KASIH BERACUN
PENDAHULUAN
Kasih adalah inti dari kekristenan. Seluruh hukum Taurat dan perkataan para nabi digantungkan pada perintah untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Matius 22:37-40). Yesus sendiri menyatakan bahwa kasih adalah tanda pengenal utama seorang murid Kristus (Yohanes 13:35). Dengan kata lain, tanpa kasih, kekristenan kehilangan rohnya. Namun dalam kenyataannya, tidak semua yang tampak seperti kasih berasal dari Allah. Banyak orang menyebut tindakannya sebagai "kasih", padahal itu hanya bentuk dari ego yang dibungkus rohani. Di balik perhatian yang manis bisa tersembunyi manipulasi. Di balik kata-kata pengorbanan bisa tersembunyi ambisi untuk mengontrol. Di balik sikap lembut bisa saja tersimpan niat jahat yang licik.
Kisah tragis Amnon dan Tamar dalam 2 Samuel 13:15–16 menjadi contoh paling gamblang. Amnon, yang awalnya mengaku sangat mencintai Tamar, justru memperkosanya. Dan ironisnya, setelah melakukan kejahatan itu, ia membenci Tamar dengan kebencian yang lebih besar daripada "cintanya" sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa “cinta” Amnon sejak awal bukanlah kasih sejati, melainkan nafsu yang dibungkus perasaan cinta. Inilah potret dari kasih yang beracun: ia tidak lahir dari roh Allah, melainkan dari kedagingan dan dosa.
Di zaman sekarang, fenomena serupa tetap terjadi—baik dalam hubungan pribadi, keluarga, pelayanan, bahkan gereja. Kasih palsu sering menyamar sebagai kasih rohani, menggunakan bahasa manis dan slogan religius, tetapi tidak membawa kebenaran. Kasih yang tidak murni ini bisa merusak jiwa, menghancurkan relasi, dan mencemarkan kesaksian Kristus. Karena itu, tulisan ini mengajak kita menyelidiki dengan jujur:
· Apa itu kasih sejati menurut Allah?
· Bagaimana mengenali bentuk-bentuk kasih yang palsu, beracun, dan menyesatkan?
· Bagaimana kita membentengi diri agar tidak hanya menjadi korban, tapi juga tidak menjadi pelaku dari kasih yang menyesatkan ini?
Dengan menggali firman Tuhan dan mengamati fenomena kasih dalam praktik kehidupan sehari-hari, kita tidak hanya diajak untuk membedakan antara kasih yang sejati dan yang palsu, tetapi juga diarahkan untuk mengalami pembaruan hati dalam mengasihi. Kasih sejati tidak lahir dari emosi sesaat, apalagi dari kepentingan pribadi atau agenda tersembunyi. Kasih yang sejati bersumber dari hati yang telah disentuh oleh salib Kristus—salib yang melambangkan pengorbanan tertinggi, kasih tanpa syarat, dan ketaatan penuh kepada kehendak Bapa. Salib Kristus menjadi standar ilahi bagi seluruh tindakan kasih orang percaya. Di sana kita belajar bahwa kasih bukanlah transaksi, bukan pula dominasi, melainkan pemberian diri yang tulus, bahkan saat tidak dibalas.
Ketika kita memahami betapa besar Allah mengasihi kita, bahkan saat kita masih berdosa (Roma 5:8), maka kasih kita kepada sesama tidak lagi didasarkan pada apakah mereka layak dikasihi, tetapi karena kita telah lebih dahulu dikasihi. Karena itu, kita perlu kembali menakar semua bentuk kasih yang kita tunjukkan—baik kepada keluarga, jemaat, maupun rekan pelayanan—dengan ukuran salib, bukan dengan ukuran dunia. Kasih yang murni dan menyelamatkan akan selalu melahirkan damai, keadilan, pengampunan, dan kebenaran. Sementara kasih yang berasal dari ambisi pribadi akan menghasilkan kepahitan, kontrol, manipulasi, dan luka batin yang dalam. Menggali firman dan menyelami kasih Kristus menuntun kita pada kasih dewasa—kasih tulus, tidak menuntut, tidak mencemari, dan tidak membungkus dosa atas nama “kasih.”
I. KASIH SEJATI MENURUT ALLAH
Kasih sejati adalah kasih yang murni, tidak egois, dan siap berkorban. Ini adalah kasih yang tidak mencari kepentingan sendiri, tidak tergantung pada perasaan sesaat, dan tidak berubah-ubah tergantung situasi. Kasih sejati berdiri di atas dasar yang teguh—yaitu kasih Allah sendiri yang dinyatakan melalui karya keselamatan di dalam Kristus. Dalam dunia yang sering menyamakan kasih dengan romantisme atau emosi semata, kasih sejati menjadi sesuatu yang langka namun sangat dibutuhkan. Lebih dari sekadar perasaan simpati atau perhatian sosial, kasih sejati adalah sebuah komitmen spiritual yang melibatkan kehendak, ketulusan hati, dan kesediaan untuk berkorban demi kebaikan orang lain. Ia bukan reaktif, melainkan proaktif. Ia tidak mencari balasan, tetapi tetap memberi, bahkan ketika disalahpahami atau ditolak. Kasih seperti ini hanya dapat dihasilkan oleh pribadi yang telah diperbarui oleh karya Roh Kudus—orang yang tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Tuhan dan sesama. Ia mengasihi bukan karena orang lain layak, tetapi karena ia telah mengalami kasih yang tak layak dari Allah. Ia memberi bukan karena cukup, tetapi karena percaya Tuhan adalah sumber yang mencukupkan. Ia tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk membalas, tetapi menjadikan kasih sebagai jalan untuk menyembuhkan.
Rasul Paulus memahami bahwa kasih bukan sekadar konsep abstrak, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku nyata. Oleh karena itu, dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, ia menuliskan karakteristik kasih sejati secara gamblang dan mendalam. Bagian ini tidak hanya relevan bagi konteks gereja saat itu yang dipenuhi konflik dan kebanggaan rohani, tetapi juga menjadi cermin bagi kita di masa kini. Berikut adalah ciri-ciri kasih sejati sebagaimana dijelaskan dalam 1 Korintus 13:4–7:
1.1. Tidak membalas dalam penderitaan. Tidak membalas dalam penderitaan adalah salah satu wujud paling kuat dari kasih sejati. Kasih yang lahir dari Allah tidak terburu-buru untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, tidak segera melawan ketika disakiti, dan tidak menuntut keadilan untuk diri sendiri secara reaktif. Sebaliknya, ia bersedia menanggung luka demi tetap memelihara damai, dan menahan diri untuk tidak membalas demi memuliakan Allah. Dalam dunia yang mengagungkan kecepatan balas dendam dan tuntutan hak pribadi, kasih yang sabar dan tidak membalas terasa asing. Namun justru di situlah kekuatan rohani kasih sejati—karena kasih ini bukan lahir dari kelemahan, melainkan dari keberanian untuk percaya bahwa Tuhan adalah pembela dan pembalas yang adil (Roma 12:19). Sikap tidak membalas dalam penderitaan tidak berarti pasif atau membiarkan ketidakadilan terus terjadi. Ini berbicara tentang sikap hati: memilih untuk tidak dikuasai oleh amarah, tidak membiarkan luka mengatur respons, dan tidak membalas dengan cara yang sama seperti perlakuan yang diterima. Ini adalah tindakan kasih yang radikal—yang hanya mungkin dilakukan oleh orang yang telah mengalami kelembutan dan pengampunan Kristus secara pribadi. Yesus sendiri adalah teladan tertinggi dalam hal ini. Ketika dihina, Ia tidak membalas dengan hinaan; ketika dipukul, Ia tidak mengancam; bahkan ketika disalibkan, Ia berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka...” (Lukas 23:34). Ini bukan kelemahan, tetapi kekuatan kasih yang melampaui logika manusia. Kasih yang tidak membalas tidak berarti lemah, tetapi justru mencerminkan kedewasaan rohani. Ia memilih untuk menjadi saluran damai, meskipun sedang dalam penderitaan. Ia percaya bahwa kasih yang tidak membalas adalah kesaksian paling kuat di tengah dunia yang haus akan pembalasan tetapi buta terhadap pengampunan. Kasih semacam ini menjadi terang yang menantang kegelapan kebencian dan ego.Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada balasan, melainkan pada keberanian untuk mengampuni, namun dalam realitas kehidupan, tidak semua orang yang kita ampuni akan menyadari atau mengakui kesalahannya. Bahkan, ada kalanya mereka justru memutarbalikkan kebenaran, menyerang balik, dan mencemarkan nama baik kita, seolah-olah kitalah yang bersalah. Dalam situasi seperti itu, kasih tidak boleh berubah menjadi kebencian—tetapi kasih juga tidak berarti diam terhadap ketidakadilan. Di sinilah pentingnya memahami bahwa kasih sejati tidak menghapus keadilan. Kasih dapat mengampuni secara pribadi, namun tetap memberi ruang bagi kebenaran ditegakkan secara adil. Dalam konteks seperti ini, penyelesaian hukum bukanlah bentuk kebencian atau balas dendam, melainkan tindakan yang bertanggung jawab secara moral dan spiritual—untuk menjaga integritas, melindungi yang benar, dan memulihkan ketertiban yang telah dirusak. Sebab Allah yang kita sembah adalah Allah kasih, tetapi juga Allah keadilan. Ketika kasih sejati berhadapan dengan kekerasan yang terus-menerus, fitnah yang merusak, dan pengingkaran atas kebenaran, maka membawa perkara ke jalur hukum bisa menjadi bagian dari tanggung jawab etis dan rohani—bukan untuk membalas, tetapi untuk menegakkan keadilan secara publik. Hal ini selaras dengan prinsip Alkitab bahwa "pemerintah adalah hamba Allah untuk membalas kejahatan" (Roma 13:4). Dengan demikian, kasih sejati tetap mengampuni secara pribadi, tetapi tidak membiarkan kejahatan berkuasa tanpa batas. Ia berdiri tegas di antara belas kasih dan keadilan, sambil bersandar penuh pada hikmat Allah dalam mengambil keputusan. Sebab kasih yang murni tidak membalas kejahatan, tetapi juga tidak tunduk pada kebusukan. Ia berdiri teguh di atas kebenaran, tanpa kehilangan kelembutan. Kasih seperti ini tidak diam dalam ketidakadilan, tetapi tetap bersinar tanpa membakar..
1.2. Tidak iri dan tidak meninggikan diri. Kasih sejati tidak iri dan tidak meninggikan diri. Artinya, kasih tidak merasa cemburu terhadap keberhasilan, kelebihan, atau berkat yang dimiliki orang lain, dan juga tidak menempatkan diri sebagai pusat dari segala hal. Iri hati adalah racun halus yang perlahan membunuh sukacita, sementara kesombongan adalah benteng kesendirian yang memisahkan manusia dari kasih sejati. Orang yang mengasihi dengan benar akan bersukacita atas keberhasilan sesamanya, bukan merasa terancam olehnya. Ia tidak merasa harus bersaing, apalagi menjatuhkan, karena kasih menolak logika “jika bukan aku, maka tidak boleh orang lain.” Sebaliknya, kasih sejati senang melihat orang lain tumbuh dan berhasil, bahkan lebih dari dirinya, karena kasih tidak mengukur nilai diri dari posisi atau pujian. Sikap tidak meninggikan diri artinya juga menolak untuk menyombongkan pencapaian pribadi, pelayanan, atau status rohani. Kasih tidak membutuhkan sorotan atau pengakuan. Ia tidak haus tepuk tangan. Justru, kasih lebih nyaman bekerja dalam keheningan dan kerendahan hati, karena ia tahu bahwa segala yang baik datang dari Tuhan dan bukan karena kehebatannya sendiri. Di dalam tubuh Kristus, setiap anggota memiliki peran yang unik dan penting. Ketika kita digerakkan oleh kasih, kita tidak akan saling membandingkan, tetapi saling mendukung. Tidak iri terhadap yang di atas kita, dan tidak meremehkan yang di bawah kita. Kasih yang tidak iri dan tidak meninggikan diri adalah kasih yang rendah hati, dewasa, dan tulus—kasih yang membebaskan, bukan membebani. Namun sayangnya, dalam kehidupan bergereja, kita tidak jarang melihat contoh yang bertentangan dengan kasih sejati. Ada sebuah keluarga dalam sebuah gereja yang memiliki ambisi kuat untuk diangkat menjadi majelis. Ketika keinginan itu tidak terpenuhi, keluarga ini mulai menyebarkan fitnah dan hasutan kepada jemaat agar membenci gembala sidang. Mereka merasa diri lebih mampu, lebih pandai dalam pelayanan, dan merasa layak karena telah rutin memberi perpuluhan kepada gereja. Ambisi yang tidak dikendalikan oleh kasih, ditambah rasa iri dan tinggi hati, akhirnya melahirkan sikap memberontak. Keluarga yang berambisi tidak hanya merusak keharmonisan dalam jemaat, tetapi juga memecah belah tubuh Kristus. Lalu keluarga ini membentuk Kelompok lain dari jemaat tersebut dan menarik sebagian jemaat untuk ikut keluar juga, lalu setelah udah cukup massa mereka membangun gereja tandingan—yang lebih besar dan lebih megah—bukan karena panggilan Tuhan, tetapi didorong oleh keinginan untuk melukai dan “memanas-manasi” hati gembala karena gembala tersebut tidak memenuhi ambisi keluarga ini untuk jadi majelis gereja. Tindakan seperti ini tidak lahir dari kasih, melainkan dari kesombongan rohani yang diselimuti kepahitan. Ketika pelayanan digunakan sebagai alat untuk memperjuangkan kepentingan pribadi, maka kasih telah berubah menjadi senjata. Padahal kasih sejati tidak membagi, tetapi menyatukan. Kasih sejati tidak membakar, tetapi membangun. Kasih yang iri dan meninggikan diri akan selalu haus kuasa dan pengakuan, tetapi kasih yang sejati akan senang melihat orang lain diangkat, dan tetap setia sekalipun tidak dikenal. Perpecahan dalam gereja bukan selalu bermula dari ajaran yang menyimpang, tetapi seringkali justru lahir dari hati yang tidak dijaga dalam kasih. Ketika ambisi pribadi, iri hati, dan kepahitan dibiarkan tumbuh di dalam pelayanan, maka kasih berubah arah—dan pada saat itulah pelayanan kehilangan rohnya. Gereja tidak lagi menjadi tempat pertumbuhan rohani, tetapi menjadi arena konflik dan pertikaian yang terselubung. Akibatnya, gereja yang lahir dari perpecahan seringkali membawa benih perpecahan itu ke dalam dirinya sendiri. Hukum tabur tuai bekerja: jika sebuah jemaat dibangun atas dasar pemberontakan, fitnah, dan kebencian, maka cepat atau lambat, roh perpecahan itu akan menuai hasilnya—baik dalam bentuk konflik baru, kepemimpinan yang retak, atau kejatuhan rohani. Gereja menjadi rentan terhadap pengaruh setan karena tidak lagi dipimpin oleh kasih Kristus, melainkan oleh roh perselisihan. Gereja yang tidak dibangun di atas dasar kasih akan mudah dipecah-pecah oleh si jahat. Sebab di mana kasih tidak berakar, di situlah Iblis akan menabur kecurigaan, kesombongan, dan keinginan untuk menguasai. Karena itu, kita perlu terus mengoreksi motivasi hati agar Kristus tetap menjadi pusat, bukan ambisi. Tanpa kasih dan ketaatan, sehebat apa pun pelayanan, semuanya akan rapuh dan runtuh. Fakta ini nyata dalam beberapa gereja yang lahir dari pemberontakan, di mana akar yang tidak sehat menghasilkan buah yang merusak, Di sebuah gereja di desa yang pernah saya temui, tampak jelas bagaimana gereja yang lahir dari pemberontakan justru menjadi ladang bagi roh pemberontakan yang menjalar semakin luas. Dampaknya tidak hanya pada para pemimpinnya, tetapi juga menjangkiti generasi muda—anak-anak yang tidak lagi menunjukkan sikap hormat terhadap pemimpin rohani, dan tidak memiliki kerendahan hati dalam melayani. Lebih menyedihkan lagi, ketika ada gereja lain yang dengan tulus membuka hati untuk membina dan menolong mereka—atas dasar permintaan mereka sendiri—roh yang sama tetap bekerja. Tanda-tanda itu mulai terlihat dari sikap anak dari gembala yang tidak sah secara structural (gadungan), serta para pemuda lainnya, yang menunjukkan pola pikir dan perilaku yang tidak tunduk pada otoritas dan kebenaran. Semangat pembangkangan ini bukan hanya soal konflik antar individu, tetapi mencerminkan roh pemberontakan yang menular dan menolak disiplin ilahi. Ironisnya, banyak yang mengira diberkati karena jumlah dan aktivitas, padahal mengalami kerusakan rohani yang tersamar oleh pelayanan. Mereka merasa diberkati, padahal sedang dalam pemberontakan.
1.3. Tidak mencari keuntungan pribadi. Kasih sejati tidak mencari keuntungan pribadi. Artinya, kasih tidak melayani untuk mendapatkan sesuatu sebagai imbalan, baik itu kekuasaan, pujian, pengaruh, kedekatan dengan pemimpin, ataupun keuntungan materi. Kasih yang murni selalu melayani dengan ketulusan, tanpa motif tersembunyi dan tanpa memanfaatkan orang lain atau situasi demi kepentingan diri sendiri. Dalam dunia yang semakin egois dan transaksional, mudah sekali bagi pelayanan di gereja sekalipun disusupi oleh mentalitas dagang: "Saya memberi agar saya mendapat", "Saya melayani supaya dihormati", "Saya aktif supaya punya posisi." Kasih yang seperti ini bukan kasih agape dari Allah, melainkan kasih manipulatif yang menjadikan pelayanan sebagai alat untuk mengejar agenda pribadi. Orang yang mencari keuntungan pribadi dalam pelayanan biasanya terlihat dari pola pikirnya: Ia lebih peduli pada apa yang bisa didapat daripada apa yang bisa diberikan. Orang yang tidak mengasihi dengan tulus sering kali lebih peduli pada apa yang bisa didapat, daripada apa yang bisa diberikan. Pelayanan atau keterlibatan dalam gereja tidak lagi dilihat sebagai bentuk pengabdian, melainkan sebagai alat untuk memperoleh posisi, pengaruh, atau pengakuan. Ia masuk dalam pelayanan dengan ekspektasi tersembunyi: ingin dihargai, ingin diangkat, atau ingin dikenal. Setiap tindakan baiknya menjadi sarana untuk mendapat keuntungan pribadi, bukan untuk memuliakan Tuhan atau melayani sesama. Sikap seperti ini menjadikan kasih sebagai transaksi. Jika dihargai, ia semangat. Jika tidak diperhatikan, ia mundur atau bahkan tersinggung. Jika orang lain lebih dipercaya, ia merasa tersaingi. Padahal, kasih sejati tidak menuntut balasan atau mengukur nilai dari “apa yang saya peroleh”, tetapi justru berpusat pada “apa yang bisa saya berikan”. Yesus mengajarkan bahwa memberi lebih berbahagia daripada menerima. Dalam kasih Kristus, inti dari pelayanan bukanlah soal posisi atau keuntungan, tetapi kerelaan hati untuk memberi, sekalipun tidak dikenal atau dihargai. Kasih seperti ini tidak datang dari keinginan manusiawi, tetapi dari hati yang telah diubahkan oleh salib. Sebab kasih sejati tidak menghitung untung-rugi, dan tidak memperalat pelayanan untuk kepentingan diri sendiri. Saya sendiri pernah menjumpai seorang tokoh, sebut saja si Baluhab, yang memiliki pemahaman keliru tentang pemberian. Ia menganggap bahwa dengan memberikan perpuluhan dan sumbangan untuk gereja, maka ia telah “membayar” jabatan pendeta—baik untuk dirinya maupun istrinya. Ia tidak memberi karena kasih kepada Tuhan, tetapi karena berharap mendapat posisi dan pengaruh dalam struktur gereja. Lebih tragis lagi, ketika tanah dan bangunan yang sebelumnya telah diserahkan secara tertulis—oleh Si Baluhab dan kelompoknya—untuk dijadikan gereja di bawah penggembalaan seseorang, mereka kemudian berubah haluan. Perlu dipahami, bahwa ketika seseorang atau sekelompok orang menyerahkan diri untuk digembalakan secara rohani, maka aset seperti tanah dan bangunan yang mereka serahkan secara tertulis sebagai tempat ibadah juga menjadi bagian dari penyerahan itu. Artinya, penyerahan tersebut bukan hanya bersifat simbolik atau administratif, melainkan juga merupakan bentuk pengakuan bahwa pelayanan, kepemimpinan, dan pengelolaan tempat ibadah tersebut berada dalam tanggung jawab gembala yang ditunjuk dan dipercayai. Namun ketika ambisi pribadi tidak terpenuhi—khususnya karena si Baluhab dan istrinya tidak diangkat menjadi pendeta seperti yang mereka harapkan—mereka mulai memberontak. Gacor dan kelompoknya menyingkirkan pemimpin rohani yang dulu mereka minta untuk menggembalakan mereka, dan mengambil alih kembali tanah dan bangunan yang sebelumnya telah mereka serahkan. Tindakan ini menunjukkan bahwa penyerahan mereka sejak awal bukan lahir dari kasih dan ketaatan, tetapi dari kalkulasi kepentingan pribadi. Dengan kata lain, kasih mereka terbukti tidak murni—karena hanya berlaku selama keinginan mereka terpenuhi. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, yang muncul bukan kesetiaan, tetapi pengkhianatan. Mereka memperlakukan gereja bukan sebagai tubuh Kristus, melainkan sebagai aset milik sendiri yang bisa dikendalikan sesuai ambisi mereka. Setelah ia dan istrinya tidak diangkat menjadi pendeta seperti yang mereka harapkan, si Baluhab dan kelompok pembangkangnya menyingkirkan gembala yang sah, dan merebut kembali aset yang sebelumnya telah mereka serahkan secara legal dan rohani. Padahal, pembangunan gereja tersebut berlangsung justru selama masa penggembalaan dari gereja yang mereka sendiri minta untuk menggembalakan mereka. Kasih yang awalnya tampak sebagai pengorbanan ternyata menyimpan ambisi tersembunyi. Inilah bukti bahwa kasih yang lahir bukan dari salib, melainkan dari ego, akan berubah arah ketika keinginan pribadi tidak terpenuhi. Apa yang awalnya tampak sebagai “pemberian” ternyata hanya alat untuk mendapatkan kontrol. Kasih semacam itu bukanlah kasih ilahi, melainkan kasih manipulatif—kasih yang hanya memberi selama bisa mengatur. Berbeda dengan kasih sejati. Kasih sejati memberi bukan untuk menerima, dan berkorban bukan untuk dikembalikan. asih sejati tidak mengikat pemberiannya dengan syarat atau posisi. Ia memberi karena ia sadar, Tuhan telah lebih dulu memberi segalanya—bahkan nyawa-Nya—tanpa menuntut kita terlebih dahulu layak. Ia tidak berkata, “Aku memberi supaya aku diangkat,” tetapi, “Aku memberi karena Tuhan sudah lebih dulu mengangkat aku dari debu.” Kasih seperti ini tidak menuntut imbalan, tidak kecewa saat tak diperhatikan, dan tidak berubah karena tidak diakui. Ia mengalir dari hati yang mengenal anugerah, bukan dari ambisi yang haus pengakuan. Kasih sejati memberi, bukan untuk tempat, tapi untuk memuliakan Tuhan.
1.4. Tidak mudah marah dan tidak menyimpan luka. Kasih sejati tidak mudah marah, dan tidak menyimpan luka sebagai senjata tersembunyi. Ini bukan berarti kasih tidak pernah merasa terluka, tetapi kasih tidak membiarkan luka itu berubah menjadi kepahitan yang mengendalikan sikap dan keputusan. Orang yang mengasihi dengan tulus tidak cepat naik darah, tidak tersinggung berlebihan, dan tidak menyimpan kemarahan untuk digunakan sebagai alat balas dendam di kemudian hari. Dalam kasih, ada kerendahan hati untuk mengakui bahwa setiap orang bisa berbuat salah—dan karenanya ada ruang untuk pengampunan. Menyimpan kemarahan dalam hati sama seperti menyimpan api dalam dada—pada akhirnya akan membakar jiwa kita sendiri. Kasih sejati memilih jalan yang lebih sulit namun lebih mulia: mengampuni, meski berhak marah; menghapus luka, meski berhak menyimpan memori itu. Orang yang menyimpan luka biasanya akan membungkusnya dengan sikap dingin, diam, atau bahkan senyum palsu—tetapi dalam hatinya, luka itu terus tumbuh menjadi akar pahit. Kasih sejati justru bekerja sebaliknya: ia memproses luka, membawa ke hadapan Tuhan, dan membiarkan anugerah-Nya menyembuhkan. Kasih sejati tidak menumpuk dendam, karena ia tahu bahwa pengampunan adalah jalan menuju pemulihan, bukan kelemahan. Namun penting disadari bahwa pengampunan tidak selalu berarti mengabaikan keadilan. Dalam banyak kasus, terutama yang menyangkut pelanggaran serius dalam tubuh Kristus, pengampunan berjalan seiring dengan penegakan kebenaran melalui proses yang tertib—baik secara hukum gerejawi maupun hukum negara. Pengampunan sejati bukan tindakan radikal tanpa pertimbangan, tetapi lahir dari hati yang mengampuni sambil tetap menghormati tatanan dan struktur keadilan. Tata Gereja menyediakan jalur disiplin dan koreksi yang harus ditaati demi menjaga kekudusan jemaat, sementara hukum negara menjadi alat untuk menegakkan keadilan publik jika pelanggaran menyentuh ranah pidana atau hak sipil. Dengan demikian, kasih tidak berarti membiarkan pelanggaran terus berlangsung, dan pengampunan tidak meniadakan tanggung jawab. Justru kasih sejati mendorong kita untuk menempuh jalur pemulihan yang benar, tidak dengan dendam, tetapi dengan keberanian untuk membela kebenaran. Lebih dari itu, tindakan hukum yang diambil dengan hati yang tulus dan motivasi yang benar adalah wujud kasih untuk menyadarkan pihak yang bersalah, agar mereka bertobat dan kembali kepada kebenaran. Sebab pembiaran terhadap dosa bukanlah kasih, melainkan kompromi yang dapat membinasakan. Justru dengan menegur secara terbuka dan menempuh jalur koreksi, gereja menunjukkan kepeduliannya atas jiwa mereka, sambil tetap melindungi jemaat lain dari pengaruh yang merusak. Apalagi jika tindakan pembangkangan tersebut dilakukan oleh orang-orang yang memiliki posisi dalam struktur organisasi gereja—yang justru seharusnya menjaga kekudusan dan keutuhan tubuh Kristus. Ketika mereka tergoda oleh uang, kekuasaan, dan aset, lalu terlibat dalam persekongkolan untuk melakukan makar terhadap gembala yang sah, bahkan memalsukan surat atau dokumen gerejawi, maka ini bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan sudah masuk dalam ranah pidana. Dalam situasi seperti ini, kasih yang sejati tidak tinggal diam. Kasih bertindak melalui jalur hukum bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menyadarkan—karena teguran kasih melalui proses hukum dapat menjadi sarana pertobatan dan pemulihan. Hukum negara adalah alat Tuhan untuk menegakkan keadilan publik (Roma 13:4), dan ketika gereja memanfaatkannya dengan benar, itu bukan pelanggaran kasih, melainkan penerapan kasih yang dewasa dan bertanggung jawab. Siapa pun kita—entah pengurus gereja, pejabat struktural, majelis, atau jemaat biasa—tidak ada yang kebal hukum. Kita semua harus bertanggung jawab di hadapan hukum Tuhan, hukum gereja, dan hukum negara. Kasih tidak melindungi kejahatan; kasih justru menuntun kepada pertobatan dengan keadilan. Dalam negara hukum, pelanggaran terhadap kebenaran—termasuk fitnah, pencemaran nama baik, dan penyerobotan aset gereja—bukan hal kecil, tetapi pelanggaran serius yang harus ditindak. Sebab kasih sejati tidak menutup mata terhadap kejahatan, tetapi menuntun pelakunya kepada pertanggungjawaban dan pemulihan sejati. Kasih yang dewasa tidak membiarkan dosa berkembang di balik alasan pengampunan, karena pengampunan sejati selalu berjalan seiring dengan pertobatan dan tanggung jawab. Gereja bukanlah tempat berlindung bagi oknum yang menyalahgunakan kepercayaan umat demi ambisi pribadi. Jika pelanggaran dibiarkan, maka gereja bukan hanya kehilangan wibawa moralnya, tetapi juga menjadi ladang subur bagi roh pemberontakan dan kehancuran rohani. Oleh sebab itu, penindakan melalui jalur hukum—baik gerejawi maupun negara—adalah bagian dari kasih yang bertanggung jawab: kasih yang melindungi jemaat, mengoreksi penyimpangan, dan menjaga kemurnian gereja. Kasih sejati tidak hanya menghibur yang terluka, tetapi juga berani menegur yang salah demi pemulihan. Tanpa sikap tegas terhadap pelanggaran, gereja justru membuka jalan bagi kehancuran. Kompromi atas nama damai sering kali menutupi dosa yang makin merusak. Gereja bukan hanya tempat ibadah, tetapi tubuh Kristus yang harus dijaga kekudusannya. Karena itu, kasih yang benar berani bertindak—bukan untuk menghukum, tetapi untuk memulihkan dan menjaga kesaksian Kristus di tengah dunia. ebagai contoh, ia tidak mengabaikan kesalahan, melainkan menegur dengan kasih dan integritas, membimbing orang mencapai pengertian spiritual, sehingga hati mereka tersentuh oleh kebenaran ilahi.
1.5. Tidak berpihak pada dosa. Tidak berpihak pada dosa berarti bahwa kasih sejati selalu berdiri di sisi kebenaran, walaupun kebenaran itu sulit diterima, tidak populer, atau menimbulkan risiko secara relasional maupun sosial. Kasih seperti ini tidak menutup mata terhadap kesalahan, dan tidak memilih diam demi menjaga suasana ‘damai’ yang semu. Ia sadar bahwa damai yang dibangun di atas kompromi terhadap dosa adalah ilusi—yang pada waktunya akan membawa kehancuran. Kasih sejati berani berkata benar dalam kasih, meskipun harus menghadapi penolakan atau bahkan dimusuhi. Sebab kasih yang benar tidak mencari kenyamanan atau penerimaan, tetapi mencari pertobatan dan pemulihan. Tujuannya bukan menyakiti, tetapi menyelamatkan; bukan mempermalukan, tetapi mengarahkan kembali kepada jalan Tuhan. Banyak orang salah kaprah dan mengira bahwa kasih adalah kelembutan tanpa batas—selalu memaafkan tanpa konfrontasi, dan selalu membiarkan segala sesuatu demi menjaga hubungan. Tetapi kasih menurut Alkitab tidak seperti itu. Dalam 1 Korintus 13:6 tertulis bahwa kasih "tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran"—artinya, kasih akan berduka ketika kebenaran dilanggar, dan bersukacita ketika keadilan ditegakkan. Kasih yang sejati tidak akan bersekongkol dengan dosa, bahkan jika dosa itu dilakukan oleh orang yang kita sayangi, pemimpin yang kita hormati, atau kelompok yang kita dukung. Kasih lebih memilih menghadapi rasa sakit karena menyatakan kebenaran, daripada menikmati kedamaian palsu dalam kebungkaman. Ia tetap lembut dalam sikap, tetapi tegas dalam prinsip. Ia bersabar terhadap orang, tetapi tidak pasif terhadap kejahatan. Dengan kata lain, kasih sejati adalah kasih yang berani berdiri di garis depan, menyuarakan kebenaran meskipun harus sendirian, karena kasih seperti ini mencintai jiwa manusia lebih dari reputasi, status, atau rasa nyaman pribadi.
Namun, kasih semacam ini tidak dapat dihasilkan oleh kekuatan manusia semata. Ini bukan buah dari karakter bawaan, pendidikan tinggi, atau pembiasaan sosial, melainkan lahir dari perjumpaan pribadi dengan kasih Allah di salib Kristus. Di sana, kita melihat wujud kasih yang paling murni dan agung—Allah rela menyerahkan Anak-Nya, bukan karena kita pantas dikasihi, tetapi justru ketika kita masih berdosa (Roma 5:8). Itulah kasih yang tidak menunggu balasan, kasih yang memberi diri sepenuhnya meski ditolak dan disalibkan. Tanpa pengenalan yang mendalam akan kasih ini—tanpa mengalami kasih yang mengampuni, menebus, dan memulihkan—maka kasih yang kita tampilkan hanya akan menjadi topeng: kadang berupa perhatian, kadang berupa keramahan, tetapi di baliknya tersembunyi ambisi, manipulasi, atau kehausan akan pujian.
Kasih sejati hanya mungkin muncul dari hati yang telah diubahkan oleh salib, hati yang setiap hari belajar hidup seperti Kristus—mengasihi bukan karena orang layak dikasihi, tetapi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Inilah kasih menurut Allah: kasih yang memberi tanpa pamrih, mengampuni tanpa syarat, dan tetap berdiri dalam kebenaran, meski harus terluka karenanya. Kasih seperti ini bukanlah hasil upaya manusia yang ingin terlihat baik, tetapi pancaran dari hubungan yang hidup dengan Sang Sumber Kasih itu sendiri. Ia tidak lahir dari ambisi, tidak menyimpan agenda tersembunyi, dan tidak berubah karena perlakuan orang lain. Bahkan ketika kasih ini ditolak, dikhianati, atau disalahpahami, ia tetap berjalan dalam terang, karena tahu bahwa kasih yang sejati bukan tentang balasan, tetapi tentang ketaatan. Dan kasih inilah yang sedang dicari dunia—bukan kasih yang bising di mulut, tetapi kasih yang nyata dalam pengorbanan dan kebenaran. Sebab kasih seperti ini tidak hanya menyentuh perasaan, tetapi mengubahkan kehidupan. Ia menembus luka, membebaskan dari dosa, dan menuntun pada pertobatan. Kasih ini bukan sekadar ajaran, tapi kuasa Allah yang memulihkan dan mengarahkan kepada kebenaran.
II. DUA ARUS KASIH DALAM DUNIA — AGAPE VS DEMONIC LOVE
Kasih adalah kekuatan yang besar. Ia mampu membangun, menyembuhkan, dan menyatukan. Namun dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, kasih tidak selalu hadir dalam bentuk yang murni. Ada kasih sejati yang datang dari Allah, namun juga ada kasih palsu yang berasal dari si jahat. Tidak semua yang disebut kasih membawa kehidupan. Sebab iblis pun bisa menyamar sebagai malaikat terang (2 Korintus 11:14), begitu juga kasih palsu bisa menyamar sebagai kasih rohani. Ia dapat hadir dengan wajah religius, penuh perhatian, bahkan dibungkus dengan ayat-ayat Alkitab—padahal sesungguhnya memiliki motif tersembunyi. Kasih semacam ini tidak membawa kehidupan, melainkan kebingungan, kepahitan, dan perpecahan. Di sinilah pentingnya umat Tuhan memiliki kepekaan rohani dan kedewasaan iman untuk membedakan roh di balik setiap tindakan kasih. Tidak semua yang tampak lembut adalah kasih sejati, dan tidak semua kedermawanan lahir dari hati yang murni. Iblis pun bisa menyamar sebagai malaikat terang (2 Korintus 11:14). Karena itu, kita dipanggil untuk menilai setiap kasih bukan dari tampilan luar, tetapi dalam terang firman dan kepekaan roh—agar kita tidak tertipu oleh kasih yang manis di luar, tapi racun di dalam.
Kasih sejati akan selalu membawa kita lebih dekat kepada Allah, menumbuhkan kesucian, dan membangun tubuh Kristus. Sebaliknya, kasih yang palsu akan mengaburkan kebenaran, memanipulasi perasaan, menutupi dosa dengan bahasa rohani, merusak relasi, dan pada akhirnya menjauhkan orang dari kehendak Allah serta mengacaukan arah pertumbuhan iman yang sehat dan alkitabiah. Karena itu, dengan penuh kewaspadaan dan penyerahan kepada Roh Kudus, kita perlu mengenali dua arus kasih yang bekerja dalam dunia ini—agar kita tidak tertipu oleh rupa kasih, tetapi hidup dalam kasih sejati, yang murni, memulihkan, dan memuliakan Kristus dalam segalanya. Dua arus itu adalah sebagai berikut:
2.1 Agape Love: Agape love adalah bentuk kasih tertinggi yang berasal dari Allah sendiri—kasih yang menjadi pusat dari seluruh ajaran Injil. Kasih ini tidak bersyarat, artinya diberikan bukan karena objek kasih itu layak, melainkan karena Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Kasih ini juga tidak mengharapkan balasan, karena sumbernya bukan dari kebutuhan emosional manusia, tetapi dari kelimpahan kasih Allah yang tak terbatas. Kasih agape memberi diri sepenuhnya, bahkan saat tidak dihargai atau dibalas. Inilah kasih yang ditunjukkan Yesus Kristus di kayu salib—mengampuni mereka yang menyalibkan-Nya, dan menyerahkan nyawa-Nya bagi orang berdosa, bukan bagi orang benar (Roma 5:8). Kasih ini memuliakan Tuhan, karena tujuannya bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk menyatakan karakter Allah kepada dunia: kasih yang kudus, menyelamatkan, dan menebus. Berbeda dengan kasih dunia yang bersifat transaksional dan berdasarkan perasaan, agape love bersumber dari keputusan, ketaatan, dan komitmen kepada kehendak Allah. Kasih ini tidak berubah karena situasi, tidak luntur oleh penolakan, dan tidak pudar oleh luka. Agape mampu mengampuni musuh, melayani orang yang menyakiti, dan tetap setia sekalipun dikhianati. Kasih agape juga menghasilkan buah yang kekal. Ketika kasih ini menguasai hati seseorang, ia tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Tuhan dan sesama. Pelayanan menjadi murni, relasi menjadi sehat, dan gereja menjadi kuat—karena fondasinya adalah kasih Allah, bukan ambisi atau kepentingan manusia. Ketika kasih agape menjadi dasar dalam pelayanan, tidak ada ruang bagi persaingan tidak sehat, pencitraan diri, atau manipulasi rohani. Yang ada hanyalah kerinduan untuk menyenangkan hati Tuhan dan melayani sesama tanpa pamrih. Hubungan antar jemaat pun menjadi lebih tulus, saling membangun dan bukan saling menjatuhkan, karena masing-masing dipenuhi oleh kasih yang tidak mencari keuntungan diri sendiri. Gereja yang berdiri di atas kasih agape adalah gereja yang kuat menghadapi badai. Bukan karena gedungnya megah atau programnya lengkap, tetapi karena kasih yang bekerja di dalamnya mampu menyatukan hati, memulihkan yang terluka, dan menopang yang lemah. Di gereja seperti inilah dunia bisa melihat kesaksian nyata tentang kasih Kristus yang hidup. Agape love adalah kasih yang menghidupkan, mengangkat, dan menyembuhkan. Ia mampu membebaskan dari luka masa lalu, memulihkan hubungan yang retak, dan menyalakan kembali harapan yang nyaris padam. Kasih ini tidak sekadar menyentuh emosi, tetapi mengubahkan seluruh cara pandang dan hidup seseorang—karena ia berasal dari Allah yang hidup. Dan hanya dengan mengalami kasih ini secara pribadi—dalam perenungan akan salib, dalam pengampunan yang kita terima, dan dalam keintiman dengan Roh Kudus—seseorang dapat menjadi saluran kasih sejati bagi dunia yang terluka. Bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan kasih yang mengalir dari hati Allah ke hati kita, lalu mengalir keluar bagi sesama. Di tengah dunia yang penuh kasih palsu dan kepalsuan kasih, hanya agape yang bisa membawa terang. Maka kita dipanggil bukan hanya untuk mengenal kasih ini, tetapi hidup di dalamnya—menjadi saksi kasih Kristus yang nyata, dalam setiap kata, sikap, dan pelayanan kita. Kasih agape bukan sekadar konsep, tetapi gaya hidup yang mencerminkan hati Allah. Ia menuntut ketulusan, mengajarkan kesabaran, dan membentuk kerendahan hati dalam setiap langkah. Kasih ini tidak lahir dari emosi, melainkan dari perjumpaan pribadi dengan kasih Kristus. Hanya melalui kasih ini, dunia dapat melihat perbedaan sejati antara terang dan gelap, antara kasih ilahi dan kasih palsu. Kasih agape memulihkan yang hancur, membebaskan yang terbelenggu, meneguhkan yang lemah, dan menuntun jiwa kepada kehidupan kekal.
2.2 Demonic Love: Demonic love adalah bentuk kasih palsu yang tidak berasal dari Allah, tetapi dari sumber yang licik: ambisi pribadi, kedagingan yang belum disalibkan, dan tipu daya iblis. Kasih ini tampak indah di permukaan, meniru bentuk luar dari kasih sejati—penuh perhatian, terkesan rohani, bahkan sering kali dikaitkan dengan pelayanan atau pengorbanan. Namun di balik itu, tersembunyi racun: motivasi tersembunyi, manipulasi, haus pengakuan, atau keinginan menguasai. Kasih ini bukan memberi karena ingin memuliakan Tuhan, tetapi karena ingin mengendalikan orang lain atau membeli posisi tertentu. Ia mencintai bukan untuk membangun, tetapi untuk mengambil alih, atau sekadar mempertahankan citra dan kekuasaan. Demonic love sangat halus dan licik—ia bisa beroperasi bahkan di dalam pelayanan gereja, melalui orang-orang yang tampaknya aktif, murah hati, atau tampak rohani, padahal hatinya telah tersesat dari kasih yang murni. Contohnya, seseorang bisa memberi persembahan besar ke gereja bukan karena kasih kepada Tuhan, tetapi agar mendapatkan jabatan atau pengaruh. Atau tampak peduli pada sesama, namun sebenarnya ingin menjerat orang lain dalam utangnya, atau mengikat orang dalam loyalitas pribadi yang membutakan. Demonic love tidak membawa orang kepada pertobatan atau kekudusan, tetapi justru menjauhkan dari salib dan mengikat pada manusia. Ia tidak mengarahkan orang kepada Kristus, tetapi kepada kehendak diri atau figur tertentu yang memanipulasi kasih untuk kepentingannya sendiri. Kasih semacam ini juga sering membungkus dosa dengan dalih “kasih.” Ia membiarkan pelanggaran terjadi, tidak berani menegur, dan mengorbankan kebenaran demi kenyamanan atau relasi yang basah oleh kompromi. Dalam jangka panjang, kasih palsu ini menghancurkan tubuh Kristus dari dalam: menciptakan kubu, menyulut iri hati, dan membentuk gereja-gereja tandingan yang lahir dari pemberontakan, bukan dari penugasan ilahi. Demonic love bukan hanya berbahaya, tetapi juga menyesatkan—karena ia menyamar sebagai kasih sejati. Sebab itu, kita perlu kembali pada salib Kristus dan firman Tuhan sebagai filter utama dalam menilai segala bentuk kasih. Dalam salah satu kisah nyata yang mencerminkan kasih palsu yang menyamar sebagai kebaikan, tampak jelas bagaimana roh ambisi dapat merusak pelayanan yang semula murni. Sepasang suami-istri—sebut saja keluarga Baluhab—bersama anak-anak mereka, mulai membentuk citra rohani dengan memposisikan diri sebagai "keluarga gembala." Mereka ingin dipanggil dengan sebutan “Ibu Gembala” dan “Bapak Gembala”, meskipun tidak memiliki pengutusan maupun penetapan yang sah dari struktur gereja. Dengan topeng kebaikan, mereka mulai meracuni hati jemaat terhadap gembala yang sah. Mereka tampak lebih perhatian, lebih aktif, dan bahkan melimpahkan bantuan finansial kepada jemaat, sehingga menumbuhkan loyalitas emosional yang tidak sehat. Segala kebaikan mereka menjadi alat untuk menjerat hati jemaat agar berpaling dari penggembalaan yang benar, dan perlahan-lahan membentuk pengaruh pribadi. Fitnah mulai disebarkan, seolah-olah gembala yang sah tidak peduli, kurang rohani, atau tidak layak memimpin. Dan karena banyak jemaat merasa “berutang budi”, mereka pun mulai berpihak kepada pasangan ini tanpa menyadari bahwa mereka sedang diarahkan menuju pemberontakan. Setelah berhasil menarik sejumlah jemaat keluar dari gereja induk, mereka mulai memakai bahasa rohani, seolah-olah ucapan mereka dipenuhi firman Tuhan. Padahal mulut itu digunakan bukan untuk memberkati, melainkan untuk menyesatkan. Dengan strategi yang penuh manipulasi terselubung, pasangan ini mewakafkan sebidang tanah dan mendirikan sebuah bangunan ibadah. Sekilas tampak seperti tindakan mulia, penuh kerelaan dan pengorbanan. Namun sesungguhnya, bukan untuk bersatu dalam penggembalaan yang sah atau melayani bersama dalam ketaatan kepada Tuhan dan struktur gereja, melainkan untuk mendirikan gereja tandingan—alat ambisi pribadi yang disamarkan dalam balutan kesalehan palsu. Inilah contoh nyata dari kasih palsu: kasih yang dikemas secara rohani, tetapi digerakkan oleh kedagingan, dikendalikan oleh ambisi, dan dirancang untuk membangun nama sendiri, bukan nama Tuhan. Ini adalah bentuk cinta yang menyimpang—kasih yang berbicara tentang pengorbanan, tetapi pada dasarnya bertujuan untuk menguasai dan menggeser otoritas ilahi. Lebih mengerikan lagi, jenis kasih seperti ini mampu membutakan jemaat. Karena tampilannya begitu manis, menggunakan bahasa rohani, dan dibalut dengan kebaikan lahiriah, banyak orang tidak sadar bahwa mereka sedang dijerat oleh kasih yang menyesatkan. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Iblis pun bisa menyamar sebagai malaikat terang (2 Korintus 11:14)—begitu pula kasih palsu bisa menyamar sebagai kasih Kristus, padahal isinya racun yang mematikan iman. Dalam dunia yang kian kabur batas antara yang benar dan yang salah, umat Tuhan harus semakin peka secara rohani. Kita dipanggil untuk menguji setiap motivasi kasih: apakah itu memuliakan Tuhan, atau memuliakan diri? Apakah itu mengikat kepada kebenaran, atau justru menyesatkan demi kenyamanan dan loyalitas buta?. Kasih yang sejati hanya datang dari Allah. Ia menguatkan, menghidupkan, dan mengarahkan jiwa kepada pertobatan serta kesetiaan. Sementara kasih palsu tampak peduli, ujungnya adalah kehancuran, perpecahan, dan pemberontakan terhadap Allah. Ujilah kasih dengan firman, salib, dan buahnya. Kasih sejati memuliakan Tuhan, murni, dan kekal; kasih palsu pasti runtuh bersama niat tersembunyinya.
Dalam zaman di mana segala sesuatu menjadi serba abu-abu—di mana kepalsuan sering dikemas dengan kemasan rohani, dan ambisi pribadi dibungkus dengan istilah pelayanan—umat Tuhan dipanggil untuk memiliki kepekaan rohani yang tajam. Dunia ini tidak kekurangan bentuk kasih, tetapi banyak di antaranya bukan berasal dari Allah. Justru karena itulah, dibutuhkan kedewasaan iman untuk membedakan antara kasih yang murni dan kasih yang menyesatkan.
Kasih sejati—Agape Love—adalah kasih yang berasal dari hati Allah sendiri: kasih yang menuntun, menyucikan, dan memulihkan. Ia tidak mencari keuntungan pribadi, tidak mengejar pujian, dan tidak menari di atas kepalsuan. Kasih ini sanggup menembus kepalsuan yang tersamar rapi, dan tetap berdiri teguh dalam kebenaran meskipun harus terluka.
Sebaliknya, kasih yang palsu—Demonic Love—adalah kasih yang menyamar. Ia tampak ramah, tampak peduli, bahkan tampak mengorbankan diri, padahal di balik semua itu tersembunyi ambisi, kebencian, dan tipu daya. Kasih semacam ini bisa menyusup ke dalam gereja, memecah relasi, merusak pelayanan, dan mencuri kemuliaan Allah demi nama pribadi. Oleh sebab itu, kita tidak cukup hanya mengagumi kasih sejati—kita harus hidup di dalamnya. Kita dipanggil untuk meneladani Kristus, yang telah menunjukkan kasih tertinggi melalui salib. Ujilah segala bentuk kasih dengan firman Tuhan, salib Kristus, dan buah dari setiap tindakan. Hanya kasih yang lahir dari Allah yang akan bertahan sampai kekekalan, sedangkan kasih yang berasal dari kedagingan akan runtuh bersama topengnya. Biarlah hidup dan pelayanan kita tidak menjadi bayangan dari ambisi manusia, melainkan pancaran kasih Kristus yang murni dan sejati—yang membawa terang di tengah kegelapan, dan kemuliaan bagi nama Tuhan, bukan diri sendiri. Sebab hanya kasih Kristus yang mampu menembus kepalsuan, menyembuhkan luka, dan memurnikan setiap motivasi hati.
III. BENTUK-BENTUK KASIH BERACUN DALAM KEHIDUPAN
Tidak semua yang disebut “kasih” berasal dari Tuhan. Dunia ini, termasuk dunia rohani, penuh dengan ekspresi kasih yang terlihat manis di permukaan, tetapi beracun di dalamnya. Dalam kehidupan sehari-hari—bahkan di tengah pelayanan, persekutuan, dan komunitas gereja—kita dapat menemukan berbagai bentuk “kasih” yang tampaknya tulus dan rohani, namun ternyata menghancurkan. Kasih beracun bukanlah kasih yang berasal dari Roh Kudus, melainkan dari ambisi tersembunyi, ego yang belum mati, atau bahkan pengaruh roh jahat yang menyamar melalui kedagingan. Ia merusak relasi, mengacaukan visi pelayanan, menyesatkan jemaat, dan yang paling fatal—mengaburkan kesaksian gereja di hadapan dunia.
Kasih semacam ini sering dibungkus dengan kalimat-kalimat rohani, sikap seolah peduli, dan pengorbanan yang tidak tulus. Ia tampak seperti kasih Kristus, tetapi tidak berakar pada salib, tidak dituntun oleh firman, dan tidak melahirkan buah roh. Sebaliknya, kasih beracun menuntun kepada manipulasi, ketergantungan, pemberontakan, dan bahkan kehancuran. Di sinilah pentingnya discernment—kepekaan rohani. Umat Tuhan harus memiliki kedewasaan untuk membedakan antara kasih yang murni dan kasih yang palsu. Tanpa firman sebagai dasar, tanpa salib sebagai penapis, dan tanpa tuntunan Roh Kudus, kita bisa saja ikut terjebak dalam sistem atau pola kasih yang sebenarnya menyesatkan, meski terlihat religius. Mengenali kasih beracun bukanlah tindakan menghakimi, melainkan tindakan bijaksana untuk menjaga kekudusan relasi, kesehatan rohani jemaat, dan kesaksian tubuh Kristus. Jika kasih sejati membangun dan memulihkan, maka kasih beracun perlahan-lahan meruntuhkan dari dalam, melemahkan semangat pelayanan, menodai keharmonisan, dan mengundang celah bagi musuh bekerja.
Ada beberapa bentuk kasih beracun yang seringkali tidak disadari oleh banyak orang, tetapi berdampak sangat merusak. Hal ini perlu diwaspadai bukan hanya oleh pemimpin rohani, tapi oleh seluruh umat percaya. Mari kita pelajari satu per satu, agar kita tidak menjadi pelaku atau korban dari kasih semacam ini—dan terlebih lagi, agar kita tidak membiarkan kasih beracun itu bertumbuh dalam ladang Tuhan:
3.1. Conditional Love (Kasih Bersyarat): Kasih bersyarat adalah bentuk kasih yang sangat bertolak belakang dengan kasih agape. Ia tampak memberi, tetapi sebenarnya menuntut. Kasih ini mengasihi hanya jika ada sesuatu yang bisa didapatkan kembali—entah itu perhatian, kekuasaan, posisi, pujian, atau imbalan tertentu. Hubungan yang dibangun di atas kasih bersyarat akan cepat goyah ketika harapan tidak terpenuhi. Inilah kasih yang penuh perhitungan: "Aku mengasihimu jika kamu begini…", atau "Aku melayanimu selama kamu menghormatiku." Kasih seperti ini sering menyusup ke dalam gereja dan pelayanan, terutama ketika orang mulai memandang posisi rohani sebagai tempat mencari keuntungan atau gengsi. Ketika pemberian, perhatian, dan pengorbanan dilakukan dengan niat untuk “membayar” jabatan atau pengaruh, maka sesungguhnya itu bukan kasih—melainkan strategi manipulatif yang dibungkus spiritualitas palsu. Kasih bersyarat juga bisa menjadi senjata tekanan emosional, seperti orang tua yang mencintai anaknya hanya jika anak tersebut mengikuti kehendaknya, atau jemaat yang hanya mendukung gembalanya selama keinginannya dituruti. Hal ini bukan saja merusak relasi, tetapi juga menghina kasih Allah yang tanpa syarat. Firman Tuhan berkata: “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong… Ia tidak mencari keuntungan diri sendiri…” (1 Korintus 13:4-5). Ayat ini menggambarkan kasih yang murni dan tidak bersyarat—kasih yang menjadi standar surgawi dan kontras dengan kasih duniawi yang penuh syarat. Kasih sejati tidak bergantung pada respons orang lain. Ia memberi tanpa menuntut balasan, karena ia sadar bahwa kasih bukan alat tukar, bukan negosiasi, dan bukan investasi emosional yang menunggu hasil. Kasih sejati adalah tindakan ilahi yang berasal dari hati yang telah diubahkan oleh kasih Kristus. Dalam dunia yang semakin transaksional, banyak orang hanya mengasihi sejauh mereka menerima sesuatu. Akibatnya, kasih kehilangan kemurniannya dan berubah menjadi alat kendali. Ketika kasih dijadikan syarat untuk mendapatkan persetujuan, pengaruh, atau pengakuan, maka relasi bukan lagi tentang saling membangun, tetapi saling memanfaatkan. Kasih sejati, sebaliknya, bersumber dari Allah yang "menyebabkan matahari-Nya terbit bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar" (Matius 5:45). Inilah kasih yang tidak pilih-pilih, tidak mengandalkan kenyamanan, dan tidak surut hanya karena ditolak atau tidak dihargai. Jika kita mengasihi hanya saat merasa dihormati, hanya saat dihargai kembali, maka itu bukan kasih, melainkan kesepakatan terselubung. Dan kasih seperti itu tidak akan pernah bertahan dalam ujian. Namun kasih dari Allah—kasih yang tidak bersyarat—adalah kasih yang sanggup mengampuni, bertahan, memulihkan, dan tetap memberi bahkan saat disalahpahami. Itulah sebabnya, kasih bersyarat harus dikenali dan ditinggalkan. Ia mungkin terlihat sopan dan penuh perhatian, tetapi di baliknya menyimpan racun kontrol, ekspektasi, dan kekecewaan. Gereja dan relasi apa pun yang dibangun di atas dasar ini akan rapuh. Namun, ketika kasih sejati menjadi fondasi, maka relasi akan mencerminkan Kristus—kuat dalam kasih, bebas dari manipulasi, dan murni dalam pengabdian. Kasih semacam ini menumbuhkan kepercayaan, memulihkan luka batin, menolak kepalsuan, dan menjaga arah hidup tetap setia kepada kebenaran.
3.2. Possessive Love (Kasih Posesif): Kasih posesif adalah bentuk kasih yang tampaknya peduli, tetapi sebenarnya ingin memiliki dan menguasai. Ia tidak memberi ruang bagi orang lain untuk bertumbuh, memilih, atau mendengar suara Tuhan sendiri. Kasih seperti ini membuat seseorang bergantung secara emosional dan spiritual, kehilangan identitas, dan hidup dalam ketakutan akan kehilangan penerimaan. Dalam relasi pribadi maupun dalam konteks gereja, kasih posesif sering menyamar sebagai "perhatian" atau "tanggung jawab rohani." Namun pada kenyataannya, itu adalah bentuk kontrol yang membungkam kehendak bebas dan menekan pertumbuhan rohani. Orang yang menunjukkan kasih posesif cenderung berkata, “Saya tahu yang terbaik untukmu,” padahal sebenarnya dia takut kehilangan pengaruh atas hidup orang lain. Contoh ekstrim dari hal ini terlihat dalam kisah nyata Blanche Monnier, seorang wanita Prancis yang dikurung oleh ibunya selama 25 tahun demi alasan "kasih" dan menjaga "kehormatan keluarga." Ini menjadi gambaran mengerikan dari bagaimana kasih yang tidak sehat bisa berubah menjadi penjara. Demikian pula dalam konteks rohani, seorang pemimpin atau jemaat bisa terjebak dalam relasi posesif yang akhirnya membelenggu, bukan membebaskan. Firman Tuhan mengajarkan bahwa kasih sejati “tidak mencari keuntungan diri sendiri” (1 Korintus 13:5), dan di mana Roh Tuhan ada, di situ ada kemerdekaan (2 Korintus 3:17). Maka, kasih yang berasal dari Tuhan selalu membebaskan, bukan mengendalikan. Kasih yang posesif bukan kasih ilahi, tetapi bentuk manipulasi halus yang sering menyelinap dalam topeng kerohanian. Bila tidak disadari dan dikoreksi, ia bisa menciptakan gereja yang bersandar pada manusia, bukan kepada Kristus sebagai Kepala—membentuk ketergantungan buta, mematikan kepekaan rohani, dan melemahkan iman jemaat terhadap tuntunan Roh Kudus.
3.3. Two-Faced Love (Kasih Bermuka Dua): Tampak manis di depan, tetapi penuh pengkhianatan di belakang. Tumbuh subur dalam relasi yang tidak didasarkan pada kebenaran. Kasih semacam ini beroperasi dengan wajah ganda—di depan menunjukkan perhatian, pujian, dan kebaikan, namun di belakang menyebar fitnah, menusuk dengan kata-kata, dan merusak kepercayaan. Kasih bermuka dua bukanlah kasih yang lahir dari ketulusan, melainkan dari kepentingan. Ia berkembang dalam komunitas yang lebih mengutamakan citra daripada integritas, lebih senang menyenangkan manusia daripada menyenangkan Tuhan. Dalam gereja, bentuk kasih seperti ini bisa sangat membahayakan karena menyamar sebagai kesalehan, tetapi sebenarnya menimbulkan perpecahan, kecurigaan, dan racun dalam relasi. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa “cinta kasih janganlah pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik” (Roma 12:9). Artinya, kasih sejati tidak bermain dua muka—kasih sejati transparan, jujur, dan membawa damai, bukan drama dan kepalsuan. Kasih bermuka dua juga sering menjadi alat bagi mereka yang ingin membangun pengaruh dengan cara licik. Mereka memanipulasi emosi, menciptakan kelompok-kelompok kecil yang loyal kepada mereka, sambil menghancurkan otoritas rohani yang sah. Akhirnya, relasi menjadi hancur, dan tubuh Kristus menjadi luka. Kisah ini mengingatkan kita pada sebuah kumpulan jemaat pembangkang yang secara sistematis menghancurkan gereja melalui kelicikan terselubung. Dipimpin oleh sosok yang dikenal sebagai si Baluhab, mereka berpura-pura bersikap baik, rendah hati, dan siap untuk digembalakan. Namun semua itu hanyalah topeng demi mencapai tujuan tersembunyi: agar komunitas mereka diakui secara struktural sebagai bagian dari GBI yang sah. Strategi mereka sangat manipulatif—berpura-pura mengasihi, memberi diri, bahkan menyumbang—tetapi sesungguhnya menyimpan ambisi yang telah terbentuk sejak lama. Mereka dikenal licik sejak dari gereja sebelumnya, dan kini menggunakan pola yang sama: menyusup dengan kerohanian semu, membangun pengaruh, lalu menyingkirkan gembala yang mereka sendiri minta secara tertulis untuk menggembalakan mereka. Lebih menyedihkan lagi, kelicikan ini menjalar hingga ke generasi muda. Seorang pemuda bernama GAB dan juga anak dari si Baluhab yang pada awalnya tampak hormat, ternyata hanya bersandiwara. Mereka berpura-pura baik di hadapan sang gembala, namun di belakang, mengejek dan merendahkan—bahkan sampai pada tindakan mengejek foto gembala yang mereka minta sendiri secara resmi. Padahal, foto itu sengaja dipasang sebagai bukti struktural bahwa jemaat mereka berada di bawah penggembalaan resmi, agar tidak lagi dianggap sebagai gereja liar atau “gereja abal-abal”. Tragisnya, seluruh kumpulan itu ikut dalam tindakan yang mencemooh gambar gembala tersebut—sebuah simbol otoritas yang dulu mereka butuhkan demi legalitas pelayanan. Tapi setelah mereka memperoleh pengakuan, topeng mereka pun terlepas. Apa yang tampak sebagai kerohanian, ternyata hanyalah bungkus dari ambisi dan pemberontakan yang diwariskan. Mereka bukan sedang membangun tubuh Kristus, tetapi justru merusaknya dari dalam. Inilah yang dimaksud dengan “Iblis yang menyamar sebagai malaikat terang” (2 Korintus 11:14)—kasih palsu yang memakai topeng kekudusan, namun digerakkan oleh roh pemberontakan, penghinaan, dan haus akan posisi. Karena itu, kita dipanggil untuk memiliki kasih yang tulus—yang “ya” jika ya, dan “tidak” jika tidak (Matius 5:37). Hanya dengan ketulusan dan kebenaran, kasih dapat menjadi saluran pemulihan, bukan perpecahan, penghiburan, penguatan, kesaksian, dan kemuliaan bagi Kristus yang hidup..
3.4. Corrupt Love (Kasih Tercemar): Kasih tercemar adalah bentuk kasih yang awalnya mungkin tampak tulus, tetapi kemudian disusupi oleh kepentingan pribadi—entah karena ego, keinginan untuk diterima, nafsu, atau kompromi terhadap dosa. Kasih seperti ini tidak lagi murni memuliakan Tuhan, tetapi justru menjadi sarana untuk membela kesalahan, demi menjaga kenyamanan atau relasi yang seharusnya dikoreksi. Contohnya bisa terlihat dalam relasi pelayanan yang menutupi dosa sesama rekan rohani karena takut "melukai perasaan" atau "mengganggu kestabilan gereja". Namun dalam firman, kita diajarkan bahwa "Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran" (1 Korintus 13:6). Artinya, Ketika kasih tercemar oleh kompromi, maka itu bukan lagi kasih ilahi, melainkan kasih yang menyesatkan—kasih yang menolak disiplin demi mempertahankan kenyamanan relasi atau reputasi. Ini adalah kasih yang kehilangan keberanian untuk berdiri di pihak kebenaran, dan pada akhirnya menjadi bagian dari sistem yang menoleransi pelanggaran. Lebih berbahaya lagi, ketika struktur rohani—baik pemimpin gereja, pengurus wilayah, bahkan pengawas rohani—tidak berani bertindak atas pelanggaran Tata Gereja atau bahkan perbuatan pidana, hanya karena pelakunya adalah orang dekat, rekan pelayanan, atau bagian dari lingkaran struktural. Ketika tindakan salah dibiarkan demi “damai” yang palsu, gereja bukan sedang mempraktikkan kasih, tetapi sedang melanggengkan dosa secara sistemik. Inilah bentuk kompromi rohani yang sangat serius. Sebab di balik sikap membiarkan, sebenarnya tersembunyi takut kehilangan pengaruh, relasi politik pelayanan, atau kenyamanan pribadi. Padahal Alkitab menegaskan bahwa: “Siapa yang mengatakan kepada orang fasik: ‘Engkau benar’, akan dikutuki bangsa-bangsa, dan dibenci suku-suku bangsa.” (Amsal 24:24). Tidak menegur kesalahan adalah bentuk pengkhianatan terhadap kebenaran. Terlebih jika pelanggaran itu menyangkut fitnah, penyerobotan aset gereja, pemalsuan dokumen, atau penghinaan terhadap otoritas rohani, maka membiarkannya tanpa koreksi adalah dosa yang besar. Gereja bukan hanya kehilangan otoritas moralnya, tetapi juga membuka jalan bagi kerusakan yang lebih luas—membiarkan domba-domba disesatkan oleh serigala berbulu domba. Kasih yang sejati tidak bisa dipisahkan dari kebenaran. Ia mengampuni, tapi juga menegur. Ia sabar, tapi juga tegas. Biarlah gereja tidak lagi terjebak dalam kasih yang tercemar oleh kompromi, tetapi kembali kepada kasih yang kudus—kasih yang menegakkan keadilan, memulihkan yang jatuh, dan menjaga kekudusan tubuh Kristus. Kasih yang tercemar sering kali menyamar sebagai toleransi, padahal sejatinya sedang melemahkan standar kekudusan Tuhan. Jika dibiarkan, kasih semacam ini tidak hanya menyesatkan banyak orang, tetapi juga menghancurkan otoritas rohani dan merusak kesaksian gereja di mata dunia. Contohnya terjadi dalam kasus gereja yang dipimpin oleh si Baluhab dan istrinya—pasangan ambisius yang menjadi motor pembangkangan, karena mereka sadar sebagai penggerak utama, mereka mulai mengabaikan prinsip-prinsip Alkitab, demi mempertahankan kendali atas jemaat. Bahkan orang-orang yang jelas-jelas hidup dalam dosa, seperti seorang lesbian, tetap mereka beri posisi sebagai pemimpin pujian dan koordinator pelayanan. Semua itu dilakukan atas nama “kasih” dan “toleransi,” padahal sesungguhnya itu adalah bentuk kompromi yang membinasakan. Ketika kekudusan dikorbankan demi kenyamanan atau kekuasaan, maka gereja telah keluar dari jalur kasih sejati dan masuk dalam jerat kasih yang tercemar—kasih yang menyesatkan, membutakan nurani, melemahkan integritas, dan menghancurkan masa depan rohani banyak jiwa, serta membuka celah bagi roh kompromi dan pembangkangan.
3.5. Selfish Love (Kasih Egois): Kasih egois adalah kasih yang berpusat pada diri sendiri. Ia hanya tertarik pada apa yang bisa diterima, bukan apa yang bisa diberikan. Orang yang hidup dalam kasih semacam ini cenderung menuntut perhatian, pengakuan, atau pelayanan, namun enggan memberi diri, berkorban, atau melayani dengan tulus. Dalam relasi apa pun—baik keluarga, pertemanan, atau gereja—kasih egois akan menciptakan ketidakseimbangan yang akhirnya menghancurkan keintiman sejati. Kasih semacam ini bertentangan dengan kasih Kristus, yang memberi diri-Nya bahkan saat kita masih berdosa (Roma 5:8). Sebab kasih yang benar bukan soal hak, tetapi soal tanggung jawab. Kasih tidak menghitung untung-rugi, tetapi memilih untuk setia meski tidak dibalas. Kasih egois memperalat kasih sebagai alat untuk merasa istimewa, sementara kasih sejati justru merendahkan diri demi mengangkat yang lain. Kasih egois menganggap cinta sebagai alat untuk dikagumi, bukan sebagai panggilan untuk mengasihi. Jika dibiarkan tumbuh dalam komunitas gereja, kasih ini akan menimbulkan persaingan, iri hati, dan luka antar anggota tubuh Kristus. Pelayanan pun akan berubah arah—bukan lagi untuk kemuliaan Tuhan, tetapi demi pengakuan dan pujian manusia. Akibatnya, gereja kehilangan fokus pada Kristus dan mulai berpusat pada ego pribadi, yang perlahan tapi pasti akan meretakkan kesatuan dan mematikan kasih yang sejati. Lebih buruk lagi, kasih seperti ini sering membungkus ambisi dengan rohani—memakai istilah pelayanan untuk menyembunyikan haus akan posisi. Orang tidak lagi melayani karena cinta kepada Tuhan dan jiwa-jiwa, tetapi karena ingin dikenal, dihormati, dan dikendalikan. Padahal kasih sejati justru rela mengalah, mendahulukan orang lain, dan tetap setia meski tidak dilihat. Jika tidak ditangani, kasih egois akan menjadi virus rohani yang menggerogoti gereja dari dalam, menghancurkan kekudusan, dan menumpulkan kesaksian Injil di mata dunia.
Kasih sejati tidak merusak, tidak mengikat, tidak menyamar, tidak mencemari, dan tidak menuntut demi kepentingan diri. Sebaliknya, kasih sejati membebaskan, memulihkan, dan membentuk karakter ilahi dalam setiap relasi. Namun ketika kasih telah diracuni oleh ego, ambisi, dan kompromi, maka yang tersisa hanyalah kemunafikan rohani yang menghancurkan dari dalam—bagaikan racun yang mengalir dalam tubuh Kristus tanpa disadari.
Gereja Tuhan tidak boleh menjadi tempat suburnya kasih palsu yang dibungkus topeng rohani. Ketika kasih bersyarat dijadikan alat tukar posisi, ketika kasih posesif membungkam pertumbuhan, ketika kasih bermuka dua merobek kepercayaan, ketika kasih tercemar memeluk dosa demi kenyamanan, dan ketika kasih egois menggiring pelayanan pada pemujaan diri—maka sesungguhnya gereja sedang bergerak menjauh dari salib dan mendekat pada jurang kehancuran. Karena itu, kita sebagai umat Tuhan dipanggil untuk berjaga, mengoreksi hati, dan membangun relasi dalam terang firman dan kasih Kristus yang murni. Kita tidak dipanggil untuk menjadi pelaku, pendukung, atau korban dari kasih beracun. Sebaliknya, kita dipanggil untuk menjadi cermin dari kasih agape yang sejati—kasih yang tidak palsu, tidak manipulatif, dan tidak mencari kehormatan diri. Sebab hanya kasih yang berasal dari Allah-lah yang akan membawa hidup, menyatukan tubuh Kristus, dan bertahan sampai kekekalan. Segala bentuk kasih lainnya, seindah apa pun penampilannya, akan runtuh bersama kepalsuannya. Kasih sejati tidak hanya diukur dari kata-kata manis, tetapi dari kesetiaan pada kebenaran. Ia lahir dari salib, berdiri dalam terang firman, dan menghasilkan buah yang kekal. Maka biarlah kasih yang kita miliki bukan sekadar perasaan, melainkan perwujudan karakter Kristus dalam setiap aspek hidup—yang membangun, mengoreksi, dan memuliakan Tuhan dalam segala sesuatu, tanpa kompromi terhadap dosa, tanpa pamrih pribadi, dan tanpa menyembunyikan kebenaran demi kenyamanan atau relasi manusiawi semata.
IV. KASIH SEBAGAI KOMITMEN SALIB
Yesus mengajarkan bahwa kasih bukanlah sekadar perasaan lembut atau emosi sesaat, melainkan sebuah komitmen hidup yang dalam dan tak tergoyahkan. Kasih dalam pandangan Kristus tidak bersandar pada suasana hati atau respon orang lain, melainkan berdiri kokoh di atas ketaatan kepada kehendak Bapa. Ia tetap mengasihi sekalipun dikhianati, tetap memberi sekalipun tidak dihargai, dan tetap setia sekalipun harus menanggung salib sendirian. Inilah kasih yang tidak bergantung pada keadaan, tetapi mengalir dari hubungan yang intim dan taat kepada Allah.
Dalam Perjamuan Kudus (Matius 26:26–28), kita tidak hanya mengenang momen simbolis, melainkan melihat puncak pernyataan kasih Allah yang nyata dan konkret. Kasih itu bukan diucapkan dengan kata manis, tetapi dibuktikan melalui tubuh yang dipecahkan dan darah yang dicurahkan. Salib bukanlah simbol kelemahan, tetapi tanda dari kasih yang bertindak—kasih yang tidak lari dari pengorbanan, kasih yang bertahan walau harus terluka, dan kasih yang tetap memberi meski dibalas dengan penolakan. Di kayu salib, kasih mencapai puncaknya: bukan hanya memberi yang mudah, tetapi memberikan segalanya, termasuk nyawa. Inilah kasih yang menebus, bukan hanya menghibur. Kasih yang memulihkan, bukan hanya menyentuh perasaan. Dan karena itulah, salib menjadi standar kasih bagi setiap murid Kristus—bahwa kasih sejati bukanlah soal nyaman, tetapi soal setia; bukan soal menerima, tetapi memberi, bahkan ketika tidak ada balasan. Salib adalah bukti bahwa kasih sejati tidak mencari jalan mudah, tetapi memilih jalan salib—jalan kesetiaan, penderitaan, dan ketaatan penuh kepada kehendak Allah. Di sanalah kasih membuktikan dirinya bukan dengan kata, melainkan dengan darah dan kesetiaan sampai akhir. Orang Kristen dipanggil untuk menghidupi kasih seperti ini yaitu kasih yang:
4.1 Memberi tanpa syarat, meski tidak mendapat balasan. Kasih yang lahir dari salib bukanlah kasih yang berhitung untung rugi. Ia memberi bukan karena penerima pantas, atau karena ada jaminan akan dibalas, melainkan karena itulah karakter Allah sendiri—“Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua…” (Roma 8:32). Memberi tanpa syarat berarti melepaskan ego dan mengosongkan diri seperti Kristus yang “mengambil rupa seorang hamba” (Filipi 2:7). Kasih semacam ini tidak menuntut pengakuan atau balasan, sebab ia tidak mencari kepuasan pribadi, melainkan berakar pada ketaatan kepada Allah. Dalam konteks pelayanan, ini berarti tetap melayani bahkan ketika tidak dihargai; tetap menabur meski belum menuai.
4.2 Mengampuni tanpa batas, walau harus mengorbankan harga diri. Mengampuni bukanlah pilihan, melainkan perintah Yesus: “Ampunilah tujuh puluh kali tujuh kali” (Matius 18:22). Kasih sejati tidak menyimpan daftar kesalahan orang lain. Ia menolak menjadikan luka sebagai alasan untuk membalas, dan memilih jalan salib—yang memaafkan bahkan dari atas kayu salib: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Mengampuni tanpa batas bukan berarti membiarkan pelanggaran terus berlangsung tanpa koreksi, tetapi tidak membiarkan kepahitan dan dendam menguasai hati. Ini adalah kasih yang lebih memilih penyembuhan rohani daripada harga diri yang terluka. Sebab kasih sejati tidak berkompromi dengan dosa, tetapi tetap membuka jalan pemulihan. Mengampuni bukan menutup mata terhadap kejahatan, melainkan menyerahkan penghakiman kepada Allah sambil menjaga hati tetap bersih. Kasih ini tidak lemah, justru kuat: tegas terhadap pelanggaran, namun tetap mendoakan yang bersalah. Ia memikul luka tanpa menjadi pahit, dan membalas kejahatan dengan kebaikan (Roma 12:21).
4.3 Mengasihi bahkan saat dibenci, karena kasih Kristus dalam hati lebih besar dari luka yang diterima. Yesus berkata: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44). Kasih sejati diuji bukan dalam situasi yang nyaman, tetapi saat kita dirugikan, ditolak, atau difitnah. Namun kasih dari salib memampukan kita untuk tetap mengasihi, bukan karena orang tersebut layak, melainkan karena kasih Allah dalam kita lebih besar dari rasa sakit yang ditimbulkan orang lain. Mengasihi saat dibenci adalah bentuk kasih paling radikal—karena hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah disalibkan bersama Kristus, yang sudah mati bagi dirinya sendiri dan hidup dalam kasih-Nya. Inilah kasih yang tidak menyerah, kasih yang tidak berubah karena suasana, dan kasih yang tetap menyala walau dilukai. Namun, mengasihi bukan berarti melepaskan tanggung jawab atau membiarkan pelanggaran berlalu tanpa pertanggungjawaban. Kasih sejati justru akan menuntun seseorang untuk menghadapi konsekuensi dari perbuatannya sesuai dengan hukum yang berlaku—baik secara rohani (Tata Gereja) maupun secara negara. Sebab kasih yang sejati tidak membenarkan dosa, tetapi membawa pelaku kepada pertobatan melalui jalur yang benar. Kasih bukan berarti menutup mata terhadap pelanggaran, melainkan berani menyatakan kebenaran demi keselamatan jiwa, keadilan, dan pemulihan yang sejati. Kasih seperti ini menyatukan kelembutan hati dan ketegasan moral—ia mendoakan pelaku, namun juga menyerahkan prosesnya kepada otoritas yang sah. Itulah kasih Kristus: penuh belas kasihan, namun tidak membiarkan dosa bertumbuh tanpa disiplin. Ia menuntun pada pertobatan, menjaga kekudusan, memulihkan korban, dan menegakkan kebenaran tanpa kompromi terhadap kejahatan. Kasih ini juga membentengi gereja dari pembusukan moral, dan menuntun umat pada kehidupan yang kudus.
Inilah kasih yang membedakan kita dari dunia—kasih yang tidak bergantung pada suasana hati, status sosial, atau keuntungan pribadi. Ini adalah kasih yang tetap berdiri di tengah pengkhianatan, bertahan dalam tekanan, dan terus memberi bahkan ketika tak ada lagi kekuatan manusia yang tersisa. Kasih sejati tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari salib; dari ketaatan yang mendalam kepada Allah yang telah lebih dahulu mengasihi kita. Salib bukan hanya alat keselamatan, melainkan pola hidup setiap murid Kristus. Ketika Yesus berkata, “Pikul salibmu setiap hari,” (Lukas 9:23), Ia sedang memanggil kita untuk hidup dalam kasih yang tidak mementingkan diri, kasih yang memilih kebenaran meski harus kehilangan penerimaan, kasih yang tetap mengasihi meskipun dibalas dengan caci maki dan penolakan.
Kasih sejati adalah kasih yang berakar dalam pengenalan akan pribadi Kristus—bukan sekadar hasil ajaran moral, budaya, atau tradisi gereja. Ia adalah kasih yang berasal dari Roh Kudus, dan hanya bisa bertumbuh dalam hati yang telah disalibkan: hati yang tidak lagi mengutamakan diri, tetapi menaruh Kristus sebagai pusat dari segala tindakan. Kasih ini bukan kasih yang berubah-ubah, tetapi kasih yang tetap menyala meski dunia berusaha memadamkannya. Bukan kasih yang takut kehilangan posisi, tetapi kasih yang berani kehilangan segalanya demi kesetiaan pada kebenaran. Kasih seperti inilah yang menjadi kekuatan gereja sejati—gereja yang tidak dikendalikan oleh ambisi, tetapi ditopang oleh salib.
Biarlah kasih seperti inilah yang terus mengalir dalam hidup kita—kasih yang memulihkan, menegur, mengampuni, dan tetap berdiri teguh dalam kebenaran. Karena kasih yang lahir dari salib, akan bertahan sampai kekekalan. Kasih ini bukan sekadar emosi sesaat, melainkan wujud nyata dari kehidupan yang telah diserahkan sepenuhnya kepada Kristus—kasih yang menjadi saksi bahwa salib bukan hanya sejarah, tetapi gaya hidup setiap murid-Nya, dalam terang, kesetiaan, dan kekudusan.
PENUTUP
Kasih adalah anugerah ilahi yang mulia, namun jika diselewengkan, ia bisa berubah menjadi alat kehancuran yang paling mematikan. Dalam dunia yang semakin sulit membedakan antara ketulusan dan manipulasi, antara pengorbanan dan ambisi terselubung, umat Tuhan dituntut untuk berjaga dan bersikap bijaksana. Kita tidak bisa lagi bersikap naif terhadap segala yang tampak "baik" di permukaan, sebab kasih yang beracun seringkali datang dengan wajah manis, kata-kata rohani, dan tampilan kerendahan hati yang palsu. Sudah terlalu banyak relasi yang hancur, gereja yang terpecah, bahkan pelayanan yang dibajak—bukan oleh kekerasan terang-terangan, tetapi oleh kasih yang tidak murni. Kasih yang bersyarat, posesif, penuh kepura-puraan, tercemar oleh kompromi, dan dikuasai oleh keegoisan. Ini semua adalah bentuk-bentuk kasih yang tidak berasal dari Allah, melainkan lahir dari kedagingan dan tipu muslihat si jahat. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa "Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang" (2 Korintus 11:14), dan kasih yang palsu sering kali menyamar sebagai kasih ilahi.
Karena itu, mari kita bertobat. Bertobat dari segala bentuk kasih yang salah arah—kasih yang lebih mementingkan diri sendiri daripada ketaatan kepada Kristus. Bertobat dari kasih yang kita gunakan sebagai alat kontrol, pembenaran diri, pencitraan, atau bahkan balas dendam rohani yang tersembunyi. Sebab kasih sejati bukan tentang mendapatkan, tetapi tentang memberi. Bukan tentang membungkam kebenaran demi kenyamanan, tetapi tentang berdiri di pihak Allah, meski harus terluka. Kasih sejati hanya mungkin lahir dari hati yang telah disentuh dan diubahkan oleh salib. Kasih sejati tidak menuntut pengakuan, tetapi memberi pengorbanan. Ia tidak meracuni, tetapi menyembuhkan. Ia tidak membangun kerajaan pribadi, tetapi meninggikan Kristus.
Inilah tantangan besar bagi kita hari ini: Apakah kasih yang kita hidupi dan tunjukkan benar-benar mencerminkan kasih Kristus? Ataukah selama ini kasih itu hanya bayangan buram dari ambisi pribadi, luka batin yang belum pulih, atau manipulasi halus yang disamarkan dengan kerohanian? Pertanyaan ini bukan ditujukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan—agar setiap hati yang haus akan kebenaran dapat dibawa kembali kepada sumber kasih yang murni: salib Kristus. Jika kita jujur dan menemukan bahwa kasih kita belum sejalan dengan kasih Allah, maka hari ini adalah saat untuk bertobat. Jangan tunda. Datanglah kembali ke kaki salib—tempat di mana kasih tidak hanya diajarkan, tetapi diwujudkan dengan tubuh yang dipecahkan dan darah yang dicurahkan. Serahkan setiap motivasi hati, setiap luka lama, dan setiap agenda pribadi yang tersembunyi. Biarkan Roh Kudus menyelidiki, menyucikan, dan memurnikan kasih dalam hati kita, agar hidup kita tidak menjadi sumber racun yang membunuh perlahan, tetapi menjadi sungai kasih Allah yang menyegarkan, menyatukan, dan memberi hidup bagi sesama.
Sebab pada akhirnya, hanya kasih yang lahir dari Allah-lah yang akan bertahan sampai kekekalan. Bukan kasih yang dibungkus dengan basa-basi, bukan kasih yang dipenuhi kepentingan tersembunyi, bukan kasih yang dibentuk oleh budaya atau kepentingan kelompok—tetapi kasih yang dipaku di kayu salib, yang memberi tanpa syarat, mengampuni tanpa batas, dan berdiri teguh dalam kebenaran, meski harus terluka. Segala bentuk kasih lainnya—semanis apapun bahasanya, seteduh apapun wajahnya, sehebat apapun pencitraannya—akan runtuh bersama kepalsuannya, karena tidak memiliki dasar dalam Kristus. Mari kita kembali kepada kasih sejati. Bukan hanya untuk melindungi diri dari kasih beracun, tetapi untuk menjadi terang dan teladan bagi dunia yang kehilangan arah tentang apa itu kasih sebenarnya. Biarlah kasih kita menjadi pantulan dari kasih Kristus—kasih yang tidak hanya menyentuh perasaan, tetapi mengubahkan kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Alkitab Terjemahan Baru (LAI).
Catatan pelayanan pribadi dan pengalaman penggembalaan
Refleksi atas dinamika gereja kontemporer di lingkungan Gereja Gereja
============
Biografi Singkat Penulis– Pdt. Syaiful Hamzah Nahampun, M.Th
Gembala Sidang GBI Jl. Plumpang Semper No.22 (JPS22) – Jakarta Utara
Gembala Cabang GBI PRJ Sion – Pearaja Parlilitan, Sumatera Utara
=============
Lahir : 12 April 1974
Pendidikan : Magister Teologi (M.Th)
Sedang menempuh : Program Doktor (S3) di STT Gragion
Sinode : Gereja Bethel Indonesia (GBI)
Istri : Pdm. Tiolida Sihotang S.PdK
Anak : Malkhi K dan Josua Rajahot Eklesyaiful
Orang Tua Pdt. Syaiful Hamzah
Nama ayah : Alm. Haji Andi Thahir (Makkasar)
Nama Ibu : Alm. Hajjah Ramlah Sari Harahap
==============
Profil Pelayanan
· Dipanggil dari latar belakang agama Islam dan kehidupan yang penuh tantangan, Pdt. Syaiful Hamzah Nahampun merespons panggilan Tuhan dengan hati yang tulus dan tekad yang teguh. Ia melayani dengan komitmen terhadap kebenaran firman Tuhan, serta menjunjung ketaatan pada struktur dan doktrin Gereja Bethel Indonesia sebagai bentuk kesetiaan kepada otoritas rohani yang sah.
· Bersama istri, Pdm. Tiolida Sihotang S.PdK, beliau menggembalakan jemaat di berbagai wilayah, termasuk cabang-cabang luar Jakarta seperti Dayun (Riau) dan Pearaja Parlilitan (Sumatera Utara).
· Pernah menggembalakan sebuah jemaat di salah satu daerah di Riau secara sah di bawah GBI JPS No. 22, namun kemudian menghadapi pembangkangan jemaat yang keluar secara sepihak tanpa ketaatan rohani maupun struktural.
· Pelayanannya menekankan pemuridan sejati dalam karakter, pertobatan, dan tanggung jawab, serta menyoroti bahaya teologi spiritual bypass—kerohanian semu yang menghindari pemulihan dan keadilan.
· Saat ini, beliau juga menempuh studi doktoral (S3) dalam bidang Misi di STT Gragion, dan aktif mengajar sebagai dosen di beberapa sekolah tinggi teologi, membentuk pemimpin-pemimpin gereja yang sehat secara doktrin maupun karakter.
Catatan Penting: Tulisan ini disusun khusus untuk kalangan sendiri sebagai bahan ilustrasi rohani dan refleksi teologis. Jika terdapat kemiripan dengan peristiwa, tempat, atau individu tertentu, itu tidak disengaja dan bukan merupakan tuduhan pribadi, melainkan ajakan untuk perenungan bersama dalam terang Firman Tuhan. Dilarang menyalin, menyebarluaskan, atau memperbanyak isi tulisan ini tanpa izin tertulis dari penulis.