PEJUANG NKRI - The Sin Nio: Srikandi Tionghoa yang Melampaui Identitas (Refleksi Kekristenan tentang Pengorbanan dan Kasih yang Inkarnasional)
I. Abstrak
Tulisan ini mengangkat kisah The Sin Nio (Teh Sin Nyo), seorang perempuan peranakan Tionghoa asal Wonosobo, Jawa Tengah, yang menyamar sebagai laki-laki untuk bergabung dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia (1945–1949).[1] Dengan nama samaran Mochamad Moeksin, ia menjadi satu-satunya perempuan dalam Kompi 1, Batalyon 4 (atau 58), Resimen 18, Divisi III.[2].
Melalui perspektif teologi Kristen, kisah The Sin Nio dipahami sebagai perwujudan kenosis — pengosongan diri demi kasih yang lebih besar (Flp. 2:7). Ia tidak hanya menembus batas gender, tetapi juga melampaui sekat etnis Tionghoa yang kala itu sering dicurigai dan dimarjinalkan. Dalam pengorbanannya, The Sin Nio menghadirkan kasih yang inkarnasional — kasih yang menjelma dalam tindakan nyata, melampaui tembok ras, agama, dan identitas sosial.
Tulisan ini berfokus pada makna kenosis dan inkarnasi kasih universal yang tampak dalam kehidupan The Sin Nio, seorang perempuan Tionghoa-Indonesia yang meneladankan semangat nasionalisme Kristen melalui pengorbanan diri dan pelayanan tanpa pamrih. Kehidupannya menjadi refleksi nyata tentang iman yang menyeberangi batas ras, gender, dan agama, menghadirkan kasih Allah yang hidup dalam tindakan kemanusiaan dan solidaritas lintas identitas.
II. Pendahuluan
Sejarah kemerdekaan Indonesia sering menampilkan wajah yang dominan laki-laki dan pribumi, sementara suara perempuan dan etnis minoritas nyaris tenggelam. Salah satu tokoh yang terlupakan adalah The Sin Nio, perempuan Tionghoa-Indonesia dari Wonosobo yang berjuang tanpa pamrih bagi kemerdekaan bangsanya. Ia menjadi simbol keberanian dari kelompok yang selama ini terpinggirkan, membuktikan bahwa cinta tanah air tidak ditentukan oleh darah atau garis keturunan, melainkan oleh kesediaan untuk berkorban. Kisahnya membuka ruang refleksi teologis bahwa kasih dan pengabdian sejati sering lahir dari mereka yang tidak diperhitungkan oleh sejarah resmi bangsa, namun justru menghadirkan wajah kasih Allah yang hidup di tengah keberagaman manusia.[3]
Kisahnya bukan sekadar tentang perang, melainkan tentang perjuangan menjadi manusia penuh di tengah diskriminasi rasial dan gender, sebuah pergumulan untuk mempertahankan martabat dan kemanusiaan sejati di tengah struktur sosial yang menindas, menyingkirkan, dan meragukan kesetiaan perempuan Tionghoa terhadap bangsanya. Dalam pandangan iman Kristen, tindakan seperti ini mencerminkan semangat Kristus yang menembus batas-batas sosial untuk menghadirkan kasih Allah kepada semua orang (Gal. 3:28).[4]
Perjuangan The Sin Nio menghadirkan sebuah teologi inkarnasional dalam konteks nasionalisme: bahwa kasih Allah dapat menjelma melalui siapa pun, bahkan dari mereka yang dianggap “asing” oleh struktur mayoritas. Melalui hidupnya, tampak bahwa kebenaran Injil tidak dibatasi oleh status sosial, etnis, atau agama, melainkan nyata dalam keberanian untuk mengasihi, melayani, dan memikul salib kemanusiaan bagi sesama.[5]
Kasih inkarnasional yang tampak dalam diri The Sin Nio adalah bentuk nyata dari tindakan Allah yang hadir di tengah penderitaan manusia. Seperti Kristus yang turun dan hidup di antara orang kecil, ia menjelma menjadi tanda kasih bagi bangsanya di tengah situasi penuh kecurigaan dan ketidakadilan. Dalam tindakannya, Injil tidak lagi hanya berbicara tentang keselamatan rohani, tetapi juga pembebasan dari diskriminasi sosial dan rasisme yang menindas martabat manusia.[6]
Lebih dari itu, kehidupan The Sin Nio memperlihatkan bahwa iman yang sejati selalu memiliki dimensi sosial dan profetik. Ia tidak berkhotbah dengan kata-kata, tetapi bersaksi melalui keberanian dan solidaritasnya di tengah perang, menyalakan harapan bagi mereka yang terpinggirkan dan terluka, serta menghadirkan wajah kasih Kristus di tengah penderitaan manusia. Sikapnya mengingatkan gereja bahwa kasih tidak berhenti di altar, melainkan harus turun ke jalan-jalan kehidupan — menyentuh yang terluka, mengangkat yang tersingkir, dan menegakkan keadilan bagi semua.[7]
III. Perjuangan Seorang Perempuan Tionghoa di Medan Gerilya
Pada masa Revolusi Fisik (1945–1949), masyarakat Tionghoa di Indonesia sering dicurigai sebagai simpatisan Belanda. Bagi perempuan Tionghoa, stigma ini berlipat ganda — mereka dianggap tidak memiliki keberanian dan kesetiaan terhadap bangsa baru yang sedang lahir, bahkan sering diperlakukan sebagai orang luar yang tidak pantas terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dan terpinggirkan dari narasi heroik yang dibangun pascakemerdekaan.. Stereotip ini tidak hanya mengasingkan mereka secara sosial, tetapi juga menyingkirkan mereka dari ruang partisipasi politik dan perjuangan nasional. Namun, kehadiran tokoh seperti The Sin Nio membalikkan narasi itu: ia membuktikan bahwa keberanian dan cinta tanah air dapat tumbuh di tengah prasangka rasial, menjadi bukti bahwa semangat kebangsaan sejati melampaui batas etnis dan gender yang diciptakan oleh manusia[8]. Keputusannya untuk berjuang menegaskan bahwa identitas Tionghoa-Indonesia bukan penghalang, melainkan bagian sah dari keindonesiaan yang sejati, sekaligus bukti bahwa semangat kebangsaan mampu melampaui sekat etnis dan agama. Dalam keberaniannya, The Sin Nio memperlihatkan bahwa kesetiaan kepada tanah air bukan ditentukan oleh asal-usul darah, tetapi oleh kerelaan untuk mengasihi dan berkorban demi kebaikan bersama. Ia menjadi teladan bahwa iman kepada nilai kemanusiaan sejati dapat mengatasi prasangka sosial dan menghadirkan kasih Allah dalam konteks kebangsaan yang majemuk.[9]
Namun The Sin Nio menghancurkan stereotip tersebut dengan keberanian yang luar biasa. Ia memotong rambutnya, melilitkan kain di dadanya agar tampak seperti laki-laki, dan menggunakan nama samaran Mochamad Moeksin agar dapat diterima di barisan pejuang tanpa menimbulkan kecurigaan.[10] Ia bergabung dalam Kompi 1, Batalyon 4 (atau 58), Resimen 18, Divisi III, dan berjuang bersama para pejuang muda dari kalangan pribumi di garis depan.[11] Selain bertempur, The Sin Nio juga mengurus perlengkapan logistik dan merawat rekan-rekannya yang terluka di medan perang.[12]
Di tengah situasi yang penuh bahaya, ia memikul beban ganda: melawan penjajahan secara fisik sekaligus menghadapi diskriminasi rasial yang tajam, yang menguji keteguhan imannya dan kesetiaannya kepada tanah air. Bahkan, adiknya, The Kim Kong, menjadi korban fitnah dan tewas karena dituduh sebagai mata-mata Belanda — tragedi yang memperdalam luka namun juga meneguhkan tekadnya untuk terus berjuang.[13]
Keberanian ini menampilkan spiritualitas kenosis: pengosongan diri demi kasih. Ia menanggalkan kebanggaan etnis dan identitas pribadi, sebagaimana Kristus yang “mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba” (Flp. 2:7). Dalam konteks Tionghoa-Indonesia yang sering teralienasi, tindakan ini menjadi bentuk teologi inkarnasi dalam praksis sosial — di mana kasih Allah menjelma dalam tindakan manusia yang berani mengorbankan diri bagi keadilan dan kemanusiaan.[14]
Tindakan The Sin Nio tidak hanya mencerminkan keberanian individual, tetapi juga menyingkap makna iman yang hidup. Ia memperlihatkan bahwa kasih sejati selalu menuntut pelepasan diri dari kepentingan pribadi dan keberanian untuk hadir bagi sesama. Dalam pengosongan diri itu, Injil tidak berhenti di ruang spiritual, melainkan menembus realitas sosial yang sarat luka, menyalakan harapan bagi bangsa yang sedang mencari jati dirinya.[15]
Lebih jauh lagi, spiritualitas kenotik ini memberi teladan bagi gereja dan umat beriman masa kini. Ketika banyak orang berlindung di balik dogma, The Sin Nio justru menghadirkan Injil yang menjelma dalam keberanian, kesetiaan, dan solidaritas lintas batas. Pengosongan dirinya menjadi panggilan bagi gereja untuk meninggalkan kenyamanan institusional dan memasuki ruang-ruang penderitaan manusia — tempat di mana kasih Kristus harus diwujudkan dalam tindakan nyata, sehingga iman tidak berhenti pada liturgi dan kata-kata, melainkan nyata dalam keberpihakan kepada yang lemah dan tertindas.[16]
IV. Tragedi dan Spirit Salib dalam Konteks Tionghoa-Indonesia
Setelah kemerdekaan, The Sin Nio tidak memperoleh penghargaan yang layak atas perjuangannya. Ia harus menanggung perjalanan panjang dalam kesunyian dan ketidakpastian, berulang kali mengajukan diri untuk diakui sebagai pejuang republik. Dalam proses yang melelahkan itu, ia menghadapi birokrasi yang lamban dan sikap diskriminatif yang masih melekat terhadap warga keturunan Tionghoa. [17]Namun, semangat juangnya tidak padam; ia tetap memegang teguh keyakinan bahwa pengorbanannya demi bangsa bukan untuk mencari penghargaan manusia, melainkan sebagai wujud cinta yang tulus kepada tanah air dan kemanusiaan. Baru pada 29 Juli 1976, Mahkamah Militer Yogyakarta menetapkan secara resmi bahwa The Sin Nio adalah salah satu pejuang kemerdekaan.[18] Keputusan itu ditandatangani oleh Kapten CKH Soetikno, S.H., dan Lettu CKH Drs. Soehardjo, yang menegaskan peran nyata seorang perempuan Tionghoa dalam Revolusi Indonesia. Namun pengakuan itu tidak serta-merta mengangkat derajat hidupnya — ia tetap berjuang sendirian, tanpa dukungan keluarga maupun perhatian dari negara yang pernah ia bela, menjalani hari-hari tuanya dalam kesunyian, keterasingan, dan kesetiaan yang tak pernah padam.[19]
Kisah The Sin Nio memperlihatkan bahwa setelah perang usai, perjuangan baru dimulai: perjuangan untuk diakui oleh bangsa sendiri. Hak pensiunnya baru cair beberapa tahun kemudian, dengan jumlah yang sangat kecil — hanya Rp 28.000 per bulan, nilai yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dasarnya.[20] Ketimpangan ini mencerminkan ironi sejarah: pejuang yang berkorban di garis depan justru terlupakan di masa damai. Dalam konteks iman Kristen, keadaan ini menggambarkan realitas salib yang sunyi — tempat di mana kasih sejati diuji, bukan oleh kemuliaan, tetapi oleh kesetiaan yang tetap bertahan di tengah ketidakadilan.[21]
Di hari tuanya, The Sin Nio hidup dalam kemiskinan dan keterasingan. Ia menumpang di sebuah gubuk kecil dekat rel kereta api Juanda, Jakarta, bertahan hidup dengan sederhana dan tanpa keluarga yang mendampingi.[22] Di balik kesunyian itu, ia tetap memancarkan semangat kasih yang tulus kepada bangsa dan sesama. Kisahnya seolah meneguhkan sabda Yesus: “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk. 9:58), menandakan kesetiaan yang tetap bersinar di tengah penolakan dan penderitaan dunia. Dalam kesederhanaan dan penderitaan, The Sin Nio menjadi ikon salib yang hidup — bukan salib yang dipajang di altar, melainkan yang berdiri di tengah debu kehidupan rakyat kecil.[23]
Dalam refleksi kekristenan, salib bukan sekadar simbol penderitaan, melainkan tanda kasih Allah yang bertahan di tengah ketidakadilan dan kelalaian manusia.[24] Melalui hidup The Sin Nio, kita belajar bahwa kasih tidak selalu mendapat pengakuan duniawi, tetapi tetap menjadi kekuatan yang menghidupkan. Ia menghadirkan salib kemanusiaan: kasih yang tidak dikenal, namun nyata; kesetiaan yang tidak dibalas, namun tetap setia.[25] Gereja dipanggil untuk meneladani roh kenosis yang hidup dalam dirinya — mengasihi tanpa menuntut balasan, berjuang tanpa mengharapkan pujian, dan melayani bahkan ketika dunia tidak peduli. Dalam arti itu, The Sin Nio bukan hanya saksi sejarah, tetapi saksi iman yang menyalakan cahaya Injil di tengah kegelapan sejarah bangsa.[26]
Kisah The Sin Nio mengingatkan bahwa salib Kristus tidak hanya berdiri di gereja, tetapi juga di tengah realitas sosial yang terluka. Dalam penderitaannya, kasih Allah hadir melalui wajah-wajah manusia yang setia. Kehidupan dan kematiannya menegaskan bahwa iman sejati bukan sekadar percaya, tetapi ikut memikul beban dunia dengan kasih yang setia. Gereja yang meneladani semangat ini akan menjadi tanda harapan di tengah zaman yang semakin kehilangan empati dan kepekaan terhadap sesama, serta meneguhkan kembali panggilannya untuk menjadi saksi kasih yang hidup di dunia yang haus akan keadilan dan pengharapan.[27]
V. Makna Teologis: Kasih yang Menembus Batas Etnis dan Gender
Kisah The Sin Nio mengajarkan gereja modern tentang makna kasih yang sejati, kasih yang tidak dikungkung oleh doktrin atau identitas rasial. Ia menunjukkan bahwa kasih Kristus dapat bekerja melalui siapa pun, termasuk perempuan Tionghoa yang tak memiliki posisi dalam struktur sosial dominan. Dalam terang teologi Kristen, perjuangan The Sin Nio dapat ditafsirkan dalam tiga lapis makna rohani yang menyingkapkan hubungan mendalam antara iman, kemanusiaan, dan kehadiran Allah dalam sejarah:
5.1. Kasih Inkarnasional dalam Keberagaman. Kasih Allah tidak terbatas pada komunitas religius tertentu. Seperti Yesus yang menembus sekat etnis Samaria, The Sin Nio menembus sekat Tionghoa dan pribumi melalui pengorbanan tanpa pamrih. Dalam tindakannya, kasih menjadi jembatan antara mereka yang terpisah oleh prasangka dan sejarah. Kasih yang ia hidupi tidak bersumber dari keinginan akan penghargaan, melainkan dari kepekaan hati terhadap penderitaan sesama, yang mendorongnya untuk hadir di tengah luka kemanusiaan, membawa pengharapan, dan menyalakan kembali nilai-nilai belas kasih yang memulihkan martabat manusia.[28]. Ia memperlihatkan bahwa kasih sejati bersifat inkarnasional — hadir di tengah perbedaan, bekerja melampaui batas-batas sosial, dan menyentuh ruang kemanusiaan yang paling dalam.[29]
5.2. Kenosis sebagai Sikap Misiologis. Dalam konteks pelayanan, kenosis berarti kerelaan menanggalkan keistimewaan pribadi demi melayani orang lain. The Sin Nio melakukan kenosis sosial — mengosongkan diri dari kehormatan etnis demi bangsa yang bahkan menolak dirinya. Ia menghadirkan makna pelayanan yang sejati, di mana misi tidak lagi dipahami sebagai dominasi atau keunggulan, melainkan sebagai pengosongan diri yang memberi ruang bagi kehadiran kasih Allah di tengah penderitaan manusia.[30]
5.3. Kesaksian Profetik dari Pinggiran. Seperti para nabi, The Sin Nio berbicara melalui tindakan. Ia menegur bangsa ini lewat hidupnya: bahwa kasih sejati tidak mengenal batas etnis, agama, atau jenis kelamin, melainkan berpihak kepada kebenaran dan kemanusiaan. Dari pinggiran sejarah, suaranya memanggil gereja dan bangsa untuk bertobat dari sikap acuh, dan kembali menegakkan kasih yang membebaskan.[31]
Dengan demikian, kisahnya menjadi cermin bagi gereja di Indonesia agar berani memeluk semua anak bangsa, termasuk komunitas Tionghoa yang sering kali dipinggirkan dalam sejarah nasional. Melalui semangat inklusif ini, gereja dipanggil untuk mewujudkan kasih Allah yang melintasi batas etnis, budaya, dan denominasi, demi kesatuan tubuh Kristus yang sejati, yang menghadirkan keadilan, perdamaian, dan solidaritas bagi seluruh ciptaan sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah di bumi.[32]
VI. Kesimpulan: Iman yang Berwajah Kasih dan Kemanusiaan
The Sin Nio bukan hanya pahlawan Tionghoa yang terlupakan, tetapi teladan rohani yang hidup bagi bangsa dan gereja. Ia menunjukkan bahwa kasih sejati bukanlah konsep abstrak, melainkan tindakan konkret yang berani menembus diskriminasi dan pengabaian. Dalam dirinya, kasih menjadi nyata — bukan dalam kemegahan, tetapi dalam kesetiaan dan pengorbanan yang sunyi. Melalui keberaniannya, kita belajar bahwa iman yang hidup tidak terletak pada banyaknya kata-kata rohani, melainkan pada keberanian untuk mengasihi di tengah risiko dan ketidakadilan.[33]
Kehidupan The Sin Nio menyingkapkan wajah kasih Allah yang bekerja melalui mereka yang tersisih. Dalam konteks teologi Kristen, ia menjadi saksi bahwa kasih Kristus selalu hadir melalui manusia yang bersedia mengosongkan diri, sebagaimana Kristus sendiri yang “mengambil rupa seorang hamba” (Flp. 2:7).[34] Wajah Tionghoanya, yang pernah dicurigai dan diremehkan, kini menjadi simbol kasih inkarnasional — kasih yang menjelma dalam bentuk kemanusiaan yang lembut, berani, dan penuh pengampunan, yang memulihkan martabat manusia dan mempersatukan keberagaman dalam terang kasih Kristus. Ia membuktikan bahwa kemuliaan Allah tidak selalu hadir di mimbar atau altar, tetapi juga dalam tubuh-tubuh yang terluka oleh sejarah.[35]
Dalam terang Injil, kehidupan The Sin Nio mengingatkan gereja bahwa Kristus tidak hanya hadir di ruang liturgi, tetapi juga di jalan-jalan penderitaan manusia. Di sanalah Injil menjadi hidup — bukan sekadar berita yang dikhotbahkan, melainkan kasih yang bekerja melalui tangan-tangan yang melayani, menghibur yang terluka, dan menegakkan keadilan bagi mereka yang terpinggirkan. Gereja dipanggil untuk menghadirkan Kristus dalam realitas sosial yang nyata, bukan hanya dalam simbol dan ritual, tetapi dalam kasih yang bergerak dan menyentuh kehidupan sehari-hari umat manusia.[36] Gereja dipanggil untuk keluar dari zona aman dan menyalakan kasih di tengah realitas sosial yang retak — menjadi gereja yang berwajah kasih, bukan kekuasaan; gereja yang berani memeluk perbedaan, bukan menolak keberagaman.[37]
Melalui hidupnya, kita melihat Injil yang menjelma dalam wajah Tionghoa — wajah kasih yang mengosongkan diri, memberi, dan tetap setia di tengah luka sejarah, menghadirkan kemuliaan Allah melalui kesederhanaan hidup, kesetiaan dalam penderitaan, serta keberanian untuk mengasihi tanpa batas di tengah dunia yang sering melupakan kasih sejati dan makna pengorbanan sejati.. Dengan demikian, The Sin Nio bukan sekadar bagian dari kisah bangsa, tetapi bagian dari kisah Allah yang terus menulis sejarah kasih-Nya melalui manusia yang mau menjadi saluran kasih di dunia.[38]
[1] Mengenang The Sin Nio, Pejuang Wanita yang Telantar di Hari Tua,” Detik News, 17 Agustus 2020, https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5137053/mengenang-the-sin-nio-pejuang-wanita-yang-telantar-di-hari-tua
[2] “The Sin Nio, Pejuang Perempuan Indonesia yang Hidup Sulit hingga Akhir Hayat,” Indonesia Defense Magazine, 2023, https://indonesiadefense.com/the-sin-nio-pejuang-perempuan-indonesia-yang-hidup-sulit-hingga-akhir-hayat
[3] Andreas A. Yewangoe, Teologi Kontekstual di Indonesia Kontemporer (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2021), hlm. 45.
[4] Alkitab, Surat Paulus kepada Jemaat di Galatia 3:28 — “Dalam Kristus tidak ada orang Yahudi atau Yunani, hamba atau merdeka, laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”
[5] Robert Setio, Teologi Inkarnasional dan Tantangan Budaya Lokal (Yogyakarta: Kanisius, 2023), hlm. 63
[6] John Stott, The Cross of Christ (Downers Grove: InterVarsity Press, 2006), hlm. 68.
[7] Desmond Tutu, No Future Without Forgiveness (New York: Doubleday, 1999), hlm. 87.
[8] Leo Suryadinata, Etnis Tionghoa dan Nasionalisme Indonesia: Perjalanan Panjang Menuju Penerimaan (Jakarta: LP3ES, 2020), hlm. 77.
[9] Robert Setio, Teologi Inkarnasional dan Tantangan Budaya Lokal (Yogyakarta: Kanisius, 2023), hlm. 64.
[10] “Kisah The Sin Nio, Pejuang Perempuan RI yang Rela Menyamar Jadi Laki-Laki,” Haibunda.com, 2023, diakses dari https://www.haibunda.com/moms-life/20230816184526-76-313365/kisah-the-sin-nio-pejuang-perempuan-ri-yang-rela-menyamar-jadi-laki-laki
[11] “The Sin Nio, Pejuang Perempuan Indonesia yang Hidup Sulit hingga Akhir Hayat,” Indonesia Defense Magazine, 2023, diakses dari https://indonesiadefense.com/the-sin-nio-pejuang-perempuan-indonesia-yang-hidup-sulit-hingga-akhir-hayat
[12] “Searching for The Sin Nio: The Forgotten Chinese-Indonesian Hero,” Coconuts Jakarta, 2020, diakses dari https://coconuts.co/jakarta/features/searching-for-the-sin-nio-the-forgotten-chinese-indonesian-hero
[13] “The Sin Nio, Mulan-nya Indonesia,” Jatengkita.id, 2023, diakses dari https://jatengkita.id/histori/the-sin-nio-mulan-nya-indonesia-pahlawan-dari-wonosobo
[14] John Stott, The Cross of Christ (Downers Grove: InterVarsity Press, 2006), hlm. 92.
[15] Henri J. M. Nouwen, The Selfless Way of Christ: Downward Mobility and the Spiritual Life (New York: Orbis Books, 2007), hlm. 47.
[16] Dietrich Bonhoeffer, The Cost of Discipleship (London: SCM Press, 1959), hlm. 99.
[17] Leo Suryadinata, Etnis Tionghoa dan Nasionalisme Indonesia: Perjalanan Panjang Menuju Penerimaan (Jakarta: LP3ES, 2020), hlm. 83.
[18] “The Sin Nio, Mulan-nya Indonesia,” Jatengkita.id, 2023, diakses dari https://jatengkita.id/histori/the-sin-nio-mulan-nya-indonesia-pahlawan-dari-wonosobo
[19] “Mengenang The Sin Nio, Pejuang Wanita yang Telantar di Hari Tua,” Detik News, 17 Agustus 2020, diakses dari https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5137053/mengenang-the-sin-nio-pejuang-wanita-yang-telantar-di-hari-tua.
[20] “The Sin Nio, Pejuang Perempuan Indonesia yang Hidup Sulit hingga Akhir Hayat,” Indonesia Defense Magazine, 2023, diakses dari https://indonesiadefense.com/the-sin-nio-pejuang-perempuan-indonesia-yang-hidup-sulit-hingga-akhir-hayat
[21] John Stott, The Cross of Christ (Downers Grove: InterVarsity Press, 2006), hlm. 102.
[22] “Mengenang The Sin Nio, Pejuang Wanita yang Telantar di Hari Tua,” Detik News, ibid.
[23] “Alkitab, Lukas 9:58.
[24] N. T. Wright, The Day the Revolution Began: Reconsidering the Meaning of Jesus’s Crucifixion (New York: HarperOne, 2016), hlm. 214.
[25] Henri J. M. Nouwen, The Wounded Healer (New York: Doubleday, 1979), hlm. 88.
[26] Dietrich Bonhoeffer, Letters and Papers from Prison (London: SCM Press, 1953), hlm. 128.
[27] Jürgen Moltmann, The Crucified God: The Cross of Christ as the Foundation and Criticism of Christian Theology (London: SCM Press, 1974), hlm. 204.
[28] Miroslav Volf, Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity, Otherness, and Reconciliation (Nashville: Abingdon Press, 1996), hlm. 129.
[29] Henri J. M. Nouwen, Life of the Beloved: Spiritual Living in a Secular World (New York: Crossroad, 1992), hlm. 88.
[30] Samuel Escobar, A Time for Mission: The Challenge for Global Christianity (Leicester: InterVarsity Press, 2003), hlm. 54.
[31] Walter Brueggemann, The Prophetic Imagination (Minneapolis: Fortress Press, 2001), hlm. 13.
[32] Lesslie Newbigin, The Gospel in a Pluralist Society (Grand Rapids: Eerdmans, 1989), hlm. 125.
[33] Henri J. M. Nouwen, The Return of the Prodigal Son: A Story of Homecoming (New York: Doubleday, 1992), hlm. 56.
[34] Alkitab, Filipi 2:7.
[35] Robert Setio, Teologi Inkarnasional dan Tantangan Budaya Lokal (Yogyakarta: Kanisius, 2023), hlm. 73.
[36] Gustavo Gutiérrez, A Theology of Liberation: History, Politics, and Salvation (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1988), hlm. 135.
[37] Desmond Tutu, No Future Without Forgiveness (New York: Doubleday, 1999), hlm. 143.
[38] Andreas A. Yewangoe, Teologi Kontekstual di Indonesia Kontemporer (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2021), hlm. 118.
✍️ Biografi Singkat Penulis
Pdt. (Dr) Syaiful Hamzah, S.Th., M.Th
· Gembala Sidang GBI Jl. Plumpang Semper No.22 (JPS22) – Jakarta Utara
· Gembala Cabang GBI PRJ Sion – Pearaja Parlilitan, Sumatera Utara
=============
Lahir : Jakarta, 12 April 1974
Pendidikan : Magister Teologi (M.Th)
Sedang menempuh : Program Doktor (S3) di STT Gragion
Sinode : Gereja Bethel Indonesia (GBI)
Istri : Pdm. Tiolida Sihotang S.PdK
Anak : Malkhi K dan Josua Rajahot Eklesyaiful
Orang Tua Pdt. Syaiful Hamzah
Nama ayah : Alm. H. Andi Thahir (Mandar/ Makkasar).
Nama Ibu : Alm. Hj. Ramlah Sari Harahap (Batak Mandailing)
==============
Profil Pelayanan
· Dipanggil dari latar belakang keyakinan non-Kristen dan kehidupan yang penuh tantangan, Pdt. Syaiful Hamzah merespons panggilan Tuhan dengan hati yang tulus dan tekad yang teguh. Ia melayani dengan komitmen terhadap kebenaran firman Tuhan, serta menjunjung ketaatan pada struktur dan doktrin Gereja Bethel Indonesia sebagai bentuk kesetiaan kepada otoritas rohani yang sah.
· Bersama istri, Pdm. Tiolida Sihotang S.PdK, beliau menggembalakan jemaat di berbagai wilayah, termasuk cabang-cabang luar Jakarta seperti Dayun (Riau) dan Pearaja Parlilitan (Sumatera Utara).
· Pernah menggembalakan jemaat di GBI Gloria Dayun, Riau tahun Juni 2024 – April 2025, yang secara sah berada di bawah GBI JPS No. 22 Jakarta. Namun dalam perjalanan, sebagian jemaat memilih keluar secara sepihak tanpa mengikuti prosedur tata gereja yang berlaku. Persoalan ini kini sedang dalam penanganan secara hukum dan struktural, dengan semangat untuk menegakkan keadilan dan ketertiban rohani.
· Pelayanannya menekankan pemuridan sejati dalam karakter, pertobatan, dan tanggung jawab, serta menyoroti bahaya teologi spiritual bypass—kerohanian semu yang menghindari pemulihan dan keadilan.
· Saat ini, beliau juga menempuh studi doktoral (S3) dalam bidang Misi di STT Gragion, dan aktif mengajar sebagai dosen di beberapa sekolah tinggi teologi, membentuk pemimpin-pemimpin gereja yang sehat secara doktrin maupun karakter.
