ANTARA SALIB DAN SABIT - MENGUNGKAP BANDIT BANDIT ROHANI



 
 

PENDAHULUAN

 

Gereja, dalam makna terdalamnya, adalah tubuh Kristus yang kudus dan dipanggil untuk menjadi terang dunia. Namun sejarah kekristenan membuktikan bahwa pengkhianatan tidak selalu datang dari luar. Dalam banyak kasus, luka terdalam tubuh Kristus justru datang dari dalam rumah sendiri. Itulah sebabnya Yesus memberi perumpamaan tentang gandum dan ilalang (Matius 13:24–30): bahwa dalam satu ladang yang sama—yang melambangkan dunia, bahkan juga bisa ditafsirkan sebagai komunitas gereja—terdapat dua jenis tanaman yang sangat berbeda: gandum, yang berguna dan akan dituai untuk kehidupan, dan ilalang, yang mirip secara luar tetapi tidak berguna dan pada akhirnya akan dibakar.

Yesus menekankan bahwa keduanya akan dibiarkan tumbuh bersama untuk sementara waktu, karena jika ilalang dicabut terlalu dini, gandum yang baik bisa ikut rusak. Ini menandakan bahwa dalam kehidupan gereja dan pelayanan, akan selalu ada yang murni dan yang palsu, yang tulus dan yang licik, yang benar dan yang jahat—bahkan mereka bisa berada sangat dekat, bekerja di ladang yang sama, bernyanyi di mimbar yang sama, dan mengaku iman yang sama. Namun, Yesus juga mengingatkan bahwa akan datang waktunya — masa penuaian — saat segala sesuatu akan diungkapkan dan dipisahkan. Gandum dikumpulkan ke dalam lumbung Tuhan, tetapi ilalang dibakar dalam api. Ini adalah gambaran penghakiman ilahi, di mana kebenaran akan menang dan kemunafikan akan dihukum. Yesus telah memperingatkan bahwa pelayanan tak luput dari intrik dan kepalsuan. Dalam ladang Tuhan pun ada “ilalang” yang menyamar sebagai hamba Tuhan, namun justru merusak dan melemahkan jemaat serta otoritas.

Dalam tulisan ini, penulis ingin membongkar fenomena “bandit gereja”—yakni individu-individu atau kelompok yang menyusup ke dalam tubuh gereja dan sistem rohani, namun tidak berjalan dalam semangat salib, melainkan digerakkan oleh ambisi, kekuasaan, dan agenda pribadi. Mereka bukan hanya tidak setia kepada visi Kristus, tetapi juga aktif menggunakan sabit—sebuah simbol kekuasaan duniawi, pengaruh struktural, atau manipulasi relasi—untuk memotong otoritas yang sah, membabat ladang pelayanan yang sedang bertumbuh, bahkan merampas jemaat dari gembala yang membina mereka sejak awal, dengan alasan-alasan yang dibungkus rapi oleh bahasa rohani dan struktur organisasi.

Fenomena ini menyingkap sisi kelam dari dunia pelayanan: bahwa tidak semua yang ada di dalam sistem gereja berjalan dengan hati yang murni. Sebagian justru menjadi alat penghancur dari dalam—bukan dengan pedang musuh, tetapi dengan sabit yang mengayun dari tangan sendiri. Mereka memanfaatkan celah-celah kelembagaan, relasi personal, bahkan regulasi, untuk menancapkan kepentingan mereka, bukan untuk menegakkan salib Kristus, tetapi untuk memperluas wilayah dan kekuasaan diri. Maka, pertanyaan kritis pun muncul: Apakah gereja saat ini masih setia memikul salib? Atau sudah mulai memegang sabit? Apakah kita masih berjuang dalam semangat pengorbanan, kasih, dan ketaatan? Ataukah telah tergoda oleh kuasa, angka, dan posisi—hingga tanpa sadar, telah berubah menjadi ladang yang penuh dengan “ilalang” yang tumbuh subur di antara gandum?,  Tulisan ini mengajak kita merenungkan ulang hakikat pelayanan, otoritas rohani yang benar, dan bahaya infiltrasi kekuasaan duniawi dalam tubuh Kristus. Gereja bukan ladang perebutan kekuasaan, melainkan tempat penyaliban diri dan penggembalaan jiwa. Ketika sabit lebih digenggam daripada salib, maka pelayanan berubah menjadi arena konflik terselubung.  Kini saatnya menilai: siapa yang sungguh menggembala, dan siapa yang sebenarnya sedang menggerogoti.

 

BAB I

SALIB: JALAN KETAATAN DAN PENGORBANAN

Salib adalah inti dari Injil.  Salib bukan sekadar ornamen yang digantung di dinding gereja atau dikenakan di leher, melainkan pusat dari seluruh kabar keselamatan. Salib adalah lambang penebusan, panggilan pengorbanan, dan jalan ketaatan mutlak kepada kehendak Allah. Dalam Lukas 9:23, Yesus menegaskan, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku." Ini berarti bahwa mengikut Kristus tidak pernah dijanjikan sebagai jalan kemuliaan dunia, melainkan jalan penderitaan, penyangkalan diri, dan kerelaan untuk mati terhadap ambisi pribadi. Artinya, pelayanan bukan soal prestise, melainkan penderitaan yang penuh pengharapan.

Pelayanan sejati bukan tempat mencari nama besar, jabatan, atau keuntungan pribadi. Justru, dalam pelayanan yang benar, ada panggilan untuk menderita bersama Kristus (2 Timotius 2:12), namun penderitaan itu membawa kemuliaan kekal. Harapan yang dimaksud bukanlah harapan akan pujian manusia, kemapanan materi, atau posisi dalam struktur—melainkan pengharapan bahwa Tuhan sendiri adalah upah sejati. Dialah sumber kekuatan, kepuasan, dan sukacita tertinggi bagi setiap pelayan yang setia, lebih berharga daripada berkat duniawi apa pun. Pelayan sejati tidak menanti balasan dari dunia, tetapi hidup dalam kerinduan akan perkenanan Allah dan upah kekal di hadirat-Nya. Dari prinsip salib inilah kita mengenali tiga ciri utama pelayanan yang benar: sebuah pelayanan yang bukan hanya dimulai dengan semangat, tetapi dibentuk melalui penderitaan, kesetiaan, dan kasih yang terus diuji, yaitu:

1.1        Memiliki hati hamba, bukan semangat penguasa. Pelayanan yang benar selalu dimulai dari hati yang tunduk dan bersedia merendahkan diri di hadapan Allah dan sesama. Seorang pelayan yang meneladani salib akan memiliki roh kerendahan hati, bukan semangat dominasi. Ia tidak melihat dirinya sebagai pemilik jemaat, tetapi sebagai pengurus yang dipercayakan oleh Tuhan untuk merawat dan menggembalakan umat-Nya. Rasul Paulus mengingatkan bahwa "yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah bahwa mereka ternyata dapat dipercaya" (1 Korintus 4:2). Artinya, yang terpenting bukanlah kuasa atau jabatan, melainkan kesetiaan dalam tugas yang dipercayakan. Yesus sendiri menjadi teladan utama. Ia adalah Tuhan atas segala sesuatu, namun Ia memilih jalan kerendahan dengan berkata, "Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Matius 20:28). Dalam terang salib, pelayanan bukan soal memimpin dengan tangan besi atau memperbesar nama sendiri, tetapi tentang membasuh kaki murid, merangkul yang tersisih, dan rela menanggung beban orang lain. Ia tidak sibuk membangun kerajaan pribadi, tetapi setia membangun tubuh Kristus. Ia tidak tersinggung ketika dilupakan, karena hatinya terpaut pada pujian dari Allah, bukan dari manusia. Ia tidak meninggalkan ladang pelayanan hanya karena terluka, sebab ia meneladani Kristus yang tetap mengasihi di tengah penolakan. Ia tidak mencari pembenaran diri, tetapi membiarkan Tuhan yang menyatakan kebenaran pada waktunya. Ia tetap berdiri dalam kasih dan kebenaran, meskipun berjalan sendiri di jalan sempit dan sunyi. Ia tidak mencari penerimaan manusia, melainkan kesetiaan kepada Tuhan. Walau disalahkan oleh yang kompromi, ia tetap lembut, teguh, dan setia, karena tahu Tuhanlah yang membela kebenaran. Meski difitnah dan disalahpahami oleh mereka yang kompromi terhadap kesalahan. Sebuah kisaha Ketika seorang pelayanan seorang gembala dalam pelayanannya, pernah menerima jemaat yang datang menyerahkan diri secara sukarela untuk digembalakan. Lalu gembala itu melayani mereka tanpa pamrih—mengorbankan waktu, tenaga, bahkan materi pribadi—demi pertumbuhan iman mereka. Tapi pada akhirnya, sebagian dari mereka memilih berbalik, Mengundurkan diri tanpa beretika, bahkan tetap membawa nama gereja yang bukan lagi menjadi tanggung jawabnya, secara sepihak dan melawan struktur yang sah. Sang gembala  bisa saja menuntut, memaksa, atau menunjukkan kuasa sebagai gembala induk, namun gembala tersebut memilih jalan salib: tetap mendoakan, tidak membalas kejahatan, dan menyerahkan perkara ini kepada Tuhan, kepada struktur gereja, dan bila perlu kepada hukum negara Langkah ini bukan karena dorongan dendam yang dilakukannya, melainkan sebagai wujud tanggung jawab saya secara moral, secara struktural gerejawi, dan secara hukum—sebagai warga negara yang tunduk pada konstitusi, sekaligus sebagai hamba Kristus yang harus menjaga integritas dan keteladanan dalam pelayanan. seorang pelayan bukan pemilik ladang, melainkan pengurus yang harus setia dan bertanggung jawab atas apa yang dipercayakan kepadanya dan tidak mencari kemenangan pribadi, tapi membela prinsip kebenaran yang dipercayakan Tuhan dan organisasi gerejawi kepadanya. Ketika kebenaran diinjak, mandat penggembalaan dilanggar, dan nama gereja disalahgunakan, maka diam bukanlah kesalehan, melainkan pembiaran keliru. Sebab kebenaran yang tak dibela memberi ruang bagi kejahatan tumbuh. Siapa pun yang melanggar, harus bertanggung jawab di hadapan hukum gereja dan hukum negara. Tindakan gembala ini bukan dilandasi amarah, tetapi iman dan tanggung jawab, demi menjaga gereja tetap berdiri di atas dasar yang benar dan melindungi jemaat dari kesesatan yang terselubung dalam topeng pelayanan.

1.2        Rela berkorban demi orang lain, bukan memanfaatkan orang lain. Salib adalah simbol pengosongan diri dan kerelaan untuk menderita demi keselamatan orang lain. Dalam Filipi 2:7, Rasul Paulus menegaskan bahwa Kristus “mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Ini bukan sekadar tindakan kerendahan hati, tetapi penyerahan total demi kebaikan umat yang dikasihi-Nya. Seorang pelayan sejati meneladani Kristus bukan hanya dalam perkataan, melainkan dalam gaya hidup dan sikap hati. Ia tidak menjadikan pelayanan sebagai jalan untuk mengejar kehormatan, keuntungan pribadi, atau pengaruh atas orang lain. Sebaliknya, ia rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kenyamanan dan hak-haknya, demi melihat jemaat bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus. Cinta kasih yang bersalib adalah kasih yang memberi tanpa mengharapkan balasan, melayani tanpa menuntut imbalan. Ia tidak menuntut pengakuan atau posisi, tetapi fokus pada bagaimana kehidupan orang yang dilayaninya diubahkan. Ia tidak memperalat umat untuk mendukung ambisi pribadinya, tetapi justru memikul beban mereka agar mereka kuat dalam iman. Pelayan seperti ini akan berani menegur dalam kasih, menyatakan kebenaran walau menyakitkan, dan berdiri sebagai perisai rohani ketika jemaat diserang. Ia tidak hanya hadir di saat senang, tetapi juga di saat duka dan krisis. Ia tidak memanfaatkan kelemahan umat, tetapi membalut luka mereka. Ia tidak mengambil keuntungan dari ketidaktahuan, tetapi membimbing dalam terang firman. Rela berkorban dalam pelayanan bukan tindakan lemah, melainkan kekuatan yang berasal dari pengenalan yang dalam akan salib Kristus. Pengorbanan bukan tanda kalah, melainkan bukti kasih yang matang dan ketulusan yang tak mencari keuntungan. Di dunia yang mengagungkan kekuasaan dan pencitraan, jalan salib terlihat asing—namun justru di sanalah terletak inti pelayanan sejati. Sebab barangsiapa ingin menjadi besar, ia harus menjadi pelayan; dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka, ia harus menjadi hamba bagi semuanya (Markus 10:43-44). Inilah semangat salib—bukan pengaruh yang memanfaatkan, tetapi kasih yang memulihkan. Bukan dominasi, tetapi dedikasi. Bukan mencari panggung, tetapi memberi diri dalam keheningan. Yesus tidak naik ke tahta dunia, tetapi memikul salib ke Golgota. Ia tidak membangun kekuatan dengan pasukan, melainkan dengan cinta yang menebus. Pelayan sejati tidak membangun kerajaan bagi dirinya, tetapi memperluas Kerajaan Allah lewat kesetiaan dan kerendahan hati. Ia tidak menjadikan pelayanan sebagai sarana mencari pengaruh, pengakuan, atau keuntungan pribadi, melainkan sebagai wujud pengabdian kepada Kristus dan kasih kepada sesama. Ia sadar bahwa setiap langkah pelayanannya adalah bagian dari karya Kristus yang lebih besar. Maka, dalam setiap tindakan berkorban, seorang pelayan sejati sedang meneladani Kristus—menghadirkan terang di tengah gelap, dan pengharapan di tengah kekecewaan. Ia berdiri bukan demi dirinya, tetapi demi Injil. Ia tetap setia meski dilupakan, tetap melayani meski disalahpahami, dan tetap mengampuni meski disakiti. Pelayanan seperti inilah yang mengubah hati, membangun jemaat, dan memuliakan Tuhan. Karena pelayanan yang didasarkan pada salib bukan hanya menciptakan program, tetapi melahirkan pertobatan. Bukan hanya membentuk struktur, tetapi membangun karakter. Dan pada akhirnya, bukan nama pelayan yang ditinggikan, tetapi nama Yesus yang dimuliakan. Sebab pelayan sejati tahu, bahwa hidupnya hanyalah saluran, bukan sumber—dan kemuliaan hanya layak bagi Tuhan semata. Ia tidak berlomba menjadi yang paling menonjol, tetapi berlomba menjadi yang paling setia. Ia tak haus sorotan, rindu hadirat Tuhan. Jerih lelahnya bukan untuk pujian, melainkan demi kalimat dari Sang Tuan: “Baik sekali, hai hambaku yang baik dan setia.” (Mat. 25:21). Baginya, kemuliaan tertinggi bukan dikenal banyak, tetapi dikenal oleh Tuhan.

1.3        Membangun dari dasar, dengan air mata, waktu, dan kasih—bukan dengan struktur instan.  Pelayanan yang sejati tidak dibangun di atas pencitraan atau kecepatan hasil, tetapi dari dasar yang teguh: pengorbanan, kesetiaan, dan kasih yang tulus. Jalan salib bukanlah jalan singkat yang menawarkan kemegahan sesaat, melainkan proses panjang yang menuntut kesabaran dan ketekunan. Ia bukan proyek instan yang dirancang dengan strategi organisasi semata, tetapi sebuah perjalanan kehidupan bersama umat—dalam suka dan duka, dalam tangis dan doa. Seorang pelayan yang membangun dari dasar rela menabur dengan air mata (Mazmur 126:5), sabar dalam memuridkan, dan setia menanam firman, meski tidak segera melihat buahnya. Ia tahu bahwa pertumbuhan rohani tidak bisa dipaksakan melalui sistem, melainkan harus lahir dari relasi—dari keintiman antara gembala dan domba, antara Kristus dan jemaat-Nya. Struktur dan organisasi memang penting, namun bukan pengganti dari pelayanan yang penuh kasih. Tanpa kehadiran nyata, teladan hidup, dan penggembalaan yang konsisten, struktur hanya akan menjadi bangunan kosong—seperti menara Babel rohani yang menjulang tinggi namun tidak mengenal Tuhan. Bahkan, jika jemaat yang mengisi gedung itu hanyalah kumpulan pembangkang yang menolak gembala, memberontak terhadap otoritas rohani, dan tidak mau diajar, maka bangunan itu tidak layak disebut gereja. Ia tidak lebih dari sekadar kandang ayam: ramai, gaduh, tapi tidak memiliki nilai kekekalan. Sebab gereja sejati bukan ditentukan oleh megahnya gedung, banyaknya aktivitas, atau formalitas struktur, tetapi oleh ketaatan jemaat kepada Kristus, kasih terhadap sesama, dan hormat terhadap otoritas rohani yang sah. Yang Tuhan kehendaki adalah persekutuan yang hidup—tubuh Kristus yang bersatu dalam kasih, bertumbuh dari dasar Injil, bukan dari ambisi manusia atau sistem yang dibangun di luar kehendak-Nya. Pelayanan sejati bukanlah soal seberapa besar struktur dibentuk, tapi seberapa dalam kasih ditanamkan. Bukan seberapa cepat gereja dibuka, tapi seberapa setia jemaat dibina. Sebab itulah, Membangun pelayanan berarti memberi hidup, bukan sekadar menyusun program. Ini bukan soal jadwal rapat, acara rutin, atau daftar kegiatan rohani semata. Ini soal pengorbanan pribadi—tentang kesediaan seorang gembala untuk hadir dalam setiap musim kehidupan jemaatnya: berjalan bersama mereka dalam penderitaan, mengangkat mereka saat jatuh, mengajar dengan kelembutan hati, menegur dengan kasih yang tulus, dan mendoakan mereka dalam kesunyian malam ketika tak seorang pun melihat. Pelayanan bukan hanya soal yang terlihat di mimbar, tetapi tentang air mata yang tak dikenal jemaat, tentang waktu yang dikorbankan tanpa pamrih, dan luka batin yang ditanggung demi tetap setia menggembalakan. Dan hanya kasih Kristus yang sanggup menjadi bahan bakar bagi penggembalaan seperti itu—kasih yang tak bersyarat, yang memampukan seorang hamba-Nya untuk tetap berdiri, bahkan ketika harus membangun kembali dari nol. Ketika tidak ada dukungan, ketika fitnah menggema lebih nyaring dari pujian, ketika pengkhianatan datang dari orang-orang yang pernah dilayani dengan sepenuh hati—kasih Kristuslah yang membuat seorang pelayan tetap bertahan. Bukan karena kuat atau hebat, tapi karena salib telah menjadi pusat pengharapan dan sumber kekuatan. Pelayanan yang berkenan kepada Tuhan lahir dari pengorbanan dan ketaatan, bukan ambisi. Dari sanalah tumbuh buah kekal yang tak tergoyahkan, karena berakar dalam kasih Kristus yang murni. Apa yang dibangun di atas dasar-Nya tak akan sia-sia. Meski disakiti atau ditinggalkan, Tuhan tetap menumbuhkan tuaian bagi kemuliaan-Nya—pada waktu, cara, dan maksud kekal-Nya. Ia tidak pernah lalai memperhitungkan setiap air mata, setiap pengorbanan, dan setiap kesetiaan yang lahir dari kasih kepada-Nya.

Jika pelayanan tidak lagi memikul salib, maka ia hanya akan menjadi pertunjukan religius—penuh aktivitas lahiriah namun hampa kuasa surgawi. Ia mungkin tampak megah di mata manusia, namun tidak berkenan di hadapan Tuhan. Sebab tanpa salib, pelayanan kehilangan esensi ilahinya dan berubah menjadi panggung ambisi serta kesalehan semu. Namun ketika salib Kristus kembali menjadi pusat dari setiap motivasi, tindakan, dan pengorbanan, maka sekalipun pelayan harus menderita, dilukai, atau ditinggalkan, ia tahu bahwa Tuhan sendiri yang akan meneguhkan langkahnya, menopang hatinya, dan pada akhirnya memuliakan pelayanannya—bukan demi kehormatan duniawi, melainkan demi kemuliaan nama-Nya yang kudus dan kekal.

Inilah pelayanan yang bernilai di kekekalan: dibentuk dalam penderitaan, diteguhkan dalam kasih, dan disempurnakan dalam ketaatan. Dan hanya pelayanan yang bertumpu pada salib inilah yang akan tetap berdiri ketika segala yang lain runtuh. Para rasul, para nabi, bahkan Yesus sendiri mengalami pengkhianatan, penolakan, penganiayaan, dan kesalahpahaman—namun mereka tidak mundur. Mereka tetap setia, karena mereka tidak melayani demi kenyamanan, tetapi demi ketaatan kepada panggilan surgawi. Salib memang tidak menarik bagi kedagingan, namun hanya melalui salib-lah kemuliaan sejati dinyatakan. Salib bukan hanya simbol penderitaan, tetapi jalan menuju kebangkitan. Dan hanya mereka yang bersedia memikul salib setiap hari yang layak disebut murid-Nya. Karena itu, biarlah pelayanan kita tidak dibangun atas kesukaan manusia, melainkan atas kerelaan untuk menderita bagi Kristus—sebab dalam itulah kasih sejati, kuasa sejati, dan kemuliaan sejati dinyatakan. Sebab pelayanan sejati bukan soal berapa banyak tepuk tangan yang diterima, tetapi seberapa dalam jejak salib Kristus terpatri dalam hati dan hidup sang pelayan, bahkan ketika tak seorang pun mengerti atau menghargainya, dan tetap setia hingga akhir dalam ketaatan, kasih, pengorbanan, dan kesetiaan.

 

BAB II

SABIT: SIMBOL PEMOTONGAN ILEGAL

Sabit dalam Alkitab sering kali menjadi lambang panen rohani—seperti yang digambarkan dalam Wahyu 14:14–16, di mana sabit dipakai oleh malaikat untuk menuai tuaian terakhir bagi Allah. Panen itu bukan sekadar soal jumlah, tetapi buah dari kesetiaan, kebenaran, dan waktu yang ditentukan Tuhan. Dalam konteks itu, sabit menjadi alat kudus—bukan untuk merusak, melainkan untuk menyelesaikan misi surgawi. Namun dalam konteks dunia pelayanan saat ini, makna sabit telah dibelokkan secara tragis. Ia bukan lagi simbol ketaatan yang sabar menanti hasil dari ladang Tuhan, melainkan telah berubah menjadi simbol kudeta rohani—alat yang digunakan oleh tangan-tangan ambisius yang tidak menghargai proses, kesetiaan, maupun otoritas ilahi.

Sabit kini menjadi senjata—bukan milik malaikat Tuhan, melainkan milik oknum yang merampas. Mereka tidak menabur, tetapi datang dengan sabit di tangan, langsung mengklaim hasil jerih lelah orang lain. Mereka tidak membangun altar, tetapi menghancurkan yang telah didirikan oleh penggembalaan yang sah, hanya demi memuaskan ego dan nafsu kekuasaan rohani. Yang lebih menyedihkan, dalam upaya mereka memegang "sabit" itu, mereka memutarbalikkan makna pelayanan menjadi sistem transaksional: siapa yang punya struktur, dia yang menang. Siapa yang punya koneksi, dia yang dianggap benar. Bahkan, struktur gereja dijadikan tameng untuk menutupi kudeta pelayanan yang tidak alkitabiah dan bertentangan dengan kasih Kristus. Dalam konteks ini, sabit kehilangan kesuciannya. Bukan lagi lambang panen Tuhan, melainkan alat pemotongan ilegal—merobek kasih, memutus penggembalaan, meninggalkan luka dalam tubuh Kristus. Sabit menjadi simbol perampasan ladang yang bukan miliknya. Banyak oknum gereja modern memakai "sabit" sebagai:

2.1            Alat untuk memotong otoritas yang sah, tanpa proses struktural maupun pertimbangan etika gerejawi.   Sabit rohani dalam konteks ini menjadi simbol tindakan sepihak yang merampas kewenangan seorang pemimpin rohani yang sah menurut tata gereja. Mereka yang menggunakan "sabit" ini tidak menghargai proses penetapan, pengangkatan, maupun penggembalaan yang telah diakui secara struktural. Mereka memotong jalur otoritas dengan cara-cara yang licik—menghasut, memprovokasi, bahkan mengintimidasi jemaat untuk berbalik dari gembala mereka, tanpa mengindahkan etika pelayanan, prinsip pengembalaan, dan ketaatan terhadap aturan organisasi gereja. Tidak ada evaluasi resmi, tidak ada klarifikasi, apalagi mediasi yang sehat. Yang ada hanyalah pembelokan kuasa demi ambisi pribadi. Ini bukan koreksi, melainkan kudeta rohani yang terselubung. Pernah terjadi bagaimana seorang gembala yang tulus, yang awalnya diminta oleh jemaat untuk menggembalakan mereka, kemudian ditinggikan, bahkan mentahbiskan para pengerja lokal dan melaporkan pelayanan itu secara sah ke struktur gereja. Namun, laporan tersebut dimanipulasi oleh oknum struktural: satu kalimat penting sengaja dihilangkan untuk melemahkan legitimasi gembala tersebut. Tujuannya jelas—untuk mencaplok pelayanan itu. Bahkan, menurut informasi yang saya dengar, pengurus tersebut diduga telah beberapa kali melakukan hal serupa, yaitu mengambil alih pelayanan orang lain tanpa prosedur yang sah dan etis. Lebih tragis lagi, gembala yang telah berkorban itu kemudian difitnah sebagai perusuh, padahal justru dialah yang ditendang secara sepihak oleh para pembangkang yang sebelumnya memohon penggembalaan darinya. Di balik semuanya ini, tersimpan motif yang keji: uang dan aset gereja. Demi hal itu, fitnah ditebar, adu domba dimainkan, dan keadilan diinjak oleh tangan-tangan yang seharusnya menjaga kekudusan pelayanan.

2.2            Senjata untuk merampas ladang pelayanan—yang sebelumnya dibangun dengan cucuran air mata, pengorbanan finansial, waktu, dan cinta seorang gembala.  Sungguh ironis bahwa dalam dunia pelayanan yang seharusnya kudus, ada oknum yang menggunakan senjata rohani dan struktural secara licik untuk merampas ladang pelayanan yang dibangun bukan oleh mereka, melainkan oleh seorang gembala yang sungguh-sungguh melayani dengan hati. Ladang pelayanan itu bukan dibentuk dalam semalam. Ia lahir dari air mata dalam doa malam hari, pengorbanan finansial pribadi tanpa pamrih, waktu yang dicurahkan tanpa kenal lelah, dan yang paling dalam: cinta yang tulus kepada domba-domba Kristus. Gembala itu menanam bukan untuk dirinya, tetapi demi Kerajaan Allah. Ia menggembalakan tanpa pamrih, bahkan sering menutupi kebutuhan jemaat dari uang pribadinya, rela menanggung penderitaan, ditolak, bahkan ditikam dari belakang. Namun, setelah ladang itu mulai bertumbuh, ketika jemaat mulai percaya diri, dan pelayanan mulai terlihat berhasil, muncullah “tangan-tangan tak terlihat” yang mulai mengincar. Dengan menggunakan legalitas palsu, manipulasi laporan, permainan kata-kata dalam dokumen, dan koneksi struktural, mereka berusaha mengambil alih. Bukan dengan berdoa atau berkorban, melainkan dengan menyabotase dari dalam. Kalimat-kalimat penting dalam laporan pelayanan tampaknya tidak dimuat secara utuh. Nama pelapor mengalami pergeseran, dan informasi mengenai posisi struktural serta sejarah penggembalaan sebelumnya tampak diabaikan. Meski sepintas dapat disebut sebagai kekeliruan administratif, keseluruhan pola ini justru membentuk dugaan adanya upaya sistematis untuk mengaburkan legitimasi seorang gembala dan membuka jalan bagi pengambilalihan pelayanan. Bila hal ini disengaja, maka tindakan tersebut bukan sekadar kelalaian, melainkan bagian dari strategi licik untuk melemahkan otoritas penggembalaan yang sah, dan mencabut hasil pelayanan yang telah dibangun dengan kerja keras dan pengorbanan. Ini bukan hanya pelecehan terhadap seorang hamba Tuhan, tetapi juga bentuk penghinaan terhadap prinsip etika, struktur, dan doktrin gereja itu sendiri. Tragisnya, gembala yang telah mencurahkan segalanya untuk ladang itu malah difitnah sebagai perusuh, bahkan ditendang secara halus dan diam-diam oleh mereka yang dulu memohon-mohon untuk digembalakan olehnya. Dan yang lebih menyedihkan: struktur seolah tutup mata, atau bahkan diduga turut bermain dalam rencana tersebut. Fenomena ini bukan pertama kali terjadi. Di banyak tempat, ladang pelayanan yang sudah ditabur dan mulai panen kerap menjadi incaran mereka yang malas menanam tapi ingin menuai. Pelayanan dijadikan “komoditas rohani”, dan struktur dijadikan “kendaraan legalitas” untuk merebut apa yang bukan hasil jerih payah mereka. Ini adalah kejahatan terselubung yang berselimutkan jubah rohani—pengkhianatan yang dibungkus dengan bahasa pelayanan, namun sesungguhnya melukai inti dari penggembalaan yang kudus. Jika gereja membiarkannya tanpa koreksi, maka tubuh Kristus sedang digerogoti dari dalam: bukan oleh musuh dari luar, melainkan oleh ambisi yang menyaru sebagai pelayanan, oleh manipulasi yang memakai struktur demi kepentingan pribadi. Ini bukan sekadar persoalan administrasi, tetapi serangan terhadap integritas, kesetiaan, dan kebenaran yang menjadi dasar panggilan gereja Tuhan. Bila kebusukan ini tidak diungkap dan dibersihkan, maka gereja akan kehilangan suara kenabiannya—berubah dari tiang penopang kebenaran menjadi tempat persembunyian bagi ketidakadilan. Biarlah kebenaran ditegakkan, bukan demi nama pribadi, melainkan demi kemurnian tubuh Kristus dan hormat kepada Kepala Gereja yang sejati, yaitu Yesus Kristus.

2.3            Justifikasi rohani untuk memakai sistem gereja demi kepentingan pribadi atau kelompok, sambil mencatut nama Tuhan dan struktur organisasi. Ini adalah bentuk penyesatan yang paling berbahaya: ketika sistem gereja—yang seharusnya menjadi alat untuk memperluas Kerajaan Allah—diperalat demi ambisi segelintir orang. Dengan memakai dalih pelayanan, mereka memanipulasi struktur, menjadikan organisasi sebagai kendaraan untuk mempertahankan pengaruh, merampas ladang orang lain, atau bahkan membungkam suara kenabian. Nama Tuhan dicatut seolah tindakan mereka adalah bagian dari kehendak ilahi, padahal yang terjadi adalah perampokan rohani yang dibungkus legalitas. Mereka berbicara tentang kasih, tetapi menanam kebencian. Mereka menyerukan kesatuan, tetapi memecah penggembalaan yang sah. Mereka memakai sistem organisasi, bukan untuk membangun Tubuh Kristus, tetapi untuk memperluas kendali kelompoknya. Ini bukan pelayanan—ini penyalahgunaan otoritas rohani. Dan ketika gereja tidak mampu membedakan antara panggilan ilahi dan ambisi tersembunyi, maka yang terjadi adalah pembiaran terhadap dosa berjubah struktur. Dalam sejarah gereja, justifikasi semacam ini telah melahirkan skandal, perpecahan, dan luka yang mendalam dalam tubuh Kristus. Maka, setiap pemimpin dan struktur gerejawi harus waspada: jangan sampai menjadi alat bagi ketidakbenaran. Sebab Tuhan tidak berkenan kepada persembahan yang dibangun dari ketidakadilan. Jika tidak bertobat, mereka bukan hanya mencemarkan gereja, tetapi juga menodai nama Tuhan yang kudus. Biarlah penggembalaan dijaga dengan hati yang takut akan Allah, bukan dengan strategi politik rohani yang licik. Sebab pada akhirnya, semua akan dihakimi bukan di depan sidang organisasi, melainkan di hadapan takhta Kristus. Dan di sana, tidak ada yang bisa disembunyikan di balik retorika rohani atau jabatan struktural.

Fenomena yang terjadi di lapangan sungguh memprihatinkan. Ini bukan sekadar konflik internal gereja, tetapi telah menjadi gambaran menyedihkan dari krisis integritas dan spiritualitas dalam tubuh Kristus. Ketika pelayanan berubah menjadi arena kekuasaan, maka nilai-nilai rohani pun dikorbankan di altar ambisi. Berikut ini beberapa bentuk nyata dari penyimpangan yang makin sering terjadi:

a)               Jemaat direbut tanpa prosedur atau klarifikasi resmi, seolah-olah ladang pelayanan adalah wilayah bebas yang bisa diklaim siapa saja yang merasa punya "akses". Kesetiaan jemaat kepada penggembalaan diabaikan, dan kesepakatan awal yang pernah dibuat dianggap tidak relevan lagi.

b)               Gembala yang telah membina, menggembalakan, dan menabur dengan setia ditendang keluar secara sepihak, tanpa mediasi, tanpa klarifikasi, bahkan seringkali tanpa pemberitahuan. Seolah-olah pengorbanannya tidak pernah ada, dan relasi rohani yang telah terbangun dianggap sebagai beban yang harus disingkirkan.

c)               Para “pemilik baru” lalu menggunakan sabit simbolik untuk memangkas otoritas yang ada dan menyatakan diri legal, padahal secara etik dan struktural penuh pelanggaran. Mereka mengklaim keabsahan bukan berdasarkan kebenaran, tetapi berdasarkan kekuasaan dan koneksi yang mereka miliki.

d)               Organisasi dijadikan alat pembenaran. Struktur digeser, notulen dimanipulasi, surat lapor dipoles, dan "legalitas" dibuat demi membungkam kebenaran. Hukum gereja dibengkokkan untuk kepentingan sepihak, sementara kebenaran dikorbankan demi menjaga citra atau melindungi pihak tertentu. Apa yang tampak di atas kertas, seringkali adalah hasil dari konspirasi diam-diam yang membungkam nurani, menyesatkan pikiran, dan merusak kebenaran..

Semua ini adalah gejala dari pelayanan yang telah kehilangan rasa takut akan Tuhan. Ketika kepentingan pribadi lebih kuat daripada kasih kepada domba-domba Kristus, pelayanan berubah menjadi perebutan tahta. Gereja—jika tidak tegas menegakkan kebenaran—akan kehilangan suaranya di hadapan dunia. Padahal, Firman Tuhan jelas: Tuhan tidak pernah memberi mandat untuk merebut, melainkan untuk menggembalakan. Ia tidak pernah menyuruh kita membabat ladang orang lain, tetapi menabur dengan setia di ladang yang dipercayakan kepada kita.“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah; dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.” 1 Petrus 5:2.

Sabit seharusnya digunakan oleh Tuhan untuk menuai, bukan oleh manusia untuk menjarah. Panggilan pelayanan bukanlah medan kuasa, melainkan medan pengorbanan. Ladang rohani bukan wilayah bisnis, tapi tempat penggembalaan jiwa. Ketika sabit dipakai untuk memotong orang lain dari ladangnya sendiri, ladang itu tidak lagi menghasilkan buah kekal, tetapi hanya memperlihatkan kerakusan dan ambisi. Tuhan tidak membutuhkan perampok bersorban gerejawi. Ia tidak mencari orang-orang yang menyamar sebagai rohaniwan, tetapi menggunakan cara-cara duniawi demi ambisi pribadi. Ia mencari hamba-hamba yang setia, jujur, dan takut akan Dia—yang lebih memilih menabur dengan air mata dan doa, daripada menuai dengan kekerasan, manipulasi, dan kebohongan. Pelayanan sejati bukan tentang kemenangan struktural, tetapi tentang kesetiaan dalam penderitaan dan kemurnian di hadapan Allah. Bukan soal siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling taat,  Bukan soal tepuk tangan manusia, Tetapi pengakuan dari Surga yang berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia!” (Matius 25:21) — itulah suara yang menguatkan, menghibur, dan memahkotai ketaatan sejati.

 

BAB III

BANDIT GEREJA: MEREKA YANG MASUK

TANPA PINTU

Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barangsiapa masuk ke dalam kandang domba tidak melalui pintu, melainkan dengan memanjat tembok dari tempat lain, ia adalah pencuri dan perampok.” (Yohanes 10:1). Perkataan Yesus ini bukan hanya tentang keselamatan, tetapi juga tentang cara yang benar dalam masuk dan melayani di tengah umat Tuhan. Di dalam gereja, tidak semua orang yang mengaku dipanggil, benar-benar masuk melalui "pintu." Ada yang masuk melalui celah-celah manipulasi, pengaruh struktural, dan pencitraan rohani. Mereka menyelusup bukan lewat pintu pengutusan atau proses ketaatan, tetapi lewat celah ambisi, celah relasi, dan celah kelengahan rohani. Mereka menebar simpati palsu, menjalin koneksi dalam diam, dan menampilkan diri sebagai penyambung kasih padahal menyimpan hasrat kuasa. Mereka bukan pelayan, melainkan bandit gereja—orang-orang yang menyusup bukan untuk menggembalakan, tetapi untuk menguasai, mencuri, dan menghancurkan ladang yang telah ditaburi dengan air mata. Yesus dengan tegas menyebut mereka sebagai pencuri dan perampok (Yohanes 10:1), karena mereka mengabaikan jalan kebenaran dan melangkahi otoritas ilahi yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri. Mereka tidak menghormati proses rohani yang melibatkan pengutusan, peneguhan, dan penggembalaan yang sah. Mereka tidak tunduk pada prinsip Firman, tetapi lebih memilih jalan pintas: masuk melalui celah-celah kompromi, melompati pagar otoritas, dan merampas apa yang bukan haknya. Mereka bukan datang untuk menggembalakan, melainkan untuk membajak ladang yang telah ditaburi oleh air mata orang lain. Dalam terang Kristus, tindakan seperti ini bukan hanya mencederai struktur, tetapi melukai Gembala Agung yang memanggil dalam kebenaran dan ketulusan. Ciri-ciri bandit gereja dapat dikenali lewat tindakan-tindakan seperti:

3.1.          Mengambil alih pelayanan tanpa ketaatan. Ini adalah tindakan yang dilakukan tanpa melalui proses penetapan yang sah secara rohani maupun struktural. Orang-orang seperti ini tidak mau tunduk kepada otoritas yang ditetapkan Allah, melainkan bertindak atas dasar ambisi pribadi. Mereka menabur kekacauan di ladang orang lain, lalu mengklaim kepemilikan atas hasilnya. Padahal dalam kerajaan Allah, ketaatan mendahului pengangkatan, dan kesetiaan mendahului kepemilikan.

3.2.          Memanipulasi jemaat untuk memberontak terhadap gembala sah. Dengan cara-cara halus, mereka memutarbalikkan fakta, memanfaatkan luka-luka emosional, dan membangun narasi palsu demi mencabut jemaat dari penggembalaan ilahi. Ini bukan lagi pelayanan, tetapi kudeta rohani. Mereka memanfaatkan kedekatan untuk menciptakan keretakan, lalu menuduh gembala sah sebagai penghalang pertumbuhan. Di balik senyum manisnya, tersembunyi pedang pengkhianatan.

3.3.          Memakai surat struktural tanpa dasar rohani. Mereka menyodorkan legitimasi formal tanpa memiliki legalitas rohani. Mereka berlindung di balik kertas, bukan di bawah salib. Padahal pelayanan bukan soal lembaran surat, tetapi soal panggilan dan pengutusan. Surat bisa dicetak, tapi urapan tidak bisa dipalsukan. Pemakaian struktur tanpa kebenaran adalah bentuk penyesatan yang memakai wajah institusi.

3.4.          Mendirikan ‘gereja liar’ di atas ladang yang bukan miliknya. Gereja semacam ini lahir bukan dari pengutusan, tetapi dari pemberontakan. Mereka membangun di atas dasar perpecahan, bukan penginjilan. Seperti Absalom yang merebut hati rakyat di gerbang, mereka merebut jiwa di pintu gereja, bukan membawanya dari dunia gelap kepada terang. Mereka menciptakan jemaat baru dari jemaat orang lain, bukan dari dunia yang terhilang. Mereka tidak merintis, melainkan merampas. Mereka bukan pionir, tetapi perampok ladang rohani.

            Bandit gereja bukanlah mereka yang dipanggil dan diutus oleh Tuhan, melainkan orang-orang yang menyusup ke dalam pelayanan dengan motivasi tersembunyi: kekuasaan, pengaruh, dan keuntungan. Mereka tidak membangun tubuh Kristus, melainkan memecahnya dari dalam. Mereka menampilkan diri seolah-olah rohani, namun buahnya menimbulkan kerusakan dalam jemaat. Pelayanan mereka tampak sibuk, aktif, bahkan populer, tetapi tidak membawa jemaat kepada pertobatan, pengudusan, dan ketaatan. Mereka lebih menekankan strategi daripada salib, pengaruh daripada penyembahan, dan pencitraan daripada perkenanan Tuhan. Berikut ini adalah beberapa ciri khas perilaku mereka:

1)               Pandai berbicara, tetapi tidak punya pengorbanan. Retorika mereka terdengar meyakinkan, tetapi tidak disertai jejak pelayanan yang menunjukkan kerendahan hati dan pengorbanan pribadi. Mereka lihai mengutip ayat, menyusun argumen, bahkan membungkus ambisi dengan istilah “visi Tuhan”, namun tidak pernah membayar harga dalam doa, air mata, atau kesetiaan ketika tidak dilihat orang.

2)               Menebar ketidakpuasan agar jemaat berpaling dari gembalanya. Mereka memanfaatkan celah-celah emosi jemaat yang terluka, kecewa, atau merasa kurang diperhatikan. Dengan halus mereka menyusupkan keraguan terhadap kepemimpinan yang sah, menyuarakan "pembaharuan", padahal yang sedang mereka bangun adalah pemberontakan terselubung.

3)               Menggunakan “legalitas semu” untuk melegitimasi pencurian pelayanan. Mereka mencari celah struktural, surat rekomendasi tanpa dasar kebenaran, atau restu dari oknum yang tidak memahami akar persoalan. Dengan cara ini mereka membungkus pencaplokan pelayanan sebagai sesuatu yang sah, padahal secara rohani dan etis, mereka sedang merampok ladang orang lain.

            Bandit gereja tidak membangun dari nol; mereka hanya membajak kapal yang sudah berlayar. Mereka tidak bersusah payah menabur benih, menyiram, dan menunggu pertumbuhan jemaat dengan setia. Sebaliknya, mereka datang setelah segala sesuatu mulai bertumbuh, lalu mengklaim seolah-olah itulah ladang mereka sendiri. Mereka tidak berpeluh di musim sulit, tetapi muncul saat menuai mulai tampak di depan mata Mereka merebut apa yang bukan haknya, menggunakan celah struktural, simpati emosional, atau bahkan manipulasi rohani demi membenarkan aksinya. Namun mereka lupa, bahwa pelayanan sejati bukan dinilai dari hasil yang tampak, tetapi dari kesetiaan dan ketaatan dalam proses yang panjang dan tersembunyi. Namun Tuhan tidak dapat ditipu. Ia mengenal siapa yang sungguh-sungguh menggembalakan domba-Nya, dan siapa yang hanya menjadi pencuri yang menyamar dalam pakaian domba. Firman Tuhan dengan tegas berkata, "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya." (Yohanes 10:11). Ini adalah garis pembeda yang jelas: gembala sejati rela berkorban, sementara bandit gereja hanya rela mengambil. Dalam dunia pelayanan masa kini, suara gembala sejati dan jeritan luka akibat bandit gereja seringkali bercampur dan membingungkan. Namun Tuhan tetap melihat hati. Ia akan menegakkan keadilan pada waktunya, mengangkat mereka yang setia, dan membongkar kepalsuan yang selama ini tersembunyi di balik topeng rohani.

            Biarlah kita tetap setia dalam panggilan dan penggembalaan yang murni. Jangan terpengaruh oleh bandit pelayanan, karena Kristus akan membela milik-Nya. Gembala sejati tidak membalas dengan makar, tetapi tetap menggembalakan dengan air mata dan doa. Sebab pada akhirnya, pengadilan tertinggi bukan berasal dari struktur atau manusia, tetapi dari Takhta Kristus sendiri. Di sanalah setiap motivasi akan disingkap, dan setiap kesetiaan akan diberi upah. Tetaplah setia, sebab yang memanggil kita adalah setia, dan Ia takkan membiarkan kebenaran dikalahkan oleh kelicikan.

 

BAB IV

LUKA TUBUH KRISTUS DAN JALAN

UNTUK BERTAHAN

Pengkhianatan dari dalam adalah luka paling dalam. Ketika gembala yang telah mengorbankan waktu, keluarga, air mata, dan harta demi menggembalakan jemaat justru dikhianati oleh anak-anak rohaninya sendiri, maka salib terasa sangat berat—lebih berat dari penderitaan karena musuh di luar. Ini bukan sekadar konflik, ini adalah tusukan dari tangan yang pernah kita angkat bersama dalam doa dan pujian. Namun inilah panggilan kita:

4.1  Tetap di salib, meski terluka. Salib bukan sekadar simbol iman, tetapi jalan penderitaan yang penuh ketaatan dan pengosongan diri. Ia bukan ornamen di leher, melainkan altar tempat ego dibunuh dan kehendak pribadi dikorbankan. Banyak orang kuat saat memulai pelayanan, penuh semangat dan visi besar. Namun hanya sedikit yang tetap setia ketika luka datang dari orang terdekat, ketika pengkhianatan lahir bukan dari musuh, tetapi dari mereka yang pernah berjanji setia. Tetapi seperti Yesus yang tidak turun dari salib, kita pun dipanggil untuk bertahan—bukan karena kita tak mampu membalas, tetapi karena kita memilih jalan kasih yang lebih tinggi daripada sekadar keadilan duniawi. Di atas salib itulah kasih diuji, bukan dengan kata-kata, tetapi dengan darah dan air mata. Luka di salib bukan kelemahan, melainkan tanda kemurnian: bahwa kita mengasihi bukan karena balasan, tetapi karena taat kepada Dia yang lebih dahulu mengasihi kita. Tetap di salib berarti mengasihi saat dilukai dan berserah saat difitnah. Dunia tak mengerti, tapi di sanalah kuasa surga bekerja. Salib bukan akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan dan kemenangan di hadapan Allah. Justru dalam diam dan luka, kasih Kristus paling nyata, dan kemuliaan-Nya dinyatakan dalam ketaatan yang terus bertahan.

4.2            Tetap memberkati, meski dikutuk. Kita dipanggil bukan untuk membalas caci maki, tetapi mengalirkan kasih dan pengampunan radikal yang menyembuhkan dan memulihkan jiwa-jiwa yang terluka. Dunia membalas kutuk dengan kutuk, tapi anak terang memberkati di tengah hinaan. Seperti Kristus yang memberkati para pemaku-Nya, gembala sejati pun mendoakan yang menyakiti—bukan karena mereka layak, tapi karena kasih Allah melampaui kelayakan manusia.

4.3            Tetap menggembala, meski disabit. Ketika pelayanan kita yang tulus diserang oleh “sabit” orang-orang yang pernah kita layani, mudah untuk tergoda meletakkan tongkat gembala dan memegang senjata pembalasan. Tetapi gembala sejati tetap membawa tongkat dan gada, bukan untuk melukai, tetapi untuk membimbing dan melindungi. Jangan ganti sabit dengan sabit—tetaplah menggembala, meski panen kita dipotong oleh tangan-tangan yang tidak tahu berterima kasih. Tugas kita bukan menuntut balas, tapi tetap setia memberi makan domba, bahkan ketika kita sendiri terluka. Sebab upah kita bukan dari mereka yang melukai, tetapi dari Tuhan yang melihat setiap tetes air mata dan keringat yang jatuh dalam kesetiaan.

4.4  Tetap setia di jalan salib, meski yang lain memilih jalan sendiri. Ada kalanya orang-orang yang dulu berjalan bersama kita kini memilih jalan lain. Mereka yang pernah memanggil kita "ayah rohani" bisa saja memisahkan diri dan membangun kerajaan sendiri. Namun panggilan kita bukan mengejar keramaian, tetapi memikul salib dalam kesetiaan. Jangan tinggalkan jalan sempit hanya karena yang lain mencari kenyamanan. Tetaplah pada jalan salib, karena itu jalan menuju mahkota. Tetaplah di jalan salib—sunyi namun penuh hadirat. Yang setia akan diangkat, bukan karena ramai, tapi karena benar. Jangan tukar kesetiaan dengan tepuk tangan; Tuhan menilai hati, bukan sorak manusia, dan bukan pula jumlah pengikut.

Karena kita tidak dipanggil untuk menjadi pemenang di mata manusia, tetapi untuk tetap setia di hadapan Allah. Seperti Yesus yang memilih diam di salib meskipun mampu memanggil legiun malaikat, kita pun dipanggil untuk tetap diam dalam kasih, teguh dalam iman, dan sabar dalam penderitaan. Kita bukan dipanggil untuk membalas, tetapi untuk menjadi saksi. Sebab kemenangan sejati tidak datang dari pembalasan, melainkan dari kesetiaan yang tidak tergoyahkan—bahkan ketika cinta dikhianati, dan kebaikan dibalas dengan fitnah. Dan di sanalah, justru kemuliaan Kristus bersinar paling terang: saat seorang gembala tetap menggembalakan, meski disalibkan oleh domba-domba yang pernah ia peluk dengan kasih. Di titik paling sepi dan paling menyakitkan itulah, kekudusan tumbuh, dan kesetiaan diuji menjadi emas.

Inilah panggilan mulia dari salib: bukan untuk mengangkat diri, melainkan menyangkal diri. Dunia menilai keberhasilan dari jumlah pengikut, sorak tepuk tangan, dan kemenangan kasat mata. Tetapi Kristus memandang hati yang tetap percaya saat difitnah, tetap mengasihi saat dilukai, dan tetap menggembalakan meski tak dihargai. Seorang gembala sejati tidak mencari pengakuan, tetapi terus menabur firman meski ladangnya ditinggalkan. Ia tidak menuntut dihormati, tetapi tetap berdoa bagi mereka yang mengkhianatinya. Sebab kemuliaan pelayanan tidak terletak pada sorotan lampu, tetapi pada jejak salib yang tak terlihat—jejak darah, air mata, dan doa-doa sunyi di hadapan Allah. khirnya, kita tidak akan dikenang karena betapa keras kita melawan, tetapi betapa setia kita bertahan dalam kasih. Sebab di jalan sempit itulah, salib menjadi mahkota. Dan ketika semuanya telah berlalu, hanya satu yang akan tinggal: suara dari takhta Allah yang berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia...” Sebab ujian bukan untuk membuktikan siapa yang kuat, melainkan siapa yang tetap mengasihi, meski disalahpahami. Yang menang bukan yang paling bersuara, tapi yang paling setia hingga akhir..

 

PENUTUP

Ilalang akan tetap tumbuh di ladang Tuhan—tampak mirip gandum, namun berbeda hakikat. Akan ada masa ketika sabit-sabit buatan manusia mencoba menuai lebih awal, dengan semangat penghakiman dan perebutan. Namun pengayakan dari Tuhan akan datang pada waktunya, dan setiap yang palsu akan gugur oleh keadilan-Nya.

Ketahuilah, sabit para bandit—simbol dari ambisi pribadi, manipulasi rohani, dan pemberontakan terhadap otoritas ilahi—pada akhirnya akan ditumpulkan oleh tangan Tuhan sendiri. Sebab pekerjaan Tuhan bukan hasil perebutan, tetapi buah dari penundukan diri dan ketaatan yang murni. Kemuliaan Allah tidak bisa dicuri oleh siapa pun, karena Ia sendiri yang menobatkan, mengangkat, dan menghakimi dengan adil. Mereka yang bertahan di jalan salib, walau dihina, difitnah, disingkirkan, dan tidak mendapat sorotan, sesungguhnya sedang ditempa dan dimurnikan untuk menerima mahkota kekal dari Kristus. Dunia mungkin tidak mengenal mereka, struktur mungkin melupakan mereka, tapi surga mencatat air mata dan kesetiaan mereka. Dan kelak, ketika pengadilan Kristus dinyatakan, akan terlihat dengan jelas siapa yang membangun dengan emas, dan siapa yang memakai jerami. Maka, tetaplah berjalan di jalan salib—sunyi, tapi penuh hadirat; sempit, tapi menuju kemuliaan.

Maka, tetaplah setia memikul salib. Bukan hanya karena itu jalan Yesus, tetapi karena hanya di sanalah kemurnian iman diuji dan dimurnikan. Dunia boleh memilih sabit—jalan cepat dan gemerlap—tapi gereja sejati akan tetap memilih salib, karena dari sanalah kemuliaan kekal bersinar.  Sebab kehormatan sejati bukan datang dari pujian manusia, tetapi dari pengakuan Tuhan atas mereka yang menang dalam kesetiaan.

DAFTAR PUSTAKA

Alkitab Terjemahan Baru (LAI).

Catatan pelayanan pribadi dan pengalaman penggembalaan

Refleksi atas dinamika gereja kontemporer di lingkungan Gereja Gereja

 

 

 

 

============

Biografi Singkat Penulis– Pdt. Syaiful Hamzah Nahampun, M.Th

Gembala Sidang GBI Jl. Plumpang Semper No.22 (JPS22) – Jakarta Utara

Gembala Cabang GBI PRJ Sion – Pearaja Parlilitan, Sumatera Utara

=============

 

Lahir                            : 12 April 1974

Pendidikan                   : Magister Teologi (M.Th)

Sedang menempuh       : Program Doktor (S3) di STT Gragion

Sinode                           : Gereja Bethel Indonesia (GBI)

Istri                                : Pdm. Tiolida Sihotang S.PdK

Anak                               : Malkhi K dan Josua Rajahot Eklesyaiful

 

Orang Tua Pdt. Syaiful Hamzah

Nama ayah                              : Alm. Haji Andi Thahir (Makkasar)

Nama Ibu                                 : Alm. Hajjah Ramlah Sari Harahap

 

==============

Profil Pelayanan

·      Dipanggil dari latar belakang agama Islam dan kehidupan yang penuh tantangan, Pdt. Syaiful Hamzah Nahampun merespons panggilan Tuhan dengan hati yang tulus dan tekad yang teguh. Ia melayani dengan komitmen terhadap kebenaran firman Tuhan, serta menjunjung ketaatan pada struktur dan doktrin Gereja Bethel Indonesia sebagai bentuk kesetiaan kepada otoritas rohani yang sah.

·      Bersama istri, Pdm. Tiolida Sihotang S.PdK, beliau menggembalakan jemaat di berbagai wilayah, termasuk cabang-cabang luar Jakarta seperti Dayun (Riau) dan Pearaja Parlilitan (Sumatera Utara).

·      Pernah menggembalakan sebuah jemaat di salah satu daerah di Riau secara sah di bawah GBI JPS No. 22, namun kemudian menghadapi pembangkangan jemaat yang keluar secara sepihak tanpa ketaatan rohani maupun struktural.

·      Pelayanannya menekankan pemuridan sejati dalam karakter, pertobatan, dan tanggung jawab, serta menyoroti bahaya teologi spiritual bypass—kerohanian semu yang menghindari pemulihan dan keadilan.

·      Saat ini, beliau juga menempuh studi doktoral (S3) dalam bidang Misi di STT Gragion, dan aktif mengajar sebagai dosen di beberapa sekolah tinggi teologi, membentuk pemimpin-pemimpin gereja yang sehat secara doktrin maupun karakter.

 

 

Catatan Penting: Tulisan ini disusun khusus untuk kalangan sendiri sebagai bahan ilustrasi rohani dan refleksi teologis. Jika terdapat kemiripan dengan peristiwa, tempat, atau individu tertentu, itu tidak disengaja dan bukan merupakan tuduhan pribadi, melainkan ajakan untuk perenungan bersama dalam terang Firman Tuhan. Dilarang menyalin, menyebarluaskan, atau memperbanyak isi tulisan ini tanpa izin tertulis dari penulis.


Postingan populer dari blog ini

PROFIL BIO DATA SYAIFUL HAMZAH S.Th., M.Th

GEREJA YANG LAHIR DARI PENGHIANATAN OLEH PDT. SYAIFUL HAMZAH M.Th

TEOLOGI SPIRITUAL BYPASS OLEH PDT SYAIFUL HAMZAH M.Th