GEREJA LIAR KUMPULAN SRIGALA
PENDAHULUAN
Di tengah maraknya pertumbuhan gereja dan pelayanan, tidak sedikit pula muncul fenomena yang menyedihkan dan mengkhawatirkan: gereja-gereja yang kehilangan arah rohani, terlepas dari otoritas yang sah, dan justru menjadi sarang pemberontakan tersembunyi yang dibungkus dalam kemasan spiritualitas semu. Mereka menyebut dirinya "gereja", membawa simbol salib, menyebut nama Yesus, bahkan melakukan aktivitas-aktivitas pelayanan seperti ibadah, doa, penginjilan, dan bahkan perjamuan kudus. Namun jiwa dan semangatnya bukan lagi berasal dari Kristus, melainkan dari ambisi pribadi yang dibungkus rohani, luka batin yang tidak pernah dipulihkan, dan keinginan untuk berkuasa yang telah menjelma menjadi roh pemberontakan terselubung. Mereka tidak melayani karena kasih kepada Kristus, tetapi karena ingin mengendalikan. Mereka tidak menggembalakan untuk menyelamatkan domba, melainkan untuk membangun kerajaan sendiri yang mereka sebut "pelayanan". Pelayanan mereka tampak aktif, namun bukan penggenapan kehendak Tuhan, melainkan pelarian dari proses ketaatan dan ketundukan yang pernah mereka tolak. Mereka bangkit bukan karena diutus, tapi karena kecewa. Mereka memulai bukan karena dipanggil, tapi karena tersinggung. Luka-luka masa lalu, konflik dengan otoritas, dan dendam yang terbungkus dalam retorika rohani menjadi bahan bakar pelayanan mereka. Mereka menciptakan kelompok sendiri, merekrut orang-orang yang terluka, dan menyebutnya sebagai "gereja baru", padahal sesungguhnya itu adalah hasil pemisahan diri yang tidak kudus. Mereka menyebut nama Yesus, tapi menolak jalan salib-Nya, MEREKA Bersalib tapi menolak salib. Bicara kasih tapi tebarkan benci. Mengaku dipimpin Roh, padahal dikuasai pemberontakan. Rohani di luar, racun di dalam.
Gereja semacam ini bisa memiliki gedung, ibadah, bahkan jemaat, namun hilang arah karena tidak berjalan di bawah otoritas Kristus dan tubuh-Nya. Gereja seperti ini tidak lagi membangun tubuh Kristus, tetapi menambah luka dalam tubuh Kristus. Di balik aktivitas rohani, tersimpan pelanggaran terhadap tatanan surgawi. Dan inilah yang membuat mereka, dengan berat hati harus disebut, bukan lagi kawanan domba, melainkan kumpulan srigala liar yang beroperasi dalam rupa rohani.. Alih-alih menggembalakan domba, komunitas seperti ini berubah menjadi kumpulan srigala liar—tokoh-tokoh yang menyamar dalam rupa kesalehan tetapi sebenarnya memangsa, memecah, dan merusak. Mereka menolak disiplin, menolak otoritas rohani, dan membentuk "gereja baru" di luar struktur yang ditetapkan Tuhan, dengan membawa serta jemaat-jemaat yang disesatkan oleh hasutan dan kebencian. Dari luar tampak rohani, tetapi di dalam dipenuhi racun pemberontakan dan ketidaktaatan. Dalam rupa pelayanan, tersembunyi ambisi. Di balik simbol kekristenan, tersembunyi kepentingan pribadi dan ego yang belum disalibkan. Mereka menggunakan nama Tuhan, namun tidak hidup dalam takut akan Tuhan. Kata-kata mereka mengutip ayat, tetapi sikap hati mereka memutarbalikkan kebenaran demi membenarkan pemberontakan. Mereka menyebar fitnah, menciptakan kubu, dan menyesatkan yang polos, semuanya dengan alasan “dipimpin Roh”. Namun Yesus sudah memperingatkan, bahwa akan datang srigala berbulu domba—mereka masuk ke dalam kawanan dengan menyamar, namun tujuannya adalah menghancurkan dari dalam (Matius 7:15). Bahkan rasul Paulus, dalam air mata dan pergumulan rohani, berkata bahwa srigala-srigala ganas akan muncul dari antara jemaat sendiri, dan mereka tidak akan menyayangkan kawanan yang ada (Kisah 20:29-30). Mereka bukan datang dari luar, tetapi bangkit dari dalam, Memakai nama Tuhan sebagai tameng untuk pemberontakan.Bibir mereka bernyanyi, tapi hati menyimpan makar, Menyalib gembalanya sambil mengaku utusan Tuhan
Tulisan ini hadir bukan untuk menghakimi pribadi, tetapi menyuarakan jeritan hati seorang gembala—jeritan yang lahir dari luka dan keprihatinan terhadap kondisi gereja masa kini. Ini adalah seruan kasih dan kebenaran, agar tubuh Kristus tidak tertipu oleh topeng rohani yang menyesatkan, yang menyamar dalam rupa pelayanan namun mengandung racun pemberontakan, manipulasi, dan kesombongan terselubung. Ini adalah panggilan untuk waspada, untuk kembali mendengarkan suara Gembala Sejati, bukan suara yang lantang tapi menyesatkan. Di tengah zaman yang semakin penuh penyesatan, di mana banyak orang lebih suka diberi motivasi daripada kebenaran, lebih suka panggung daripada salib, maka gereja sejati harus berdiri teguh dalam kebenaran, meski jalan itu sempit dan tidak populer. Gereja tidak boleh menjadi panggung bagi ambisi liar, ego yang belum disalibkan, atau pemberontakan yang dibungkus alasan rohani. Gereja harus kembali menjadi tempat pemulihan, bukan pelarian. Menjadi medan penggembalaan, bukan arena perebutan kekuasaan. Menjadi terang dan garam yang menjaga kemurnian iman, bukan justru menjadi sarang di mana srigala bebas memangsa domba-domba Tuhan.
Melalui tulisan ini, penulis hendak mengajak pembaca untuk berefleksi secara jujur tentang arah hidup dan pelayanan mereka untuk kembali ke esensi gereja sebagai tubuh Kristus yang tunduk kepada Kepala, bukan tubuh liar yang berjalan tanpa arah. Kiranya setiap pembaca, khususnya para pemimpin, pelayan, dan jemaat, dapat merenung dalam terang Firman dan bertanya dengan jujur: Apakah aku masih berada dalam jalur panggilan Kristus, ataukah aku telah terseret oleh arus ambisi dan pemberontakan yang dibungkus rohani? Sebab tidak sedikit yang tampak giat melayani, namun sejatinya sedang memperjuangkan agenda pribadi. Banyak yang menyebut nama Tuhan, tapi hatinya jauh dari taat. Di tengah topeng rohani yang mudah dipakai, dibutuhkan kejujuran: membangun Kerajaan Allah, atau menara nama sendiri?.
BAB I
APA ITU GEREJA LIAR?
Dalam dunia kekristenan masa kini, tidak semua yang mengatasnamakan "gereja" sungguh-sungguh lahir dari panggilan ilahi. Di tengah pertumbuhan jumlah komunitas rohani dan pelayanan, muncul pula fenomena menyimpang: gereja-gereja yang berdiri bukan karena visi Tuhan, melainkan karena konflik, pemberontakan, atau ambisi yang terselubung. Inilah yang oleh banyak hamba Tuhan dan pengamat rohani disebut sebagai "gereja liar."
Gereja liar bukan sekadar istilah struktural atau administratif. Istilah ini menunjuk pada entitas rohani yang tampak seperti gereja, tetapi kehilangan esensi Kristus di dalamnya. Gereja semacam ini lahir dari pemisahan yang tidak sah, dari kekecewaan yang tidak dipulihkan, dan dari ambisi pribadi yang dibungkus dalam kemasan pelayanan. Mereka bukan datang dari luar, tetapi bangkit dari dalam, dan memakai nama Tuhan sebagai tameng untuk pemberontakan. Mereka memakai nama Tuhan, meminjam simbol kekristenan, bahkan mengutip ayat-ayat Alkitab, namun akar spiritualitasnya tidak bersumber dari salib Kristus, melainkan dari luka, ego, dan keinginan untuk menguasai. Topeng rohani menjadi alat manipulasi, sementara hati mereka jauh dari pertobatan sejati. Mereka menangis di mimbar, tetapi menipu di meja rapat. Bicara kasih, tapi merencanakan pengkhianatan di balik layar. Mereka bukan pelayan salib, melainkan penjaga tahta ego yang disamarkan dengan liturgi. Yang mereka perjuangkan bukan Kerajaan Allah, tetapi kerajaan kecil buatan tangan sendiri. Gereja liar bukan hanya masalah struktur, tetapi masalah hati dan motif. Berikut beberapa ciri-ciri umum gereja liar, yang membantu kita mengenali dan membedakan antara gereja sejati dan gereja liar yang didorong oleh roh pemberontakan:
1.1. Berdiri di luar otoritas struktural yang sah. Gereja liar biasanya lahir dari ketidaktaatan terhadap otoritas rohani yang Tuhan tetapkan. Mereka memisahkan diri bukan karena perintah Tuhan, tetapi karena luka yang tidak diobati, ambisi yang tidak disalibkan, dan ego yang ingin mendominasi. Tanpa restu rohani dan tanpa proses pengutusan yang benar, mereka mengambil langkah sendiri dengan mengklaim “dipimpin Roh,” padahal motivasinya bersumber dari kedagingan dan kekecewaan pribadi. Mereka menolak bimbingan, menolak teguran, bahkan memusuhi gembala yang pernah membentuk mereka. Mereka tidak mau diproses, tapi ingin memimpin. Tidak mau ditanam, tapi ingin berbuah. Mereka berdiri bukan karena Tuhan membangkitkan mereka, tetapi karena mereka merasa cukup mampu dan lebih benar dari yang lain. Alih-alih dibangun lewat proses pengutusan yang sah, mereka muncul dari dorongan untuk 'lepas kontrol', membangun pelayanan sendiri tanpa pertanggungjawaban. Inilah bentuk pemberontakan rohani yang dibungkus dalam kemasan pelayanan. Dalam hal ini, mereka mengabaikan prinsip tubuh Kristus—bahwa setiap anggota memiliki fungsi dan saling bergantung (1 Korintus 12:12-27). Tubuh Kristus bukan tempat untuk bergerak semaunya sendiri, tetapi untuk hidup dalam tatanan, keharmonisan, dan saling tunduk dalam kasih. Yesus sendiri tunduk pada proses dan otoritas Bapa (Yohanes 5:19). Paulus diutus bukan karena kehendaknya sendiri, tetapi melalui proses peneguhan dan pengutusan oleh jemaat di Antiokhia (Kisah Para Rasul 13:2-3). Bahkan Timotius dan Titus menerima arahan serta koreksi dari Paulus, menunjukkan bahwa dalam pelayanan sejati, otoritas rohani bukan penjara, tapi perlindungan. Sebaliknya, mereka yang keluar dari perlindungan otoritas rohani demi ambisi pribadi justru membuka celah bagi roh perpecahan dan manipulasi. Tanpa akar yang sehat, mereka mudah terombang-ambing; tanpa pertanggungjawaban, mereka membentuk komunitas terselubung yang perlahan-lahan menjauh dari kebenaran. Mereka tidak berdiri di atas panggilan Tuhan yang murni, melainkan atas dasar kekecewaan, pemberontakan, dan ambisi pribadi. “Setiap orang takluklah kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah…” (Roma 13:1). “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.” (Ibrani 13:7). Salah satu contoh nyata terjadi di sebuah daerah, di mana sekelompok jemaat keluar dari gereja mereka karena merasa kecewa dengan pimpinan rohani sebelumnya. Kelompok ini lalu membentuk komunitas baru yang dipimpin oleh satu keluarga—sepasang suami istri—yang begitu ambisius ingin menjadi pendeta, meskipun tidak pernah diproses atau diutus secara sah. Komunitas ini tidak hanya memisahkan diri secara diam-diam, tetapi juga menyebarkan fitnah kejam tentang gereja asal mereka, khususnya terhadap ibu gembala yang telah melayani mereka sebelumnya. Mereka menuduh sang gembala memiliki hubungan tidak pantas, bahkan menyebarkan gosip tersebut hingga ke sinode dan pemimpin-pemimpin gereja lainnya. Fitnah ini bukan lahir dari kebenaran, melainkan dari luka dan ambisi yang tidak dikuduskan. Ironisnya, komunitas ini mengklaim diri lebih rohani, lebih mengerti Tuhan, bahkan merasa lebih layak memimpin daripada gembala yang telah membina mereka dengan kasih dan pengorbanan. Mereka menyebutnya 'pelayanan', padahal lahir dari pemberontakan, kekecewaan, dan penghakiman. Bukan berakar pada salib Kristus, melainkan pada ego, luka, dan ambisi terselubung. Yang dibangun bukan tubuh Kristus, melainkan kubu pembenaran diri yang menolak proses, gembala, otoritas Tuhan, kasih, kebenaran, dan pemulihan.
1.2. Menolak penggembalaan dan disiplin rohani. Penolakan terhadap penggembalaan adalah bentuk penolakan terhadap otoritas yang telah Tuhan tetapkan untuk menuntun, mengarahkan, dan menjaga kesehatan rohani jemaat. Dalam rancangan Allah, gembala bukanlah sekadar pemimpin organisasi, melainkan penjaga jiwa-jiwa (lih. Ibrani 13:17) yang diutus untuk menggembalakan dengan kasih, teguran, dan kebenaran. Disiplin rohani yang diberikan gembala bukan untuk menjatuhkan, melainkan merupakan ekspresi kasih dan tanggung jawab ilahi agar jemaat tidak tersesat, tetapi tetap tinggal dalam jalur kehendak Tuhan. “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:6). Namun, ketika seseorang menolak ditegur, menolak koreksi, dan tidak mau dibimbing, sesungguhnya ia sedang menutup pintu pertumbuhan rohani dan memberontak terhadap proses pemurnian Tuhan. Ia mungkin tampak aktif secara lahiriah—melayani, berkotbah, bahkan memimpin komunitas—namun batinnya semakin menjauh dari terang kebenaran. Kedagingan mulai menyamar sebagai kerohanian, dan pelayanan pun kehilangan kemurniannya karena tidak lagi berakar pada salib, melainkan pada ambisi dan rasa benar sendiri. Hal ini sangat nyata terlihat dalam kasus nyata yang terjadi di sebuah daerah, di mana sekelompok orang yang kecewa terhadap gereja asal mereka memutuskan keluar secara sepihak dan membentuk komunitas sendiri. Komunitas ini dipimpin oleh sepasang suami istri yang sejak awal menunjukkan ambisi kuat menjadi pemimpin rohani, meskipun tidak memiliki proses pengutusan yang sah, tidak memiliki gelar pendeta, dan tidak melewati pelatihan maupun proses pembentukan karakter yang sehat secara rohani. Mereka berusaha mencari legitimasi dengan cara menipu gereja lain, membungkus diri dengan bahasa rohani agar diterima dan dinaungi sebagai cabang gereja. Sayangnya, setelah mendapat perlindungan dari gereja tersebut, mereka kembali menunjukkan sifat aslinya—memberontak, menolak arahan, dan akhirnya menendang keluar otoritas yang telah menaungi mereka. Semua ini terjadi karena mereka merasa diri sudah “mahir” dalam pelayanan, padahal dasar mereka bukan kebenaran, melainkan ambisi dan kedegilan hati. Mereka tidak sedang membangun tubuh Kristus, tetapi mendirikan menara nama sendiri—kubu pembenaran diri yang menolak proses, menolak gembala, dan menolak otoritas yang Tuhan tetapkan. Dalam komunitas mereka, tidak ada pemuridan sejati, tidak ada pengakuan otoritas rohani yang sah, hanya sekumpulan orang yang dipimpin oleh ego dan luka yang tidak dipulihkan. Firman Tuhan jelas berkata, “Sebab pemberontakan adalah sama seperti dosa bertenung, dan kedegilan adalah seperti menyembah berhala” (1 Samuel 15:23a). Tuhan tidak bermain-main dengan pemberontakan rohani. Siapa yang menolak otoritas yang Tuhan tetapkan, sedang menentang Allah sendiri. (lih. Roma 13:2). Karena itu, menerima penggembalaan bukan sekadar ketaatan kepada manusia, melainkan wujud kesetiaan kita kepada Tuhan. Orang yang benar di hadapan Tuhan tidak akan lari dari proses, tidak akan lari dari koreksi, dan tidak akan mendirikan pelayanan di atas puing-puing pemberontakan. Cepat atau lambat, Tuhan akan menyatakan kebenaran-Nya dan menghukum setiap tindakan yang memecah tubuh Kristus. Mereka boleh merasa diri rohani, mereka boleh mengklaim masuk surga, bahkan merasa dipakai Tuhan, tetapi jika yang ditabur adalah fitnah, pengkhianatan, dan pembangkangan terhadap otoritas, maka buah mereka akan nyata di hadapan Tuhan. Sebab, bukan setiap orang yang berseru 'Tuhan, Tuhan' akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, tetapi mereka yang melakukan kehendak Bapa di sorga” (lihat. Matius 7:21).
1.3. Menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan ambisi. Gereja liar sering kali menggunakan bahasa rohani untuk menyamarkan ambisi pribadi dan motivasi duniawi. Kalimat-kalimat seperti, “Tuhan yang suruh,” “Saya dapat penglihatan,” “Kami dipimpin Roh,” bahkan sampai berkata, “Kami sudah bicara dengan Tuhan, kami doa semalam suntuk, 24 jam tidak tidur hanya untuk berdoa,” dijadikan tameng spiritual untuk membenarkan keputusan yang sebenarnya lahir dari pemberontakan terhadap otoritas yang sah. Ungkapan-ungkapan tersebut tidak muncul dari relasi yang murni dan tunduk kepada kehendak Tuhan, melainkan dari hati yang keras, penuh luka, dan dipenuhi ambisi untuk mengontrol serta membentuk agenda sendiri. Bahkan aktivitas rohani seperti doa panjang pun dijadikan alat legitimasi semu — bukan sebagai tanda ketundukan, tetapi sebagai justifikasi agar keputusan pribadi tidak bisa digugat atau dikoreksi. Ironisnya, nama Tuhan dijadikan stempel sakral untuk membela tindakan yang sebenarnya tidak pernah diperintahkan oleh-Nya. Mereka memanipulasi jemaat dengan kesan "sangat rohani", padahal yang terjadi sesungguhnya adalah kudeta rohani — pengalihan kesetiaan dari Kristus kepada pemimpin manusia yang mengangkat diri sendiri tanpa proses dan tanpa pengutusan yang sah. Pemimpin seperti ini menolak tunduk kepada gembala yang sah, menolak proses disiplin dan pemurnian rohani, namun menuntut penghormatan dan loyalitas dari orang lain. Mereka membangun jemaat bukan di atas dasar salib Kristus, melainkan di atas tahta ego dan ambisi pribadi. Figur pemimpin dijadikan pusat, bukan kebenaran Firman. Kesetiaan tidak diarahkan kepada Yesus, melainkan kepada manusia yang mengklaim "diurapi" namun menolak dimurnikan. Ketika pemimpin dianggap “tidak bisa salah,” muncullah budaya anti-koreksi. Kritik dianggap pemberontakan, pertanyaan dianggap serangan terhadap urapan. Jemaat pun dibungkam dengan dalih “melawan otoritas rohani,” padahal yang sedang dijaga bukanlah otoritas Tuhan, melainkan kekuasaan manusia yang penuh manipulasi. Akibatnya, komunitas berubah menjadi sistem kontrol yang penuh ketakutan, bukan komunitas pertobatan dan pembentukan Kristus. Tidak ada ruang untuk kerendahan hati atau pertanggungjawaban, hanya kepatuhan buta kepada pemimpin yang tidak mau digembalakan. Contoh nyata dari pola ini terjadi dalam sebuah komunitas yang dipimpin oleh sepasang suami-istri yang terobsesi menjadi pendeta. Mereka menolak digembalakan dan justru menendang keluar gembala yang ditetapkan atas mereka. Lebih parahnya, anak-anak muda dalam komunitas itu ikut menyerang gembalanya dengan bahasa rohani, menyebut gembala mereka tidak dewasa secara rohani — sebuah tuduhan yang lahir dari kesombongan dan pembangkangan. Komunitas ini telah terikat oleh kutuk ketidaktaatan, dan menjadi benih perpecahan di tubuh Kristus. Sangat berbahaya jika komunitas seperti ini diterima sebagai gereja lokal, karena mereka bukan hanya menolak pertobatan, tetapi juga menyebarkan semangat pemberontakan rohani. Karena itu, sangat penting agar semua aras gereja, denominasi, dan jaringan pelayanan menolak keberadaan dan pengaruh mereka demi menjaga kemurnian dan kesatuan tubuh Kristus. Alkitab dengan tegas memperingatkan pemimpin palsu. Tuhan berkata: “Aku tidak mengutus nabi-nabi itu, namun mereka lari; Aku tidak berfirman kepada mereka, namun mereka bernubuat” (Yeremia 23:21). Mereka mengaku berbicara atas nama Tuhan, padahal hanya menyuarakan ambisi pribadi. Ini bertentangan dengan teladan Kristus, yang datang untuk melayani, bukan dilayani (Markus 10:45). Pemimpin sejati tidak memanipulasi, tetapi mencerminkan karakter Kristus dalam kasih, kerendahan hati, dan ketundukan kepada otoritas Tuhan...
1.4. Memperalat jemaat demi pengaruh dan kendali. Di dalam gereja liar, jemaat tidak diperlakukan sebagai domba yang harus digembalakan dengan kasih dan kebenaran, melainkan dijadikan alat untuk menopang sistem, ambisi, dan otoritas pemimpin. Fokus pelayanan bergeser: bukan lagi membentuk murid Kristus yang bertumbuh dan taat kepada Firman, tetapi membangun "kerajaan pribadi" sang pemimpin. Loyalitas jemaat tidak lagi dibentuk oleh teladan Kristus, melainkan melalui tekanan psikologis, manipulasi emosional, dan ajaran menyimpang. Mereka dituntut untuk “taat total,” melayani tanpa pertimbangan rohani yang sehat, dan bahkan diancam secara rohani: bahwa jika mereka meninggalkan komunitas, mereka akan kehilangan perlindungan, mengalami kutuk, atau disebut “keluar dari hadirat Tuhan.” Ini bukan penggembalaan, tetapi bentuk perbudakan rohani terselubung. Dalam sistem seperti ini, ada pengendalian terselubung yang dibungkus dalam bahasa rohani. Setiap arahan pemimpin dianggap sebagai “kehendak Tuhan” yang absolut dan tidak boleh dipertanyakan. Kritik dianggap dosa, dan pertanyaan dipandang sebagai bentuk pemberontakan. Akibatnya, jemaat hidup dalam ketakutan terselubung — bukan dalam kebebasan sejati yang diberikan oleh Roh Kudus. Salah satu ciri paling berbahaya adalah upaya memutus jemaat dari tubuh Kristus yang lebih luas. Mereka diajarkan untuk menolak ajaran luar, tidak mendengarkan kotbah dari gereja lain, dan menutup diri dari masukan. Rasa curiga terhadap gereja lain ditanamkan, seolah hanya komunitas mereka yang benar dan lainnya sesat. Ini menciptakan isolasi rohani, di mana jemaat hanya bergantung pada satu otoritas: pemimpin mereka sendiri. Inilah bentuk pengendalian paling halus namun sangat merusak. Ironisnya, dalam beberapa kasus, pemimpin kelompok ini bahkan memosisikan diri sebagai “gembala dari para gembala” di dalam komunitasnya, seolah memiliki otoritas spiritual tertinggi. Mereka menghasut jemaat untuk membenci gembala yang sah — yang telah ditetapkan dan mengasihi mereka sejak awal. Jemaat dimanipulasi agar percaya bahwa gembala yang sah tidak layak diikuti karena dianggap "tidak rohani" atau "tidak dewasa secara rohani." Bahkan, foto gembala sah yang berfoto dengan mereka yang keluar dari komunitas dijadikan bahan ejekan dan hinaan, sambil diiringi komentar bernada rohani seperti: “Kita ini menyembah Tuhan Yesus, bukan menyembah gembala.” Kalimat ini terdengar benar, namun digunakan untuk menyembunyikan pemberontakan dan melanggengkan penghinaan terhadap otoritas rohani yang ditetapkan Tuhan. Tragisnya, semua ini berawal dari sepasang suami istri yang merasa diri sebagai “gembala alternatif” dalam kelompok kecil mereka — digerakkan oleh ambisi, iri hati, dan kepahitan terhadap otoritas yang sah. Mereka menciptakan narasi sendiri dan menarik jemaat ke dalam pemberontakan. Akhirnya, seluruh komunitas menjadi rusak secara rohani: hilang hormat terhadap pemimpin yang Tuhan tetapkan, dan terbiasa menghina gembala dengan alasan-alasan rohani yang palsu. Tindakan menghina dan mencemarkan hamba Tuhan bukan hal yang ringan di mata Tuhan. Mereka yang terus melakukan hal ini telah menempatkan diri mereka di luar perlindungan ilahi, seperti yang pernah terjadi pada mereka di gereja lama — ketika mereka juga terlibat dalam penghinaan dan fitnah terhadap hamba Tuhan, dan menuai akibat rohani yang serius. Firman Tuhan memperingatkan: "Jangan menyentuh orang yang diurapi-Ku, dan jangan berbuat jahat terhadap nabi-nabi-Ku!" (Mazmur 105:15). “Aku tidak mengutus nabi-nabi itu, namun mereka lari; Aku tidak berfirman kepada mereka, namun mereka bernubuat.” (Yeremia 23:21). Pemimpin sejati tidak menciptakan perpecahan, tetapi tunduk pada otoritas, rendah hati, dan membawa umat makin dekat kepada Kristus.
Gereja liar bukan hanya "ilegal" secara organisasi, tetapi secara rohani mereka merusak tatanan tubuh Kristus yang kudus. Mereka tidak menggembalakan, melainkan memangsa; tidak membangun, tetapi memecah; tidak menyembuhkan, melainkan melukai. Di balik aktivitas yang tampak rohani, tersembunyi agenda pribadi yang lahir dari luka yang belum disembuhkan, ambisi yang tidak disalibkan, dan ego yang dibiarkan berkuasa atas mimbar. Inilah akar dari banyak kekacauan dalam pelayanan masa kini — ketika mimbar bukan lagi tempat menyuarakan kehendak Tuhan, tetapi menjadi panggung untuk memenuhi kehendak pribadi.
Dampak dari gereja liar tidak hanya terasa pada komunitas lokal tempat mereka muncul, tetapi juga menyebar dan memperlemah kesaksian kekristenan secara keseluruhan. Gereja-gereja seperti ini menciptakan kerancuan rohani; mereka membingungkan jemaat awam dengan retorika yang terdengar benar namun tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Mereka memutarbalikkan makna pengurapan dan panggilan ilahi, sehingga pengurapan bukan lagi tentang karakter Kristus, melainkan tentang popularitas dan pengaruh. Urapan dijadikan jubah untuk menolak koreksi, dan panggilan dianggap sah hanya karena seseorang merasa "dipakai Tuhan", walau hidupnya tidak mencerminkan ketundukan sejati. Lebih berbahaya lagi, gereja liar bisa berkembang dengan cepat karena banyak orang zaman ini lebih menyukai suara motivasi daripada suara kebenaran. Firman yang menegur dan mengoreksi mulai dianggap terlalu keras, sedangkan pesan-pesan yang menyenangkan telinga lebih diterima walaupun menyesatkan. Ini bukan hanya kegagalan dalam kepemimpinan, tetapi kegagalan dalam kedewasaan rohani umat Tuhan. Paulus pernah menubuatkan bahwa akan datang waktunya, orang-orang "tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan telinganya" (2 Timotius 4:3). Karena itu, penting bagi kita untuk mengenali bahaya gereja liar bukan hanya dari sisi struktural, tetapi dari sisi spiritual dan doktrinal. Kita harus berani menguji setiap roh (1 Yohanes 4:1), berpegang teguh pada pengajaran yang sehat, dan tidak mudah terpesona oleh karisma tanpa karakter. Gereja bukan milik manusia, tetapi milik Kristus. Ia adalah tubuh rohani yang dibangun di atas dasar para rasul dan nabi, dengan Kristus sendiri sebagai batu penjuru (Efesus 2:20). Karena itu, setiap bentuk pelayanan yang memisahkan umat dari salib Kristus, menolak otoritas rohani yang sah, dan lahir dari semangat pemberontakan, bukan hanya menyesatkan, tetapi menjadi ancaman serius bagi kesatuan dan kekudusan tubuh Kristus.
Gereja-gereja semacam ini—yang dikenal sebagai gereja liar—tidak lahir dari pengutusan ilahi, melainkan dari luka batin, ambisi pribadi, dan pemberontakan terhadap tatanan rohani yang telah Tuhan tetapkan. Mereka berdiri tanpa otoritas, dan sering kali menyeret jemaat ke dalam pembangkangan terselubung dengan membungkusnya dalam bahasa rohani. Nama Tuhan diperalat untuk melawan gembala yang sah. Mereka membentuk komunitas yang dibangun bukan di atas kasih dan kebenaran, melainkan di atas kepahitan, ego, dan keinginan untuk berkuasa. Karena itu, gereja liar seperti ini harus ditolak dengan tegas oleh seluruh aras gereja, terlebih jika tidak ada pertobatan atau pemulihan yang nyata. Penerimaan terhadap kelompok semacam ini—tanpa klarifikasi, disiplin, dan proses penundukan diri yang sehat—tidak hanya akan melemahkan tubuh Kristus, tetapi membuka pintu bagi roh pemberontakan untuk terus menyusup ke tengah-tengah umat Tuhan. Setiap sinode dan gereja lokal wajib menjaga mimbar mereka tetap kudus, dan tidak memberi ruang bagi pengajar atau pelayan dari komunitas pemberontakan yang menyalahgunakan ayat-ayat Alkitab demi membenarkan sikap melawan gembala dan memecah belah gereja. Apa yang mereka ajarkan bukanlah suara Kristus, tetapi pengkhianatan yang dibungkus seolah-olah itu wahyu Tuhan. Jemaat harus dilindungi dari pengajaran seperti ini, karena bahaya spiritualnya sangat besar: mereka menipu, memanipulasi, dan merusak kepercayaan umat kepada otoritas yang ditetapkan Tuhan. Lebih dari sekadar pelanggaran struktural, gereja liar adalah bentuk pengkhianatan rohani yang berakar pada pemberontakan dan penyimpangan. Ini bukan sekadar penyimpangan administrasi, tapi pelanggaran terhadap rancangan Allah bagi tubuh Kristus. Sebab Tuhan memanggil kita bukan untuk membangun kerajaan sendiri, tetapi untuk menjaga kemurnian penggembalaan dan kesatuan iman di dalam Kristus Yesus.
Bab ini menegaskan bahwa gereja liar bukan hanya pelanggaran administratif, melainkan pemberontakan rohani yang harus diwaspadai, dihadapi, dan jika perlu, ditegur dengan tegas—demi kemurnian gereja dan kemuliaan nama Tuhan. Gereja liar adalah gambaran tentang roh zaman yang tidak mau tunduk, menolak proses, dan menjadikan mimbar sebagai panggung ambisi. Jika tidak dihadapi dengan firman, kasih, dan ketegasan ilahi, maka gerakan ini akan terus menjalar, mengaburkan batas antara kebenaran dan kepalsuan, serta menjerat banyak jiwa ke dalam kebingungan rohani. Tugas kita sebagai pemimpin, pelayan, dan bagian dari tubuh Kristus bukan hanya mengasihi, tetapi juga menjaga dan melindungi kawanan domba dari bahaya ajaran sesat dan struktur yang tidak sehat. Kita dipanggil untuk berdiri teguh, menyuarakan kebenaran meski tidak populer, dan menolak setiap bentuk pelayanan yang tidak lahir dari salib Kristus. Kiranya gereja Tuhan di zaman ini memiliki keberanian untuk membedakan mana yang lahir dari kehendak Bapa, dan mana yang hanya menyamar dalam jubah religius, namun menyesatkan. Sebab yang sejati akan bertahan dalam api ujian, tetapi yang palsu akan terbakar oleh terang kebenaran dan runtuh di hadapan kekudusan Tuhan yang tak tergoyahkan, menyisakan kehancuran, penyesalan, dan aib rohani yang mendalam. “Tetapi setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya.” (Matius 15:13).
SIAPAKAH SRIGALA DALAM GEREJA?
Dalam Alkitab, Yesus memperingatkan tentang bahaya besar yang datang bukan dari luar gereja, melainkan dari dalam: “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” (Matius 7:15). Peringatan ini sangat relevan bagi gereja masa kini, karena tidak semua yang tampak rohani benar-benar berasal dari Roh Kudus. Banyak yang tampil manis, sopan, dan seolah-olah dipenuhi hikmat, namun sebenarnya mereka membawa racun yang mematikan bagi kesatuan dan kekudusan tubuh Kristus. Serigala tidak datang dengan taring terbuka, tetapi dengan senyum dan ayat di bibir. Mereka tidak menyerang secara terang-terangan, tetapi menyusup perlahan—mencuri kepercayaan, merebut hati jemaat, dan menggiring mereka menjauh dari gembala. Inilah sebabnya Yesus berkata, "Waspadalah terhadap yang menyamar sebagai domba." Serangan dari luar mudah dikenali, tetapi pengkhianatan dari dalam yang diselimuti kepalsuan rohani jauh lebih berbahaya. Mereka memakai nama Tuhan, tapi tidak membawa hati-Nya; mengaku pelayan, tapi justru menguasai, bukan melayani...
Srigala dalam konteks ini adalah simbol individu yang tampak rohani, namun menyimpan ambisi dan pemberontakan. Mereka fasih berbicara, pandai mengutip ayat, namun menyusup dengan agenda pribadi: mencuri, membunuh, dan membinasakan (Yohanes 10:10). Mereka bukan pelayan yang digembalakan, melainkan alat perpecahan yang muncul dari dalam—merasa lebih benar dan lebih layak memimpin dibanding otoritas yang Tuhan tetapkan. Ciri-cirinya dapat kita kenali melalui sikap, buah, dan arah pengaruh mereka:
2.1 Berpakaian seperti domba, tapi tujuannya memangsa. Srigala rohani tidak datang dengan wajah menyeramkan atau niat jahat yang langsung terlihat. Mereka hadir dengan senyum, tutur kata yang halus, dan gaya hidup yang tampaknya penuh kasih dan pelayanan. Mereka rajin berdoa, aktif dalam kegiatan gereja, bahkan rela berkorban demi kelancaran pelayanan. Sekilas, mereka tampak seperti “domba teladan” dalam kawanan. Namun Yesus memperingatkan kita akan bahaya besar ini: “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah srigala yang buas.” (Matius 7:15). Ini bukan peringatan biasa. Ini adalah peringatan terhadap mereka yang menyamar dalam kerohanian, tetapi menyimpan agenda tersembunyi — agenda yang tidak berasal dari salib, melainkan dari ego dan ambisi pribadi. Salah satu ilustrasi nyata dari hal ini adalah kisah sepasang suami istri bersama keluarganya, yang awalnya tampak sangat mendukung gereja dan pelayanan. Mereka hadir dalam semangat pengorbanan: ikut mendirikan gereja dari nol, menyumbangkan tenaga dan dana, bahkan menghibahkan sebidang tanah untuk pembangunan rumah Tuhan. Tindakan mereka membuat banyak orang percaya bahwa mereka sungguh-sungguh tulus dan setia. Namun semuanya berubah ketika mereka tidak diangkat menjadi hamba Tuhan seperti yang mereka harapkan. Ambisi yang selama ini tersembunyi mulai muncul ke permukaan. Mereka merasa layak memimpin, merasa lebih pantas menjadi gembala, dan mulai menyimpan kekecewaan dalam hati. Dari kekecewaan itu lahirlah pemberontakan. Dengan dalih “Tuhan yang suruh”, mereka mulai menggiring jemaat untuk tidak lagi menghormati gembala yang sah. Mereka mulai menyebar bisikan-bisikan halus, mempermainkan simpati jemaat, hingga akhirnya menendang gembalanya sendiri secara keji — orang yang selama ini mereka minta untuk menggembalakan dan membangun gereja bersama. Ironisnya, pembangunan gereja itu selesai justru selama masa penggembalaan dari gembala yang mereka khianati. Apa yang mereka klaim sebagai "pengorbanan" hanyalah alat tawar-menawar agar mereka bisa merebut otoritas. Mereka tidak pernah benar-benar menyerahkan diri kepada proses, tetapi hanya ingin posisi. Dan ketika tidak mendapatkannya, mereka memilih pemberontakan daripada ketundukan. Namun Tuhan membongkar semua itu. Mereka pernah membuat pernyataan tertulis bahwa tanah dan bangunan itu diserahkan sepenuhnya kepada penggembalaan yang sah. Pernyataan ini menjadi bukti bahwa semua klaim rohani mereka tidak lebih dari upaya membungkus ambisi pribadi dalam bahasa "penyerahan". Mereka bisa mengatakan, “Ini untuk Tuhan,” tapi ternyata yang mereka inginkan adalah kekuasaan, bukan Kerajaan Allah. Pesan pentingnya: jangan hanya berkata menyerahkan — serahkanlah sungguh-sungguh. Jika niatmu sungguh untuk Tuhan, maka biarkan Tuhan yang memimpin dan menempatkan siapa yang layak. Tapi jika niatmu adalah untuk memimpin dan mencuri otoritas, maka cepat atau lambat Tuhan akan mempermalukan roh srigala di balik baju domba itu. Tuhan tidak dapat diperdaya oleh topeng kerohanian. Ia menguji hati, menimbang motivasi, dan menyatakan siapa yang setia dan siapa yang licik. Orang bisa menipu jemaat dengan air mata, dengan “doa semalam suntuk,” atau bahasa seolah-olah mendalam secara rohani, tetapi Tuhan mengenal siapa yang sungguh melayani dan siapa yang diam-diam membangun takhtanya sendiri. ngat, Ananias dan Safira juga membawa persembahan, tetapi dengan hati yang tidak tulus, dan akhirnya mereka dihukum (Kisah Para Rasul 5:1-11). Demikian pula, siapa pun yang memakai nama Tuhan untuk membenarkan ambisi pribadi, sedang berjalan menuju kejatuhan yang tragis.
2.2 Mengutip ayat, tapi untuk menekan atau memecah. Salah satu senjata paling mematikan dari srigala rohani adalah kemampuan mereka memanipulasi Firman Tuhan. Mereka bukan tidak tahu ayat-ayat Alkitab—justru mereka sangat fasih mengutipnya. Tetapi yang mereka lakukan bukanlah memberitakan kebenaran, melainkan memelintir makna Firman untuk menyesuaikan dengan agenda pribadi. Ayat digunakan bukan untuk membangun iman atau menuntun jemaat kepada pertobatan, melainkan untuk menekan, mengintimidasi, dan memecah belah komunitas. Firman yang suci dijadikan alat untuk mengukuhkan kendali mereka atas jemaat, dengan cara membungkam suara yang berbeda, membenarkan pemberontakan terhadap otoritas yang sah, dan menanamkan ketakutan rohani. Ilustrasi nyata dari fenomena ini terlihat dalam kisah seorang pemimpin dan majelis dari sebuah gereja liar. Kelompok ini awalnya diterima dengan kasih dan tangan terbuka oleh beberapa gereja yang melihat potensi dan semangat mereka dalam pelayanan. Namun yang tidak disadari banyak orang adalah bahwa kelompok ini lahir bukan dari pengutusan yang benar, melainkan dari ambisi pribadi dan pemberontakan terhadap gereja asal mereka. Mereka keluar bukan karena diutus, tetapi karena kecewa tidak diangkat menjadi pemimpin atau pendeta. Sayangnya, luka dan ambisi itu tidak pernah diselesaikan. Mereka membawa akar pahit tersebut ke mana pun mereka pergi. Sudah tercatat bahwa setidaknya tiga gereja berbeda mencoba merangkul dan membina mereka. Ketiganya berakhir dalam pola yang sama: awalnya tampak baik, penuh semangat, tetapi perlahan mulai muncul roh pembangkangan—kritik terhadap gembala, bisikan ke jemaat, pengaruh yang menyusup diam-diam. Akhirnya, gembala ditolak atau ditendang secara halus, dan mereka mencoba mengambil alih komunitas. Pola ini berulang karena sumber masalahnya tidak pernah diakui, apalagi dipertobatkan. Mereka tidak sedang mencari rumah rohani, tapi panggung kekuasaan. Mereka tidak datang untuk membangun, melainkan untuk mengambil alih. Dalam kondisi seperti ini, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kelompok semacam ini belum layak disebut gereja. Mereka adalah komunitas yang belum mengalami pemulihan rohani sejati. Bukan hanya karena latar belakang pemberontakan, tetapi karena kerusakan jiwa yang dibiarkan tumbuh subur dan dibungkus dengan keagamaan palsu. Maka wajar jika gereja-gereja yang bijaksana menilai kelompok seperti ini dengan sangat hati-hati. Sebab, bukan hanya doktrinnya yang menyimpang, tapi juga motivasi dan pola perilakunya yang rusak. Bahkan, jika dibiarkan, kelompok ini berpotensi menjadi benih perpecahan yang menyebar ke tubuh Kristus yang lebih luas. Alkitab pun memberi contoh jelas tentang tipu daya semacam ini. Dalam pencobaan di padang gurun, Iblis mengutip Mazmur 91 saat mencobai Yesus (Matius 4:6). Ia memakai Firman Tuhan—ayat yang benar—tetapi dengan motivasi dan konteks yang salah. Tujuannya bukan membawa keselamatan, tetapi menjerumuskan. Namun Yesus menjawab dengan kebenaran utuh, menunjukkan bahwa memahami teks saja tidak cukup, harus ada ketundukan kepada Roh dan kehendak Allah yang sejati. Sama seperti Iblis, srigala rohani pandai mengemas ayat-ayat Kitab Suci, tapi hatinya jauh dari Tuhan. Mereka menyalahgunakan Firman untuk membenarkan ambisi sendiri. Pelayan sejati memakai Firman untuk membangun dan menyembuhkan; srigala menggunakannya untuk menekan dan memecah. Gereja harus bijak dan tegas menolak roh semacam ini, agar racun luka dan manipulasi tidak merusak tubuh Kristus. Karena jika dibiarkan, mereka akan menyesatkan banyak jiwa, menanam kepahitan, mengkudeta otoritas, menghancurkan kesatuan gereja, dan membungkus pemberontakan dengan jubah kesalehan palsu yang menipu, merusak, dan menyesatkan demi ambisi pribadi yang tersembunyi.
2.3 Membentuk kubu, bukan membangun tubuh Kristus. Srigala rohani tidak pernah tertarik membangun tubuh Kristus secara utuh. Sebaliknya, mereka secara halus dan sistematis membentuk kubu-kubu dalam gereja—kelompok kecil yang loyal bukan kepada Kristus, melainkan kepada pribadi mereka sendiri. Komunitas ini sering kali tampak rohani, penuh kasih, dan akrab secara lahiriah, namun di baliknya tersembunyi racun pemisah. Mereka menciptakan “persekutuan dalam persekutuan”, membangun jaringan simpati dan loyalitas pribadi sambil perlahan-lahan merusak kepercayaan jemaat kepada gembala yang Tuhan tetapkan secara sah. Dengan bahasa rohani yang licin dan manipulatif, mereka membisikkan kritik tersembunyi, membangun narasi seolah-olah gembala tidak layak, tidak dewasa secara rohani, atau tidak mengerti suara Tuhan. Tujuan mereka bukan untuk membangun, melainkan menggerogoti otoritas. Akibatnya, jemaat yang semula bersatu mulai terbagi secara emosional dan rohani. Suasana gereja berubah—bukan lagi tubuh Kristus yang sehat dan saling menopang, melainkan kumpulan kecil yang curiga dan saling membandingkan. Suara gembala pun semakin tidak didengar, karena hati jemaat telah teracuni opini dari kelompok yang tersembunyi itu. Strategi ini sangat licik. Dengan memisahkan domba dari kawanan dan dari gembala, para srigala menciptakan loyalitas baru—bukan kepada Firman, bukan kepada salib Kristus, tetapi kepada diri mereka sendiri. Ketika ditegur, mereka berlindung di balik istilah “perbedaan visi” atau “kami hanya ingin mencari Tuhan secara murni”, padahal mereka sedang menggiring jemaat keluar dari kehendak Allah dan membentuk kerajaan pribadi atas nama pelayanan. Semua ini sangat bertentangan dengan doa Yesus dalam Yohanes 17:21, “supaya mereka semua menjadi satu.” Yang dimaksud adalah kesatuan dalam roh, kasih, dan penggembalaan. Gereja sejati adalah komunitas yang saling tunduk, saling mendukung, dan hidup di bawah satu kepala, yaitu Kristus. Tetapi di tangan para srigala rohani, kesatuan ini dihancurkan perlahan melalui drama, luka lama yang tak dipulihkan, dan bisikan yang merusak. Jika pola ini tidak dikenali dan dihentikan, maka perpecahan akan terus terjadi dari dalam. Domba yang seharusnya bertumbuh justru tersesat dalam loyalitas palsu yang dibungkus keakraban dan kesalehan semu. Maka gereja harus bijak membedakan mana yang membangun tubuh Kristus, dan mana yang membangun kubu. Gereja bukan tempat untuk membentuk sekutu pribadi, melainkan tubuh Kristus yang harus dijaga kesatuannya demi kemuliaan Tuhan. Ilustrasi nyata dari fenomena ini dapat terlihat dalam kasus seorang pemuda dari sebuah gereja liar. Ia berasal dari keluarga majelis yang sebelumnya terlibat aktif dalam pelayanan. Namun karena orang tuanya membawa roh pemberontakan terhadap gembala yang sah, pemuda ini pun ikut terbentuk dalam atmosfer pembangkangan yang sama. Ia bahkan sampai hati mengeluarkan istri gembala dari grup WhatsApp jemaat—sebuah tindakan yang bukan hanya tidak sopan, tetapi menunjukkan betapa dalamnya penolakan terhadap otoritas rohani. Bukan hanya itu, ia juga memblokir nomor gembala dan istrinya. Yang lebih memilukan, ia berani menyebut gembala sah tersebut sebagai “tidak dewasa rohani” dan “orang aneh”, padahal gembala itu dengan sabar memperhatikan dan menegur mereka karena ingin mereka dibentuk menjadi jemaat yang benar. Tetapi karena hati mereka telah dikuasai oleh roh pemberontakan yang diwariskan dari orang tuanya sendiri, maka kebenaran pun dianggap sebagai serangan. Pola pembangkangan ini adalah kutuk rohani yang diwariskan lintas generasi. Tanpa pertobatan, roh pemberontakan makin tajam dan menyakitkan. Ini bukan konflik biasa, tapi tanda komunitas yang dikuasai roh srigala. Gereja harus waspada—di balik kelembutan dan semangat rohani palsu tersembunyi agenda yang memecah dan mencuri kemuliaan Tuhan demi ambisi pribadi.
2.4 Menggiring domba keluar dari kandang, bukan kembali kepada gembala. Yesus adalah Gembala Agung yang memanggil domba-domba-Nya untuk hidup dalam perlindungan dan penggembalaan yang sehat. Untuk itulah Ia mempercayakan gembala-gembala manusia—pemimpin rohani yang ditetapkan oleh-Nya—untuk menggembalakan, menuntun, dan menjaga kawanan-Nya dari bahaya. Namun, srigala rohani bekerja dengan cara yang sebaliknya: bukan membawa domba kembali ke kandang, tetapi justru menggiring mereka keluar, menjauh dari otoritas yang sah, dari pemuridan yang benar, dan dari komunitas yang Tuhan tetapkan. Mereka sering menyamarkan pemberontakan dengan kalimat yang terdengar rohani: “Tuhan memimpin kami keluar,” atau “Kami sedang mencari Tuhan secara pribadi.” Namun sesungguhnya, banyak dari perpisahan itu bukan karena pengutusan, melainkan karena keinginan untuk lari dari teguran, disiplin, dan proses pemurnian. Bagi mereka, lebih mudah membentuk kelompok sendiri daripada tunduk dan bertumbuh di bawah otoritas rohani. Ini adalah bentuk pelarian yang dibungkus bahasa rohani. Yohanes 10:12-13 mengingatkan kita bahwa orang upahan, yang bukan gembala, akan lari saat melihat srigala datang—ia tidak peduli terhadap domba. Ini adalah gambaran yang sangat tepat tentang bagaimana srigala rohani beroperasi. Mereka muncul, menebar luka, membisikkan kekecewaan dan ketidakpuasan, lalu menggiring domba-domba yang lemah keluar dari penggembalaan. Domba yang seharusnya dilindungi justru dibawa ke padang asing, terisolasi dari tubuh Kristus, dan menjadi sasaran empuk bagi si jahat. Lebih jauh lagi, setelah “memisahkan diri,” srigala biasanya tidak berhenti di sana. Mereka membentuk komunitas atau gereja baru, bukan karena panggilan yang murni dari Tuhan, tetapi karena kebutuhan akan kontrol dan pengaruh. Komunitas semacam ini seringkali lahir dari luka, bukan pengutusan. Mereka menyebutnya “misi baru,” padahal dasarnya adalah ketidakpuasan dan pemberontakan. Ini bukan ladang pelayanan yang sehat, tapi ladang yang penuh racun tak terlihat—karena fondasinya bukan kasih, tetapi kekecewaan dan ego yang belum mati. Di dalamnya, biasanya ada satu figur dominan—baik individu maupun pasangan suami istri—yang memegang kendali penuh atas komunitas, tanpa ruang untuk koreksi atau pertanggungjawaban. Setiap suara berbeda dianggap “tidak sejalan dengan visi,” dan siapa pun yang mempertanyakan otoritas dianggap melawan Tuhan. Tidak ada penggembalaan sejati di sana, yang ada hanyalah sistem pengendalian yang terselubung. Yang lebih mengerikan lagi, budaya di dalam komunitas semacam ini sering kali diwarnai oleh kritik terhadap gembala sebelumnya. Fitnah, sindiran, dan olok-olok terhadap pemimpin rohani yang dulu membimbing mereka menjadi hal yang biasa. Mereka menyatakan, “Kami tidak menyembah pendeta, kami hanya menyembah Yesus,” tetapi ironisnya, mereka justru menjadikan pemimpin barunya sebagai pusat loyalitas yang tak boleh diganggu gugat. Sementara itu, hamba Tuhan yang dahulu mencintai, menegur, dan membina mereka kini dijadikan bahan tertawaan atau cercaan. Ini bukan kerendahan hati. Ini bukan kesalehan. Ini adalah roh pemberontakan yang sedang beroperasi dengan sangat halus namun mematikan. Yakobus 3:14-16 berkata: “Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan jangan berdusta melawan kebenaran. Itu bukan hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan.” Pola ini begitu berbahaya karena ia sering terlihat “rohani.” Namun buahnya adalah kepahitan, perpecahan, dan penolakan terhadap otoritas. Tidak ada kehormatan, tidak ada pemulihan, tidak ada buah roh—hanya luka yang terus diwariskan dan dibungkus dalam nama pelayanan. Maka gereja harus sungguh-sungguh waspada. Jangan tertipu oleh penampilan yang tampaknya lembut dan rohani, padahal sejatinya sedang menggiring domba keluar dari kehendak Tuhan. Firman Tuhan jelas: domba yang keluar dari kandang tanpa pengutusan adalah domba yang sedang dalam bahaya. Dan mereka yang menggiringnya ke luar akan bertanggung jawab di hadapan Allah sebagai penyesat kawanan-Nya. Seringkali, srigala muncul dari orang dalam—yang sebelumnya terlihat aktif dan melayani—namun menyimpan luka, kekecewaan, atau ambisi tersembunyi. Karena tidak mau diproses dan dikoreksi, mereka memilih jalur sendiri dan menarik pengikut yang sepikiran. Mereka membentuk komunitas tandingan, menyebutnya "gereja baru", padahal akar kemunculannya adalah pemberontakan, bukan pengutusan. Mereka memakai istilah "misi", tapi sesungguhnya hanya ingin lepas dari otoritas dan membangun ruang aman bagi ego mereka. Namun Yesus berkata, “Setiap pohon dikenal dari buahnya.” (Lukas 6:44). Bukan dari kemasan rohani, bukan dari jumlah pengikut, tapi dari buah yang lahir: apakah ada pertobatan sejati, kasih yang murni, dan ketaatan pada kebenaran?. Jika buahnya adalah gosip, kritik terhadap gembala lama, atau pemutusan hubungan secara kasar, maka jelas itu bukan pohon dari Tuhan. Sebab pekerjaan Roh Kudus selalu membawa kesatuan, penundukan, dan hormat terhadap otoritas yang Tuhan tetapkan. Roh Kudus tidak akan pernah menuntun seseorang untuk melawan otoritas yang benar, atau membangun pelayanan dari dasar kepahitan. Di mana tidak ada pemulihan, di situ tidak ada pengutusan. Jika pelayanan lahir dari luka, maka luka itulah yang menjadi atmosfernya. Jika akar pohon kepahitan, buahnya perpecahan. Tuhan memanggil kita membangun tubuh Kristus, bukan menciptakan kerajaan kecil dipimpin ambisi pribadi. Maka kita harus memeriksa hati: apakah sedang membangun altar untuk Tuhan atau takhta untuk diri sendiri? Sebab pelayanan sejati bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang pengorbanan, kesetiaan, kerendahan hati, dan kemurnian motivasi rohani.
Srigala dalam gereja adalah realitas yang tidak boleh diabaikan. Mereka bisa saja muncul dengan nama “pelayanan,” “visi,” atau “penglihatan”, tetapi buah mereka akan menyatakan siapa mereka sebenarnya. Seperti yang dikatakan Yesus dalam Lukas 6:44, “Setiap pohon dikenal dari buahnya.” Mereka bukan hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga meracuni banyak jiwa yang polos. Oleh sebab itu, gereja harus waspada, tidak mudah terpesona oleh karisma, tetapi melihat karakter, buah, dan ketundukan seseorang kepada otoritas yang sah. Sebab siapa yang tidak bisa tunduk, tidak layak memimpin. Dan pada akhirnya, setiap serigala akan dihakimi oleh Gembala Agung, Yesus Kristus, yang akan memisahkan antara domba sejati dan penyesat yang menyamar. “Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.” (Yohanes 10:14). Ayat ini menegaskan bahwa hubungan antara Kristus dan umat-Nya bukan sekadar tampilan luar atau klaim keagamaan, tetapi ikatan yang lahir dari pengenalan pribadi, ketaatan, dan kesetiaan sejati. Serigala bisa menyamar, tetapi mereka tidak dapat menipu Sang Gembala. Di hadapan takhta penghakiman-Nya, setiap motivasi hati akan disingkapkan, dan setiap perbuatan akan diuji—apakah dibangun di atas dasar Kristus atau di atas ambisi manusia..
Biarlah kita tidak menjadi penonton yang pasif, tetapi penjaga yang berjaga. Karena gereja bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ladang pertempuran rohani yang harus dijaga dari dalam dan dari luar. etaplah setia, tetaplah peka, dan tetaplah melekat pada Sang Gembala yang sejati. Jangan biarkan kesibukan pelayanan membuat kita lupa berjaga dalam doa, sebab musuh tidak tidur, dan siasatnya selalu mengincar celah terkecil dalam tubuh Kristus. Setiap kelengahan, setiap kompromi kecil, bisa menjadi pintu masuk bagi perpecahan, kepahitan, atau tipu daya yang mematikan iman kita.
BAB III
BAHAYA ROHANI GEREJA LIAR DAN SRIGALA
Bahaya terbesar bagi gereja di akhir zaman bukan hanya dari luar, tetapi justru dari dalam: dari mereka yang memakai rupa pelayanan, tetapi menabur benih perpecahan, pemberontakan, dan kesesatan. “Gereja liar” dan “srigala berbulu domba” bukan sekadar istilah, melainkan kenyataan yang harus dikenali dan diwaspadai oleh setiap orang percaya. Mereka bisa hadir dengan karisma, suara rohani, bahkan mujizat, namun sesungguhnya telah melepaskan diri dari tubuh Kristus yang sejati dan otoritas yang Tuhan tetapkan.
Gereja liar adalah komunitas yang muncul bukan karena pengutusan, tetapi karena kekecewaan, ambisi, atau konflik. Mereka tidak berakar dalam kehendak Tuhan, tetapi tumbuh dari luka dan semangat pemberontakan. Di permukaan, mereka tampak aktif dan bersemangat, tetapi roh Tuhan tidak lagi menyertai mereka. Mereka berjalan dengan kekuatan sendiri—dengan program, strategi, dan retorika—namun kehilangan urapan, ketundukan, dan integritas. Mereka bisa tampak berhasil secara lahiriah, penuh aktivitas, bahkan diikuti banyak orang, tetapi sesungguhnya mereka kehilangan inti dari pelayanan sejati: ketaatan kepada Tuhan dan kesetiaan pada struktur yang ilahi. Mereka tidak diutus, tetapi mengutus diri sendiri. Mereka bukan bagian dari tubuh, tetapi membuat tubuh mereka sendiri. Mereka mengandalkan hikmat manusia, bukan tuntunan Roh Kudus. Bahaya mereka bukan hanya dalam jumlah, tetapi dalam pengaruh destruktif yang mereka bawa. Mereka menyebarkan kebingungan, memecah jemaat, menanam pemberontakan, dan menciptakan sistem pelayanan yang dibangun di atas ambisi pribadi, bukan panggilan ilahi. Berikut adalah beberapa bahaya utama yang ditimbulkan oleh gereja liar dan para srigala rohani:
3.1 Menyesatkan domba kecil dengan ajaran dan hasutan. Srigala rohani tidak menyerang secara terang-terangan. Mereka menyusup melalui ajaran yang tampaknya alkitabiah, tetapi telah dicampur dengan kepahitan, ego, dan ambisi pribadi. Mereka memakai istilah “pewahyuan baru” atau “Tuhan berbicara langsung kepada kami” untuk membangun kredibilitas spiritual yang menipu. Sasaran mereka adalah domba-domba kecil—jemaat yang masih muda secara rohani, mudah percaya, dan sedang mencari pengertian. Mereka memelintir Firman untuk menghalalkan sikap memberontak terhadap pemimpin yang sah. Dengan lihai, mereka menyisipkan dalil-dalil Alkitabiah yang dipotong dari konteksnya, sehingga tampak seolah-olah mendukung pembangkangan dan ketidaktaatan. Padahal, di balik retorika mereka tersembunyi roh pemberontakan dan ambisi pribadi. Mereka membuat orang percaya ragu akan otoritas rohani, seakan-akan kepemimpinan yang ditetapkan Tuhan bisa ditantang hanya karena ketidaksukaan pribadi atau ketidakpuasan sesaat. Otoritas rohani yang seharusnya menjadi saluran berkat justru difitnah sebagai penghalang kebebasan, dan Mereka memutarbalikkan makna kasih karunia, menjadikannya sebagai alasan untuk hidup tanpa pertobatan dan tanpa tanggung jawab. Mereka ajarkan bahwa kasih karunia menoleransi dosa, bukan membebaskan dari kuasa dosa. Ini adalah bentuk penyesatan rohani yang sangat halus namun mematikan, serta mereka mendorong gaya hidup bebas koreksi, menolak teguran sebagai bentuk kasih, dan menganggap disiplin rohani sebagai bentuk penindasan. Mereka tidak lagi menghargai prinsip pemuridan yang sehat, di mana koreksi dan pembentukan adalah bagian dari pertumbuhan iman. Akibatnya, banyak domba yang tadinya sedang bertumbuh, tersesat dalam kebingungan dan terpisah dari tubuh Kristus yang sejati. Mereka kehilangan arah, hidup dalam luka rohani yang mendalam, dan menjadi sasaran empuk ajaran-ajaran sesat. Gereja bukan lagi menjadi tempat pemulihan, melainkan berubah menjadi ajang perebutan pengaruh dan adu argumen teologis yang dangkal. Fungsi kudus gereja sebagai rumah rohani tergeser oleh kepentingan pribadi dan ambisi duniawi. Inilah wajah dari bahaya rohani yang destruktif. Mereka bukan sekadar berbeda pendapat; mereka sedang merobohkan tatanan ilahi yang Tuhan tetapkan. Mereka bukan sekadar tersesat; mereka menyeret orang lain untuk ikut terjatuh ke dalam lubang yang sama. Dahulu, ada sebuah gereja yang dengan penuh kerendahan hati meminta saya untuk menjadi gembala mereka. Permintaan itu disampaikan secara tertulis, lengkap dengan pernyataan penyerahan diri kepada penggembalaan saya, serta pengakuan bahwa mereka adalah bagian dari gereja cabang di bawah pelayanan saya. Mereka datang dengan penuh harap dan komitmen, bahkan membawa impian untuk bertumbuh dalam kebenaran. Namun seiring waktu, ketika saya mulai memberikan teguran dan koreksi rohani atas praktik pelayanan mereka yang tidak sesuai dengan dogma, etika, dan aturan sinode, mereka mulai menolak didisiplinkan. Walaupun secara istilah mereka terlihat sejalan, namun cara pandang, nilai, dan moralitas pelayanan mereka bertentangan dengan prinsip-prinsip yang saya pegang teguh sebagai gembala yang tunduk pada struktur sinode dan kebenaran firman Tuhan. Saya tidak menegur karena membenci, tetapi karena mengasihi. Tapi rupanya, mereka tidak siap dikoreksi. Ketika saya mulai membenahi hal-hal yang menyimpang – termasuk penyimpangan dalam etika pelayanan, penggunaan kekuasaan, bahkan dugaan pelanggaran moral – mereka justru tersinggung dan melawan. Karena merasa punya uang dan pengaruh, mereka bersatu menolak saya, lalu mengusir secara sepihak lewat surat yang tak sah. Inilah ironinya: Kasih ditekan, yang memanjakan disanjung. Koreksi dianggap benci, disiplin dianggap kekerasan. Padahal kasih sejati tak membiarkan domba sesat.
3.2 Merusak otoritas rohani, menjadikan pemberontakan sebagai “pencerahan”. Salah satu ciri khas gereja liar adalah narasi bahwa mereka “telah dibukakan sesuatu yang baru” yang tidak dimiliki gereja sebelumnya. Mereka menyamakan koreksi dan disiplin rohani dengan kontrol manusia. Dalam retorika mereka, meninggalkan otoritas dianggap sebagai langkah kemerdekaan rohani. Padahal, dalam pandangan Alkitab, penundukan pada otoritas yang sah adalah bentuk kedewasaan dan ketertundukan pada Tuhan. Mereka memutar kebenaran menjadi kebohongan. Pemberontakan disebut “kebenaran baru,” pemisahan disebut “panggilan baru,” dan ketidaksetiaan dibungkus dalam istilah rohani: “ketaatan pada suara Tuhan yang lebih tinggi.” Padahal, ini hanyalah topeng untuk menutupi hati yang sudah lepas dari ketaatan sejati kepada Firman dan pemimpin rohani yang sah. Inilah tipu daya yang halus namun sangat merusak. Bagaikan ular di Taman Eden, mereka tidak datang dengan amarah terbuka, tetapi dengan narasi yang tampak bijak dan beraroma “wahyu baru.” Mereka menggunakan istilah seperti “visi” dan “kebebasan rohani,” padahal semua bermula dari luka hati yang tak pernah diselesaikan, pemberontakan yang dipelihara, dan kesombongan yang dibungkus doa. Roh pemberontakan ini menjalar seperti virus. Ia menular dari satu hati ke hati lain, membentuk pola pikir yang menolak otoritas dan menolak proses. Mereka tidak lagi mau digembalakan, tetapi ingin menggembalakan diri sendiri. Mereka bukan hanya tidak mau dikoreksi, tapi menjadikan koreksi sebagai musuh, dan menjadikan “kasih tanpa kebenaran” sebagai standar yang baru. Kultur ini menghasilkan jemaat yang liar—aktif secara program, tetapi tidak tunduk secara rohani. Gereja dijadikan organisasi, bukan tubuh Kristus. Pemimpin dianggap rekan bisnis, bukan otoritas rohani—diukur dari seberapa banyak proyek dijalankan, bukan seberapa dalam ketaatan dibentuk. Relasi rohani berubah menjadi hubungan transaksional tanpa ketundukan sejati.. Semua dipimpin oleh selera pribadi, bukan oleh salib Kristus. Contoh nyata dari hal ini terjadi di sebuah gereja, di mana sekelompok orang memisahkan diri dari gereja asalnya, dengan dalih ingin “berkembang lebih besar” dan “menjawab panggilan baru.” Mereka lalu membentuk gereja baru dengan nama GLORIA, yang berarti 'sukacita'. Mereka membawa semangat yang tampak segar dan penuh visi—namun di balik nama indah itu tersembunyi luka yang belum disembuhkan, ambisi yang dibungkus rohani, dan pemberontakan yang belum diakui. Nama boleh terdengar baru, tapi jika akar rohaninya busuk, maka buah yang dihasilkan pun tetap pahit. Sukacita sejati tidak lahir dari pengkhianatan, dan visi sejati tidak tumbuh dari benih pemberontakan, di balik itu semua, kebenaran yang terjadi adalah pengkhianatan terhadap gembala yang telah membina dan membentuk mereka. Mereka keluar bukan karena panggilan ilahi, tetapi karena tidak mau lagi dibentuk dan ditegur. Mereka bahkan menyebarkan fitnah, menuduh gereja asalnya tidak membawa damai sejahtera, tidak menghasilkan pertobatan, dan tidak lagi relevan. Padahal sesungguhnya, bukan gerejanya yang tidak membawa pertobatan—mereka sendirilah yang menolak untuk bertobat. Mereka memutar balik fakta, dan memakai bahasa rohani untuk menutupi keinginan memberontak. Mereka menyebutnya pertumbuhan, tapi Tuhan menyebutnya pembelotan. Mereka menyebutnya visi baru, tetapi Tuhan melihatnya sebagai pemisahan yang lahir dari ambisi. Ini bukan kisah transformasi, melainkan kisah pengkhianatan. Inilah realita pahit pelayanan masa kini: tampak terang tapi sejatinya gelap; bicara kasih tapi tolak kebenaran; bangun altar tapi melawan otoritas. Rohani di depan manusia, tapi kosong ketundukan pada Tuhan—aktif melayani, tapi miskin integritas, takut akan Tuhan, haus pujian, penuh ambisi, dan alergi teguran.
3.3 Memecah hubungan tubuh Kristus, merusak kesatuan yang Yesus doakan (Yoh 17:21). Yesus tidak hanya mengajarkan kasih, tetapi berdoa secara khusus untuk kesatuan umat-Nya. Dalam Yohanes 17:21, Ia berkata, “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkau yang telah mengutus Aku.” Kesatuan adalah napas tubuh Kristus—itulah identitas ilahi gereja sejati. Bukan sekadar satu gedung, satu nama, atau satu organisasi, tetapi satu roh, satu kasih, dan satu tujuan dalam Kristus. Namun, gereja liar dan pemimpin srigala hadir sebagai virus pemecah. Mereka bukan membangun, tetapi menyusup untuk merusak kesatuan, menciptakan celah, dan menghembuskan benih perpecahan secara halus tapi mematikan. Mereka menciptakan kubu-kubu kecil dan loyalitas pribadi, bukan kepada Kristus, melainkan kepada tokoh atau pemimpin karismatik yang mengklaim “suara Tuhan” tanpa pertanggungjawaban struktural. Mereka mulai menarik simpati, menyebar ketidakpuasan, dan membangun persekutuan tandingan—baik secara terang-terangan maupun secara diam-diam, baik di dalam gereja lokal maupun melalui kelompok-kelompok di luar kendali gembala sah. Akibatnya, tubuh Kristus tidak lagi bergerak dalam harmoni. Ibarat anggota tubuh yang saling menolak fungsi satu sama lain, kekuatan gereja menjadi lumpuh. Hubungan antaranggota yang dahulu dipenuhi kasih, berubah menjadi curiga dan penuh konflik tersembunyi. Kepercayaan kepada pemimpin mulai luntur, karena racun gosip dan fitnah telah disuntikkan. Semangat melayani menjadi dingin, karena kasih yang mendingin di tengah ketegangan yang tidak sehat. Orang-orang yang dahulu sehati dan sepikir kini saling menjauh. Bahkan, banyak yang meninggalkan gereja. bukan karena panggilan Tuhan, melainkan karena kehilangan rasa aman dalam suasana yang telah tercemar oleh roh perpecahan. Inilah hasil kerja srigala: memisahkan domba dari kawanan, lalu memangsanya secara rohani. Mereka tidak selalu menyerang secara frontal; banyak yang memakai pendekatan halus—lewat percakapan “santai,” kritik berbalut doa, atau pengajaran yang menyimpang sedikit demi sedikit. Padahal Firman Tuhan tegas: kesatuan tidak mungkin terbangun tanpa penundukan. Tidak ada tubuh tanpa kepala, tidak ada harmoni tanpa otoritas. Ketika roh pemberontakan mulai beroperasi—ia tidak datang dengan suara keras, tetapi menyusup perlahan. Ia menyuntikkan sikap tidak hormat kepada pemimpin, penolakan terhadap otoritas, dan penolakan terhadap koreksi rohani. Orang yang dulu tunduk, mulai mempertanyakan; yang dulu melayani dengan hati, kini melayani dengan keluhan. Dan dari situ, kehancuran bukan lagi ancaman, tetapi hanya soal waktu. Kesatuan tubuh Kristus bukan dibangun di atas kesamaan pendapat, tetapi di atas kesamaan kerendahan hati. Di dalam gereja, perbedaan akan selalu ada, tetapi kerendahan hati membuat kita bisa tetap satu, saling menghargai, dan tunduk kepada pimpinan yang Tuhan tetapkan. Tanpa kerendahan hati, otoritas akan ditolak, dan kasih akan mati. Jika setiap orang merasa dirinya pusat, maka salib akan ditinggalkan. Ketika ego menggantikan ketaatan, dan opini pribadi menggantikan kebenaran Firman, maka domba akan tercerai-berai—tanpa arah, tanpa perlindungan, dan mudah disesatkan. Gereja menjadi rapuh bukan karena serangan dari luar, tapi karena pembangkangan dari dalam. Pelayanan berubah menjadi arena adu pengaruh, bukan ladang pertobatan. Pengurapan diganti dengan manipulasi. Semangat rohani digantikan ambisi pribadi. Akibatnya, tubuh Kristus kehilangan kekuatan dan kepekaan terhadap suara Roh Kudus. Tanpa penundukan, tidak akan ada kesatuan sejati. Dan tanpa kesatuan, gereja tidak bisa berdiri teguh menghadapi zaman yang jahat.
3.4 Menghambat pertumbuhan rohani, karena dasarnya bukan salib, tapi luka dan ambisi. Gereja atau pelayanan yang lahir bukan dari salib, melainkan dari luka batin dan ambisi pribadi, cenderung menghasilkan atmosfer yang penuh kekecewaan dan kepahitan. Pelayanan yang sehat harus lahir dari salib—artinya melalui penyangkalan diri, ketaatan kepada Tuhan, dan kasih yang murni (Lukas 9:23; Yohanes 12:24). Namun dalam realitas sosial gereja, banyak perpecahan atau pendirian gereja baru terjadi bukan karena mandat ilahi, tetapi karena rasa tidak dihargai, sakit hati terhadap pemimpin, atau ambisi tersembunyi untuk berkuasa. Hal ini terlihat saat seseorang merasa tersingkir, lalu memulai pelayanan sendiri tanpa restu, tanpa proses, dan tanpa salib. Mereka bukan sedang menjawab panggilan Tuhan, melainkan sedang membalas rasa kecewa terhadap struktur lama. "Karena di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat."— Yakobus 3:16. Dalam kondisi seperti ini, jemaat yang terbentuk pun tidak mengalami pertumbuhan rohani yang sejati. Mereka tidak dibawa untuk memikul salib dan hidup dalam pengudusan, tetapi justru dimanjakan dalam ketidakpuasan terhadap gereja sebelumnya. Mereka tidak diajar untuk mengampuni dan taat, tetapi malah diperkuat dalam luka dan kritik. Hasilnya, meskipun secara kasat mata terlihat ada pertumbuhan jumlah—lebih banyak orang, lebih banyak program—namun tidak ada pertobatan, tidak ada ketakutan akan Tuhan, dan tidak ada pemulihan karakter. Ini adalah bentuk kebangunan rohani palsu. Contoh Alkitabiah: Absalom dan Ambisi Pelayanan Kisah Absalom adalah contoh klasik seseorang yang merebut hati umat dengan cara-cara manipulatif karena ambisi dan luka pribadi terhadap ayahnya, Raja Daud (2 Samuel 15:1–6). Ia membangun sistem kekuatan sendiri, mencuri hati rakyat, dan mencoba menggulingkan otoritas yang sah. Pelayanan yang lahir dari semangat seperti ini akan selalu menimbulkan perpecahan dan tidak membawa damai. Efek Sosiologis dalam Tubuh Kristus Gereja liar yang dibangun dari semangat ini secara sosial memecah komunitas, menciptakan kubu-kubu, dan merusak kepercayaan jemaat terhadap otoritas rohani yang benar. Mereka mengkapitalisasi luka sosial yang ada dalam tubuh gereja (entah karena konflik, kesenjangan, atau kekecewaan) dan mengubahnya menjadi alasan rohani untuk memulai sesuatu yang baru, tanpa berakar pada salib Kristus. Pelayanan yang sejati lahir dari proses Tuhan, bukan dari reaksi manusia. Hanya ketika salib menjadi dasar, maka akan lahir pemimpin yang rendah hati, jemaat yang bertumbuh dalam kekudusan, dan gereja yang menjadi terang dunia. Sebaliknya, pelayanan yang dibangun dari luka dan ambisi akan menciptakan budaya rohani yang rusak, di mana kehadiran Tuhan digantikan oleh pencitraan dan kesuksesan semu. "Sebab tidak ada dasar lain yang dapat diletakkan dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus." — 1 Korintus 3:11...
Gereja liar dan srigala rohani adalah realitas yang harus dikenali dan dihadapi dengan ketegasan. Mereka bisa tampak seperti malaikat terang, tetapi buah mereka akan menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Seperti yang dikatakan Yesus, “Setiap pohon dikenal dari buahnya” (Lukas 6:44). Mereka bukan hanya tersesat, tapi juga menyesatkan. Bukan hanya melukai tubuh Kristus, tapi menghina Kepala-Nya. Gereja tak boleh diam. Kita harus berjaga, berdoa, dan memperlengkapi domba dengan Firman dan roh hikmat. Jangan biarkan kasih palsu menggantikan kebenaran, atau kebebasan yang salah menghancurkan penundukan yang kudus. Tuhan memanggil kita bukan membangun kerajaan luka dan ego, tetapi tubuh Kristus yang satu, kudus, dan tak bercacat. Tetaplah melekat pada Gembala Agung. Sebab pada akhirnya, Dialah yang akan memisahkan domba sejati dari penyesat, dan hanya yang dibangun di atas Kristus yang akan bertahan sampai akhir.
BAB IV
PANGGILAN UNTUK MEMBEDAKAN
DAN BERDIRI TEGUH
Di akhir zaman ini, suara begitu banyak—dan tidak semuanya berasal dari Tuhan. Banyak pengajaran, penglihatan, bahkan mimpi yang diklaim sebagai suara ilahi, padahal berasal dari roh kebingungan atau ambisi pribadi. Di tengah kebisingan itu, jemaat dan para pemimpin dituntut untuk memiliki kepekaan rohani yang tajam dan dasar firman yang kuat. Ini bukan sekadar soal kemampuan mendengar, tetapi soal keberanian untuk membedakan mana suara Gembala Sejati dan mana panggilan liar dari srigala rohani yang menyamar dalam baju domba.
Panggilan membedakan tidak bisa dipisahkan dari panggilan untuk berdiri teguh. Sebab ketika kebenaran mulai dikaburkan oleh narasi-narasi populer yang terdengar manis tetapi menyesatkan, dan ketika loyalitas kepada Kristus digantikan oleh keterikatan emosional kepada tokoh, komunitas, atau sistem yang tampak "rohani", maka ujian sesungguhnya atas penggembalaan, iman, dan kesetiaan akan muncul. Di tengah kebingungan seperti itu, hanya mereka yang sungguh-sungguh berakar dalam firman Tuhan, dibangun dalam kebenaran sejati, dan hidup di bawah otoritas Kristus yang akan tetap berdiri dan tidak digoyahkan oleh tekanan zaman. Oleh karena itu, jemaat tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga diajar, dibentuk, dan dibimbing serius. Gereja bukan sekadar tempat pertemuan, tetapi pusat pertumbuhan rohani, formasi karakter, dan pembentukan murid Kristus sejati. Ini bukan hanya soal ibadah, tetapi transformasi hidup. Karena itu, jemaat perlu digembalakan secara menyeluruh dalam beberapa hal mendasar berikut ini:
4.1. Taat pada struktur dan otoritas rohani yang sah. Ketaatan kepada struktur dan otoritas rohani yang sah adalah fondasi penting dalam kehidupan gereja yang sehat dan bertumbuh. Firman Tuhan dalam Ibrani 13:17 menegaskan, "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu sebagai orang-orang yang harus memberikan pertanggungan jawab." Ini bukan sekadar perintah moral, tetapi prinsip rohani yang membawa berkat dan perlindungan bagi umat Tuhan. Ketika seseorang menempatkan dirinya di bawah otoritas rohani yang sah, ia sebenarnya sedang menempatkan dirinya dalam jalur berkat dan penjagaan ilahi. Ketundukan bukanlah pengekangan atau perbudakan, melainkan suatu bentuk kehormatan terhadap tatanan ilahi yang Tuhan tetapkan dalam tubuh Kristus. Di zaman yang semakin liberal dan individualistik ini, banyak orang yang menolak struktur dan penggembalaan yang Alkitabiah dengan alasan bahwa mereka “dipimpin langsung oleh Roh Kudus.” Namun, pengakuan semacam ini seringkali menjadi tameng bagi pemberontakan terselubung. Mereka ingin bergerak sendiri, tanpa akuntabilitas, tanpa pertanggungjawaban, dan tanpa pengawasan rohani yang benar. Padahal, dalam seluruh Alkitab, Tuhan selalu bekerja melalui garis otoritas—baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam gereja. Kebebasan sejati dalam Kristus tidak berarti kebebasan untuk hidup di luar struktur. Justru di dalam struktur itulah ada perlindungan dan penyaringan yang ilahi. Seorang pemimpin rohani yang diurapi Tuhan bukanlah pribadi yang sempurna, tetapi dipakai Tuhan untuk menjaga, menegur, membimbing, dan membawa jemaat pada kehendak-Nya. Ketika jemaat menghormati pemimpin rohani yang Tuhan tetapkan, mereka bukan sedang memuliakan manusia, tetapi sedang menunjukkan hormat kepada Tuhan yang memberi otoritas itu. Dalam banyak kasus gereja yang hancur atau terpecah, akar masalahnya sering terletak pada ketidaktaatan terhadap otoritas rohani. Jemaat atau pelayan tertentu merasa lebih benar, lebih tahu, atau merasa lebih rohani daripada pemimpin yang ditetapkan, lalu mulai membentuk kelompok sendiri, menciptakan agenda sendiri, dan akhirnya memecah belah tubuh Kristus. Ini adalah bentuk pemberontakan yang halus, namun dampaknya sangat serius. Sama seperti Korah dan pengikutnya dalam Perjanjian Lama yang menolak otoritas Musa—pemimpin yang diangkat langsung oleh Tuhan—dan akhirnya dihukum dengan cara yang sangat tegas (Bilangan 16), demikian pula Tuhan tidak berkenan kepada mereka yang memberontak terhadap otoritas yang telah Ia tetapkan. Pemberontakan bukan hanya penolakan terhadap pemimpin manusia, tetapi juga bentuk penolakan terhadap kehendak dan tatanan ilahi. Oleh sebab itu, gereja masa kini memiliki tanggung jawab penting untuk terus mengajarkan prinsip otoritas dan ketundukan ini secara tegas, namun tetap dalam semangat kasih Kristus. Jemaat perlu dididik untuk mengenali siapa otoritas yang sah menurut firman dan struktur gereja, untuk menghormatinya, dan hidup dalam ketundukan sebagai wujud ketaatan kepada Tuhan sendiri. Sebab dalam ketundukan terdapat berkat. Dalam ketundukan ada pertumbuhan rohani yang sehat. Dalam ketundukan ada perlindungan ilahi dan kemenangan atas kekacauan. Karena Allah adalah Allah yang bekerja melalui tatanan dan bukan melalui pemberontakan. Tatanan menghadirkan damai, sementara kekacauan melahirkan perpecahan dan kutuk. Ketika gereja berdiri teguh dalam prinsip otoritas yang benar, maka hadirat Allah akan tetap nyata di tengah-tengahnya. Dan ketika jemaat memilih untuk taat dan tunduk dalam roh yang benar, maka Tuhan akan menyatakan kuasa-Nya dengan nyata—membuka pintu-pintu mujizat, pemulihan, dan lawatan yang tak terbantahkan.
4.2. Menguji setiap roh dan pengajaran. Menguji setiap roh dan pengajaran adalah sebuah perintah tegas dari Firman Tuhan, sebagaimana tertulis dalam 1 Yohanes 4:1, “Janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah...” Ini adalah peringatan serius bagi umat percaya, terutama di akhir zaman, di mana begitu banyak suara yang mengaku dari Tuhan namun sebenarnya tidak berasal dari-Nya. Banyak pengajaran yang terdengar benar, dikemas secara cerdas, menyentuh emosi, dan bahkan mengutip ayat-ayat Alkitab, tetapi pada intinya menyimpang dari kebenaran sejati yang berasal dari Roh Kudus. Kebenaran tanpa dasar Alkitab hanya akan menjadi opini manusia, dan pengurapan tanpa proses ketaatan hanyalah manifestasi daging yang dibungkus dalam spiritualitas palsu. Inilah jebakan halus namun mematikan—karena banyak yang tertipu oleh kemasan rohani, namun gagal menilai buah dan sumbernya. Sebab itu, jemaat harus dibekali bukan hanya dengan pengetahuan firman, tetapi juga dengan kepekaan rohani dan keberanian untuk bertanya: apakah ajaran ini sungguh memuliakan Kristus? Apakah pengajaran ini mendorong hidup yang kudus dan tunduk kepada otoritas yang Tuhan tetapkan? Apakah ini membawa kesatuan tubuh Kristus atau justru menanamkan kecurigaan, pemberontakan, dan pemisahan? Ujian ini bukan hanya tugas gembala atau pemimpin rohani, tetapi merupakan tanggung jawab setiap orang percaya yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan rohani. Gereja yang sehat adalah gereja yang mengajarkan umatnya untuk menguji, bukan hanya menerima mentah-mentah. Kita dipanggil bukan hanya untuk menjadi pendengar yang pasif, tetapi penilai yang peka terhadap suara Roh Kudus. Karena musuh tidak selalu datang dalam bentuk oposisi terang-terangan—ia bisa datang sebagai malaikat terang, menyusup lewat pengajaran yang manis namun meracuni, lewat penglihatan yang mengagumkan namun menyesatkan. Menguji roh bukan berarti menjadi curiga terhadap segalanya, tetapi menjadi bijak dan berhati-hati dalam segala sesuatu. Sebab kasih yang sejati selalu berjalan berdampingan dengan kebenaran. Gereja yang hanya diajarkan untuk “percaya” tanpa pernah diajarkan untuk “menguji” akan menjadi ladang yang mudah disusupi oleh roh-roh penyesat. Iman yang buta tanpa penilaian rohani adalah celah besar bagi siasat Iblis, sebab penyesatan akhir zaman tidak datang dalam bentuk yang mencolok jahat, tetapi sering kali dibungkus dengan bahasa kasih, kesatuan, bahkan "terobosan rohani". Maka, dalam setiap pengajaran, penglihatan, atau pelayanan yang muncul, gereja harus terus menumbuhkan budaya rohani yang sehat—yang tidak anti-kritik, tidak alergi koreksi, dan tidak mudah terpesona oleh karisma. Tanyakan selalu: apakah ini membawa kita semakin tunduk kepada Kristus, atau justru menumbuhkan ego, ambisi, dan perpecahan rohani? Apakah buahnya adalah kesatuan, kerendahan hati, dan pertobatan, atau justru pembangkangan, luka, dan ketidaktaatan? Hanya Firman yang menjadi fondasi kokoh untuk membedakan mana suara Tuhan dan mana suara asing. Sebab suara asing sering meniru suara gembala, tetapi tujuan akhirnya adalah mencuri, membunuh, dan membinasakan (Yohanes 10:10). Dan hanya dengan hati yang berserah, roh yang peka, dan kasih akan kebenaran, kita bisa berdiri teguh di tengah badai pengajaran palsu akhir zaman. Gereja tidak dipanggil hanya untuk bertumbuh dalam jumlah, tetapi dalam kedewasaan—menjadi umat yang tajam secara rohani, waspada dalam terang firman, dan tidak mudah digoyahkan oleh arus ajaran baru yang kelihatannya rohani, namun menyesatkan. Sebab yang bertahan sampai akhir, itulah yang akan diselamatkan (Mat. 24:13). Pertumbuhan sejati bukan soal angka, tapi kedewasaan iman yang teruji dalam ketaatan.
4.3. Menghindari perpecahan dan hasutan . (Roma 16:17-18) "Aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka yang menimbulkan perpecahan dan godaan yang bertentangan dengan ajaran yang telah kamu terima. Jauhilah mereka." Perpecahan bukanlah buah dari Roh, melainkan strategi lama iblis yang terus dipakai untuk merusak kesatuan tubuh Kristus dari dalam. Hasutan bisa hadir dalam rupa nasihat, diskusi rohani, atau bahkan “curhat pelayanan” yang terdengar benar—namun bila tidak dijaga, akan menanamkan benih kekecewaan dan kecurigaan dalam hati jemaat. Mereka yang menyebarkan kekecewaan, fitnah, atau opini pribadi sambil menyelipkannya dalam bahasa rohani seringkali tampil sebagai “korban sistem”, namun sebenarnya sedang menjadi alat penghancur yang menggerogoti fondasi penggembalaan. Perpecahan biasanya tidak dimulai secara terang-terangan, tetapi lewat percakapan kecil, keluhan yang dipendam, atau komentar-komentar yang menggoyahkan kepercayaan terhadap pemimpin rohani. Jemaat harus diajar untuk mengenali suara hasutan, menghindari percakapan yang tidak membangun, dan tidak terlibat dalam diskusi yang menyebarkan racun kerohanian. Ketika sebuah percakapan tidak lagi membangun kasih, ketaatan, dan kesatuan, maka itu bukan berasal dari Roh Kudus. Kesatuan bukan berarti buta terhadap kesalahan, tetapi cara menanggapinya haruslah dengan roh tunduk, bukan dengan pemberontakan terselubung. Di akhir zaman, banyak “aktivis” gereja—yang tampaknya semangat, peduli, dan vokal—sebenarnya bisa menjadi agen perpecahan karena tidak mau tunduk dan berjalan dalam tatanan ilahi. Mereka lebih sibuk membangun pengaruh pribadi daripada menabur kesetiaan kepada visi dan otoritas rohani yang Tuhan tetapkan—mendewakan pengikut, haus panggung, menolak dibentuk, memanipulasi pelayanan demi agenda pribadi, dan mengabaikan proses salib. Sebagai ilustrasi, ada sebuah gereja yang awalnya sehat dan bertumbuh, namun kemudian diguncang oleh empat orang dari satu keluarga yang terlalu vokal dalam menyuarakan ketidakpuasan mereka. Mereka mulai menentang hampir setiap keputusan gembala, bahkan dalam hal-hal kecil yang seharusnya bisa diselesaikan dengan hati yang tunduk dan rendah. Karena ambisi pribadi untuk menjadi majelis dan karena merasa sudah “layak” setelah diberi kesempatan berkhotbah, mereka mulai menyebarkan pengaruh dan hasutan kepada jemaat lainnya. Dengan bungkus rohani dan dalih “kebenaran”, mereka berhasil menggiring beberapa orang keluar dari gereja tersebut. Mereka lalu membentuk sebuah komunitas baru yang tampak seperti gereja, namun pada dasarnya bukan dibangun oleh panggilan Tuhan, melainkan oleh ambisi, kekecewaan, dan pemberontakan. Apa yang terlihat seperti pelayanan, sebenarnya adalah jebakan iblis—sebuah “gereja-gerejaan” yang lahir bukan dari salib, tapi dari luka dan keinginan untuk menguasai. Inilah mengapa setiap orang percaya harus berhati-hati: bukan semua yang memakai nama Tuhan benar-benar berasal dari Tuhan. Kita tidak boleh mudah terkesan oleh semangat atau kefasihan, tetapi perlu menilai buah dan dasar rohaninya. Sebab gereja yang sejati lahir dari penundukan, bukan dari pemberontakan; dari kehendak Allah, bukan dari ambisi manusia. Karena itu, kita harus berjaga-jaga, tidak hanya terhadap ajaran sesat, tetapi juga terhadap sikap hati yang menumbuhkan perpecahan. Sebab Tuhan tidak pernah memberkati roh pemberontakan, sekalipun dibungkus dalam narasi kebenaran. Sebaliknya, Dia hadir di tengah umat yang bersatu, berjalan dalam terang, dan saling membangun dalam kasih dan hormat kepada otoritas, bukan di tengah perpecahan, ambisi, kepura-puraan, atau pemberontakan yang menolak didisiplinkan oleh kebenaran.
4.4. Menjaga hati dari racun pemberontakan yang dibungkus rohani. Pemberontakan dalam konteks rohani adalah bahaya yang paling halus namun paling mematikan bagi gereja. Ia tidak selalu muncul dalam bentuk perlawanan terang-terangan, tetapi sering kali menyamar sebagai "kerinduan akan kebenaran", "semangat perubahan", atau bahkan "kepekaan rohani" yang seolah-olah lebih tinggi dari otoritas yang ditetapkan Tuhan. Racunnya tidak langsung terasa, tapi perlahan menanamkan benih ketidakpercayaan, kecurigaan, dan pembangkangan terhadap pimpinan rohani. Pemberontakan seperti ini bisa mengambil bentuk kritik yang terdengar bijaksana, seperti mempertanyakan keputusan gembala secara “santun”, mengangkat isu-isu “kerohanian” dengan nada yang memecah, atau menciptakan pengajaran tandingan yang terdengar lebih dalam dan radikal—padahal dasarnya adalah ambisi dan kekecewaan pribadi. Di balik kemasan tersebut, sering kali tersembunyi roh Absalom—roh yang ingin mencuri hati umat dengan cara menjatuhkan otoritas yang sah dan mengambil alih posisi tanpa melalui jalan ketetapan Tuhan. Bahayanya terletak pada sifatnya yang menular secara emosional. Mereka yang terkena racun ini mulai melihat otoritas rohani sebagai penghalang, bukan penuntun; mulai lebih setia kepada pemikiran atau kelompok kecil daripada kepada visi tubuh Kristus secara keseluruhan. Dalam jangka panjang, ini menghasilkan perpecahan, kemandekan rohani, dan bahkan penyesatan. Karena itu, jemaat dan gembala harus sangat waspada. Dalam era di mana kepandaian berbicara dan penampilan rohani bisa dengan mudah disalahartikan sebagai tanda pengurapan, kita tidak boleh tertipu oleh apa yang tampak di permukaan. Tidak semua yang fasih berkhotbah, menubuatkan dengan lancar, atau bernyanyi penuh emosi dengan ekspresi “urapan” benar-benar berasal dari Roh Kudus. Karunia bukan jaminan keabsahan rohani, dan talenta bukan bukti pengutusan Ilahi. Alkitab dengan jelas memperingatkan bahwa Iblis sendiri dapat menyamar sebagai malaikat terang (2 Korintus 11:14). Ini artinya, sesuatu bisa tampak indah, berkilau, dan “spiritual”, namun pada dasarnya bersumber dari roh penyesat yang mengarah pada kehancuran. Ujian terbesar bukan pada seberapa besar pengaruh seseorang dalam pelayanan, tetapi pada buah yang dihasilkan—yaitu ketaatan, kerendahan hati, kesetiaan, dan ketundukan kepada otoritas ilahi yang Tuhan tetapkan. Orang yang benar-benar diutus Tuhan akan membawa kesatuan, kehormatan kepada otoritas, dan hidup dalam terang. Menjaga hati berarti memelihara kemurnian motivasi dan kesetiaan kepada Tuhan, bahkan ketika ada tawaran atau godaan untuk mengikuti suara-suara lain yang tampaknya lebih “radikal” atau “relevan”. Setiap benih pemberontakan harus ditolak, tidak peduli seberapa rohani atau “nampaknya bijak” cara penyampaiannya. Banyak pemberontakan rohani justru dikemas dalam bahasa doa, kritik rohani, atau “kerinduan akan kebenaran”, padahal di balik itu tersembunyi ketidakpuasan, ambisi, atau luka yang belum dipulihkan. Hidup dalam terang berarti bersedia diperiksa oleh Firman, terbuka terhadap teguran, dan mau dibentuk, bukan mencari pembenaran diri melalui aliran atau kelompok yang memperkuat pemberontakan hati. Gereja yang kuat bukanlah gereja tanpa konflik, tetapi yang berani menghadapinya dengan kasih, kebenaran, dan ketundukan kepada Kristus. Jaga hati dengan kewaspadaan, sebab dari situlah terpancar kehidupan (Amsal 4:23). Para gembala sejati dipanggil untuk berdiri teguh dan melindungi domba-domba Tuhan, sekalipun harus menghadapi srigala dan arus liar demi kebenaran dan tetap setia kepada panggilan ilahi tanpa kompromi terhadap firman Tuhan, dengan hati yang murni, tangan bersih, dan roh takut Tuhan.
Di tengah derasnya arus akhir zaman, gereja Tuhan tidak dipanggil untuk hanyut dalam kompromi, melainkan untuk berdiri teguh di atas fondasi kebenaran. Ketika dunia dan bahkan sebagian besar umat mulai memutarbalikkan terang dan gelap, Tuhan sedang mencari umat yang tetap jernih dalam membedakan suara-Nya — bukan yang sekadar pintar berbicara, tetapi yang benar-benar mengenal dan menaati Sang Gembala Agung. Seperti Daud yang tidak lari dari singa dan beruang demi menjaga kawanan, demikian pula para gembala dan jemaat hari ini harus berani menghadapi “srigala” zaman ini. Srigala yang menyusup bukan dengan taring terbuka, melainkan dengan senyum dan bahasa rohani yang menipu. Mereka berbicara seolah-olah rendah hati, memohon belas kasih, menyebut nama Tuhan, tetapi menyimpan agenda yang tersembunyi — memecah, merusak, dan memberontak terhadap otoritas yang sah.
Peristiwa semacam ini bukan teori, tetapi nyata. Itu pernah terjadi di daerah Riau. Sekelompok orang datang dengan raut rohani, menangis, dan menyatakan kerinduan menjadi bagian dari gereja gembala itu. Mereka menulis surat di atas materai, menyatakan janji setia menjadi cabang sah di bawah penggembalaan cabang. Mereka berjanji tidak akan berubah haluan, dan bahkan bersyukur karena akhirnya mereka punya gembala yang sah dan struktur yang jelas. Namun semuanya berubah. Ketika mereka mulai digembalakan secara benar, diatur dalam sistem pelayanan yang alkitabiah, diberi struktur, dan bahkan ketika bangunan gereja mereka mulai berdiri — saat itulah roh pemberontakan yang selama ini tersembunyi mulai muncul kembali. Mereka tidak nyaman diatur. Mereka tidak suka ditegur. Mereka mulai mempertanyakan dan menggugat gembala yang mereka sendiri minta. Mereka mulai berulah, memalukan gembalanya di hadapan umum, bahkan mencemooh foto gembala yang dipasang di atas mimbar — padahal itu adalah bentuk identitas gereja bahwa mereka berada di bawah naungan dan penggembalaan resmi. Ironisnya, semua kejahatan itu dibungkus dengan bahasa rohani. Mereka seolah-olah adalah korban, padahal merekalah dalangnya. Mereka menyusun narasi dan menyebarkannya ke sinode, seakan-akan gembala telah melanggar etika, padahal tidak ada satu pun pasal yang dilanggar. Tujuannya jelas: agar gembala yang sah dipecat dan mereka bisa lepas dari penggembalaan untuk kembali hidup semaunya, tanpa struktur dan tanpa pertanggungjawaban. Ini adalah kejahatan rohani yang kejam, licik, dan biadab — sebab mereka menghancurkan bukan hanya sistem, tapi nama baik dan pelayanan seseorang yang mereka sendiri minta untuk menggembalakan mereka. Manipulasi rohani seperti ini tidak bisa ditangani hanya dengan pendekatan gerejawi. Ketika unsur pidana telah dilakukan — seperti pemalsuan, fitnah, pencemaran nama baik, dan pelanggaran struktural — maka jalur hukum negara menjadi bagian dari keadilan Tuhan agar mereka bertanggung jawab dan tidak merusak tubuh Kristus lebih luas. Gereja tidak boleh menjadi sarang kompromi atas dosa yang dibungkus bahasa rohani. Jika tidak ada pertobatan sejati, maka tindakan tegas dan terang harus diambil — bukan karena kebencian, tetapi karena kasih kepada kebenaran dan perlindungan terhadap kawanan Tuhan yang polos.
Karena itu, gereja Tuhan harus tetap berjaga-jaga. Jangan mudah terbuai oleh air mata dan kata-kata manis yang dibalut ayat, sebab tidak semua yang berseru "Tuhan, Tuhan" hidup dalam kebenaran. Di akhir zaman ini, kita tidak bisa sekadar baik hati — kita harus tajam membedakan, tegas dalam kebenaran, dan berani bertindak demi menjaga kemurnian tubuh Kristus. Lebih baik kehilangan jumlah, daripada kehilangan hadirat. Lebih baik ditinggalkan manusia, daripada ditinggalkan Tuhan. Sebab Kristus akan kembali bukan untuk menjemput gereja yang besar dan populer, tapi gereja yang setia dan benar di hadapan-Nya—gereja yang tidak tunduk pada tekanan dunia, tetap murni, teguh dalam panggilan, dan berjalan dalam terang sampai akhir..
PENUTUP
Zaman ini penuh topeng rohani. Banyak yang terlihat saleh di luar, tapi kosong dan penuh tipu daya di dalam. Tidak semua gereja yang ramai adalah sehat secara rohani. Tidak semua pelayan yang bersuara lantang dan mengutip ayat-ayat Kitab Suci adalah utusan Tuhan. Kita hidup di masa akhir, di mana srigala berbulu domba bisa berdiri di mimbar dan mengajar, membawa racun dalam cawan emas yang tampak suci. Di mana kumpulan liar bisa memakai nama Yesus, membangun altar, bahkan mengutip ayat, tetapi hatinya menjauh dari kebenaran. Mereka meniru bentuk ibadah, namun menolak kuasanya; memakai simbol kekudusan, namun hatinya penuh agenda terselubung. Mereka tampak rohani di luar, tetapi membusuk di dalam—menggunakan Firman bukan untuk taat, melainkan untuk membenarkan pemberontakan dan memanipulasi umat.
Tulisan ini bukan ditujukan untuk menyerang siapa pun secara pribadi, melainkan untuk membangunkan hati nurani gereja Tuhan agar jangan tertidur dalam kompromi dan kelicikan yang dibungkus dengan bahasa rohani. Kita semua diajak untuk waspada. Waspada bukan hanya terhadap dunia luar, tapi juga terhadap tipu muslihat dari dalam, dari mereka yang menjadikan gereja sebagai sarana kepentingan pribadi dan agenda tersembunyi, yang rela mengorbankan kebenaran demi jabatan, pengaruh, atau loyalitas semu terhadap struktur yang telah tercemar. Jangan biarkan terang yang palsu menutupi kepekaan rohani kita. Gereja tidak dipanggil untuk mengikuti arus mayoritas, tetapi untuk setia pada suara Tuhan, sekalipun harus melawan arus. Lebih baik berjalan di jalan yang sepi namun benar, daripada larut dalam keramaian yang menyesatkan dan menukar kebenaran dengan penerimaan manusia.
Karena itu, marilah kita berakar dalam Firman. Bukan hanya sekadar tahu, tapi hidup di dalamnya. Jangan mudah terpesona oleh penampilan luar, suara merdu, atau kata-kata manis. Ukurlah segala sesuatu dengan kebenaran Firman Tuhan. Ukurlah buahnya, bukan hanya daunnya. Tuhan Yesus sedang menyucikan tubuh-Nya. Proses ini menyakitkan, tapi perlu. Pemisahan sedang terjadi—antara domba dan kambing, antara gandum dan lalang, antara yang sungguh-sungguh dengan yang pura-pura. Dalam proses ini, Tuhan tidak mencari jumlah, tapi kemurnian. Tidak mencari popularitas, tapi kesetiaan. Ia tidak terkesan dengan gedung megah atau sorotan manusia, tapi melihat kepada hati yang hancur dan yang gentar akan firman-Nya. Jangan jadi bagian dari kumpulan srigala. Jangan bersekutu dengan tipu daya. Jangan mendiamkan ketidakbenaran demi menjaga kenyamanan. Berdirilah teguh, sekalipun harus berjalan sendirian. Tetaplah jadi domba yang mengenal dan menaati suara Gembala Sejati—Yesus Kristus, yang adalah Kepala Gereja.
Ingatlah, perjalanan ini bukan soal disukai banyak orang, tapi disukai Tuhan. “Baiklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10). Inilah janji bagi mereka yang bertahan, yang tidak menjual kebenaran demi keuntungan sesaat. Bagi mereka yang menolak kompromi dan tetap berdiri di jalan yang sempit, jalan salib—di situlah hidup sejati ditemukan. Kiranya kita ditemukan setia saat Dia datang. Sebab pada akhirnya, hanya satu suara yang benar-benar kita rindukan: “Baik sekali, hai hambaku yang baik dan setia.
” Maka, mari tetap berjuang, tetap setia, dan tetap berdiri teguh
karena upahmu besar di surga”.
DAFTAR PUSTAKA
Alkitab Terjemahan Baru (LAI).
Catatan pelayanan pribadi dan pengalaman penggembalaan
Refleksi atas dinamika gereja kontemporer di lingkungan Gereja Gereja
============
Biografi Singkat Penulis– Pdt. Syaiful Hamzah Nahampun, M.Th
Gembala Sidang GBI Jl. Plumpang Semper No.22 (JPS22) – Jakarta Utara
Gembala Cabang GBI PRJ Sion – Pearaja Parlilitan, Sumatera Utara
=============
Lahir : 12 April 1974
Pendidikan : Magister Teologi (M.Th)
Sedang menempuh : Program Doktor (S3) di STT Gragion
Sinode : Gereja Bethel Indonesia (GBI)
Istri : Pdm. Tiolida Sihotang S.PdK
Anak : Malkhi K dan Josua Rajahot Eklesyaiful
Orang Tua Pdt. Syaiful Hamzah
Nama ayah : Alm. Haji Andi Thahir (Makkasar)
Nama Ibu : Alm. Hajjah Ramlah Sari Harahap
==============
Profil Pelayanan
· Dipanggil dari latar belakang agama Islam dan kehidupan yang penuh tantangan, Pdt. Syaiful Hamzah Nahampun merespons panggilan Tuhan dengan hati yang tulus dan tekad yang teguh. Ia melayani dengan komitmen terhadap kebenaran firman Tuhan, serta menjunjung ketaatan pada struktur dan doktrin Gereja Bethel Indonesia sebagai bentuk kesetiaan kepada otoritas rohani yang sah.
· Bersama istri, Pdm. Tiolida Sihotang S.PdK, beliau menggembalakan jemaat di berbagai wilayah, termasuk cabang-cabang luar Jakarta seperti Dayun (Riau) dan Pearaja Parlilitan (Sumatera Utara).
· Pernah menggembalakan sebuah jemaat di salah satu daerah di Riau secara sah di bawah GBI JPS No. 22, namun kemudian menghadapi pembangkangan jemaat yang keluar secara sepihak tanpa ketaatan rohani maupun struktural.
· Pelayanannya menekankan pemuridan sejati dalam karakter, pertobatan, dan tanggung jawab, serta menyoroti bahaya teologi spiritual bypass—kerohanian semu yang menghindari pemulihan dan keadilan.
· Saat ini, beliau juga menempuh studi doktoral (S3) dalam bidang Misi di STT Gragion, dan aktif mengajar sebagai dosen di beberapa sekolah tinggi teologi, membentuk pemimpin-pemimpin gereja yang sehat secara doktrin maupun karakter.
Catatan Penting: Tulisan ini disusun khusus untuk kalangan sendiri sebagai bahan ilustrasi rohani dan refleksi teologis. Jika terdapat kemiripan dengan peristiwa, tempat, atau individu tertentu, itu tidak disengaja dan bukan merupakan tuduhan pribadi, melainkan ajakan untuk perenungan bersama dalam terang Firman Tuhan. Dilarang menyalin, menyebarluaskan, atau memperbanyak isi tulisan ini tanpa izin tertulis dari penulis.
