GEREJA PARTY DOLL
“GEREJA PARTY DOLL"
Sensasi, Pembangkangan, dan Hilangnya Kekudusan”
Oleh: Pdt. (Dr. Cand.) Syaiful Hamzah, M.Th
2 Timotius 3:5 (TB) Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!
Gereja dipanggil menjadi tubuh Kristus, bukan panggung sensasi. Namun hari ini, ada gereja yang lebih sibuk berdandan seperti party doll: gemerlap, ramai, viral—tetapi kehilangan roh kekudusan. Ibadah berubah jadi tontonan, mimbar jadi panggung hiburan, dan kebenaran dikalahkan oleh tepuk tangan.
Sensasi sering melahirkan pembangkangan. Ketika gereja lebih takut kehilangan jemaat daripada kehilangan kebenaran, firman mulai dikompromikan. Disiplin rohani dianggap kuno, otoritas rohani dilawan, dan kekudusan dicap sebagai sikap menghakimi.
Ciri-ciri gereja yang mulai terjebak dalam “party doll spirituality” antara lain:
1. Menolak otoritas rohani yang sah, namun merasa paling benar dan paling rohani. Sikap ini tampak ketika gereja atau jemaat tidak mau tunduk pada penggembalaan dan struktur yang legal serta diakui, tetapi sekaligus mengklaim diri sebagai pihak yang paling rohani. Keramaian, event besar, dan luapan emosi ibadah dijadikan ukuran keberhasilan, sementara pembinaan, disiplin rohani, dan ketertiban gerejawi dianggap tidak penting atau bahkan menghambat “gerakan Roh”. Roh Kudus dipisahkan dari ketertiban, padahal Alkitab tidak pernah memisahkan keduanya.
2. Mengklaim “dipimpin Roh Kudus”, tetapi mengabaikan tata gereja, etika pelayanan, dan pertanggungjawaban. Setiap keputusan sepihak dibenarkan dengan kalimat rohani: “Tuhan yang memimpin”. Namun ironisnya, kepemimpinan Roh Kudus itu tidak pernah mau diuji melalui mekanisme gereja, musyawarah yang sehat, atau pertanggungjawaban struktural. Roh Kudus dijadikan tameng untuk menolak aturan, etika, dan proses, seolah-olah Roh Allah bertentangan dengan keteraturan gereja yang sah.
3. Mudah memberontak ketika ditegur, namun cepat memposisikan diri sebagai korban. Teguran rohani yang seharusnya membawa pertobatan justru ditafsirkan sebagai penindasan. Ketika diingatkan, pihak ini bereaksi defensif, menyerang balik, lalu membangun narasi seolah-olah merekalah korban ketidakadilan. Pola ini menutup pintu introspeksi dan pertobatan, sekaligus membenarkan pembangkangan sebagai tindakan “membela diri”.
4. Lebih sibuk mempertahankan gedung, aset, dan nama, daripada menjaga kesatuan tubuh Kristus. Fokus pelayanan bergeser dari jiwa kepada properti. Gedung, aset, dan nama institusi dipertahankan mati-matian, bahkan dengan mengorbankan relasi, kesatuan, dan etika Kristen. Gereja diperlakukan seperti milik pribadi atau organisasi duniawi, bukan sebagai bagian dari tubuh Kristus yang kudus dan saling terikat dalam kasih.
Mari kembali pada esensi: gereja yang sederhana namun berkenan, taat meski tidak populer, kudus meski tidak sensasional. Lebih baik gereja kecil yang setia, daripada gereja ramai yang kehilangan Tuhan.
======
#Biodata Singkat
Pdt. (Dr. cand.) Syaiful Hamzah, M.Th. adalah Gembala Sidang GBI JPS Jakarta dan GBI PRJ Sion, Sumatera Utara, pernah melayani sebagai gembala di wilayah Riau dalam konteks dinamika jemaat dan persoalan struktural gerejawi, menempuh pendidikan teologi di STT Rahmat Emanuel GBI REM dan STT Jaffray Jakarta, saat ini sedang menempuh Program Doktor Teologi di STT Gragion, aktif mengajar di berbagai Sekolah Tinggi Teologi (STT) di dalam dan luar Jakarta, terlibat sebagai pengajar di Sekolah Penginjil Bethel Petamburan serta pembicara seminar di STT Bethel Petamburan, serta dalam kehidupan keluarga menikah dengan Pdm. Tiolida Sihotang, S.Pd.K. asal Parlilitan, Sumatera Utara, beliau telah menerima marga Nahampun (Parna) melalui prosesi adat, dan dikaruniai dua orang anak, Josua Rajahot Eklesyaiful dan Malki Kurniawan..
Pdt. (Dr. cand.) Syaiful Hamzah, M.Th. adalah Gembala Sidang GBI JPS Jakarta dan GBI PRJ Sion, Sumatera Utara, pernah melayani sebagai gembala di wilayah Riau dalam konteks dinamika jemaat dan persoalan struktural gerejawi, menempuh pendidikan teologi di STT Rahmat Emanuel GBI REM dan STT Jaffray Jakarta, saat ini sedang menempuh Program Doktor Teologi di STT Gragion, aktif mengajar di berbagai Sekolah Tinggi Teologi (STT) di dalam dan luar Jakarta, terlibat sebagai pengajar di Sekolah Penginjil Bethel Petamburan serta pembicara seminar di STT Bethel Petamburan, serta dalam kehidupan keluarga menikah dengan Pdm. Tiolida Sihotang, S.Pd.K. asal Parlilitan, Sumatera Utara, beliau telah menerima marga Nahampun (Parna) melalui prosesi adat, dan dikaruniai dua orang anak, Josua Rajahot Eklesyaiful dan Malki Kurniawan..
#Tulisan ini merupakan refleksi teologis umum dan tidak ditujukan kepada pihak atau peristiwa tertentu.
#UntukKalanganSendiri
#RenunganKristen
#RefleksiGereja
#RohaniBukanTameng
#GerejaBukanAlatKekuasaan
#StopPenyalahgunaanOtoritas
#TataGerejaHarusDitegakkan
#PelayananTanpaManipulasi
#KebenaranDalamKasih
#pembangkangantidakdilegalkan
#lukatidakgratis