Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

MENUTUP GEREJA LIAR(Perspektif Eklesiologi dan Disiplin Gerejawi)

Gambar
MENUTUP GEREJA LIAR (Perspektif Eklesiologi dan Disiplin Gerejawi) Ditulis Oleh:  Pdt. (Dr. Cand.) Syaiful Hamzah, S.Th., M.Th. Matius 18:15–17 (TB) "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Perkataan Yesus dalam Matius 18:15–17 menegaskan bahwa disiplin adalah bagian esensial dari kasih dan kehidupan gereja. Yesus tidak mengajarkan pembiaran terhadap dosa atau penyimpangan, melainkan memberikan tahapan yang jelas dan tertib dalam menegur pelanggaran: dimulai secara pribadi, dilanjutkan dengan saksi, dan akhirnya dibawa kep...

GEREJA PARTY DOLL

Gambar
“GEREJA PARTY DOLL" Sensasi, Pembangkangan, dan Hilangnya Kekudusan” Oleh: Pdt. (Dr. Cand.) Syaiful Hamzah, M.Th 2 Timotius 3:5 (TB)  Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! Gereja dipanggil menjadi tubuh Kristus, bukan panggung sensasi. Namun hari ini, ada gereja yang lebih sibuk berdandan seperti party doll: gemerlap, ramai, viral—tetapi kehilangan roh kekudusan. Ibadah berubah jadi tontonan, mimbar jadi panggung hiburan, dan kebenaran dikalahkan oleh tepuk tangan. Sensasi sering melahirkan pembangkangan. Ketika gereja lebih takut kehilangan jemaat daripada kehilangan kebenaran, firman mulai dikompromikan. Disiplin rohani dianggap kuno, otoritas rohani dilawan, dan kekudusan dicap sebagai sikap menghakimi. Ciri-ciri gereja yang mulai terjebak dalam “party doll spirituality” antara lain: 1. Menolak otoritas rohani yang sah, namun merasa paling benar dan paling rohani. Sikap ini tampak...

PRAKTEK KANIBALISTIK ROHANI

Gambar
PRAKTIK KANIBALISTIK ROHANI (Ketika Gereja Memakan Gereja) Oleh: Pdt. (Dr. cand.) Syaiful Hamzah, M.Th “Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.” (Galatia 5:15)¹ Gereja dipanggil untuk membangun tubuh Kristus, bukan memangsa sesamanya. Namun ironi muncul ketika gereja—melalui struktur dan kewenangan—berubah menjadi gereja kanibal: tidak lagi menginjili yang terhilang, melainkan memakan gereja lain yang sudah ada—jemaatnya, pelayannya, asetnya, bahkan identitas dan sejarah pelayanannya.² Ibadah tetap berjalan. Administrasi tampak rapi. Struktur terlihat aktif. Namun arah misi telah menyimpang. Gereja tidak lagi hidup dari pengutusan, melainkan dari pengambilalihan. Pertumbuhan tidak diukur dari pertobatan jiwa dan perintisan yang sah, tetapi dari perpindahan jemaat dan penguasaan pelayanan yang telah dibangun oleh pihak lain.³ Fenomena ini sering terjadi bukan secara kasar, melainkan melalui permainan struktura...