tetapi tanyakan juga, “Apakah saya sudah melakukan bagian yang Tuhan percayakan kepada saya?” Jangan menyembunyikan kepala dari kenyataan dan jangan menggunakan nama Tuhan untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Buka mata, hadapi kebenaran, lakukan bagian kita, dan serahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Ariely, Dan. Predictably Irrational: The Hidden Forces That Shape Our Decisions. New York: HarperCollins, 2008.
Bonhoeffer, Dietrich. The Cost of Discipleship. London: SCM Press, 1959.
Douglas, J. D., dkk. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid 1: A–L. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1992.
Kahneman, Daniel. Thinking, Fast and Slow. New York: Farrar, Straus and Giroux, 2011.
Moo, Douglas J. The Letter of James. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 2021.
Pfeiffer, Charles F., dan Everett F. Harrison, ed. Tafsiran Alkitab Wycliffe, Volume 3: Perjanjian Baru. Malang: Gandum Mas.
Stassen, Glen H., dan David P. Gushee. Kingdom Ethics: Following Jesus in Contemporary Context. Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2003.